Selasa, 10 Juni 2014

Suara Sang Filsuf



Aku sedikit menepi, bersembunyi di balik jendela kamar, aku merintih menahan perih rasa lapar yang aku rasakan. Seteguk air putih membasuh tenggorokan memberikan kehidupan untuk sejam ke depan.... tapi itu pun tak membuat perut ini berhenti perih. Aku mengintip ke luar jendelah tak ku dapati orang yang ingin membantuku. Mereka hanya orang-orang tak aku kenal, tak menunjukkan rasa bersahabat kepada saya. Mereka hanya memandangku dengan sinis dan perkataan-perkataan yang kurang aku mengerti walau bahasaku serumpung dengan mereka.
Setelah itu, aku duduk bersilah kembali menatap layar kaca laptopku, berdialog dengan dia sampil merenungi nasib yang ku jalani. Secercah kesuraman dan harapan silih berganti dalam pikiranku. Sejenak kebahagiaan masa lalu terasa hilang dengan kondisi ku yang seperti saat ini, pikiranku kian menjelajah di alaun-alun bawah sadar  seperti apa dalam pikiranku.
Aku mulai mencercah diriku, memarahi diriku sendiri. Aku tak memahami apa yang ku rasakan saat ini. Aku seperti paranoia......membumbung ke langit ke tujuh...tanpa ada realitasnya. Sebuah ingatan ilusif bagiku untuk berdialog dengan para filsuf yang aku tak kenal dengan Dia, aku tak pernah membaca buku tentang  Dia, aku tak pernah melihatnya di dalam telivisi, aku tak pernah membaca berita di koran. Pastinya aku buta tentang Dia. Tapi pertemuan tak di pungkiri dalam harmoni kehidupan. Kami duduk bersajak di ruang fantasi di taman bunga.....
Sajak-sajak dialog terlantun dari mulutnya yang bijaksana, wahai anak mudah boleh aku duduk bersamamu bersama pikiran-pikiranmu menjelajah itu. Karena pikiranmu itu membawa hamba sahaya ini kesini. Aku kaget dengan perkataannya yang lembut, dan santun itu. Orang sesusia dia yang udah berkepala lima sangat merendahkan diri dengan orang yang seperti saya. Aku sedikit terdiam kemudian menjawab, silahkan! aku dengan senang hati menyambut anda...yang begitu santun... dari mana anda sebanarnya datang ke tempatku..
Ah..kamu nga usah tau!...yang penting aku disini untuk menemani dan berdiskusi denganmu...soal identitas bagiku tak perlu di pertegas darimana asalku, keturunanku, kerabatku, dan statusku, rasku dan sebagainya. Karena hal itu,  memberikan jarak kepada manusia untuk bersua dalam ruang tertentu. Kata Sang filsuf. Tapi, bukankah hal itu Penting penegasan identitas, karena ada petuah mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak Cinta. “kataku sambil bercanda.... kata sang filsuf, semua itu tidak salah, tidak semua petuah harus di terima begitu saja tanpa mesti di telah dan analisis...karena di dalamnya terkandung makna yang dalam dan segudang pelajaran yang mesti jadikan pengetahuan dan pedoman hidup, Kalau tidak salah kamu juga mengatakan bahwa identitas itu mesti pertegas, justru itu sebuah kekeliruan tapi untuk mengenal nama adalah boleh saja karena nama memberikan kejelasan siapa anda sebenarnya yang membedakan aku dan kamu, dia dan mereka, aku dan mereka. Aku mencoba membantahnya bukankah Tuhan menciptakan kita berbeda-beda supaya saling mengenal dan perbedaan itu indah, tak seru juga kalau hidup sifatnya homogen.
 Betul sekali.....Dik...apa yang anda katakan. Bahwa perbedaan itu Indah tapi ketahui perbedaan itu bisa menjadi boomerang bagi kita sendiri ketika kita menganggap bahwa aku dan siapa mereka. Pernyataan ini mengandung rasa sinis terhadap perbedaan. dengan menguatkan identitas itu dalam diri kita akan membuat seseorang mengambil jarak kepada seseorang untuk bergaul. Aku terdiam sejenak mendengarkan penjelasannya, aku terpanah dengan nada suaranya datar, lembut menjelaskan tentang identitas. Sang filsuf itu melanjutkan penjelasannya dengan menatap tajam ke depan. Bahwa rasa kepemilikan identitas dalam diri individu akan memicu terjadinya rasisme terhadap identitas yang lain sehingga menimbulkan konflik antar kedua kubu tersebut, karena akan memasang pertahanan masing-masing dengan tidak mau mengalah satu sama lain. Selain itu rasa kepemilikan identitas yang berlebihan akan membuat rasa fanatisme terhadap identitas itu. Ada yang menganggap bahwa  konflik yang terjadi yang mengikuti rasa kepemilikan identitas adalah faktor kesejarahan masa lalu yang bertaut dengan fanatisme kultural.
Maaf, sebelumnya aku belum tau siapa nama anda, aku mencoba mengalihkan pembicaraan mencoba lebih dekat dengan Dia,,,,,tapi kayaknya Dia Gamang untuk menjawab siapa namanya....Nantilah kau tahu itu....siapa aku. Hati mu akan menuntun mu menjawab pertanyaan itu, sebab siapa mengenal dirinya maka Dia mengenal Tuhannya dan mengenal Tuhan pastinya akan mengetahui ciptaannya dan memiliharanya.....
Tapi, menurut saya nama bukan persoalan mengenal Tuhan tapi hanya memperjelas siapa sebenarnya anda?......maaf Dik. Apalah Arti sebuah nama bagimu kata Sang filsuf itu...ketika hanya sebuah pelengkap saja...pada dirimu justru saya akan bertanya pada adik siapa sebenarnya anda, karena saya pahami nama yang ada pada diri anda bukan anda yang sebanarnya. Justru saya datang kesini hanya karena pikiran anda, yang tak jelas arah...maka anda mesti tau diri anda.
Aku tambah bingun apa sebenarnya Dia maksud tentang pikiranku, dan hubungannya pikiranku dengan kedatangannya sebuah teka-teki yang kurang jelas? Dan mesti kah di Jawab. Aku ingin bertanya lagi tapi aku takut mendapatkan jawaban yang misterius.
**
Aku terpaku dengan sebuah pertanyaan dan jawaban yang filosofis, apakah ini namanya seorang filsuf yang mampu mengetahui kata  hati orang. Kenapa kamu terdiam! “kata Sang filsuf”. Aku  hanya memikirkan apa yang anda katakan, kataku. Hal itu ndak  mesti anda pikirkan Dik... seiring waktu anda bisa memahaminya, karena aku tahu bahwa anda terus mencari dan merenungi hal seperti itu. Tapi yang membuat aku heran dengan anda “ketakutan” dalam diri anda itulah maksud dengan kedatangan saya kemari.
Sekali lagi aku tercengan dengan Dia, aku belum bercerita tentang aku, Dia sudah tahu apa yang ku rasakan. Mesti aku masih meraba tentang dirinya. Boleh aku tau, apa yang sebenarnya anda ketahui tentang ketakutan itu? Apakah dia luar sana mengalami hal yang sama denganku?..... iyah... lebih dari apa yang anda rasakan saat ini...? kata sang Filsuf. Kenapa? Bukankah mereka orang yang tak punya masalah dan hal apa yang mesti mereka takutkan? Tanyaku ?
Aku tak mesti menjawabnya dengan Vulgar tapi mesti kau ketahui bahwa Thomas Hobbes pernah mengatakan Bahwa manusia lahir dengan membawa ketakutan. Hal yang paling di takuti oleh manusia dari dulu hingga sekarang adalah Ruang dan Waktu yaitu Keabadian dan kematian sekiranya Dik tahu itu...
Tapi, yang ku rasakan saat ini adalah aku takut terhadap ancaman di luar sana, seolah aku dalam bahaya. Iyah Dik apa yang kau rasakan, itulah Aku, karena takutmu aku ada disini bersama dalam dirimu, bersemai dalam bayang-bayang pikiranmu, di hantui oleh rasa was-was. Kau takut karena kamu memikirkannya. Maka takut dalam dirimu itu hidup yang kau tak kenal.
Kamu takut ketika kamu di dominasi oleh di luar dirimu, kamu harus mengontrolnya, hilangkan prasangka dalam dirimu, seperti kamu menghilangkanku dalam pikiranmu. Kali ini prasangka mu membawa pada sebuah kekeliruan

Ibnu Khaldhun : Akar teori Konflik

Ibnu Khaldun merupakan tokoh yang fenomenal dalam pergulatan ilmu sosial. beliau di gelari sebagai bapak dari berbagai disiplin ilmu sosial karena meletakkan fondasi beberapa teori sosial termasuk dalam ilmu sejarah, sosiologi, ekonomi, psikologi, antropologi bahkan dalam administrasi kerajaan. Sehingga, tidak salah apabila Ilmuwan sosial Barat memuji beliau sebagai pemikir tanpa tandingan, salah satu diantaranya adalah Lewis Coser mengatakan bahwa sulit menemukan orang seperti Ibnu Khaldun yang khasanah pengetahuan yang luas. Akan tetapi, sungguh di sayangkan kehebatan dan kepopulerannya hanya di ketahui segelintir orang khususnya dalam perkembangan literatur. Tapi, lebih miris lagi ketika orang-orang yang memiliki identitas yang sama atau pemikir yang lahir dari rahim yang sama mencoba untuk melupakannya. Ketika kondisi  ini terjadi sama halnya melupakan sejarah pemikir tersebut khususnya kepada ilmuwan Islam. Untuk itu maka di harapakan kepada generasi mudah saat ini di harapkan untuk menggali khasanah pengetahuan yang di miliki oleh para pemikir timur sendiri.
Ibnu Khaldun sering di lekatkan sebagai bapak sosiologi sebelum Aguste Comte mempopulerkannya, karena telah memberikan sumbangsih terhadap  pengkajian masyarakat baik secara metodologis maupun sacara keilmuwan. Khasanah pengatahuannya termaktub dalam bukunya yaitu Muqaddimah sebagai pengantar dari beberapa karyanya yang lain, tetapi buku ini merupakan  inti dari segala pemikirannya. Dalam buku tersebut keluasan gagasan beliau tidak bisa di pahami secara utuh karena dalam tulisan memberikan gambaran-gambaran umum yang terpisah.
Salasatu sumbangsinya dalam pemikirannya terhadap sosiologi adalah sebuah konsep analisis kelas  sosial pada masyarakat. Dia menggambarkan dalam masyarakat terdapat kelas yang di kuasai dan menguasai. Ulasan ini di mulai  dari sebuah proses pembentukan masyarakat. Masyarakat terbentuk menurut ibnu khaldun merupakan jalinan interaksi antara individu membentuk sebuah kelompok sosial. kelompok tersebut yang  telah terbentuk manjalin sebuah kerjasama untuk memenuhi kebutuhannya, mendapatkan perlindungan dari kelompoknya. Maka disinilah terbangun sebuah konsensus untuk membuat sebuah aturan, norma untuk di taati bersama dalam kelompok tersebut.
Namun, perkembangan masyarakat menurut ilmu khaldun memiliki dua bentuk yaitu masyarakat pengembara dan masyarakat menetap. Masyarakat pengembara adalah masyrakat yang hidupnya masih sangat bergantung pada alam, kehidupannya masih nomaden, dan berburu. Tetapi memiliki watak  keras dan keras. Solidaritas antara mereka sangat terhadap kelompoknya sesuai denngan keyakinannya.
Kedua, masyarakat menetap adalah masyarakat yang sudah tinggal bersama dalam suatu tempat dan merupakan perkembangan dari masyarakat pengembara. Masyarakat ini ditandai dengan sifatnya yang lebih malas dan suka dengan yang mudah-mudah, tetapi lebih berpengalaman dan pintar. Mereka juga masih tergantung dengan kekuasaan politik seperti gubernur dan raja serta para tentara. Menurut Khaldun, mereka telah dibentengi oleh kekuatan yang kuat, sehingga mereka tidak perlu memegang senjata. Setelah itu, ketika telah terbangun sebuah kelompok  kemasyarakatan yang kuat maka di bentuk sebuah sistem administrasi negara untuk mengatur wilayah kekuasaan.
Dalam masyarakat tersebut sebuah konsep ashobiya yang menjadi perekat kelompok sebagai kepemilikan identitas bersama. Kekuatan kolompok sosial dalam masyarakat ketika kekuatan  ashobiyanya yang sangat kuat dan di topang oleh jumlah massa  yang kuat. Karena dalam diri manusia menurut ibnu khaldun terdiri dari manusia memiliki tiga potensi dalam dirinya, yaitu intelligibilia, sensibilia, dan spiritualia. Ketiga hal ini dimaksudkan Ibn Khaldun sebagai potensi yang mampu mengembangkan eksistensi kemanusiaan dalam diri manusis. Apabila ketiga potensi tersebut mampu dikembangkan dengan baik, maka manusia mampu menjalankan fungsiya sebagai khalifah di mua bumi.
Namun, manusia juga memiliki potensi yang lain yang bisa mendorongnya bertindak agresif. Potensi itu muncul karena adanya pengaruh animal power.
a.        Cinta terhadap (identitas) kelompok
Manusia secara fitrah memiliki rasa cinta terhadap garis keturunan dan golongannya. Rasa cinta ini menimbulkan pereasaan senasib dan harga diri kelompok, yang akhirnya akan membentuk kesatuan dan persatuan kelompok.
Ketika manusia hidup dalam suatu kelompok, maka akan timbul rasa cinta terhadap kelompok, yang disebut Ibn Khalsun sebagai  Ashobiyah. Dalam masyarakat primitif, faktor pengikatya adalah garis keturunan atau ikatan darah. Sedangkan pada masyarakat modern faktor pengikatnya adalah kepentingan-kepentingan anggota kelompok.
b.        Agresif
Manuisa memiliki sifat agresif karena dalam diri manusia terdapat  animal power yang mendorongnya untuk melakukan kekerasan atau penganiayaan.
Menurut Ibn Khalsun, yang membedakan manusia dengan binatang adalah akal atau pikiran. Sejalan dengan Khaldun, Luther menyatakan bahwa manusia memiliki watak jujur dan kejam, jahatnya watak manusia dan kurangnya kebebasan untuk memilih yang benar merupakan salah satu konsep fundamental dalam kese;uruhan pemikiran Luther. McClleland menyatakan bahwa sebagaimana dengan hewan, manusia juga harus bisa bertahan untuk melangsungkan hidupnya.
Agresifitas manusia itu kemudianmenjasi pemicu munculnya konflik diantara mereka. Lorenz seorang ahli biologi menyatakan bahwa sebagaimana hewan lain, manusia juga memiliki instink agresif yang built-in dalam setruktur genetiknya. freud dalam teori Psikologisnya menyatakan bahwa manusia adalah makhluk rendah, yang dipenuhi dengan kekerasan kebencian, dan agresif. Lebih lanjut kemudian Lorenz mengatakan bahwa bukan partai politik yang berbeda yang menyebabkan agresi, akan tetapi agresilah yang menyebabkan adanya partai politik.
Pandangan di atas ditentang oleh para ilmuawan yang lain, jika pendapat di atas mengatakan bahwa tidakan agresi terjadi karena faktor internal manusia, maka ilmuan yang tidak setuju dengan pendapat diatas mengatakan bahwa agresi itu tiak timbul dari dalam seseorang, melainkan dari faktor external. Bebeapa filsuf abad pencerahan berada dalam kelompok ini. Juga yang termasuk dalam kelompo ini adalah teori yang mengatakan bahwa konflik muncul karena rasa frustasi, yakni ketika seseorang gagal mendapatkan apa yang diinginkannya. Maka jika tidak ada rasa frustasi, maka tidak ada pula konflik.
Fromm, merupakan salah satu tokohnya. Ia menyatakan bahwa tindak agresif-destruktif tersebut muncul karena adanya kondisi eksternal yang ikut menstimulir, seperti konflik politik, kemiskinan, dan sebagainya. Berdasarkan teori ini, distorsi-distorsi menimbulkan kekecewaan masyarakat yang dari waktu ke waktu terakumulasi secara eskalatif. Selain itu, Fromm juga melihat narsisme sebagai salah satu sumber utama agresifitas manusia. Suatu kelompok atau bangsa yang narsistik akan bereaksi dengan penuh kemarahan dan bersikap agresif yang sedemikian besar, ketika ada orang-orang yang melecehkan simbol narsis mereka. Oleh Sampean

sumber : 
http://alunda65.blogspot.com/2012/10/elaborasi-teori-pemikiran-ibn-khaldun.html

Pesan Sang Filsuf

Secarik Kalimat dalam Pesan
Oleh:  Sampean
Napas ini meruak tak terarah mendapatkan pesan yang tak biasa, nyeleneh tapi membuat orang penasaran. Kata itu tidak normatik tapi kenyataannya sering di lakukan oleh orang. Sebuah kalimat menyimpulkan arti dan makna, kata itu hanya sebuah kata menyiratkan makna tabuh dalam prinsip moral apalagi dalam suatu kehidupan keagamaan. Pesan itu menyiratkan ajakan yang tak biasa, Selama ini aku hanya mendengar kata-kata itu hanya sepenggal dan bahan candaan. Hari itu, sepucuk surat masuk dalam ponsel sederhana sebaris kalimat Lazim yang tak lazim dalam diriku. Saat itu, pikiran mulai mengembara dalam dunia romantika pikiran mentautkan segala prasangka, menggelayutkan dengan keinginan. Menyederhanakan dengan Penasaran, menghubungkan dengan peristiwa ala konspirasi. Tapi, Rasio mengelabui semua itu, dengan memencet tombol memanggil untuk memastikan apa maksud pesanmu...tapi Suara TUK..TUK  mengakhiri semuanya.
Tapi, pesan kedua Nyusul dengan permohonan maaf untuk memastikan maksudnya, kalimat itu berhenti untuk tertafsir seperti Matinya teorinya Roland Barthes Matinya Pengarang. Sekarang menghidupkan kembali pengarang yang di kubur oleh Roland Barthes. Lupakan teori ini, saya kembali dengan bernostalgia dengan pesan itu, menyeruakkan libido ala Sigmeun Freud. Mengakses khalayan dan fantasi. Ahhh...lagi-lagi masuk Prototipe Penjara pikiran sang maestro. Lari...lari dari sana...ayo lepas dari pikirannya.
Pesan dan pesan saling berbalas, untuk mengungkapkan maksud, menyampaikan masing-masing kehendak, belum sampai pada tujuan yang sebenarnya sebuah rekomendasi nomor pemandu untuk sampai pada sang Putri. Pesanku terakhir untuk mengakhiri segala komunikasi *808*08XXX# menjadi andalan. Sebuah Pesan lagi masuk aku tak bisa menelpon! Tapi kalau mau ketemu denganku hubungi saja pemanduku. Kata Sang Putri. Semuanya berhenti di situ.
**
Putri adalah kiasan sang bidadari di puja oleh banyak orang, Sang Pengeran Berlomba  untuk menikahinya. Bahkan untuk mendapatknya, di lakukan sayembara untuk mendapatkan hati sang Putri, pangeran yang terbaiklah yang bisa mendapatkan sang Putri. Putriku tidak seperti itu, tapi Putriku Prematur. Pesan terakhir di ponselku membuat ku penasaran dengan Dia, membayangkan di mahligai ranjang pengantin.
Aku...aku ingin mendekap dalam bayang-bayang tubuhmu, bergulat antara kenyataan dan fakta, mencibir kebenaran yang telah tersingkap, mengelak untuk sementara waktu dengan kebiasaan akal budi, menyerah dengan nafsu mematikan malaikat, menghidupkan jin. Sebuah aforisme mengelak dari kesalahan menyalahkan mahluk metafisika. Sayatan-sayatan kebimbangan, mengharuskan menyalurkan hasrat di tengah nada-nada keindahan dan kenikmatan. Kacamataku menjadi burang, terhalang oleh kabut-kabut tipis, nafsu telah berkuasa..tapi  ini bukan politik cess berbicara kuasa dan menguasai tapi ini persoalan esensi kemanusiaan.
Sebuah realita yang lain hadir dalam diriku, ketika di luar diriku mulai bicara tentang aku, hidupmu bukan drama, hidupmu bukan sinetron, hidupmu bukan di TV. Ketika realita hanya dalam bayang-bayang visual, tergambar dalam dunia maya, realita itu ada tapi tak nyata, dan realita itu akan berhenti, menembus dimensi yang lain. ah......aku bingun apa yang di maksud di luar diriku, kau tak paham juga yah! Kau hanya pintar berfantasi, tanpa bisa menghikmat pelajaranmu, kau dosa dengan ku yang telah melupan ku sementara aku adalah dunia mu. Aku dan kamu yang selama ini adalah berjalan bersama, tak ada ruang dan waktu memisahkan kita tapi berjarak. Aku belum tersedar olehmu aku masih bergumal dengan nyanyian luar sana yang menawarkan surga, hakikat tertinggi sementara waktu untuk perjumpaan.
Aku hanya meminta dalam dirimu, untuk mengingatku walau sekejap, kenapa kau terdiam, kenapa kau berguman..apa kamu telah tersadar, cobalah engkau berpikir? Sadari dirimu, sadari bahwa aku realitasmu. Maaf Aku belum bisa mengenalmu! Menjaulah! “kataku”
tak terasa dua hari telah berlalu, ternyata waktu hanya siang dan malam yang di hitung gerak detik per detik, menit per menit, jam per jam, hingga sampai pada satu hari betulkah itu waktu, atau apakah waktu itu bergerak, atau geraknya itu hanya putaran bumi tapi kok matahari tak pernah berhenti bersinar apakah juga berlaku di ruang hampa atau di luar bumi ini. Lagi-lagi nyeleneh dasar pikiran, aku kayak orang gila bicara dengan sendiri, Doss..Doss...Doss nyeleneh lagi, aku mau bicara tentang secarik Pesan dua hari yang lalu, ehh terlupakan.
***
Aku sibuk hari ini, menyusung kerangka-kerangka sampah perpindahan kost, semua orang menertawaiku melihat isi mobil kayak sampah. Tapi, berbekal itu, aku ingin membangun sebuah peradaban di kamar baru ini. Entahlah! Apa yang mesti terjadi?
Di selah-selah kesibukan, aku menyisipkan waktu untuk mengirim pesan singkat, iseng-iseng untuk menyapanya “Hei lagi ngapain!” aku tak berharap untuk di balas, ini hanya menautkan sebuah kosakata dalam kamus tentang “Harapan” untuk di sapa juga. Sejam kemudian tak ada balasan. Tepat pada pukul 3.30 balasannya datang juga “iyah, Cuma lagi santai-santai aja dirumah. Kenapa!” sebuah nada menyiratkan makna, terhadap intrepretasi tunggal. Aku hanya ingin mengenalmu dan boleh ngga aku jalan-jalan ke rumahmu!. Pesan ini hanya menyiratkan menyalurkan sikap jailku lagi muncul, berselan kemudian balasanya untuk menemuiku, kamu harus melewati beberapa pintu untuk sampai kepada saya sekaligus kamu harus ketemu dengan pemandu ku! Aku mencari seribu alasan ketemu langsung dengannya, masih tetap pada pada pendiriannya, pesan terus bergulir dengan racung gombalan akhirnya terbuka juga ruang untukku bisa ketemu langsung dengan Dia.
Aku di berikan ruang, aku di berikan kesempatan untuk ketemu langsung dengannya, Dia mulai memintah waktu dan tempat untuk bertemu, ternyata orang serius ingin ketemu denganku, aku baru tersadar bahwa aku terlalu jauh mengikuti hasrat untuk ketemu dengan orang ini. Dia Coba menunjukkan tempatnya Di Hotel Q, aku terjebak dengan Permainanku sendiri, aku mulai menyadari diriku, identitasku yang ku sandang sekarang. Aku Bukan mahasiswa pada Lasimnya tapi aku bukan juga mahasiswa yang tak lasim. Tapi, aku adalah penghujat kebenaran sekaligus pembenci kesalahan.
Aku mencoba jujur lewat pesan-pesanku, bahwa aku ingin mengenal Mu bukan karena aku ingin bergumal dengan mu tapi aku hanya mengenal dan berteman denganmu. sebab antara aku dan kamu memiliku ruang yang berbeda. Sebab, aku hanya  mendengar dongen tentang dunia Mu, bahwa dunia sana ada kehidupan putri-putri kesepian menanti sang pangeran untuk menjemputnya. Sekarang aku tak penasaran terhadap dunia ini, aku telah mengetahui bahwa di luar sana ada kehidupan seperti itu. Aku hanya mengucapkan permohonan maafku atas ketaksanggupanku untuk mempersuntingn Mu dan sebuah ucapan terimakasih telah memperkenalkan dunia dalam dongenku yang telah nyata.
Walaupun demikian, Kehidupan baru ini aku tak bisa menghinggapinya, bagiku aku bukan lagi Ababil (Anak baru gede Labil) kata sang pujangga (Darwin dalam buku Pesan mama untuk kematian) tapi aku ini adalah (ANJAS) Anak Jalanan Stabil. Sebab, kata Jalaluddin Rahmat hidup ini Pilihan, selain itu, Ali syariati mempertegas apakah kamu akan bergumal terhadap realitasmu sekarang atau keluar dari sana. Inilah dunia ku, apakah di luar dari ku atau dari dalam diriku. Itulah aku
****
Jejak-jejak ini hampir di rusak oleh sedenting nostalgia fantasi kulminisme. Fantasi yang menyiratkan kesenangan sesaat, untuk merusak Peradabanku yang telah ku bangun dengan sehasta. Aku ini memang banal selalu ingin mengenal dunia yang sementara. Padahal aku memiliki duniaku, Terimah kasih masa lalu, aku seperti sekarang ini. Lari dan lari untuk bisa lepas dari itu, sonsong masa depan, gulirkan perjuangan, mulai cerita dengan sebuah catatan secarik kalimat dari pesan. Buat untaian kata dengan tatanam yang rapuh peradaban kalimat, menyusun kerangka peradaban teks, merobek-robek tatanam yang baku. Menjelaskannya dengan Vulgar......Ketika API di hidupkan  muncullah penanda Asap, untuk di padamkan, setiap langkah ada konsekuensi, berani berbuat, berani mengambil risiko. Inilah Perbuatanku...akan ku jalani sebagaimana mestinya..bahwa inilah duniaku..yang Ku sandang identitasku....Aku pendidik

Kamis, 06 Juni 2013

Puisi : Anak Jalanan

ANAK JALANAN
 oleh : sampean
anak jalanan
kau terlahir bukan karena kehendakmu
Menyingsing aras kau tapaki
dengan secuil Harapan
Kau tak berani Bercita-cita besar
karena engkau di larang

Anak Jalanan
takdirmu hanya di jalanan
kata mereka....!
Tapi aku Bilang tidak
kau dan aku sama dengan mereka
kita punya peluang yang sama

hanya kamu tak berani untuk bercita-cita
bangkit hempaskan
tembok Penindasan itu
biarkan pikiran mereka
buyar di tengah lautan
kenistaan kejayaan

anak jalanan
satu langkah
menuai masa depan
raih apa yang menjadi hakmu
rampas dari Mereka
jangan Hanya berdiri
di persimpangan Jalan

Selasa, 28 Mei 2013

PUISI (Malam)

Malam
 oleh :Sampean

Ku obati kesunyian malam ini dengan kata-kata
dengkuran-dengkuran malam menyelimuti jiwa
tersayat luka kesepian
sorotan lampu menutupi kegelapan
menghempaskan malam
Malam.....
dengar Kisahku
ohhh..... malam
aku kesepian
aku jenuh...
aku lelah
ku Ingin menyatu dengan dingin
seperti dirimu bersama patahan ini
ku rindu pada jiwa yang terlelap, kesunyian
indahnya kesendirian itu
ohhh...malam
kenapa Mesti sunyi
kau terdiam
tersenyum beku
apakah kau marah padaku
malam dengarkan ceritaku
Kenapa kau membisu
sudahlah.....
apa kau benci padaku
ataukah aku terlalu berharap padamu malam
biarlah semuanya sampai disini
seperti engkau menghilangnya cahayamu

Senin, 11 Februari 2013

SOSIOLOGI KEPENDUDUKAN


PROBLEM KEPENDUDUKAN INDONESIA
Sampean
096614128
A.           Latar Belakang
Jumlah penduduk di Indonesia pada Tahun 2010 telah mencapai 237.641.326 orang. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi yang keempat setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Tingginya angka pertumbuhan penduduk di Indonesia mengalami sebuah resiko tersendiri dengan munculnya berbagai persoalan yang di hadapi oleh bangsa ini. Tingginya jumlah penduduk yang di alami oleh Indonesia tidak di sertai oleh penyebaran penduduk yang merata dengan melihat luas wilayah Indonesia yang ada. Sebab jumlah penduduk yang terbesar di Indonesia berada di daerah Jawa. Selain pusat pembangunan tidak merata di setiap provinsi dan daerah sehingga masyarakat untuk melakukan migrasi. Kondisi ini menunjukkan kepadatan penduduk di Indonesia tidak seimbang. Dari ketidakseimbangan ini memicu berbagai persoalan masalah kependudukan di Indonesia.
Persoalan kependudukan ini telah di ungkapkan oleh Malthus bahwa jumlah penduduk yang besar atau pertumbuhan penduduk yang tidak terkendalikan akan mengakibatkan krisis pangan sebab jumlah penduduk yang besar yang tidak di barengi dengan pertumbuhan ekonomi akan mengakibatkan sebuah kemiskinan pada suatu Negara.  Wabah kelaparan akan menjadi semakin meningkat sebab keterbatasan ketersediaan pangan.
Dengan ledakan jumlah penduduk yang sulit di kendalikan namun sebaliknya lahan pertanian dan perkebunan semakin sempit karena banyak wilayah Indonesia menjadi beralih fungsi pemukiman karena keterbatasan wilayah. Hal ini sangat Nampak bahwa kota-kota di Indonesia berdiri di atas areal persawahan dan rawah. Dampak dari pembangunan pemukiman ini yang tidak terencana akan mengakibatkan banjir sebab wilayah penyerapan air telah menjadi dangkal, sehingga mengakibatkan air meluap. Pemandangan ini bisa kita lihat-lihat kota besar di Indonesia seperti Jakarta yang telah berubah dengan belantara gedung yang setiap Tahunnya di landa banjir.
Dari faktor ini juga sumber pendapatan Negara dari hasil pertanian khususnya sumber kebutuhan pokok seperti padi semakin menurun dari tahun 2010. Produktifitas Padi mencapai 66, 47 juta ton di prediksi akan menurun pada tahun 2011 sebesar 1, 67 persen atau setara dengan 1,08 juta ton. Penurunan ini di akibatkan oleh pengurangan jumlah wilayah persawahan yang di gunakan untuk daerah pemukiman dan industry. Jika di bangdingkan pada era pemerintahan  Suharto Indonesia mampu menjadi Negara swasembada beras karena jumlah wilayah persawahan dan pertanian belum beralih fungsi.
Krisis ini semakin Nampak keluarnya sebuah kebijakan pemerintah saat ini dengan mengimpor Beras dan kedelasi untuk memenuhi pasokan beras dan kedelai dalam negeri karena produktivitas padi dan kedelai dalam negeri tidak mampu memenuhi permintaan konsumsi dalam negeri. Hal ini tidak lepas dari jumlah penduduk  yang semakin meningkat.
Ledakan penduduk yang terjadi di Indonesia memicu terjajdinya pemukiman-pemukiman yang kumuh dan berdesak-desakan akan mengakibatkan tingkat kesehatan semakin rendah selain itu pembiayaan terhadap kesehatan semakin meningkat. Jumlah pengangguran semakin tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja yang sangat minim. Berkaitan dengan pemukiman yang padat merupakan sebuah ilustrasi terhadap proses migrasi yang tidak merata di Indonesia yang memicu permasalahan yang baru.
Dengan berbagai macam ilustrasi Masalah kependudukan yang telah terjadi di Indonesia pada dasarnya merupakan permsalahan yang sangat sederhana akan tetapi memiliki dampak yang cukup besar. sebab mengakibatkan ketidakseimbangan suatu Negara dalam upaya pembangunannya. seperti yang di alami Indonesia saat ini. Hal ini bisa kita lacak dari permasalahan kependudukan di Indonesia.

B.            Permasalahan Kependudukan di Indonesia
1.        Jumlah dan Pertumbuhan penduduk
Perkembangan jumlah penduduk  di pengaruhi oleh tiga factor yaitu  tingkat kelahiran, kematian,  dan migrasi. Peristiwa kelahiran akan mengubah sebuah keadaan komposisi penduduk suatu Negara atau daerah sebab angka kematian akan menambah kuantitas penduduk. Selain itu, kematian  dapat menambah jumlah penduduk suatu Negara apabila tingkat kematian sangat kecil akan tetapi jika jumlah kematian rendah akan mengakibatkan kuantitas jumlah penduduk suatu Negara sedangkan migrasi memiliki juga pengaruh sebab migrasi akan menambah jumlah penduduk  pada daerah yang di tuju sementara daerah yang di tinggalkan akan mengalami pengurangan penduduk. Selain itu fungsi migrasi yaitu untuk melakukan pemerataan penduduk. Selain dari akibat langsung yang di timbulkan oleh factor pertumbuhan penduduk ini. Pertumbuhan penduduk akan mengakibatkan ketidakseimbangan social seperti masalah ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Pengaruh ini bisa kita lihat dari pertumbuhan penduduk Indonesia.
Pada tahun 2010 jumlah final pertembuhan penduduk Indonesia 237.641.326 orang yang terdiri dari laki-laki  sebanyak 119.630.913  orang  dan  perempuan  sebanyak  118.010.413 . Jumlah  itu  tersebar di 33 provinsi dimana sekitar 57 persen dari  jumlah  penduduk  tersebut  tinggal di Pulau Jawa. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia 10 tahun terakhir ini mengalami peningkatan dengan pertumbuhan 1, 49% pada periode 10 tahun sebelumnya 1990 -2000. Laju pertumbuhan penduduk pertahunnya sekitar 1,44%. Piramida  penduduk  Indonesia  tahun  2010  termasuk  tipe  expansive,  dimana sebagian  besar  penduduk  berada  pada  kelompok  umur  muda.  Bagian  tengah  piramida cembung dan bagian atas cenderung meruncing. Dengan model yang seperti ini akan mengakibatkan sebuah risiko ketersediaan lapangan kerja yang memadai sebab usia mudah merupakan sebuah usia yang sangat produktif  akan tetapi keterbatasan lapangan kerja akan mengakibatkan beban produktif karena akan menciptakan pengangguran di usia mudah.
Namun disisi yang lain merupakan sebuah keuntungan pada pihak pengusaha dan industry karena ketersediaan tenaga kerja semakin banyak dengan jumlah upah atau gaji yang rendah membuka ruang untuk eksploitasi terhadap tenaga kerja sebab kesempatan kerja sangat sedikit dan daya saing semakin tinggi.
Selain itu angka ketergantungan terhadap masyarakat pada usia produktif juga ikut berpengaruh dalam sebuah pertumbuhan penduduk. Sebab  usia yang tidak produktif lagi akan mejadi beban bagi usia yang produktif dengan mengurangi rasio produktif dan meningkatkan tingkat konsumsi, selain itu usia senja menambah beban Negara dalam pembiayaan kesehatan bagi usia lansia.
2.        Kelahiran dan Kematian
Kelahiran adalah ukuran tingkat kelahiran yang digunakan dalam perhitungan proyeksi adalah angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) dan angka kelahiran menurut umur atau Age Specificity Fertility Rate (ASFR) . Berdasarkan dua kondisi di atas dapatlah disebutkan beberapa masalah (terkait dengan SDM) sebagai berikut :
a)    Jika fertilitas semakin meningkat maka akan menjadi beban pemerintah dalam hal  penyediaan aspek fisik misalnya fasilitas kesehatanketimbang aspek intelektual.
b)   Fertilitas meningkat maka pertumbuhan penduduk akan semakin meningkat tinggi akibatnya bagi suatu negara berkembang akan menunjukan korelasi negatif dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.
Jika ASFR terus meningkat maka akan berdampak kepada investasi SDM yang semakin menurun. Jika  Kematian adalah ukuran tingkat kematian yang digunakan dalam perhitungan proyeksi adalah angka kematian bayi atau Infant Mortality Rate (IMR), Karena IMR merupakan salah satu indikator yang penting yang mencerminkan derajat kesehatan masyarakat. Di samping itu IMR dapat di pakai sebagai alat monitoring situasi kependudukan sekarang maupun sebagai alat untuk mengidentifikasi kelompok umur penduduk tertentu yang mempunyai resiko kematian tinggi. 
Masalah yang muncul akibat tingkat mortalitas adalah :
a)    Semakin bertambahnya Angka Harapan Hidup itu berarti perlu adanya peran pemerintah di dalam menyediakan fasilitas penampungan.
b)    Perlunya perhatian keluarga dan pemerintah didalam penyediaan gizi yang memadai bagi anak-anak (Balita).
c)    Sebaliknya apabila tingkat mortalitas tinggi akan berdampak terhadap reputasi Indonesia dimata dunia. 

C.           Dampak Permasalahan Kependudukan terhadap pembangunan
Kecepatan pembangunan suatu Negara akan bergantung pada kualitas penduduknya sebab penduduk merupakan subjek sekaligus objek dalam pembangunan. Sehingga kualitas penduduk terus di dorong untuk maju untuk melakukan rekayasa terhadap sebuah kondisi social seperti pemberdayaan penduduk melalui pendidikan dan pelayanan kesehatan yang mendukung.
Pemberdayaan sumber daya alam sangat bergantung pada kualitas dan kuantitas penduduk dalam mengolah sember daya alam tersebut. Namun dalam konteks keindonesiaan kuantitas jumlah penduduk Indonesia sangat tinggi akan tetapi tidak di barengi dengan perkembangan kualitas individu penduduk sehingga mengalami sebuah ketimpangan. Akibatnya sumber kakayaan alam Indonesia yang melimpah di olah orang asing sehingga devisa Negara semakin berkurang sebab pendapatan Negara hanya pada pendapatan pajak selebihnya itu di ambil oleh asing.
Hal ini terjadi karena keterbatasan orang-orang Indonesia menguasai teknologi dan pemerataan pendidikan masih sangat rendah. Untuk saat ini perlu di gunakan sebuah indicator bahwa  buta huruf saat ini bukan lagi orang yang tidak mampu membaca dan menulis akan tetapi adalah orang-orang yang tidak bisa mengunakan dan mengoprasikan  teknologi. Selain itu akses untuk menjangkau perkembangan teknologi sangat tinggi sehingga sulit di jangkau oleh-oleh orang-orang Indonesia.
Peningkatan jumlah kesejahteraan di Indonesia adalah merupakan sebuah persoalan dan menjadi sebagai sebuah beban yang dianggap serius sebab saat ini Indonesia tingkat pendapatan Per-Kapita yang rendah,   dan banyak masyarakat yang belum bisa hidup yang layak dan banyak usia yang produktif masih sangat bergantung sama orang tua.
Angka kemiskinan yang di keluarkan BPS RI Jumlah  penduduk  miskin  di  Indonesia  pada Maret  2012  mencapai 29,13  juta  orang  (11,96  persen), berkurang 0,89 juta orang (0,53 persen) dibandingkan dengan  penduduk miskin  pada  Maret 2011 yang sebesar 30,02 juta orang (12,49 persen). Namun, angka ini tidak berarti apa-apa sebab angka ini secara kasat dalam masyarakat tidak mengalami perubahan apa-apa dengan melihat biaya kesehatan yang semakin sulit di jangkau oleh masyarakat kalangan bawah begitupun pendidikan. Sehingga fasilitas Negara sebenarnya hanya bisa di nikmati oleh oleh kalangan tertentu.

D.           Kesimpulan
Banyak persoalan yang di hadapi oleh bangsa saat ini tidak lepas dari sebuah perkembangan penduduk yang terus meningkat dan penyebaran penduduk yang tidak merata sehingga memicu terjadinya gerak mobilitas yang sangat lambat dan jumlah pengangguran yang semakin tinggi, kesehatan yang rendah karena tingkat kematian bayi yang tinggi dan tingkat kematian usia mudah juga relative tinggi sehingga akan memperlihatkan keburukan pelayanan kesehatan.










Daftar Rujukan

Badan Pusat Statistik.2012. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi. Jakarta. (Februari)
Badan Pusat statistic.2012. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia (Maret)
Badan Pusat Statistik.2012. Berita Resmi Statistik. No. 45/07/Th. XV, 2 Juli 2012
M. Henslin, James. 2007. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga
Sumanto, kamanto. 2008. Pengantar Sosiologi.





Internet/artikel/jurnal :




Jumat, 08 Februari 2013

Filsafat PAPAN: Pentingnya Wadah

 Filsafat Papan: Pentingnya Tempat Tinggal
Sejarah manusia adalah sejarah perjuangan untuk beradaptasi menaklukkan alam. Semua itu di lakukan untuk memenuhi kebutuhannya. Hal yang fundamental pada diri manusia untuk bertahan hidup ketika mampu memenuhi kebutuhan primernya yaitu sandang, papan dan pangan. Ketika hal ini merupakan suatu penopang kehidupan manusia di muka bumi maka ketiga  hal ini mesti terpenuhi. Salasatu diantaranya adalah papan yang berhubungan dengan kebutuhan tempat tinggal. Sejarah kehidupan manusia telah mencatat bahwa tempat tinggal  sangat berperan penting dalam proses beradaptasi dengan alam. Sebab,  tempat tinggal (Papan) menjadi wadah untuk berlindung dari kehidupan hewan yang buas, wadah untuk berlindung dari kondisi cuaca yang selalu berubah-ubah, tempat mengumpulkan bahan makanan, melangsungkan kehidupan dan mengatur sistem sosialnya. Peranan papan ini berkembang sesuai dengan perkembangan pola pikir dan kebutuhan manusia. perkembangan ini kita bisa telisik dengan mengamati model-model bangunan yang ada di sekitar kita yang semakin maju.
Pada intinya bahwa fungsi Papan adalah sentrum kegiatan manusia. Ibnu Khaldun juga membahasakan bahwa puncak dari peradaban manusia adalah ketika menusia telah menetap dan memiliki pusat-pusat kegiatan yang terjewantahkan dalam masyarakat kota. Tapi jauh sebelum Ibnu Khaldun  membahasakan hal ini, Muhammad SAW telah menyadari sebuah pentingnya pusat-pusat kegiatan Islam untuk menyebarkan agama Islam. Kesadaran ini membawa nabi Muhammad Membangun Mesjid untuk di gunakan sebagai pusat kegiatan Umat Islam. Fungsi Mesjid bukan hanya sebagai tempat ritualitas. Akan tetapi Mesjid sebagai basis gerakan Material dan spiritual. Gerakan material merupakan fungsi mesjid sebagai tempat untuk konsilidasi dan musyawarah umat Islam membahas Problem dan dakwah penyebaran Islam. Sedangkan gerakan Basis spiritual, Mesjid digunakan untuk melakasanakan ritualitas umat Islam seperti pelaksanaan ibadah dan ceramah umat Islam.
              Berdasarkan deskripsi diatas, bahwa tempat tinggal (Papan) betapa pentingnya sebuah wadah atau tempat untuk menghadirkan pusat-pusat kegiatan untuk membangun, konsilidasi, dan menjalin hubungan solidaritas, egaliter dan fraternaity dalam membentuk jamaah yang terintegrasi.  Allah berfirman : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur seakan akan mereka seperti suatu  bangunan yang kokoh. (QS. Ash Shaff 61:4). Rasulullah SAW telah memberikan gambaran kepada kita pentingnya membangun pusat kegiatan ummat, tanpa ada tempat, apakah bentuk rumah, masjid atau biasa yang dikenal dalam terminologi administrasinya adalah Sekretariat, maka sudah dapat dipastikan organisasi tersebut akan mengalami kesulitan dalam melakukan konsolidasi, pengkajian apalagi membangun sebuah jamaah yang kokoh. Terkait dengan hal ini  salasatu sahabat nabi yaitu Ali bin Abu Thalib juga pernah mengatakan Bahwa kebenaran yang tidak terorganisir akan di kalahkan dengan kejahatan yang terorganisir. Hal ini di buktikan dengan keberadaan komunitas kreatif Zionis yang berhasil membentuk negara Israel dan memerangi Palestina.