Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Sudah Tiba Waktunya

Suratan darimu sulit aku baca
tawamu yang silam akhir dari perpisahan kita
aku raba tanganmu sungguh kasar
genggamanmu tidak sekuat dulu lagi
tanganmu sudah bergetar dan engkau sesekali rasakan sakit
Aku sudah tahu, umur ayah tidak panjang lagi

ada yang pilu, ketika ayah melukai kaki sendiri
tanganmu sudah kehilangan nafasnya
batinku tersayat  belati...
kuambil pisau dan pemotong kuku darimu
kuusap darah yang mengucur
kubersihkan kukumu dari kotoran yang menghitam

Itu akhir kebersamaan kita, Yah
menasehatiku
bercanda
tertawa

Setelah itu, Ayah tidak pernah lagi
menatap mataku, sampai kita benar-benar berpisah selamanya.





Selasa, 26 Desember 2017

Kemarin Sore

hari ini, aku mengunjungi matamu
ia redup dengan waktu
tatapanmu merampas riwayatku

kemarin sore

kita masih sanggup menerjemahkan jalan kita.

kerikil di depan rumah berserak tabah
sisa hujan  menggenang
dedaunan masih basah
cat tembok rumah kita masih menyisakan tapak tanganmu

di sini, aku masih mengembara
menjelajahi sisa purnama yang kamu lalui..

Jumat, 10 November 2017

Aku Bandit Pengetahuan

aku kesal pada pikiranku, yang menghamba pada pengetahuan. Aku menyesal telah menyusun bait-bait kata. Kini, aku berjalan di belantara padang kenistaan, berpura-pura membela 'penindasan' dan 'orang-orang pinggiran'. harga diri terbuang sia-sia. sirna.

aku ingin menjelma air mata saja, berlinang di ceruk para sufi, jatuh dengan doa.
menyepi di pinggiran derita kuasa.

inginku ketemui, takdirku
pada kitab-kitab kata saja.

Duduk bermeja, bercahaya elektron
menyinari sepanjang tatapan kematian.
aku  ilmuwan berkolor pengetahuan
lupa cara bersenggama, lalu derita ditangguk dengan segepuk uang.
aku bilang saja "kita sedang melakukan pembebasan"
"Mencipta manusia-manusia pembelajar"

Apakah itu "kerja kita"

Rendra menjerit

"Untuk apa berpikir ketika terpisah dari kehidupan"

Kutatap kembali jalanku
Aku tidak menemui kedamaian,,,,,,,,,,,,,
di sini... ada jalan kemunafikan
berlapak penderitaan
sebentar lagi jadi "pemangsa"
menghisap cerutu keringat-keringat
kaum miskin kota
petani
nelayan
buruh

Sementara "AKU" pengabdi pengetahuan
sebentar lagi mengabdi pada kuasa.

Rakyat !! sudahlah
ikuti saja kata "kami" 

Selasa, 19 September 2017

,

Aforisma1: TUAN DALAM SEBATAN GAWAI

TUAN DALAM SEBATAN GAWAI

Tuan, Janganlah kamu sibuk mengusap layar gawaimu, Aku juga butuh sentuhan tanganmu.
Tuan, Aku disni terluka dalam lipatan-lipatan janjimu yang tak utuh.
Tuan, Kunjungilah aku di katub senyumku, sebab; aku tak ada lagi di pojok kamarmu.
Tuan, pahamilah aku sedang bersusah hati, temangu di antara tarian jemarimu.

Tuan, Kamu sedang apa ?
kamu tersenyum sendiri,
pikiranmu menyusup kelayar gawaimu
hidupmu menguar ke tempat lain.
Kamu tertunduk rapuh nan angkuh
kamu tidak sedikit pilu tentangku,
Aku disini, disampingmu
menghidangkan sejumput duka, segenggam larah, setetes asam.
Tidak sedikit pun kau iba.

Lalu, Kamu bercurah air mata
menyemai sedih
di antara gambar-gambar duka yang muncul di beranda mayamu

Aku heran tuan, setelah itu,
 Tuan
 tertawa lagi, cekikan
"Hahahahahahha"
menertawai hantu-hantu yang berakrobat.

Tiba-tiba kamu berubah lagi, tuan

Gusar, mengumpat yang tak sepaham dengan dirimu.
"Setan"
"Anjing"
"laknat"
"Kafir"
"Komunis"
"Dasar takfiri"
"Penganut bumi datar, sial"
"Sumbu Pendek"
kamu punya hak atas kebenaramu.
Lalu, Anda Siapa tuan ?

Manusia.... sebatang gawai
atau
manusia..... sepotong sara
atau
Manusia.... setengah Dewa
atau
Manusia... gagal jadi malaikat

ahh... maaf "tuan"

Kesebut saja engkau "Manusia Koplak"

Senin, 11 Mei 2015

KOIN

lirih
bertepuk
meringkih
semerbak wangi logam
menutup lubang hidung
gemerisik daun bertutur
mengulung pandang wangi
liur menetes, sajak mengepul lunglai
udara terasa pekat demi serbuk merah
kau timpal loteng rumah tetangga
ada tulang di rumah ku
cukup menyambung lidah mu
kemari
ambil  itu
sambung hajat mu
mungkin
kamu terlalu lelah
membawanya pulang
ahhh... itu
mungkin cukup sebatang


Oleha : Anonim
Yogyakarta, 10-05-15

Jumat, 27 Februari 2015

INSOMNIA

INSOMNIA

 

mata terasa kuyu

kelopak mata tak jua terkatup

ku rebahkan badan di atas peraduan

mata letih menutup kuncup

ku mekarkan kembali dengan tetasan embun

ku belai, ku tiris lalu ku ketenggak perlahan

kenikmati rasa sendu dari hitamnya genangan

racunnya menjalar di tubuh ku

racun yang menyesatkan mimpi ku

dari kubangan keindahan

aku takut terlelap

dan lupa untuk kembali

 

https://images.search.yahoo.com/images/view;

Sabtu, 10 Januari 2015

,

Riwayat Kesepian

RIWAYAT SEPI

Sesepi sunyi, hening menggugat kesepian. Dia hening yang berisik. Serta gemerisik mengganggu riuh yang risih. Kegelisahan mengumpal dalam benak, mengharapkan kedatangan yang riang. Boleh kah Aku bertanya tentang kesepianmu! Dirimu hanya terpaku pada rasa hambar, diri mu tidak pernah kudapatkan dalam kegembiraan. kamu menghayati diri mu di dalam kesunyian. Seabrek persoalan kamu menghayatinya bersama sepi. Sulit bagi mu berbagi rasa dng yang lain. Kamu hidup dalam di dunia mu sendiri. Kamu seolah terluka di dalam hidup mu, lalu kamu tidak pernah ceritakan. Inikah riwayat mu yang tenggelam dalam sepi. Kamu mengartikan kebahagiaan dengan kesendirian. Riwayat mu kini, hanyalah kesepian yang berbalik kesendirian. Ternyata kamu mengartikannya seperti itu. Adakah hidup sesepih dirimu. Kenapa Senyap kamu anggap menggugat!, apalagi dengan suara berisik. Sedih sekali riwayat mu kawan. Hidup mu telah kamu artikan sebagaimana kesepian. kamu menyeduh kehidupan mu dengan sendirian. Riwayat sendu kamu peragakan. Sementara riwayat ramai kamu hempaskan. Diri mu pun diam, disaat aku menggugatmu, diri mu begitu dingin menyambutkan dengan senyum. Hadir ku, kamu anggap merecoki kesendirian mu. Lalu kamu anggap aku apa! Ternyata, aku hanya teman dalam sepi. Adakah yang terharu dalam hidup ku, sebab aku riwayat kesepian itu sendiri. Adakah yang mau menghampiri ku untuk termenung, berkhayal, berfantasi, menangis, dan bermimpi. Teman ku hanyalah kesendirian. Tidak semua orang memilihnya, kecuali duka. Aku betul-betul sepi karena tidak semua orang membutuhkan kesepian.

SADIS ITU BENAR

"ampun" kata ku, kamu membuka luka d tubuhku. Kamu menyayatnya, kamu beringas, kamu penggal kepala saudara ku. Tak sedikit pun kamu ragu melakukannya. Kamu itu saudara kita, tapi kamu tidak pernah ibah dengan ku. Malah Kamu mengibahku "kafir", darah ku pun halal untuk mu. Ahh.... Kenapa agama ku begitu kejam di tangan mu, pada hal nabi ku mengajarkan kasih sayang dan pengasih. Bukan kah setiap laku dimulai dengan sifat Tuhan yang rahman dan rahim.

Ditangan mu, sadis itu benar. Kamu bangga ketika jiwa para korban melayang, aku bingun terhadap mu. sudahlah, jiwa ini pun ihklas terkoyak oleh mu. Rengguklah jiwa ku, jika itu membuat mu bahagia. Agama ku yang malang, dijadikan pembenaran setiap laku sadis.

Kamis, 06 Juni 2013

Puisi : Anak Jalanan

ANAK JALANAN
 oleh : sampean
anak jalanan
kau terlahir bukan karena kehendakmu
Menyingsing aras kau tapaki
dengan secuil Harapan
Kau tak berani Bercita-cita besar
karena engkau di larang

Anak Jalanan
takdirmu hanya di jalanan
kata mereka....!
Tapi aku Bilang tidak
kau dan aku sama dengan mereka
kita punya peluang yang sama

hanya kamu tak berani untuk bercita-cita
bangkit hempaskan
tembok Penindasan itu
biarkan pikiran mereka
buyar di tengah lautan
kenistaan kejayaan

anak jalanan
satu langkah
menuai masa depan
raih apa yang menjadi hakmu
rampas dari Mereka
jangan Hanya berdiri
di persimpangan Jalan

Selasa, 28 Mei 2013

PUISI (Malam)

Malam
 oleh :Sampean

Ku obati kesunyian malam ini dengan kata-kata
dengkuran-dengkuran malam menyelimuti jiwa
tersayat luka kesepian
sorotan lampu menutupi kegelapan
menghempaskan malam
Malam.....
dengar Kisahku
ohhh..... malam
aku kesepian
aku jenuh...
aku lelah
ku Ingin menyatu dengan dingin
seperti dirimu bersama patahan ini
ku rindu pada jiwa yang terlelap, kesunyian
indahnya kesendirian itu
ohhh...malam
kenapa Mesti sunyi
kau terdiam
tersenyum beku
apakah kau marah padaku
malam dengarkan ceritaku
Kenapa kau membisu
sudahlah.....
apa kau benci padaku
ataukah aku terlalu berharap padamu malam
biarlah semuanya sampai disini
seperti engkau menghilangnya cahayamu

Senin, 31 Desember 2012

Catatan akhir Tahun



Senandung Doa
Untukmu BU

Setetes percikan air menggetarkan ketenangan air riak
Nasehat terus terlantung dari bibirmu
Daun berguguran di musim semi
Usiamu yang senja, garis-garis seni yang kian indah
Pohon kekar beri kehidupan sejuta mahluk
Engkau tempatku berlindung dalam kehangatan pelukanmu
Selaksar mentari di punghujung riwayatnya
Senandung doa mengiringi hari mu Bu
Cerita di harimu menjadi bulu merindu
Di hariku-hariku
Senyummu seolah terasa jelas
Di hadapanku
Dari sinar mentari menjemput hariku
Trima kasih bu
Kau telah membesarkan ku
Sekekar tiang yang berdiri
Untuk membusur langit.


Ironi akademik
Bergulat dengan waktu
Merongrong ketenangannya
Atas kesehajaan dalam setiap pergantian waktu
Mengingatkan sebuah ironi untuk hari ini
Bersua dengan laptop
Untuk menuai hasil tugas
Dari sang guru.
Jejak kita tempuh seperti
Menebar parfum bangkai
Dari ironi deretan angka-angka palsu
Untuk melepas dahaga masa depan
Suplemen janji ilusionis
dunia Di atas dunia yang irrasional
sambutlah dengan keserakahan
di sanalah bisa kau berdiri dengan kebahagiaan
tertawa dengan buas atas kelimpahanmu
kehebatanmu menaklukkan legal formal itu
ku ucapkan selamat buatmu
kau yang terhebat
 

Selasa, 25 Desember 2012

Ironi Akademik



Ironi akademik
Oleh: sampean
Bergulat dengan waktu
Merongrong ketenangannya
Atas kesehajaan dalam setiap pergantian waktu
Mengingatkan sebuah ironi untuk hari ini
Bersua dengan laptop
Untuk menuai hasil tugas
Dari sang guru.
Jejak kita tempuh seperti
Menebar parfum bangkai
Dari ironi deretan angka-angka palsu
Untuk melepas dahaga masa depan
Suplemen janji ilusionis
dunia Di atas dunia yang irrasional
sambutlah dengan keserakahan
di sanalah bisa kau berdiri dengan kebahagiaan
tertawa dengan buas atas kelimpahanmu
kehebatanmu menaklukkan legal formal itu
ku ucapkan selamat buatmu
kau yang terhebat

Jumat, 21 Desember 2012

SELAH WAKTU TIDUR



SELAH WAKTU TIDUR
Oleh sampean
Rangkulan tanganmu bersama malam
Menyusun mosaik keindahan
Ketika mata terbuka dengan warna matahari
Kau melambaikan tangan untuk pergi
Siasat waktu mengatur jarak
Jarak terus menepih
Pada Kehadiran kerinduan
Ku tutup mata ini
Membuka selubung kerinduan
Menunggu dimana kita pernah bertemu
Namun kehadiranmu
Tak kunjung datang
Lelah yang tak bertepih
Di singasana penantian
Ahhh......tinggalkan semua ini
Biarkan mata ku terbuka
Menantang waktu
Bangkit
Menyambut
hari