Sabtu, 20 Desember 2014

,

K-13 dan Pembudayaan Prematur

KURIKULUM 2013 dan  PROSES PEMBUDAYAAN PREMATUR

apa yang diajarkan dalam proses pendidikan adalah kebudayaan, sedangkan pendidikan itu sendiri adalah proses pembudayaan” (Bung Hatta)

Persoalan dihadapi bangsa saat ini adalah persoalan kebudayaan.  Seiring perkembangan  era globalisasi, kebudayaan Indonesia mulai luntur. Indonesia yang telah terintegrasi dengan budaya Global turut membentuk pola pikir bangsa Indonesia dengan pola pikir budaya barat. Akibatnya masyarakat Indonesia kehilangan identitas kebangsaannya. Untuk mengantisipasi persoalan ini, pemerintah harus mengambil langkah antisipatif dengan membekali masyarakat dengan ilmu pengetahuan budaya. Pembekalan pengetahuan budaya diraih melalui pendidikan.
Budaya melingkupi cipta, rasa dan karsa. Seturut dengan pendefinisian ini, Koentjaraningrat menginterpretasikan kebudayaan sebagai sistem gagasan, sistem perilaku, dan budaya materi yang menjadi milik diri melalui proses belajar.  Proses pembelajaran adalah proses pembudayaan. Langkah tersebut ditempuh untuk mengukuhkan identitas kebangsaan dari terjangan budaya global dengan pola pikir barat. Sementara, dalam proses pembelajaran dibutuhkan perangkat untuk mentransformasikan pengetahuan budaya yang terdiri dari sistem nilai, sistem gagasan, sistem perilaku, daya rasa, daya karsa dan daya cipta. Setidaknya salah satu perangkat yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah kurikulum di Institusi pendidikan formal.
Kurikulum adalah perangkat pembelajaran yang dijadikan sebagai acuan untuk mentransformasikan pengetahuan. Kurikulum harus memuat nilai-nilai ideologis dan kultur suatu bangsa. Langkah ini ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri sebagai proses belajar. Seperti yang diungkapkan Yudi Latief Pendidikan adalah proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan (mikro-kosmos dan makro-kosmos) sepanjang hidup, Dalam mempelajari dan mengembangkan kehidupan ini, manusia diperantarai sekaligus membentuk kebudayaan (Aktual.co).
Dengan persoalan kebudayaan yang dialami bangsa Indonesia saat ini ditumpukan pada kurikulum 2013.  Kurikulum 2013 memuat nilai-nilai religius, untuk menjadi manusia yang beriman. bertakwa dan berakhlak mulia. Kurikulum 2013 juga diharapkan dapat menciptakan generasi yang berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional (Pedoman Kurikulum 2013). Kurikulum 2013 diharapkan menciptakan manusia yang ideal dan berkarakter. Menurut Atin Aprianti, manusia yang ideal manusia yang baik secara moral, taat terhadap hukum, pribadi yang kuat dan tangguh secara fisik, mampu mencipta dan mengapresiasi seni, bersahaja, adil, cinta pada tanah air, bijaksana, beriman teguh pada Tuhan, dan sebagainya (Tribun Jabar). Muatan dalam kurikulum 2013 harus tertanam ke dalam diri individu serta menjadi identitas kelompok. Jadi, pembentukan karakter individu melalui kurikulum 2013 lebih efektif ketika menjadi identitas bersama. Nilai kolektivitas akan turut memperkuat identitas kebangsaan sebagai identitas bersama.
Konsepsi idealitas kurikulum 2013 harus ditakar melalui implementasi kurikulum ini. Kurikulum 2013 ditujukan kepada institusi pendidikan khususnya di sekolah. Efektivitas kurikulum ternyata menuai polemik dalam pengimplementasiannya dalam institusi pendidikan. Pertama dalam tahap sosialisasi belum berjalan efektif, sebab para pemangku pendidikan baik guru, kepala sekolah, pengurus yayasan, dosen, maupun mahasiswa belum banyak mengetahuinya. Kedua, pada penerapan pembelajaran guru masih menggunakan pola lama dalam mengajarkan kurikulum 2013. Di mana siswa dituntut untuk aktif ternyata guru masih lebih aktif, imbasnya guru kesulitan dalam indikator penilaian. Pasalnya indikator mereka gunakan adalah model lama. Ketiga, terjadi inkonsistensi dalam penyediaan perangkat pembelajaran kurikulum 2013, seperti muatan buku paket tidak singkron dengan silabus yang diberikan kepada guru. Beberapa guru membuat silabus sendiri.
Keempat, spirit nilai kebangsaan yang diharapkan kurikulum 2013 tercederai dengan muatan/isi buku berisi konten pornografi, dan unsur politis. Buku paket cenderung memuat nilai-nilai budaya Barat. Misalnya dalam buku paket pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. Buku paket tersebut mengajarkan cara berpacaran yang sehat. Hal-hal seperti ini dalam masyarakat Indonesia sangatlah tabu. Pencapaian manusia yang ideal atau manusia berbudaya sulit untuk tercapai karena sudah cacat dari awal. Kelima, menurut pengakuan Anis Baswedan pengimplementasian kurikulum 2013 cenderung terburu-buru. Sebab penerapan kurikulum ini hanya diuji cobakan 6.400 sekolah, lanjut Anis Baswedan mengatakan bahwa belum juga sekolah-sekolah ini memberikan masukan tentang kurikulum 2013. Kurikulum 2013 telah diterapkan seluruh Indonesia 218 ribu sekolah (Tempo.co). Sehingga dalam penerapannya menurut bermasalah.
Selain itu, tantangan penerapan kurikulum 2013 adalah keterlibatan Indonesia dalam pasar Global. Pasar global menekankan kebebasan bangsa-bangsa lain untuk melakukan transaksi dan interaksi bisnis dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi suatu bangsa. Secara otomatis  Indonesia akan diserbu dengan bangsa asing. Sementara sistem pasar global menekankan pada pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, and Matematics (STEM). Sedangkan, kurikulum 2013 lebih pada penguatan nilai-nilai humanistik dan identitas kebangsaan. Setali tiga uang akan mengalami kebablasan. Muatan-muatan buku panduan mangandung unsur-unsur budaya barat. Sementara pemanfaatan  nilai-nila saintis khususnya teknologi dan informasj setengah hati. Sebab, masih banyak guru yang gagap teknologi.
Persoalan-persoalan tersebut mengakibatkan Proses pembudayaan prematur.  Pembudayaan prematur dalam kurikulum 2013 dapat dilihat dari teori integrasi sosial dari Paulus Wirotomo yaitu struktur, prosesual dan kultur. Secara idealitas kurikulum 2013 harus mampu meningkatkan kualitas budaya (peradaban), sebagaimana konsep manusia yang ideal atau manusia yang berbudaya. Sementara, secara prosesual dapat dilihat dari proses pengimplementasian kurikulum  2013 sudah bermasalah. Para guru tidak mampu mengaplikasikan kerikulum 2013 dalam proses ngajar mengajar. Sedangkan pada tingkatan struktur para pengemban pendidikan tidak mampu melaksanakan status dan perannya. Dalam hal ini pemerintah tidak mampu menerjemahkan nilai-nilai ideologis kebangsaan dalam merancang kurikulum 2013 dalam tantangan global. Jadi, sejak awal kurikulum ini sedang bermasalah di tataran struktur. khususnya di tingkat pemerintah
Berbagai polemik yang menerpa kurikulum 2013 ketika dipaksakan untuk diimplementasikan akan melahirkan proses pembudayaan yang prematur. Penyelesaian Persoalan kebudayaan tidak akan tercapai, khususnya kedaulatan dalam berbudaya dalam pusaran pasar Global. Identitas kebangsaan secara terus menerus akan tergerus dan melahirkan manusia yang bermental barat. Mental barat yang cenderung diadopsi adalah mental konsumtifnya dan kehidupan yang glamour. Maka dipandang perlu melakukan reformasi (daur ulang) bahkan menghentikan kurikulum 2013.

Oleh : Sampean
Penulis : Alumni Sosiologi UNM dan Penggerak Literasi Bulukumba

Tulisan ini pernah di muat harian Fajar pada Hari/tgl, Jumat, 12 desember 2014

Selasa, 02 Desember 2014

RISALAH DEMONSTERASI UNTUK RAKYAT


RISALAH DEMONSTERASI UNTUK RAKYAT
 
Buta terburuk adalah buta politik,. Orang yang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung pada keputusan politik. Dia membanggakan sikap politiknya, membusungkan dada dan berkoar ‘Aku Benci politik’ Sungguh  bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik. Akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar perampokan, dan terburuk korupsi dan perusahaan multinasional yang mengurus kekayaan negeri” (Bertolt Brecht adalah penyair Jerman).
 Di tengah isu kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak), pernyataan ini sangat relevan untuk direnungkan. Di mana masyarakat berlomba-lomba menghujat mahasiswa. Aksi demonstrasi yang dilakukan tidak mendapatkan hati di masyarakat. Di berbagai sosial media,  masyarakat berlomba-lomba mengatakan bahwa mahasiswa itu anarkis, mahasiswa layaknya preman. Mahasiswa merusak fasilitas umum, mahasiswa melempari polisi, mahasiswa memacetkan jalan dan menghambat laju perekonomian. Mahasiswa seolah-olah ditempatkan pada situasi yang serba salah. Mereka diliput bukan karena aspirasi yang disampaikan tapi hal-hal yang memojokkan mahasiswa. Mahasiswa saat ini dalam keadaan terpojok. Siapakah yang akan membela mahasiswa, ketika yang diperjuangkan menghujatnya?
Tahukah kita? Mahasiswa aksi demonstrasi tidak pernah menuntut balas jasa dari masyarakat, karena mereka tahu yang diperjuangkan adalah hak-hak orang tuanya. Tindakan yang mereka lakukan penuh dengan kesadaran dan konsekuensi yang akan mereka terima. Mahasiswa tidak peduli dengan dirinya, mahasiswa rela meninggalkan bangku perkuliahan karena memperjuangkan nasib rakyat, bahkan mereka terancam Drop out (DO) ketika mereka turun ke jalan. sesekali mereka bercucuran darah untuk rakyat. Namun, Mahasiswa-mahasiswa yang berada dalam barisan para demonstran sering dilabeli mahasiswa yang buruk. Mahasiswa kategori ini dianggap menyia-nyiakan waktunya, membuang-buang tenaganya. Sikap negatif kepada mahasiswa berimbas pada prospek masa depannya. Tapi mereka tidak peduli dengan semua itu. Konsekuensi yang akan mereka terima tidak menyurutkan semangat mereka untuk berkoar untuk kepentingan rakyat. Sebab, mahasiswa mendidik rakyat dengan pergerakan, mahasiswa mendidik penguasa dengan perlawanan.
Tak ayal, para barisan demonstran hanya dianggap menyusahkan karena memacetkan jalan. setelah itu, rakyat menghitung segala kerugian materi karena para mahasiswa yang demo. Sopir pete-pete menghitung kerugian bensinnya dan penumpangnya tidak kunjung sampai, mobil mewah yang tergores karena kemacetan semuanya di hitung. Padahal mereka menikmati subsidi BBM. Mereka berteriak “mahasiswa brengsek dasar preman?” tapi, mahasiswa tahu karena perjuangannya bukan untuknya tapi untuk kalian. Lontaran kata-kata terus mengalir untuk menghujat mahasiswa di setiap demonstrasinya. Seperti halnya pada aksi demonstrasi pada 2012 menolak kenaikan harga BBM, ingatkah kita!  peristiwa pada tanggal 31 April 2012 pada saat itu presiden SBY menyatakan akan menaikkan harga BBM pada 1 Mei secara serentak seluruh pelosok negeri. Tapi,  sampai pada tanggal 13 Juni 2013 BBM belum dinaikkan. Pembatalan kenaikan harga BBM ini tidak lain hanya karena barisan para demonstran.
Tapi siapakah menikmati itu? Tentunya rakyat dari berbagai elemen mulai dari pejabat sampai lapisan masyarakat terbawah. Mulai dari yang menghujat sampai menyanjung barisan para demonstran. Adakah kesyukuran dari rakyat! Adakah pujian dari rakyat! Tentunya tidak. Tapi mereka tahu bahwa segala yang menyangkut kehidupannya bergantung kepada keputusan politik termasuk kenaikan BBM. Kenaikan harga BBM bukan karena secara alami dengan keterbatasan pasokan BBM. Tapi, kenaikan harga BBM karena Keputusan politik dan kehendak pasar global. Efeknya memiskinkan masyarakat. masyarakat harus sadar bahwa nasibnya hanya bergantung pada keputusan politik sebagaimana diungkapkan oleh penyair Jerman Bertolt Brecht di atas.
Kini barisan para demonstran turun lagi dengan perlakuan yang sama dan perjuangan yang sama. Perjuangan mereka terus bergulir, mereka bercucuran keringat sesekali berkeringat darah. Tapi siapa peduli kepada mereka! Walaupun, wakil Presiden Yusuf Kalla menganggap bahwa itu hanya Style mahasiswa Makassar. Ketika dianggap style, lantas harus diabaikan. Kemudian menginstruksikan regulasi untuk menyingkirkan mahasiswa dari bangku perkuliahan. Perlakuan seolah ini tidak adil bagi para barisan demonstran. 
Tapi, ingatlah kawan sebuah peradaban terlahir karena pengorbanan. Bukankah peradaban besar terlahir dari kucuran keringat dan darah melawan para tiran. Peradaban tidak pernah tercipta duduk manis di banku perkuliahan dan berdandang di depan kaca. Zaman pencerahan Eropa terlahir dari kepala-kepala ilmuwan yang terpenggal. Para ilmuwan ini adalah orang yang dihujat oleh zamannya. Seperti mahasiswa. Teruslah bergerak menyuarakan keadilan. Sebab kami menolak lupa, seperti di utarakan Milan Kundera perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa. Teruslah bergerak karena kalian tidak buta politik, karena aksi demonstrasi bukanlah Style. Teruslah menggugat janji politik yang mereka lontarkan sebelum duduk di kursi kekuasaan. Para penguasa telah lupa pada janji untuk merealisasikan amana undang-undang dasar 1945.[*]
Oleh : Sampean

Sabtu, 22 November 2014

,

JOKOWI BLUSUKAN LAGI


Jokowi Blusukan lagi 

Pro dan kontra gaya kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) masih berlanjut. Gaya blusukan Jokowi mendapat respons positif dan negatif dari masyarakat. Dengan gaya blusukan Jokowi beberapa masyarakat  memandangnya sinis. Banyak yang menganggap bahwa gaya blusukan yang ditampakkan Jokowi hanya sebentuk pencitraan. Tanggapan sinis yang ditujukan kepada Jokowi justru tidak menghentikan gaya kepemimpinannya. Sebab, dengan gaya blusukan yang ditonjolkan Jokowi ternyata menuai hasil. Keberhasilan itu dapat dilihat selama memimpin kota Solo sebagai walikota.
Langkah yang ditempuh oleh Jokowi semasa memimpin kota Solo dipertahankan di saat memimpin kota Jakarta sebagai gubernur. Dengan gaya blusukan yang dilakukan Jokowi, persoalan masyarakat mudah terurai. Salah satu bukti keberhasilan Jokowi dalam memimpin kota Solo yaitu pemindahan Pedagang Kaki Lima (PKL) dari wilayah sumber pendapatan PKL ke tempat yang asing bagi Masyarakat Solo. Langkah yang sama dilakukan saat memimpin kota Jakarta. Jokowi melakukan relokasi pasar tanah Abang yang begitu berantakan. selain itu, pasar Tanah Abang dikendalikan oleh beberapa tangan preman. Melihat kondisi tersebut, sulit rasanya untuk melakukan relokasi. Tetapi, dengan gaya blusukan Jokowi persoalan tanah abang lebih mudah terurai. Buktinya, penghuni pasar tanah abang sepakat untuk dipindahkan ke lokasi yang baru.
Dengan Berbagai keberhasilan yang telah dicapai. Gaya blusukan Jokowi membuka mata internasional dalam menangani persoalan kemasyarakatan. Kesangsian internasional tidak datang begitu saja. Tapi, Gaya blusukan Jokowi turut dirasakan oleh Duta Besar (DUBES) Amerika Serikat dengan bersama-sama melakukan blusukan. Dia mengatakan bahwa gaya kepemimpinan Jokowi tidak ada duanya dalam menangani persoalan masyarakat. Pendekatan yang dilakukan Jokowi kepada masyarakat seolah tidak membangun jarak sebagai seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan yang ditujukan sangat merakyat dengan berbaur dengan masyarakat. gaya kepemimpinan Jokowi turut menginspirasi beberapa CEO perusahaan. Sebagaimana yang dibahasakan oleh Prof. DR. Rhenald Kasali bahwa setahun belakangan ini banyak CEO yang memberi instruksi agar para manajer tidak asyik memimpin dari balik mejanya saja. Hal ini dilakukan karena terinspirasi dari pemberitaan Jokowi.
Gaya blusukan Jokowi tidak hanya berhenti di saat memimpin kota Solo dan Jakarta. tapi, blusukan Jokowi terus berlanjut setelah menjadi Presiden. Pasca pelantikan Jokowi-Jk jadi sebagai presiden dan wakil Presiden, Jokowi tetap melakukan blusukan di berbagai provinsi hingga sampai ke kabupaten kota. Seperti yang telah dilakukan baru-baru ini, Jokowi-Jk mengunjungi korban letusan Gunung Sinabung di Sumatra Barat. kedatangan Jokowi membawa angin segar kepada para korban letusan Gunung Sinabung. Sebab, persoalan yang dihadapi para Korban dapat terurai dengan cepat. Selama ini, korban gunung sulit mendapat akses jalur transportasi akhirnya dengan kedatangan Jokowi semuanya teratasi kurang lebih tiga puluh menit. Setelah itu menjadi tanggung jawab pemerintah setempat. Tidak berhenti sampai di situ, Jokowi-JK mengunjungi Sulawesi Selatan dan Sulawesi barat.
Kedatangan Jokowi-JK ke Sulawesi Selatan untuk melihat potensi pangan di kawasan di Sulawesi Selatan. Di Sulawesi Selatan Jokowi melakukan lawatan ke Sidenreng Rappang (Sidrap) untuk meletakkan Batu Pertama pembangunan saluran irigasi. Selain itu, Jokowi akan berkunjung ke Pinrang sebagai daerah tetangga dengan Sidrap untuk meninjau areal persawahan. Semoga dengan kunjungan tersebut dapat menjadi referensi dan data yang akurat untuk menyusung rancangan program kerja. Harapan kunjungan tersbut dapat mengembangkan tata kelola pertanian. Sehingga hasil pertanian semakin meningkat dengan perbaikan infrastruktur dan daya dukung teknologi dalam mengelola pangan.
Gaya blusukan Jokowi berasaskan kebutuhan, kemanfaatan dan tepat sasaran dalam menangani persoalan masyarakat. asas-asas tersebut tercapai secara maksimal ketika seorang pemimpin terjun langsung ke persoalan yang dihadapi oleh masyarakatnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Jokowi. Jokowi turun langsung menjemput aspirasi masyarakat dengan memberikan solusi yang tepat terhadap persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Dengan turun ke bawah, Jokowi turut merasakan masalah yang kompleks dihadapi oleh masyarakat. Sehingga antara masyarakat dan pemimpinnya tidak memiliki penjarakan. Seperti yang diungkapkan Michel Foucoult bahwa pemerintah bukanlah sesuatu yang bersifat teritorial dengan kompleksitas persoalan yang dihadapi manusia, mestinya pemerintah mengambil peran dalam menghadapi kompleksitas tersebut. Presiden Jokowi melakukan itu dengan blusukan lagi karena dianggap efektif menyelesaikan persoalan masyarakat.
Jadi, tidak aneh rasanya ketika presiden Jokowi menginstruksikan kepada kabinetnya untuk melakukan turun ke bawah untuk mencari akar persoalan ke masyarakat. hal yang serupa diungkapkan oleh seorang sosiologi Prancis bernama Pierre Bourdieu bahwa Untuk memahami masalah antar individu atau menjelaskan fenomena sosial, kata Bourdieu, tidak cukup dengan melihat apa yang sedang terjadi. Suatu keniscayaan untuk memeriksa ruang sosial di mana interaksi, transaksi, masalah dan peristiwa itu terjadi. Jadi, langkah yang dilakukan oleh Jokowi-JK dan kabinetnya merupakan langkah yang tepat dalam menghadapi persoalan masyarakat yang kompleks. Dan kritikan yang ditujukan kepada Jokowi-Jk akan runtuh dengan sendirinya dengan sebuah pembuktian. Hal ini senada dengan ungkapan Jokowi bahwa pencitraan akan muncul, jika pemimpinnya mau bekerja keras [*]
Oleh "S"

Rabu, 05 November 2014

,

LEMBAH RAMMA' DAN MANUSIA TANPA BEBAN


Tidak elok rasanya menceritakan keburukan orang lain apalagi menjelek-jelekannya. Seluruh laku dan tindakan seseorang menjadi tanggung jawabnya sendiri. Lakon yang diperangkan oleh seseorang akan menjadi cerita bagi dirinya sendiri dan untuk orang lain. Posisi saya di sini sebagai orang lain untuk bertutur tentang orang di luar dari diri saya. Suatu peristiwa yang mesti saya ceritakan kepada yang lain tentang pergeseran nilai yang diperankan oleh manusia. Nilai tersebut menyangkut spirit “Mendaki Gunung”. Saya tidak bermaksud untuk menceritakan keburukan, tapi mencoba mengungkap kenyataan yang tersembunyi.  Kenyataan  itu, berada dibalik lembah Ramma’
Lembah Ramma’ berada di kaki gunung Bawakaraeng di kabupaten Gowa. Lembah Ramma’ menyimpang pesona alam yang menakjubkan. Lembah yang di kelilingi oleh pegunungan seolah berada di dasar danau yang luas tanpa air. Pesona keindahan yang ditampakkan oleh lembah Ramma’ ketika disaksikan dari atas Puncak Talung menampakkan arsitektur alam yang menakjubkan. Lembah Ramma’ menyatu dengan danau. di dalamnya teradapat aliran sungai, semuanya menuju danau. Sulit rasanya menceritakan ketakjuban lembah Ramma’. Namun, untuk menikmati keindahan Lembah Ramma’ butuh perjuangan karena untuk sampai kesana, kita mesti menempuh perjalanan selama empat jam dengan jalan kaki. Serta jalan yang kita mesti tempuh begitu terjal karena harus melewati beberapa gunung untuk sampai kesana. Segala kepenakan menjadi pupus ketika tiba disana karena disediakan wejangan pesona alam. Tidak heran ketika banyak yang mengunjunginya. Lembah ini sangat digandrungi oleh banyak pandaki. Hampir  setiap pekan tidak pernah  kosong oleh pendaki.
Tapi, entah mengapa beberapa tahun terakhir aktivitas mendaki gunung terus meningkat dan banyak digandrungi para anak mudah khususnya oleh para pelajar dan mahasiswa. Pada mulanya aktivitas mendaki gunung gandrungi oleh mahasiswa yang bernama Soe Hok Gie. Tujuan mandaki Soe Hok Gie untuk lepas dari hiruk pikuk perkotaan dan kondisi kampus yang jumud. Soe Hok Gie mengaleanasikan diri dari aktivitas kesehariannya bahkan Sok Hok Gie memaknai pendakiannya sebagai perjalanan spiritual. Sebagaimana termaktub dalam syairnya “berbagi waktu dengan alam, untuk tahu siapa diri ini”. Dari syair ini tampak bahwa Soe Hok Gie dalam perjalanannya ke gunung bukan hanya sekedar rekreasi dan menghabiskan waktu yang tidak bermanfaat.
Apa yang dilakukan Soe Hok Gie menjadi inspirasi para pendaki-pendaki selanjutnya. Hingga pada akhirnya jumlah pendaki semakin meningkat dan menunjukkan degradasi nilai terhadap para pendaki. Banyak pendaki hanya pergi rekreasi dan bersenang-senang. Di sisi lain, aktivitas mendaki gunung hanya sebagai gaya hidup. Gunung tercemar dengan bahan-bahan kimia dari berbagai bekal yang dibawa oleh para pendaki. Pada awalnya masih alami belum tercemar dengan sampah plastik.
 Sebagaimana yang terlihat di lembah Ramma’ setiap pekan Lembah Ramma’ dipenuhi oleh pendaki dan hiruk pikuk keramaian. Sejatinya di sana menampakkan manusia-manusia tanpa beban. Aktivitas yang dia tunjukkan di atas gunung tak ubahnya dengan kehidupan kota. Aktivitas di kota menjadi perulangan di lembah Ramma’. Sampah berserakan di mana-mana, teriak semaunya, main domino, dan minum-minuman keras. Di atas gunung selayaknya hanya sebagai tempat hura-hura. Semua tak ada yang berubah. Para pendaki hanya menunjukkan bagaimana menaklukkan gunung, mereka sudah jauh dari pemeliharaan alam. Andai saja mereka mencintai alam, seharusnya mereka dan menikmati dan memeliharanya. Alam tidak untuk ditaklukkan tapi untuk menjadi sahabat. Nyanyian sunyi Lembah Ramma’ hanya menjadi ratapan keramaian. Penghayatan terhadap alam hanya menjadi penyaksian bisu. Lesterilah alam ku, maka indahlah selamanya. Semoga alam terpelihara selamanya.[*]

OLEH "S"