Tampilkan postingan dengan label Essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essai. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2016

, ,

PARADIGMA DAN TRINITAS FILSAFAT

Oleh : SAMPEAN

PARADIGMA DAN TRINITAS FILSAFAT
Heddy Shri Ahimsa-Putra dalam makalahnya pada Kuliah Umum “Paradigma Penelitian Ilmu-ilmu Humaniora" diselenggarakan oleh Program Studi Linguistik, Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia, di Bandung, 7 Desember 2009 menjelaskan bahwa paradigma sebagai kerangka teoritis (theoretical framework), kerangka konseptual (conceptual framework), kerangka pemikiran (frame of thinking), orientasi teoritis (theoretical orientation), sudut pandang (perspective), atau pendekatan (approach). Dengan Kata lain menurut Ahimsa-Putra, paradigma sebagai seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan dan/ atau masalah yang dihadapi. Atau menurut Guba (1990, hlm 77) (dalam K. Denzin dan S. Lincoln, 2009:123) Paradigma sebagai keyakinan dasar membimbing tindakan, menentukan pandangan dunia peneliti sebagai bricoleur.
Bricoleur (dalam K. Denzin dan S. Lincoln, 2009 : 2-3) adalah manusia yang serba bisa, profesional, dan mandiri. Bricoleur memunculkan brikolase sebagai serangkaian praktek yang disatupadukan dan disusun rapi untuk menghasilkan solusi terhadap masalah pada situasi yang nyata. Solusi (brikolase) hasil konstruksi baru  dari hasil metode Bricoleur. Metode ini ditekankan pada metodologi kualitatif (K. Denzin dan S. Lincoln, 2009 : 2-3).
Baik Ahimsa-Putra dan Guba menekankan pada seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis dan Seperangkat keyakinan memahami, menjelaskan, menafsirkan kenyataan membutuhkan paradigma. Paradigma sebagai cara pandang berdiri pada tiga elemen yakni ontologi, epistemologi, dan Metodologi (dalam K. Denzin dan S. Lincoln (Ed), 2009:123). Atau dalam, konsep filsafat dikenal sebagai trinitas ilmu pengetahuan yakni Ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi membicarakan hakikat tentang yang ada, yang merupakan ultimate reality baik berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak (Bakhtiar, 2009). menurut Suriasumantri (1990) Ontology membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Sedangkan menurut K. Denzin dan S. Lincoln (Ed)(2009 : 133) merumuskan pertanyaan ontologis, apa bentuk dan sifat dari realitas, apa yang dapat diketahui tentangnya.
Epistemologi berkaitan erat dengan konsep keilmuan relasi subjek dan objek. Atau dengan kata lain, epistemologi bagian filsafat mengkaji asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat,dan bagaimana memperoleh pengetahuan dan menentukan paradigma peneliti. Epistemologi menentukan karakter pengetahuan bahkan keberterimaan dan kebertolakan kebenaran. Epistemologi menentukan metode memperoleh pengetahuan. Jadi pertanyaan terbangun menurut Denzin dan S. Lincoln (Ed)(2009 : 133) yakni bagaimana prosedur, mekanisme, cara kerja segala sesuatu yang sesungguhnya, yang dibangun dari pertanyaan apakah sifat yang terjalin antara yang ingin mengetahui dan yang ingin diketahui dari sesuatu.
Aksiologi, Menurut Jujun S. Suriasumantri (1990) adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari ilmu pengetahuan yang diperoleh.  Sedangkan Wibisono (dalam Surajiyo, 2009:152) mendefinisikan aksiologi sebagai nilai yang  dijadikan landasan kebenaran, etika, dan moral sebagai dasar normative penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu[1]. Sedangkan, pertanyaan metodologisnya, apa cara yang digunakan peneliti untuk mengetahui atau menemukan apapun yang ia percaya dapat diketahui (Denzin dan S. Lincoln (Ed), 2009 : 133).
Ketiga dasar kepercayaan ini menentukan sikap ilmiah seoran peneliti melihat kenyataan atau yang ingin diteliti. Asumsi-asumsi ontologis, epistemologi, dan aksiologi harus saling berkesinambungan dalam menyusun paradigma yang mengonstruksi peneliti. Paradigma dihadirkan menurut Guba (1992) (dalam Denzin dan S. Lincoln (Ed), 2009 : 134) untuk mewakili pandangan yang matang terhadap penganutnya untuk menghindari sikap relativitas radikal sebab dalam sederet jawaban atas tiga pertanyaan mendasar tiada lain dari konstruksi manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa-Putra, Heddy Shri. Paradigma Ilmu Sosial-Budaya Sebuah Pandangan. Makalah. Disampaikan dalam Kuliah Umum yang diselenggarakan oleh Program Studi Linguistik, Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia, di Bandung, 7 Desember 2009.
Amsal, Bakhtiar. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali pers.
Denzin dan S. Lincoln (Ed). 2009. Handbook  Qualitative Research (Edisi Bahasa Indonesia). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Surajiyo. 2007. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.
Suriasumantri, Jujun S.1990. Filsafat ilmu: Sebuah Pengantar Populer.Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.


[1] https://evinovi.wordpress.com/2009/12/04/59/ diakses pada 10-10-2016, pukul 12.15 WIB.


Catatan "Tulisan ini tidak untuk dikutip, apalagi untuk ditiru" silakan mengutip dari sumber primernya.

Senin, 08 Agustus 2016

, , ,

AWAL TAHUN 2016: MENGUNGKAI PERISTIWA JANUARI

Tak ada yang menyambut Januari dengan apatis. Bulan itu awal dari semua hari menjelang penuh harapan, suatu memon melepas masa yang ditinggalkan (Charles Lamb, Sastrawan Inggris)

Bulan  Januari. Bulan yang paling riuh di antara bulan-bulan yang lain. Kikuk kesenangan yang dirayakan. Kilatan cahaya menghampar langit. Bau mercon menyengat hidung dari asap yang menyapu keheningan malam. Sejumput doa dan harapan bertaluh pada jiwa-jiwa kosong, menyambut bulan pembuka Tahun.  Januari bulan penuh harap membuka lembaran yang kosong. sekaligus penutup catatan yang akhir tahun. Dua momen yang menakjubkan dalam bulan Januari.
 Sepanjang tahun 2015 telah kita lewati bersama. Tentunya, banyak peristiwa yang telah terjadi. Pelepasan masa silam tidak serta menghilangkan kenangan. Ini adalah bulan refleksi kenangan masa silam dan bulan pengharapan untuk kita semua. Jika pengusaha, merayakan bulan Januari dengan menghitung pencapaian yang mereka raih dalam setahun. Begitu pun, dengan negara melakukan evaluasi atas kinerja pemerintahan. Dan, Rakyat cukup merayakan kemiskinan di tepi langit.
Kedatangan bulan Januari merupakan momentum menyemai segala pencapaian. Mengukur segala langkah yang telah ditunaikan bersama. Kini, bulan Januari akan usai. Sejumput keresahan bersemi di hati bangsa ini. Era Pasar bebas (Keterbukaan) telah dimulai, kebinekaan kembali terusik, ancaman krisis pangan, dan ancaman peredaran Narkoba. Keempat peristiwa ini menentukan masa depan bangsa ini. Peristiwa sepanjang bulan Januari akan mewarnai perjalanan kebangsaan ke depan selama tahun 2016.

Era Pasar Bebas (Keterbukaan)
Tanggal 31 Desember 2015, pasar tunggal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), telah dibuka. Tahun 2016, pasar bebas (Free Trade) telah melenggang. Ekonomi regional Asia tenggara terintegrasi ke dalam liberalisasi di bidang ekonomi. Tentunya, di era yang baru menimbulkan kekhawatiran di dalam masyarakat. Khususnya para pelaku pasar. Di mana, pemahaman Masyarakat Indonesia terhadap MEA masih minim.
Kondisi yang seperti ini harus diretas secepatnya menghadapi pasar tunggal ekonomi ASEAN. Sehingga bangsa ini menjadi tuan di rumah di rumahnya sendiri. Indonesia harus belajar dari masa lalu. kerja sama bilateral antara Indonesia dengan China memberlakukan pasar bebas. Indonesia kalah bersaing dengan produk China yang berkualitas tinggi dan murah. Sehingga Indonesia hanya menjadi penonton dari serbuan produk-produk China.  
Peristiwa ini tidak boleh terulang kembali pada pasar Ekonomi ASEAN. Walaupun, pelaksanaan MEA sebulan terakhir belum cukup terasa. Sejauh ini, Kompetisi antara negara-negara ASEAN belum terlihat. Anggota ASEAN masih dalam tahapan persiapan. Tetapi, perlu di waspadai karena kesiapan Indonesia baru mencapai 83% (Jawa Pos, 20/02/14).
Selain itu, kecemasan dan kekhawatiran masyarakat menghadapi MEA adalah isu kedaulatan suatu negara dan identitas kebudayaan. persoalan-persoalan kedaulatan dan identitas kebudayaan belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Negara hanya berkutat pada persoalan yang bernilai materil dan atau mendatangkan keuntungan bagi negara. Pada hal, persoalan kedaulatan akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Seperti kedaulatan pangan dan kepemilikan badan usaha oleh pihak asing di Indonesia.
Isu kedaulatan akan bersangkut paut dengan kebebasan orang-orang asing  bermukim di Indonesia. Orang asing berkedudukan di Indonesia mempunyai kewenangan bermukim di Indonesia. Kepemilikan properti untuk sangat terbuka. Tapi, perlu diketahui 13 juta warga Indonesia kekurangan tempat tinggal (Kompas, 23/01/16). 13 juta warga ini akan bersaing dengan warga asing untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak bagi mereka. Pemerintah seharusnya peka terhadap persoalan ini dan berpihak pada masyarakat kecil untuk memastikan nasib warga negaranya. Persoalan ini hanya bagian terkecil dari persoalan kedaulatan. Dan harus menjadi bahan refleksi kita bersama untuk menyongsong era keterbukaan saat ini.
Jika bicara kedaulatan maka kita akan membincangkan identitas kultural. Sebab, Identitas kultural menyangkut tata nilai, sistem pengetahuan, dan sistem prilaku bersama. Kesemuanya ini tidak bernilai materil yang mengikat masyarakat. Identitas kultural masyarakat nusantara telah mengakar ribuan tahun yang lalu berwujud kearifan lokal di setiap daerah Indonesia. Dalam masyarakat ekonomi ASEAN, Kearifan lokal tidak lebih dari komoditas yang siap jual. Kearifan lokal yang di kooptasi oleh pasar hanya sebagai objek wisata. Kooptasi pasar hanya menghasilkan budaya yang homogen di masyarakat dengan menjauhkan masyarakat dari identitas kulturalnya.

Kebinekaan kembali terusik
Kasus bom bunuh diri di kawasan Sarinah, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta (14/1/16) membawa pesan untuk negeri ini. Keragaman kembali terguncang. Toleransi keagamaan kembali dicoreng oleh ledakan bom tersebut. Islam kembali menyemai kecaman. Penganutnya kembali berulah “bunuh diri”. Dalangnya tiada lain Islamic state of Irak and Syiria (ISIS). Sebelumnya, di tahun 2015 kelompok Islam Radikal ini telah menyerang Prancis. Sungguh ancaman terorisme menyebar di seluruh dunia. Kini, Indonesia.
Indonesia. Negeri sejuta perbedaan berada dalam bayang-bayang terorisme. Kekalutan dan ketakutan beredar berbagai media. Isu toleransi kembali digulirkan. Polisi dituntut untuk bekerja cekatan untuk mencegah kasus terorisme. “Masyarakat” diinterupsikan untuk terlibat mencegah penyebaran Islam Radikal. Sedangkan, Ustad diharapkan untuk tidak menebarkan ayat-ayat kebencian kepada umat lain.
Sungguh negeri ini, ngeri-ngeri sedap. Kekerasan dan kekejian dibalut dengan  agama. Menyerang pihak lain atas nama perbedaan keyakinan adalah sebuah bentuk kebenaran. Jika ditilik demikian, maka Agama tak ubahnya dengan buah kedondong. Di luarnya terkesan lembut, damai, dan penuh kasih. Di dalamnya ada “dendam” membara untuk menjungkalkan pihak lain. Belum lepas di ingatan kita, di bulan Ramadhan tahun 2015 konflik agama kembali mencuat. Kasus Tolikara Papua adalah peringatan untuk bangsa ini untuk meneguhkan kembali kebinekaan. Selain itu, kasus inteloransi juga merebak di internal penganut agama masing-masing. Khususnya penganut agama Islam.
Teringat pada peristiwa bulan Desember tahun 2011, terjadi penyerangan penganut Syiah Sampang Madura. Kasus penyerangan tidak lepas dari fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Madura menfatwakan Syiah sebagai aliran sesat. Kemudian, fatwa ini diamini oleh Menteri agama pada saat itu. Kasus ini, kembali berbaju atas nama keyakinan untuk menyulut kekerasan dan pembantaian (Sindonews.com, diakses 31/01/16 ). Fatwa penyesatan ini tidak boleh terulang kembali untuk menyulut konflik sosial. Pemerintah harus belajar dari persoalan ini.
Di bulan Januari ini, tahun 2016.  kasus aliran sesat kembali mencuat. Gerakan Fajar  Nusantara (GAFATAR) menjadi terdakwa sebagai aliran sesat. Sejumlah pihak mewanti-wanti agar tidak terjadi aksi kekerasan dan pelanggaran HAM dalam menangani kasus GAFATAR. Kasus ini, akan menjadi pelajaran bagi semua kalangan untuk menyikapi segala perbedaan. Pelanggaran atau penyelewengan suatu ajaran tidak serta-merta harus diselesaikan dengan kekerasan. Akan tetapi, harus dilakukan proses dialogis.
Sejatinya, Menyelesaikan persoalan dengan kekerasan tidak pernah menyelesaikan persoalan. Agama tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Sebab, agama yang melakukan kekerasan bukanlah agama..

Ancaman Krisis Pangan
Kemarau yang panjang di sejumlah daerah Indonesia di tahun 2015. Seolah akan terulang kembali di tahun 2016. Sejumlah daerah musim mengalami pergeseran musim tanam akibat perubahan cuaca. Kemunduran musim tanam mengakibatkan para petani penggarap sawah tidak mampu mengolah sawahnya. Di Nusa tenggara Timur  (NTT) Lahan pertanian pada padi dan jagung seluas  110.296 mengalami gagal panen (Kompas, 27/01/16).
Peristiwa ini bukan hal yang biasa. Perubahan cuaca yang terjadi akan mempengaruhi hasil panen pangan masyarakat Indonesia. Musim tanam yang biasa terjadi di bulan November bergeser jauh di bulan Maret dan atau April. Fenomena iklim El Nino menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan, sejumlah pihak memperkirakan peristiwa kekeringan akan berlanjut sampai bulan Maret (Kompas, 27/01/16). Pengaruh perubahan iklim musim panen khususnya tanaman padi, akan mengalami sekali musim panen selama setahun. Peristiwa ini akan mempengaruhi ketersediaan pangan di tahun 2016. Kekurangan ketersediaan pangan akan mempengaruhi jumlah harga bahan pokok di pasaran.
Terbukti,  perubahan iklim akan mempengaruhi harga pangan di pasaran. Sejumlah harga bahan pokok melonjak hingga 70%. Bahan pokok sebagian besar dari hasil pangan seperti beras, Gula Pasir, Minyak goreng, Cabai Merah Keriting, Cabe Merah biasa dan Bawang Merah. Harga Bawang merah meloncat drastis  dari bulan Desember 2015, seharga Rp. 22.500 per kilogram menjadi Rp. 35.900. Hal yang sama dialami dengan harga cabe dari kisaran Rp. 25,810 per kilogram menjadi Rp. 39.340. Gula pasir bergerak dari harga Rp. 12. 790 per kilogram menjadi Rp. 13. 040 per kilogram  dan Beras medium  bergerak dari Harga Rp.10.610 menjadi  Rp. 10.710 per kilogramnya (Jawa Pos, 28/01/16).
Perubahan iklim patut diwaspadai oleh semua kalangan terutama para petani. Kegagalan panen akan mempengaruhi keberlangsungan hidup para petani. Taraf Kehidupan petani akan berada dalam jeratan kemiskinan. Saatnya pemerintah harus mengambil ancang-ancang untuk mengantisipasi persoalan ini. Indonesia harus menyiapkan diri untuk menghadapi krisis pangan yang akan terjadi dan loncatan harga bahan pokok yang semakin meninggi

Ancaman Narkoba
Peristiwa yang tidak kalah pelik di akhir ini bulan Januari ini adalah peredaran narkoba yang kian mengancam. Indonesia seolah dikepung kedatangan pengedar narkoba dari belahan dunia.  Modus operandi penyeludupan narkoba berubah sangat cepat dan sangat beragam. Pada halaman pertama Kompas Jumat, 29 Januari 2016 menyediakan skema dan cara masuknya narkoba di Indonesia. Penyelundupan narkoba dilakukan melalui darat dan laut dari beberapa negara dai luar seperti Tiongkok, Nigeria, Pakistan, Malaysia, Thailand, Taiwan, Iran, Afrika Selatan, dan Iran (Kompas. 29/01/2016).
Penangkapan warga negara Pakistan menyelundupkan 100 kilogram sabu-sabu. Sudah telah menjadi ancaman serius untuk bangsa ini (Kompas. 29/01/2016). Peredaran narkoba merupakan ancaman tersendiri bagi generasi bangsa ini. Narkoba akan merusak generasi bangsa dan akan berdampak pada masa depan bangsa ini. Sebab, masa depan suatu bangsa terletak pada generasi anak mudah bangsa ini.

Merangkai Peristiwa Awal Tahun
Dari catatan peristiwa yang terjadi di bulan  Januari merupakan penanda awal tahun 2016. Sejumlah peristiwa yang terjadi adalah penentu masa depan bangsa ini. Era Pasar Bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan penentu nasib bangsa Indonesia untuk bersaing di pasar internasional. Apakah bangsa Indonesia mampu bersaing dengan anggota ASEAN lainnya? Apakah Indonesia mampu menegakkan kedaulatan bangsa seperti pangan, industri dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia? Tahun ini adalah tahun pengharapan bagi Indonesia untuk bangkit.
Peristiwa Bunuh diri di kawasan Thamrin Jakarta pusat adalah ujian bagi kebinekaan bangsa ini untuk mewujudkan masyarakat damai dan sejahtera dalam naungan Pancasila. Ini merupakan ujian bagi kemajemukan bangsa Indonesia. Sedangkan, ancaman pangan merupakan pertaruhan keberlangsungan penghidupan masyarakat Indonesia untuk bertahan hidup dan lepas dari jeratan kesulitan pangan. Apakah Indonesia mampu lepas dari Impor pangan? Dan pertaruhan selanjutnya berada pada generasi mudah bangsa ini di bawah bayang-bayang narkoba.
Semoga bulan Januari adalah momen untuk melakukan refleksi dalam menentukan nasib bangsa Indonesia. Bulan Januari adalah bulan penuh pengharapan dan gerbang kebangkitan nasib bangsa setahun ke depan. Apakah bangsa ini mampu melewati segala rintangan dari peristiwa-peristiwa yang mengancam eksistensi bangsa Indonesia. Atau bangsa ini larut dalam masalah-masalah ini tanpa sebuah solusi tepat. Peristiwa bulan Januari ini merupakan catatan awal tahun untuk mengurai segala persoalan kebangsaan baik yang lalu maupun yang akan datang.

Sabtu, 26 September 2015

,

IKHTIAR KATA

IKHTIAR KATA 

Tiada terkira, rasa malu lepas lekas hilang penuh ragu-ragu. Sejumput senyum dan tatapan menghela napas panjang meletakkan Jerigen dan mengantre untuk mengisi bensin. jerigen berjejer rapi serupa serdadu, motor berbaris serupa semut. Ahh........aling-aling hanya berupa tatapan sebongkah beku, ramai namun senyap. Mula kata sulit terucap, apakah ini sebuah nestapa. Selekas itu datang, lalu pergi. Ini bukan nestapa, tapi kikuk yang sedang bersulang dengan kerumunan.
Tak perlu riuh, tak perlu galak tawa. Cukup senyum sendiri. Ahh..... mata cuma melotot, tak perlu paham maksudnya. Debu purba hanya cukup melerai, kapan tangis disembunyikan. Kamu hanya perlu duduk, berdiri dan berdiam diri. Lihatlah, yang lalu lalang, menunggu kapan giliranmu mengangkat jerigen itu.
Pesona tampak merungsing. Tubuh gemulai lembut, berhias tato, rambut berurai panjang dengan rona merah bata. Senyum selalu mekar di bibirmu, merekah merah padam. Beruntung kamu tak menggunakan pagar besi di gigimu, yang congkak itu. Hanya saja, Perutmu bontot seolah ngotot melotot, selalu menenggak bir sebotol. Laku mu seolah muram, Aku miris melihat jenjang tubuhmu. Sesekali kamu palingkan muka ke telepon genggammu, kamu tertawa sendirian. Terkadang kamu mengeram menahan tawa, sekelilingmu tak ada yang kocak. Aku pun tercengang melihatmu. Ternyata, di seberang sana ada kawan kamu rupanya. "Maaf aku salah sangka tentangmu" bergumam dalam hati.
Sejenak kuperhatikan kawanmu, dia seolah gelagapan dengan tingkahmu, tersenyum malu-malu pula. Entah...... Mengapa gelagat kamu, seolah tak bersahabat karib? Namun, terlihat dekat. kalian berdendang seloka Bugis - Makassar. Seloka yang tak pernah disyairkan dengan lembut. Tapi, hanya dengan amarah, cacian, dan kebencian. Kalian mungkin selalu bersama, tapi tak serupa. Tubuh kalian kamu balut penuh intrik. Dan mungkin topengmu adalah pitutur mu. Kalian berdua adalah rahasia penuh bimbang, kalian ceruk di atas tanah lapang.
Kulihat "toto bag" yang kamu kenakan berlarik "telacco #katakan dengan lembut" Woow kamu memang nyentrik kulihat lagakmu agak kasar, tak sedikit pun kesan lembut kamu tampakkan. Namun, pesan yang hendak kamu sampaikan mengubah perangaimu terhadapku. Kesan yang hendak kamu tinggalkan, bisa berupa kedamaian dan kelembutan. Tak sengaja, aku melirik jaket kawan kamu yang terbelah "maaf bukan belahan dada" baju kaos yang berwarna, berlengan abu-abu tertera larik "assu #katakan dalang hati" pesan ironik yang hendak kamu sampaikan dicemari dengan penggunaan Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Kata "dalang" seharusnya menggunakan kata "dalam". Atau. Mungkin, aku yang salah menafsirkan kata "dalang" ini, sepahaman ku kata "dalang" adalah aktor, insiator, otak, pelaku dan lain-lain. "Ini hanya pengaruh salah tulis saja" ketusku dalam hati. "Tak apalah salah ketik atau tidak baku maupun okkots. Sebab, itu ada pesan ikonik. Apatah lagi dengan kekurangan "g" atau kelebihan "g" adalah budaya luhur, yang tak punya perangai serupa di Nusantara. Dari gaya pitutur saja, kita sudah tahu bahwa kita serumpun. Kesan ikonik Bugis-Makassar berbahasa Indonesia, membuat kelipungan suku lain.
Bagaimana tidak, kata "kita" dalam suku Bugis - Makassar adalah panggilan penghormatan kepada lebih tua dari penutur. Sementara, dalam bahasa Indonesia adalah kata ganti yang melibatkan antara penutur dan pendengar." Sekedar ocehan dalam hati, melepas lelah antre di pertamina yang kian memanjang.
**
Senja kala, peristiwa sepuluh tahun silam. Gara-gara kata "telacco" Darah mengucur di pelipis mata dan mulut muntahkan darah. tubuh tertelungkup mengeram kesakitan, air mata sempat menitik dari rona wajah yang membiru. Betapa tidak, pukulan telak berulang kali menghujam tubuhku, tendangan putar sesekali merengsek mengenai ulu hati. Tubuh seolah tak berdaya mendapat guyuran pukulan dari dua orang kakak. Seolah, sulit mengelak dari pukulan-pukulan itu yang terus mengenai tubuhku.
Aku begitu lancung di hadapannya, seuntai kata "telacco" jiwaku hampir merenggang. Muka yang merah padam, sungguh murka terhadapku. Dianggap tak layak mengeluarkan kata-kata kotor itu. Apatah lagi, terhadap orang yang lebih tua. Sungguh kata-kata itu membuatku muak, dan murka. Jika terdengar nyaring di telingaku. Mengembalikan luka di masa silam. Bagaimana pula dengan seloka tadi dari anak-anak intrik, jika kata “telacco” diucapkan dengan lembut, kata “assu” diucapkan dalam hati. Mungkin peristiwa itu tak pernah terjadi. Entahlah !
"Mungkin ini pemberontakan bahasa, ihwal penghancuran terhadap bahasa keseharian" ketusku. Seseorang membalikkan badannya  ke aku. Lalu, dia  menatapku dan tersenyum. Entah apa, yang ia pikirkan. Seorang anak mudah, tampak malu-malu berdiri bersama kerumunan orang tua. Dan apa pula yang dilakukan gadis itu, selalu menatapku, kadang tak berkedip. Perjumpaan di kerumunan, hanya menyisakan serupa cerita. Kenangan yang tak beralur
“mungkinkah, kata “telacco” yang diucapkan dengan lembut mengurangi kesan kasar atau mengurangi ungkapan sarkastis yang dikandungnya, apakah pengucapan dengan lembut  bisa mengurangi ketersinggungan pihak lain!”
Bolehkah, aku bertandang di bibirmu, pendengar peluh kata itu. Mungkin menjadi nyanyian syahdu, yang akan ku dengar. Serupa seloka, yang tak pernah disyairkan dengan lembut. Tapi, amarah....
Kini, kamu berlalu..... seperti hilangnya titik, yang lindap di pelupuk mata. Sekian, karena tak ada lagi yang harus ku ucap, kali ini. Cerita ini sudah kukulum dalam nadiku, bisa saja terangkai pada  peristiwa lain untuk dituturkan.
 OLEH: SAMPEAN
Keterangan :
Assu (bahasa konjo) artinya Anjing
Telacco (bahasa konjo) kelamin laki-laki

Kamis, 18 Juni 2015

, , ,

Peradaban, Buku, dan Racun Sokrates

Karya Sederhana ini kupersembahkan kepada penikmat kesederhaan karena proses selalu bermula  dari kesederhanaan. Silakan menikmati suguhanku walaupun itu Sederhana.....!!! Sebab kesederhanaan akan menghentakkan ketika kita menikmatinya. 



Judul      : Peradaban, Buku, dan Racun Socrates

Penulis  : Sampean
ISBN       : 976-602-72506-3-5
Penerbit : The Phinisi Press Yogyakarta

Tahun     : 2015

Halaman : XI+227

Harga      : Rp. 25.000 (Belum Ongkos Kirim)


Sinopsis :
Bagi penulis, buku ini adalah wujud kegelisahan dan kegetiran terhadap potret kehidupan yang kian retak. Kadang kala banalitas kehidupan dirayakan, budaya instan dan pragmatisme dirawat. Nuansa inilah yang dibingkai oleh penulis dalam bentuk buku kumpulan esai. Sebab, perbincangan dalam buku ini tidak jauh dari fenomena keseharian seperti dunia pendidikan, kemahasiswaan, demokrasi, dan problem kehidupan perkotaan yang terekam bak catatan harian. Juga tak ketinggalan bahasan-hahasan nan sederhana yang menggelitik, seperti kehidupan Socrates, perbincangan tentang buku, dan seksualitas sebagai bagian dari peradaban.

bagi teman-teman yang ingin memesan silahkan Inbox atau hubungi di no ini 085-292-039-650./ 

Selasa, 19 Mei 2015

KISARAN PANGGUN HIBURAN

Pengaruh panggung hiburan dalam masyarakat begitu kuat. Terkadang artis dan realitas panggung hiburan diasosiasikan kepada yang nyata. Bagaimana tidak, penjaga warung saja begitu terlarut dalam ralitas sinetron.  Aku dihentakkan panggilan histeris si penjaga warung “ada Tristan” pemeran ganteng-ganteng Serigala. Aku kaget dengan panggilan itu “aaa….!!! Siapa itu Tristan?”. Orang sekitar ku melirik dan menatap ku baik-baik. Si pemilik warung memandang ku dengan nanap dan terus bertutur “kamu kok, mirip sekali sama Tristan pemeran Ganteng-ganteng Serigala di SCTV itu Lho….”. aku merasa gugup berada di antara orang yang memandangi ku. aku berbisik dalam hati “Wouw… aku ganteng ternyata mirip artis sinetron”. Setelah itu, aku beranjak pergi sambil membawa makanan pesan terbungkus kantong plastik putih.

Apa yang aneh dari realitas di atas? Sejatinya, realitas keberadaan tersebut memiliki kedekatan realitas pada panggung hiburan. Realitas panggung hiburan adalah realitas yang dicipta dari kenyataan di ranah sosial. Lalu ditampilkan dalam lakon kepalsuan. Dunia panggung hiburan ditampilkan seolah menjadi nyata. Kemudian, dijadikan rujukan atau representasi kesempurnaan kenyataan yang diyakini kebenarannya. Tak ayal, pesona para aktor dijadikan figur atau sosok ideal dalam laku sosial dan mesti diikuti. Alhasil panggung hiburan menciptakan masyarakat tontonan. Realitas masyarakat menjadi hibrid (kerdil) dan jumud. Sebab kehidupan masyarakat ibarat sebuah panggung hiburan seperti laku-laku sang aktor.

Gaya kehidupan masyarakat mudah diterka karena senantiasa mengikuti perkembangan model kehidupan dalam panggung hiburan seperti kehidupan Tukang Bubur Naik Haji di RCTI, Ganteng-Ganteng Serigala di SCTV, Stand Up Comedy di Metro TV, Facebooker di ANTV, Indonesia Lawak Club di  TRANS 7, Parodi Korupsi di berbgai Stasiun Berita di TV One dan Metro TV, Kuis 2 milyar di ANTV, Horor di film layar lebar, Suster Ngesot, Super Hero, Aliens, Akademi Fantasi di Indosiar. Realitas panggung hiburan tersebut sangat mudah didapatkan dalam masyarakat. Terkadang setiap genre, sekual, dan karakter tokoh menghadirkan komunitas-komunitas sesuai gendre film, karakter tokoh yang dihadirkan panggung hiburan. Maka, panggung hiburan mengukuhkan tokoh-tokohnya sebagai figur yang patut dicontoh, diikuti, dan representasi kesempurnaan.

Tidak perlu heran ketika menemukan komunitas-komunitas yang menyerupai gaya sang Atris sebagai idola. Cara berpakaiannya pun ditiru secara buta. Masih terasa dalam ingatan ramadan Tahun lalu (2014) di daerah Bulukumba  para perempuan mengenakan model Jilbab dan mukena mengikuti Gaya Syahrini, dan Dewi Persik dalam satu lapangan. Inilah realitas serupa tapi tak sama. Lihatlah orang-orang di sekitaran anda begitu banyak komunitas fans club sang Artis seperti fans club Chibi-Chibi ketika berfoto selalu ikutan bergaya mirip sang idola. Lihat pula teman-teman anda bergaya alay ketika menemukan tempat bagus pasti selalu berfoto selfi atau tiba-tiba bergoyang Bang Jali, Goyang Sesar dan Ala Maichel Jakson. Terkadang asyik juga menyaksikan tingkah mereka, soalnya cita-cita mereka belum kesampaian jadi artis. Mungkin stasiun teve lagi pada sibuk kali yah….  Artis-artis ini luput diliput.

Pada dasarnya panggung hiburan adalah realitas kepalsuan dan kepura-puraan. Kenyataan tidak pernah tampak sebagaimana adanya karena kenyataan dihadirkan tiruan dari kehidupan. Lancung malulu ditampilkan.  Apa indahnya menonton pernikahan Raffi Ahmad super mewah seharian! apa gunanya menyaksikan Ashanty  istri Anang Hermansyah Melahirkan! Apa pentingnya mendegar cermah ustads di teve yang hanya terpaku pada layar di depannya seolah-olah menghafal ayat al Quran dan Hadist dan Asyik mempermainkan agama sebagai Barang dagangan. Apakah wajar pemirsa disuguhkan pameran kekayaan artis dengan harga nominal pakaian mereka! Bukan lagi rahasia, teve sangat antusias menyiarkan pameran kekayaan antara Bella Shopie dan Roro Fitria dengan isi tabungan mereka masing-masing. 

Ternyata para pemirsa! kita disuguhkan dengan peluruhan kebenaran. Kebenaran diukur pada pencapaian material dan eksistensi tubuh. Mungkin benar adanya apa yang diutarakan St Sunardi bahwa tubuh merupakan representasi kenikmatan paling nyata. Tubuh yang dipoles dengan balutan make up,  tubuh yang dililit dengan kain sutra berhias mutiara dan tubuh dipersentuhkan dengan daging. Pamor pun dicapai dengan keningratan pengalaman kebertubuhan.
Bagaimana tidak, kehidupan glamour yang dipertontonkan oleh para artis sudah diluar kendali kehidupan normal. Tak ayal tubuh mereka disewakan untuk mendapatkan kenikmatan semalam sebagai pundi-pundi pemasukan. Kesemuanya dilakukan untuk menopang persaingan fashion dan Style di kalangan mereka yang berbiaya besar. Itulah yang menerpa Artis bernisial “AA” dan lain-lain. Kejadian yang menimpa “AA”, publik pun digegerkan dengan praktik prostitusi melibatkan para artis  pengusaha, dan pejabat negara.

Kasus “AA” hanyalah bagian terkecil perilaku yang tak senonoh para artis panggung hiburan di Indonesia. Masih segar di ingatan kita kasus yang menimpa Ahmad Fathana melakukan pencucian uang dengan perempuan-perempuan cantik di sekitarnya. Lihat saja film Ariel Noah Band bersama Luna Maya dan Cut Tari yang memerangkan film porn. Perilaku-perilaku semacam ini adalah hal lumrah di kalangan mereka. Jadi, Tak perlu risau dan kaget kalau ada kejadian seperti ini karena itu memang dunianya. Bisa jadi apa yang dikatakan Nikita Mirzani benar adanya  bahwa tindakan seperti itu wajar-wajar saja sepanjang tidak mengganggu kehidupan orang lain (kapanlagi.com). Mungkin itulah dunia di atas panggung. Penuh dengan sandiwara, Layakkah dijadikan figur ketika hidupnya penuh dengan glamour, harta melimpah, suka menyumban di bulan ramadhan, gonta ganti pasangan dan skandal seks. Mungkin itu sosok figure yang di idealkan oleh panggung hiburan. Dunia panggung yang dicipta manusia hasil cecap dari kebudayaannya sendiri.

 Yahh…..mungkin penulis terlalu sirik dengan kehidupan mereka hidupnya tak karuan itu..Hiks..hiks..hiks…. dan bisa jadi jika penulis dipanggil jadi Aktor juga ikut nimbrung disana.. wk..wk.. tapi, mana mungkin, muka saja pas-pasan.

Oleh : Sampean

Selasa, 30 Desember 2014

,

Buku dan Orang Tua


Pada hari Rabu, 17 Desember 2014 aku duduk di ruang tamu sedang menyampul buku. Hari itu, sebenarnya tidak ada yang istimewa pada hari itu. Entah mengapa di tengah-tengah kesibukan ku. aku di datangi oleh kedua orang tua ku. Mereka sedang mengamati aktivitas yang sedang aku lakukan, pada mulanya mereka hanya diam. Lama-kelamaan mereka mulai terusik dengan suara bising dari lakban yang aku Tarik dari gulungannya. Pertanyaan yang terlontar pertama dari pihak ayah ku, “kok lakban  digunakan untuk menyampul buku?”, pertanyaan itu mulai terlontar secara bertubi-tubi, aku belum sempat menjawabnya. “Kenapa kamu mesti membungkus buku mu?”, Apakah buku mu, akan kamu simpan?, kenapa kamu tidak buang saja”. Kemudian, ibu ku turut memberikan penjelasan bahwa buku-buku kakak mu hanya dibuang-buang bahkan hanya disimpan di gudang hingga berdebu dan rusak. Kakak-kakak mu tidak pernah melakukan hal serupa sebelumnya”. “apakah buku-buku masih bisa digunakan oleh generasi selanjutnya?. Sementara aku hanya tersenyum mendengarkan penjelasan dan pertanyaan mereka sambil menyampul buku.
Pertanyaan-pertanyaan dan sikap pesimis kedua orang tua ku terhadap buku, bukan tanpa alasan. Kedua orang tua ku, sedikit pun tidak pernah tersentuh dengan tradisi keberaksaraan. Ibu ku hanya mengenal huruf lewat pembelajaran otodidak, beliau hanya mampu mengeja huruf demi huruf tidak bisa menyambungnya. Sementara ayahku sedikit pun beliau tidak mengenali huruf bahkan cara memegang pulpen beliau tidak tahu. Alasan yang lain, sikap kakak-kakak ku  mengabaikan buku-bukunya yang selama ini, mereka tidak pernah menjamah bukunya setelah selesai dari sekolah maupun dari perguruan tinggi. Latar belakang ini menjadi alasan utama ketidakpahamannya terhadap fungsi dan kegunaan buku. Sikap yang ditujukan orang tua kepada ku, bisa jadi dialami juga oleh orang lain.
Dengan keterbatasan ku, aku berusaha menjelaskan satu persatu dari pertanyaan yang mereka lontarkan. Mulai pentingnya menyampul buku bahkan hal yang paling urgen. Tapi, yang ku utarakan dalam tulisan ini perihal pertanyaan “kenapa kamu tidak buang saja itu buku mu?” apakah buku itu bermanfaat untuk generasi selanjutnya? Kedua pertanyaan mengelikan bagi para pecinta buku. Mungkin ada beberapa orang akan menganggap pertanyaan ini sangat bodoh. Apalagi ketika dilontarkan oleh kalangan berpendidikan. Tapi, tidak sedikit juga kalangan  berpendidikan melontarkan pertanyaan yang sama diungkapkan oleh orang tua ku.
Bagi kedua orang tua ku, buku itu tidak memiliki arti apa-apa, mereka menganggap bahwa buku hanya digunakan hanya semasa studi atau masa sekolah/kuliah. Tapi, bagi saya pertanyaan ini adalah nasehat yang paling berharga dari kedua orang tua ku yang “buta huruf”. Mereka mengingatkan ku pada arti pentingnya buku dan pentingnya pengetahuan. Dengan pertanyaan mereka, aku diberikan tanggung jawab untuk menjelaskan pentingnya buku kepada mereka. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa manfaat buku itu tidak pernah lekang oleh waktu dan bisa diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, buku merupakan pengabadian gagasan bagi para penulisnya, buku turut menyebarkan informasi untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan secara sistematis dan runtut. Buku itu mengajarkan kita berpikir analitis, reflektif dan deskriptif. Berbanding terbalik dengan budaya lisan mengajarkan kita berpikir sederhana dan singkat. Sebagaimana dijelaskan oleh Sir Issac Newton bahwa dengan membaca, kita berpikir dengan menggunakan kepala orang lain. Membaca di sini bisa diasosiasikan terhadap buku sebagai sumber informasi dan pengetahuan. Penjelasan ini tentunya tidak seperti yang aku jelaskan kepada orang tua ku.

Ketidaktahuan mereka terhadap kemanfaatan buku, seolah menyederhanakan fungsi buku. Buku hanya dibutuhkan di ranah akademik sebagai panduan dalam menyelesaikan tugas-tugas siswa maupun mahasiswa. Pemahaman yang sederhana ini tidak terlepas dari latar belakang pendidikan orang tua ku yang “buta huruf”. Sehingga penghargaan terhadap buku masis sangat rendah. Sikap orang tua ku ini, tersibak makna mereka belum sepenuhnya menghargai buku. Kurangnya penghargaan terhadap buku, sama halnya tidak menghargai karya orang lain. Selain itu, pengabaian terhadap buku sama halnya tidak menghargai jerih payah orang lain. Tentunya pemahaman ini tidak dimiliki orang tua ku. Maka, beliau butuh penjelasan mengenai peran dan fungsi buku, supaya mereka tahu bahwa buku yang ku miliki adalah hasil tetesan keringatnya. Membuang buku yang aku miliki, sama hal aku mengkhianati usaha dan jerih payahnya. Setidaknya pengabdian dan penghargaan kepadanya dengan menghargai pengorbannya. Walaupun penghargaan itu hanya sebatas memuliakan buku. Memuliakan buku bukan hanya menyampul, menyimpang dan mengoleksi tapi dengan membacanya. Dan memuliakan buku sebagai eksepsi (pengecualian) dari pemuseuman. Kata pemuseuman bermakna pada “menyimpang atau mengoleksi”
Penjelasan yang diutarakan dalam tulisan ini mungkin sangatlah subjektif, tapi secara historis peradaban-peradaban yang besar terlahir dari tradisi membaca buku. Tapi, kebesaran manfaat buku tidak ada artinya ketika tidak ada kesadaran untuk mengembangkan tradisi membaca dan memuliakan buku. Seperti halnya yang terjadi sekarang, pemuliaan terhadap buku di perpustakaan sebatas pengoleksian belaka. Perpustakaan ibaratnya hanyalah sebuah museum. Museum digunakan untuk pembuangan arkeologi. Sementara, perpustakaan sebagai tempat pembuangan. Seperti halnya tindakan yang dilakukan oleh kakakku dengan mengabaikan buku-bukunya.

Satu yang patut diapresiasi dari orang tua ku, karena mereka menyadarkan ku pentingnya buku dengan cara menyekolahkan ku. Sebab, aku tidak pernah tahu manfaat buku ketika aku tidak disekolahkan. Hingga, Aku tahu bahwa buku adalah pemecah es yang mencairkan lautan yang membeku dalam jiwa. Sama halnya yang di utarakan oleh Ahmad Wahib bahwa Dengan membaca, aku melepaskan diri dari kenyataan yaitu kepahitan hidup. Tanpa membaca aku tenggelam sedih. Tapi sebentar lagi akan datang saatnya di mana aku tidak bisa lagi lari dari kenyataan. akhir kata beribu terima kasih kepada kedua orang tua ku. Mereka menyadarkan ku pada kenyataan bahwa aku dituntut untuk memuliakan buku. Selamat hari ibu, terima kasih bu yang senantiasa mengingatkan di saat lupa untuk membaca. Sebab, dengan membaca membuka rasionalitas yang terbungkus dalam memori.