Selasa, 25 Desember 2012

Ironi Akademik



Ironi akademik
Oleh: sampean
Bergulat dengan waktu
Merongrong ketenangannya
Atas kesehajaan dalam setiap pergantian waktu
Mengingatkan sebuah ironi untuk hari ini
Bersua dengan laptop
Untuk menuai hasil tugas
Dari sang guru.
Jejak kita tempuh seperti
Menebar parfum bangkai
Dari ironi deretan angka-angka palsu
Untuk melepas dahaga masa depan
Suplemen janji ilusionis
dunia Di atas dunia yang irrasional
sambutlah dengan keserakahan
di sanalah bisa kau berdiri dengan kebahagiaan
tertawa dengan buas atas kelimpahanmu
kehebatanmu menaklukkan legal formal itu
ku ucapkan selamat buatmu
kau yang terhebat

Jumat, 21 Desember 2012

SELAH WAKTU TIDUR



SELAH WAKTU TIDUR
Oleh sampean
Rangkulan tanganmu bersama malam
Menyusun mosaik keindahan
Ketika mata terbuka dengan warna matahari
Kau melambaikan tangan untuk pergi
Siasat waktu mengatur jarak
Jarak terus menepih
Pada Kehadiran kerinduan
Ku tutup mata ini
Membuka selubung kerinduan
Menunggu dimana kita pernah bertemu
Namun kehadiranmu
Tak kunjung datang
Lelah yang tak bertepih
Di singasana penantian
Ahhh......tinggalkan semua ini
Biarkan mata ku terbuka
Menantang waktu
Bangkit
Menyambut
hari
 

Kamis, 13 Desember 2012

Review Buku : Pikiran Kembara (Moderniasasi dan Kesadaran Manusia)

Review Buku : Pikiran Kembara (Moderniasasi dan Kesadaran Manusia)
 oleh : sampean

Biarkan buku itu berbicara dengan realitasnya kepada kesadaran subjek.  Dimana realitas bersifat intension. Sebagaimana kematian pengarang yang telah di dengunkan oleh Roland Barthes terhadap sebuah karya tulis bahwa pengarang telah mati. Sebab, keterberian informasi dalam buku atau karya tulis tersebut ada pada otoritas subjek Pembaca untuk menginterpretasikan karya tersebut. Dengan menjalajahi karya dari pemikir terkemuka yaitu Peter L. Berger, Brigitte Berger, Hansfriend Kellner.  lewat tulisannya Pikiran Kembara (modernisasi dan Kesadaran Manusia) untuk membuka tirai kehidupan proyek modernitas yang menggugah kesadaran atas sebuah ketimpangan dalam proyek tersebut.
Buku ini mengulas sebuah realitas kemoderenan atas kesadaran manusia. karena dalam tatanam sosial hubungan individu dan realitas sekitarnya memeliki sifat yang otonom dan terikat dalam sebuah kelompok. Akan tetapi, dengan pola perilaku dalam masyarakat kontemporer yang paling dominan adalah perilaku otonom itu sendiri dalam sikap individu, yang bersifat zkisoferenia. Dalam pernyataan ini bahwa dalam ruang modernitas manusia mengalami sebuah kegalauan identitas atas dirinya.
Dengan melihat konteks keindonesiaan. Budaya itu sangat rupawan, pesonanya menebar ke semua ruang sehingga menjadi ektasi-ektasi kepada manusia atau masyarakat. Budaya itu menjadi candu dimana penikmatnya adalah masyarakat telah tersipuh di ruang-ruang rehabilitasi kebudayaan. Mereka tersenyum, tertawa dan bahagia atas sebuah kekerdilan dirinya yang tidak menyadari identitasnya. tak luput dari ingatanku di negeri ini telah di banjiri oleh budaya import yaitu pada tahun 2000 negeri di sodomi budaya India, namun sebelum itu budaya negeri telah berselingkuh dengan budaya Amerikanisme, namun pada akhirnya negeri ini telah bersenggama dengann korea dengan budaya Gangnam Style dan Boy And Gilrs Band. Namun, jauh sebelumnya negeri ini telah  memperistri budaya Islam. Entahlah selanjutnya siapalagi menjadi pasangan negeri ini. Negeri ini selayaknya pelacur budaya. Dimana masyarakatnya adalah pelaku prostitusi budaya.
Perilaku ini begitu nyata di hadapan kita semua budaya asing menjadi medang kepentingan untuk menjadi Eksis. Sebab Eksistensi dari sebuah manusia dalam lingkup sosial adalah mengikuti arus yang di bentuk oleh pola arus media atau teknologi atas budaya tinggi. Konstruksi kedirian individu telah dibentuk sedemikian rupa oleh teknologi untuk menginjakkan jejak lengkahnya untuk berjalan di atas pasir. Kontruksi itu hadir atas modeling aktor atas sebuah sosok figur yang patut di contoh oleh publik atas perilakunya, dimana tubuh adalah sebuah kontruksi produk.
Perjalanan negeri adalah perjalanan ekspansi budaya asing. Mengenal keasliannya seperti menutup mata di tengah kegelapan. Pergeseran-pergeseran kebudayaan hanya menapaki jejaknya atas spekulan-spekulan atas sebuah preuposisi yang tak jelas arahnya. Tak pelak lagi kita berada pada sebuah posisi global village (Perkampungan global). Dimana identitas telah melampui ruang dan waktu. Sulit mengenal batas dan teritorial dari sebuah negera seperti yang di ungkapkan oleh Anthony Giddens ruang ini telah menyusut. Kita di perhadapkan sebuah dunia virtual (nayata tapi tidak aktual). Kehidupan ini seolah menjadi tidak real seperti khayalan belaka yang tidak mengenal jejak. Ruang-ruan sosial menjadi tersitematisi  oleh sebuah tatanam monolitik terbentuk oleh kehidupan yang monodimensi. Realitas ini seolah menekan individu dalam kesadaran dalam dunia yang nyata.
Menapaki buku Peter L Berger DKK, meniupkan ruh atas sebuah kegelisahan atas realitas modernitas yang di tinjau dari sosiologi pengetahuan. Membuka wejangan-wejangan kesadaran manusia atas keberadaan teknologi. Peran teknologi dalam ruang modernitas sebab produksi teknologi memberikan peran penting terhadap kondisi kesadaran manusia. karena saat ini kesadaran modern telah banyak berpusat pada “Pandangan Dunia Ilmiah” atau “mentalitas Keinsinyuran”. Dari pandangan ini para ilmuwan atau Insinyur memandang masyarakat sebagai masyarakat berteknologi. (hal 29)

Kesadaran Subjek
Kesadaran subjek sebagai sebuah tumpuan dalam modernitas atas sebuah terwujudnya sebuah tatanam sosial atas produksi  teknologi dengan kesadaran manusia.  sehingga dalam proses abtrakasi terhadap realitas memberikan logika produksi telah terasuki dalam kesadaran manusia. Pembentukan kesadaran manusia terhadap produksi Teknologi telah mencecah pengetahuan dengan berbagai serpihan atas pengetahuan yang di miliki manusia.  serpihan-serpihan pengetahuan ini membentuk polanya masing-masing sesuai dengan kondisi sosial yang dialami seorang individu. Seperti yang di jelaskan dalam buku ini bahwa kehidupan keluarga dan kehidupan keluarga memiliki pola pengatahuan dan gaya kognitif di miliki individu (hal 34).  Kesadaran individu itu mengaju pada instutisi dalam kedirian individu. Sehingga terjadi sebuah keterpisahan antara dunia kerja dan dunia Individu (hal 34).
Akibatnya, pengetahuan tentang kerja di tentukan  pada tingkat institusional. Sehingga kesadaran inidividu di tentukan pada setting sosial seseorang dimana dia berada seperti yang terjadi di indonesia yang telah di ulas sebelumnya sebagai negeri bekas ekspansi. Negeri ini berada pada sebuah anomia zaman atas keasliannya. Institusional di produksi atas kesadaran teknologi. Dimana keberadaan Indonesia di ombang-ambing oleh konteks zaman.
Tetapi yang perlu kita ketahui konstruksi modernitas membentuk dunia yang bersifat ajeg. Dunia yang ajeg ini membuat manusia menjadi terspesialisasi dengan profesionalismenya masing-masing. Dunia ini kembali pada sebuah tatanam feodal yaitu sebuah sistem hirarkis yang mencuat atas tinggi dan rendah dengan sebuah status sosial. Pembentukan stratifikasi dan diferensiasi sosial di tentukan pada sebuah peran sosial atas institusinya. Sistem hirarkis ini menandakan sebuah kejamakan dan pluralitas identitas yang di bentuk oleh sebuah tatanam sosial yang ada dalam masyarakat. Kecenderungan ini bisa kita amati dalam dunia birokratis dalam sebuah institusi tingkatan pengatahuan individu telah terlgeitimasi atas spesialisasinya dengan bagian kerja masing-masing. Di posisi ini individu tidak mencampuri wilayah kerja masing-masing. Dalam satu institusi ratusan orang yang tidak memiliki peran yang sama dalam sebuah institusi. Sebab keberdaan individu telah terlegitimasi oleh sebuah peran yang di berikan oleh individu tersebut.
Kecenderungan ini menempatkan individu pada sebuah posisi yang plural. Dengan kondisi yang plural dalam sebuah institusi menuntut sebuah kompitisi untuk menaiki sebuah tahta atau status yang lebih tinggi dengan menguasai disiplin yang lain dan pendalaman terhadap sebuah peran sosial tersebut yang telah menjadi institusi. Pelegitimasian atas status sosial individu oleh institusi memberikan sebuah anomia tersendiri bagi individu atas perannya.
Posisi individu harus menempuh dan mengatahaui sebuah “peta Masyarakat” sebagai ruang lingkupnya. Ia dapat merolokasikan dan memproyeksikan dirinya sendiri berkenaan dengan baik dan perenungan dengan riwayat hidup masa lalu maupun proyek masa depan. Hidup individu dilihat sebagai perjalanan melintasi peta itu. Dan kumpulan pengatuhuan faktual yang telah di buat bobotnya oleh individu. Sehingga kehidupan ini bisa di rencanakan. Seperti halnya dengan sebuah jenjang karir sebuah karyawan (hal 68). Selain itu, perencanaan itu terwujud dalam sebuah fantasi yang haya bereorentasi pragmatis atas sebuah tatanam sosial yang ia kehendaki. Sehingga realitas sosial yang melingkupi kita saat ini merupakan sebuah dunia yang hendak kita wujudkan.

Modernitas Versus kontra Modernitas
Prasangka terhadap modernitas memiliki perspektif yang berbeda-beda setiap tokoh sosial dan ilmuwan yang lain. Akan tetapi, spirit dari kehadiran dari modernitas adalah proses pembaharuan atau dengan kata lain bahwa modernitas adalah proses kemajuan. Berdasarkan definisi ini Berger Dkk. Mendefinisikan modernisasi sebagai Penyiaran paket-paket.
Mengantar manusia pada ruang modernitas adalah adalah bidang teknologi, ekonomi, dan birokrtis politik. Dimensi ini mengantarkan dunia ketiga menjadi inti dari ruang modernitas dunia ketiga dewasa ini. Maka dari itu, Berger Dkk, mengemukakan sebuah hipotesis bahwa tingkat perkembangan ekonomi berteknologi sama-sama merupakan variasi kunci dalam kemoderenan(hal 110).
Pengaruh yang paling besar dalam dunia ketiga adalah proses indutrialisasi merupakan sebuah model ekspansi negara maju di dunia ketiga(Hal 111). Proses indutrialisasi ini melabrak budaya-budaya yang dianggap konservatif yang bisa menghalangi laju modernisasi sehingga yang terjadi dalam dunia ketiga adalah melemahnya sistem sosial konvensional khususnya pada masyarakat pedesaan pada konsep-konsep yang dianggap bersifat promordial.
Sehingga modernisasi memberikan dampak besar terhadap kehidupan kemanuisaan yang mengantarkan pada sebuah krisis kemanusiaan. sebab,  nilai-nilai yang dianggap menantang terhadap dirinya harus dinegasikan. Dengan sistem yang baru yaitu sistem tekonologi yang besifat parokial (mengkotak-kotakkan). Pergeseran kehidupan manusia menjadi sebuah simbolitas dengan legitamasi dari institusion mengantarkan manusia yang bersifat homogen dalam sebuah institusi.
Selain itu kehidupan modern mendorong manusia untuk bersifat konsumtivisme. Kehidupan manusia di berikan stimulus untuk mengembankan hasrat yang di miliiki manusia.  Akibatnya, tingkat kreativitas dan inovatif dengan tingkat produktivitas  semakin menurun dengan daya yang beli yang tinggi akan tetapi tidak di barengi dengan nilai objektif atau nilai guna dan fungsi kebutuhan manusia.
Wabah ini telah melanda negara-negara dunia ketiga yang terlena dengan hegemoni barat. Seduksi yang di tawarkan barat telah manjadi opium/ekstasi bagi negara dunia ketiga. Hal ini menjadi sebuah anomi yang mesti di carikan obat penawarnya. Sehingga Berger DKK mengatakan bahwa dengan muncul problem-poblem bagi negara dunia ketiga mencul berbagai respon terhadap modernisasi. Pihak kontra dengan modenisasi banyak tipe atau model kontra terhadap modernitas seperti ada yang menolak secara keseluruhan dan menolak nilai yang di bahah modernisasi. Hal tergantung dari latar belakang ideologis dari pihak penolak tersebut.
Proses penolakan terhadap modernisasi bukan hanya terjadi di negara dunia ketiga akan tetapi juga terjadi di negera-negara Maju dengan hadirnya beberapa budaya tanding dalam moderniasi itu sendiri. Sebab,  modernisasi tidak mongakomodasi kepentingan mereka di atas  perwujudan kemaslahatan golongan. Titik kejenuhan pada negara maju ketika modernitas telah merasuki semua lini kehidupan membentuk pola perilaku masyarakat yang homegen. Titik balik dari semua itu de-modernisasi di wilayah-wilayah tertentu.
Sebutir debu untuk Peter L Berger DKK
Gagasan yang di kembangkan dalam buku ini merupakan perwujudan dari sebuah analsisis sosiologi pengatahuan untuk mengembalikan sosiologi dalam objek kajian filsafat untuk menelanjangi sebuah realitas dengan mengunakan pendekatan Fenomonologis. Objek kajian dari buku ini adalah modernitas sebagai konteks sebagai  fenomena perkembangan zaman dan modernitas sebagai sebuah proses rekayasa sosial. Sebagai seorang teoritikus tak luput dari sebuah kekurangan, gagasan tidak melahirkan sebuah gambaran modernitas yang komprehensif tentang modernitas atau modernisasi. Sebab kajian dalam buku ini memfokuskan pada objek kesadaran subjek sebagai aktor dan agen sosial dalam modernitas itu sendiri.

Selasa, 09 Oktober 2012

Pendidikan


Pendidikan mencerahkan pencerahan
OLEH : SAMPEAN 
Pendidikan merupakan sebuah amanah untuk yang diembang oleh  manusia untuk turun ke bumi sebagai khalifah. Sebab pendidikan merupakan proses mencerahkan pencerahan yang akan mengantarkan manusia pada puncak peradaban. Pendidikan merupakan sebuah tumpuan dalam peradaban sebab tak ada peradaban yang lahir tanpa pendidikan. Karena pendidikan berkaitan dengan proses perkembangan pengetahuan manusia. Perkembangan peradaban manusia itu terlahir dari sebuah transformasi pendidikan atau tranformasi pengetahuan dari generasi ke generasi.
Kelahiran peradaban saat ini tidak lepas dari proses transformasi pengetahuan saat ini yang melahirkan peradaban kapitalisme yang telah menggeser paradigma pendidikan menjadi pragmatis. Sehingga paradigma yang berkembang di masyarakat saat ini adalah paradigma pragmatis. Sehingga banyak orang yang tidak mementingkan yang namanya pendidikan yang mencerahkan pencerahan, akan tetapi, orientasi dari pendidikan saat ini hanya mengantarkan kita pada paradigma simbolik yang menganggap bahwa pendidikan itu hanya untuk mendapatkan sebuah ijasah dan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Sehingga masyarakat saat ini berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan dan merubah status atau pristise dalam masyarakat.
Dengan paradigma seperti ini  berkembang di masyarakat banyak orang mengambil jalan pintas yang dianggap pantas dengan memalsukan ijasah. Selain itu pendidikan hanyalah sebuah permainan dan komoditas. Sebab dengan mendapat pristise di kampus banyak peserta didik membeli prestise dan pendekatan emosional sama dengan pengajarnya. Sebab inti dari pendidikan saat ini hanyalah sebuah symbol ijasah untuk mendapatkan sebuah pekerjaan untuk meligitimasi kemampuan kita sehingga angkalah yang menentukan kapasitas manusia sebagai alat legitimasi dari pihak lembaga pendidikan.
Sehingga banyak fenomena yang di dapatkan saat ini hanya titelnya saja yang sarjana, kualitas kerja dan pengalaman tidak ada. Orang-orang inilah yang biasanya banyak menimbulkan banyak masalah yang nota benenya sarjana tapi tidak sesuai dengan titenya. Haruskan kita meniru orang-orang yang begitu?
Hal ini senada dengan ungkapan tokoh pendidikan kritis yaitu Paulo freire  bahwa pendidikan merupakan memanusiakan manusia. Yang di maksud disini ialah orang yang berpendidikan haruslah cerdas dan dapat mengatasi masalah dalam kehidupannya. Orang yang berpendidikan seharusnya memiliki kecakapan dan keterampilan dalam melihat persoalan, baik itu persoalan individu, maupun persoalan umum, kualitas kerja yang benar-benar bisa memuaskan hasilnya. BersAMBUNNG

Kamis, 27 September 2012

Tugas Kuliah


GLOBAL VILLAGE :  REKAYASA  TERHADAP PEMBANGUNAN
DALAM SUATU NEGARA
Oleh : sampean
096614128

A.      Pendahuluan
Pemandangan yang sudah tidak asing bagi kita saat ini bahwa batas-batas relasi sosial telah melepuh menjadi satu sebuah tatanam sosial yang baru. Dimana perkembangan sains dan ilmu pengetahuan semakin berlari kencang yang sulit terbendung dengan kebutuhan manusia. Dunia terintegrasi menjadi satu dengan aturan yang homogenistik. 
Metamorfosis zaman ini akibat dari sebuah inspirasi dari zaman pencerahan pada abad ke 17 dan 18 yang telah menggagas zaman modern yang artinya zaman saat ini. Dari pengaruh ini di Eropa mengalami kegemparan untuk mengusung sebuah visi pembaharuan atau reformasi di berbagai bidang. Visi dari zaman modernisasi sebenarnya untuk mengusung sebuah tatanam dunia yang baru yaitu sebuah tatanam yang lepas dari dogma agama yang lebih menekankan akal budi dalam kehidupan praktis. Pengaruh ini memiliki dampak yang cukup besar terhadap sebuah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perspektif pernah di utarakan oleh Anthony Giddens bahwa Para filsuf pada saat itu memiliki gagasan yang sangat sederhana akan tetapi memiliki pengaruh yang cukup besar. Menerut mereka, semakin kita memahami dunia yang dan diri kita sendiri secara rasional, semakin dapat kita membentuk sejarah dan tujuan yang kita sendiri. Kita harus membebaskan prasangka masa lalu untuk mengendalikan masa depan. (Giddens, 2001:xiv)
Implikasi ini memciptakan sebuah peradaban yang homogenitas di bawah naungan globalisasi. Dan era saat ini globalisasi sulit terbendung yang sulit di kendalikan sebab akibat dari perkembangan ini kesenjangan terjadi dimana-mana. kehidupan yang telah nampak saat ini sulit di prediksi dari hantaman perkembagan transformasi  ilmu pengetahuan.
Namun implikasi tersebut paling terasa dalam pemunuhan kebutuhan manusian sebagai mahluk ekonimikus. Manusia sebagai mahluk ekonomikus tidak lepas dari sumber kebutuhan materi, bahwa manusia di arahkan untuk menjalani hidup yang sejahtera dengan memenuhi kebutuhan materi tersebut.  Seiring dengan perkembangan tersebut. teknologi menjadi berperang penting dalam memenuhi kebutuhan manusia. Bahwa teknologi menjadi alternatif untuk membantu manusia memenuhi kebutuhan manusia.  Mempermudah manusia untuk melakukan aktivitas untuk meraih keuntungan materi tersebut.
Dengan tatanam dunia saat ini menawarkan alternatif untuk memenuhi sebuah kebutuhan manusia dengan konsep kapitalisme kesejahteran (walfare state) yang bersifat holistik dengan sistem hukum yang homogon yang diatur oleh sebuah lembaga atau institusi lewat sistem perundangan-undangan. Pada prinsip bahwa mewujudkan sebuah kehidupan yang tunggal di bawah sebuah naungan ekonomi global yang akan melahirkan sebuah perkampungan global (global village).
Interpretasi ini pernah di ungkapkan oleh seorang sosiolog yang bernama Daniel Bell bahwa suatu tipe baru masyarakat yang muncul. Masyarakat baru ini di sebut masyarakat pascaindustri yang memiliki enam ciri sebagai berikut :
1.         Suatu sektor jasa yang sedemikian besarnya sehingga sebagian besar bekerja di dalamnya.
2.         Suatu surplus barang yang melimpah
3.         Perdagangan antar bangsa yang bahkan lebih luas lagi
4.         Keanekaragaman dan kuantitas barang-barang yang tersedia bagi perorangan  secara rata-rata semakin banyak
5.         Ledakan suatu informasi
6.         Terjadi sebuah perkampungan global (global village)b artinya bangsa-bangsa di dunia ini saling terkait melalui komunikasi, transportasi dan perdagangan yang cepat.
Gambaran ini memperlihatkan bahwa era sekarang ini melahirkan sebuah peradaban yang baru yaitu sebuah gonjangan globalisasi. Globalisasi yang harus dipahami sebagai suatu gelombang yang melanda  dunia dalam hal interaksi yang menghubungkan seluruh aktivitas manusia satu dengan yang lainnya. Meningkatkan interdependensi (saling ketergantungan) tidak lagi di batasi oleh batas-batas wilayah negara, sebagai hasil dari hilangnya pengahalang ruang dan waktu. Bukan saja ekonomi yang mengalami globalisasi; kebudayaaan-kebudayaan kuno pun mulai di gonjang banjir informasi yang memasuki pikiran manusia dengan begitu deras sebagai akibat dari kemajuan teknologi yang sangat cepat. (Danzin, 2005:15 )
   Merebaknya kapitalisme global saat ini dengan visi kapitalisme kesejahteraan (walfare state) yang berlandaskan perdagan bebas mempengaruhi setiap kebijakan dalam sebuah negara dalam mengusung sebuah pembangunan. Sebab pembangunan yang mereka usung harus terintegrasi satu sama lain dengan kebijakan ekonomi global.  
Ketakberdayaaan negara ini di ungkapkan oleh Yves Brunsvick bahwa negara saat ini mengalami kesulitan untuk menyusun kedaulatannya sebab negara-negara saat ini berada dalam tekanan globalisasi mengahancurkan menopoli layanan umum, dulunya di kontrol oleh otoritas politik dan uang. Sehingga negara di paksa untuk mendefenisikan kembali tugas-tugasnya dengan memangkasnya hingga ke dasar. (Brunsvick, 2005:71)
Pengaruh dari globalisasi terhadap pembangunan sebagai upaya untuk merekayasa untuk mewujudkan sebuah tatanam baru sebagai sistem ekonomi pasar bebas untuk memicu perkembangan kesejahteraan masyarakat dengan cara mendorong masyarakat untuk menjadi masyarakat komsumtif dan produktif.
Dari berbagai pemaparan di atas belum menyentuh titik central dari apa sebenarnya globalisme itu walaupun dalam mengartikan istilah ini cenderung memiliki polemik yang panjang sesuai dengan tokohnya masing-masing. Pengulasan diatas hanya sebatas dampak dari pengaruh globalisme itu sendiri sementara dalam dunia barat menjadi sebuah diskursus.
B.       Perihal Definisi Globalisasi
Dunia dalam sebuah sketsa cerita dimana struktur tubuh di definisikan dengan berbagai macam perspektif, kebutuhan telah komodifikasi dengan kehadiran berbagai identitas negara yang melekat pada diri individu.
Sketsa dunia ini bisa kita lihat dalam diri mahasiswa atau pegawai kantor. Suatu ketika seorang mahasiswa bersiap untuk pergi kuliah di lihat ke jam tangannya merk saiko dari swiss, gaungnya dari amerika serikat, celananya dari amerika serikat sepatunya dari india, peralatan mandi yang kita gunakan semuanya berbau asing seperti sampo sunsilk di produksi oleh unilever milik orang jerman, sabun dari sinzui berasal dari cina. Di lihat dari segi kendaraan berasal dari jepang.
Dari sketsa ini bahwa tatanam sosial ini telah melabrak semua batas-batas identitas suatu negara atau individu, dari sketsa ini bisa kita lihat bahwa inilah globalisasi. Pandangan serupa yang telah di ungkapkan oleh winarno dengan mendefinisikan globalisasi menjadi tiga bagian bahwa pertama bahwa globalisasi kesalingterhubungan, integrasi dan kesalingterkaitan. Bisa di lihat dalam pendapat dari Lodge mendefinisikan globalisasi sebagai proses menempatkan masyarakat dunia bisa menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan  dalam semua aspek kehidupan mereka baik dalam budaya, politik, lingkungan, teknologi. Sedangkan Amal mengemukakan bahwa globalisasi merupakan proses munculnya  masyarakat global yaitu suatu dunia yang baik dan ideologis dan lembaga-lembaga politik dunia. Sedangkan Anthony Giddens menagrtikan bahwa globalisasi merupakan menyatunya ruang dan waktu, ahli geografi mendefinisikan globalisasi melibatkan kompresi ruang dan waktu dengan kata lain bahwa penyusutan dunia.
Albrow mendefinisikan globalisasi merupakan sebuah proses yang menggiring dunia menuju interdependensi dan kesadaran bersama yang lebih besar dalam bidang ekonomi, politik dan sosial dan diantara pelakunya secara umum. Sedangkan cox mendefinisikan globalisasi merupakan sebua asosiasi dengan neoliberalisme dan solusi teknokratis terhadap pembangunan dan refomasi ekonomi. Selain itu globalisasi bisa di jadikan sebagai sebua asosiasi ideologi dengan berbagai turunan yang beragam. Akan tetapi, saat ini globalisasi sering di identikkan dengan kapitalisme. Sebab globalisasi merupakan anak kandung dari kapitalisme.
Dari berbagai definisi yang telah di urai, yang relevan dengan tulisan ini adalah bahwa globalisasi merupakan sebuah ideologi yang tunggal untuk menyatukan sebuah dunia yang telah terpencar-pencar dalam satu kesatuan dalam mengambil sebuah kebijakan dan praktik politik untuk menundukkaan berbagai budaya yang telah ada di dunia. Selain itu globalisasi sebuah proyek besar yang dilakukan oleh sekelompok orang tertentu untuk melakukan rekayasa terhadap dunia termasuk kapitalisme dan derivatifnya untuk mewujudkan sebuah kehidupan sosial yang bersifat universal.    
C.      Ciri-ciri Globalisasi
Dalam wikipedia menjelaskan ciri-ciri globalisasi sebagai berikut:
1.         Adanya peningkatan dalam perdagangan internasional pada tingkat yang lebih cepat di bandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia.
2.         Peningkatan arus kapital international, termasuk penanaman modal asing langsung.
3.         Tingginya arus data lintas batas, dengan menggunakan teknologi internet telepon dan satelit komunikasi.
4.         Persebaran budaya yang lebih pesat, misalnya melalui ekspor film hollywood dan bollywood.
5.         Berkuarangnya keberagaman kebudayaan global dengan adanya asimilasi, hibridisasi westernisasi, dan amerikanisasi kebudayaan.
6.         Erosi kedaulatan bangsa dan batas-batas teritorialnya melalui perjanjian international oleh organisasi semacam WTO.
7.         Meningkatnya perjalanan wisata international
8.         Meningkatnya arus imigrasi, termasuk imigrasi yang ilegal
9.         Pertkembangan infrastruktur telekomunikasi global.
10.     Perkembangan sistem finansial global.
11.     Peningkatan porsi perekonomian dunia yang di kuasi oleh korporasi multinasional.
12.     Meningkatnya peran-peran organisasi internasional semacam WTO, WIPO, IMF yang mengurusi transaksi-transaksi internasional.
13.     Meningkatnya jumlah standar yang diterapkan secara global, misalnya tentang hak cipta.
D.      Pembangunan
Teori pembangunan dalam ilmu sosial dapat dibagi ke dalam dua paradigma besar, modernisasi dan ketergantungan (Lewwellen 1995, Larrin 1994, Kiely 1995 dalam Tikson, 2005). Paradigma modernisasi mencakup teori-teori makro tentang pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial dan teori-teori mikro tentang nilai-nilai individu yang menunjang proses perubahan. Paradigma ketergantungan mencakup teori-teori keterbelakangan (under-development) ketergantungan (dependent development) dan sistem dunia (world system theory) sesuai dengan klassifikasi Larrain (1994). Sedangkan Tikson (2005) membaginya kedalam tiga klassifikasi teori pembangunan, yaitu modernisasi, keterbelakangan dan ketergantungan. Dari berbagai paradigma tersebut itulah kemudian muncul berbagai versi tentang pengertian pembangunan.
 Pengertian pembangunan mungkin menjadi hal yang paling menarik untuk diperdebatkan. Mungkin saja tidak ada satu disiplin ilmu yang paling tepat mengartikan kata pembangunan. Sejauh ini serangkaian pemikiran tentang pembangunan telah ber­kembang, mulai dari perspektif sosiologi klasik (Durkheim, Weber, dan Marx), pandangan Marxis, modernisasi oleh Rostow, strukturalisme bersama modernisasi memperkaya ulasan pen­dahuluan pembangunan sosial, hingga pembangunan berkelan­jutan. Namun, ada tema-tema pokok yang menjadi pesan di dalamnya. Dalam hal ini, pembangunan dapat diartikan sebagai `suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga negara untuk me­menuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi (Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004). Tema pertama adalah koordinasi, yang berimplikasi pada perlunya suatu kegiatan perencanaan seperti yang telah dibahas sebelumnya. Tema kedua adalah terciptanya alternatif yang lebih banyak secara sah. Hal ini dapat diartikan bahwa pembangunan hendaknya berorientasi kepada keberagaman dalam seluruh aspek kehi­dupan. Ada pun mekanismenya menuntut kepada terciptanya kelembagaan dan hukum yang terpercaya yang mampu berperan secara efisien, transparan, dan adil. Tema ketiga mencapai aspirasi yang paling manusiawi, yang berarti pembangunan harus berorientasi kepada pemecahan masalah dan pembinaan nilai-nilai moral dan etika umat.
Mengenai pengertian pembangunan, para ahli memberikan definisi yang bermacam-macam seperti halnya peren­canaan. Istilah pembangunan bisa saja diartikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah lainnya, Negara satu dengan Negara lain.  Namun secara umum ada suatu kesepakatan bahwa pemba­ngunan merupakan proses untuk melakukan perubahan (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005).
Siagian (1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan per­ubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)”. Sedangkan Ginanjar Kartasas­mita (1994) memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana”.
Pada awal pemikiran tentang pembangunan sering ditemukan adanya pemikiran yang mengidentikan pembangunan dengan perkembangan, pembangunan dengan modernisasi dan industrialisasi, bahkan pembangunan dengan westernisasi. Seluruh pemikiran ter­sebut didasarkan pada aspek perubahan, di mana pembangunan, perkembangan, dan modernisasi serta industrialisasi, secara kese­luruhan mengandung unsur perubahan. Namun begitu, keempat hal tersebut mempunyai perbedaan yang cukup prinsipil, karena masing-masing mempunyai latar belakang, azas dan hakikat yang berbeda serta prinsip kontinuitas yang berbeda pula, meskipun semuanya merupakan bentuk yang merefleksikan perubahan (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005).
Pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencakup seluruh system sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya (Alexander 1994). Portes (1976) mendefenisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya. Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Menurut Deddy T. Tikson (2005) bahwa pembangunan nasional dapat pula diartikan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya secara sengaja melalui kebijakan dan strategi menuju arah yang diinginkan. Transformasi dalam struktur ekonomi, misalnya, dapat dilihat melalui peningkatan atau pertumbuhan produksi yang cepat di sektor industri dan jasa, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan nasional semakin besar. Sebaliknya, kontribusi sektor pertanian akan menjadi semakin kecil dan berbanding terbalik dengan pertumbuhan industrialisasi dan modernisasi ekonomi. Transformasi sosial dapat dilihat melalui pendistribusian kemakmuran melalui pemerataan memperoleh akses terhadap sumber daya sosial-ekonomi, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih,fasilitas rekreasi, dan partisipasi dalam proses pembuatan keputusan politik. Sedangkan transformasi budaya sering dikaitkan,  antara lain, dengan bangkitnya semangat kebangsaan dan nasionalisme, disamping adanya perubahan nilai dan norma yang dianut masyarakat, seperti perubahan dan spiritualisme ke materialisme/sekularisme. Pergeseran dari penilaian yang tinggi kepada penguasaan materi, dari kelembagaan tradisional menjadi organisasi modern dan rasional.
Dengan demikian, proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro (commuinity/group). Makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.
Sebagaimana dikemukakan oleh para para ahli di atas, pembangunan adalah sumua proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terencana. Sedangkan perkembangan adalah proses perubahan yang terjadi secara alami sebagai dampak dari adanya pem­bangunan (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005).
Dengan semakin meningkatnya kompleksitas kehidupan ma­syarakat yang menyangkut berbagai aspek, pemikiran tentang modernisasi pun tidak lagi hanya mencakup bidang ekonomi dan industri, melainkan telah merambah ke seluruh aspek yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, moderni­sasi diartikan sebagai proses trasformasi dan perubahan dalam masya­rakat yang meliputi segala aspeknya, baik ekonomi, industri, sosial, budaya, dan sebagainya.
Oleh karena dalam proses modernisasi itu terjadi suatu proses perubahan yang mengarah pada perbaikan, para ahli manajemen pembangunan menganggapnya sebagai suatu proses pembangunan di mana terjadi proses perubahan dari kehidupan tradisional menjadi modern, yang pada awal mulanya ditandai dengan adanya penggunaan alat-alat modern, menggantikan alat-alat yang tradisio­nal.
Selanjutnya seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu sosial, para Ahli manajemen pembangunan terus berupaya untuk menggali konsep-konsep pembangunan se­cara ilmiah. Secara sederhana pembangunan sering diartikan seba­gai suatu upaya untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Karena perubahan yang dimaksud adalah menuju arah peningkat­an dari keadaan semula, tidak jarang pula ada yang mengasumsi­kan bahwa pembangunan adalah juga pertumbuhan. Seiring de­ngan perkembangannya hingga saat ini belum ditemukan adanya suatu kesepakatan yang dapat menolak asumsi tersebut. Akan tetapi untuk dapat membedakan keduanya tanpa harus memisah­kan secara tegas batasannya, Siagian (1983) dalam bukunya Admi­nistrasi Pembangunan mengemukakan, “Pembangunan sebagai suatu perubahan, mewujudkan suatu kondisi kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dari kondisi sekarang, sedangkan pembangunan sebagai suatu pertumbuhan menunjukkan kemam­puan suatu kelompok untuk terus berkembang, baik secara kuali­tatif maupun kuantitatif dan merupakan sesuatu yang mutlak ha­rus terjadi dalam pembangunan.”
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya pembangunan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam arti bahwa pembangunan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan pertumbuhan akan terjadi sebagai akibat adanya pembangun­an. Dalam hal ini pertumbuhan dapat berupa pengembangan/per­luasan (expansion) atau peningkatan (improvement) dari aktivitas yang dilakukan oleh suatu komunitas masyarakat.
E.       Pembangunan dan Globalisasi
Dari uraian di atas tentang pembangunan bahwa seperangkat usaha manusia untuk mengarahkan perubahan sosial dan kebudayaan sesuai dengan tujuan berbangsa dan bernegara yaitu mencapai pertumbuhan peradaban manusia dan kebudayaan dengan target yang telah ditentukan. Dari defenisi ini bahwa negara memiliki peran dalam mewujudkan pembangunan atau dengan membenahi kesejahteraan masyrakatnya.
Dari paradigma pembangunan ini bahwa negara mengintervensi program-program pembangunan termasuk sistem pemasaran produk. Sehingga negara memberikan regulasi tersendiri terhadap produk-produk yang akan beredar di dalam pasar.
Tapi kanyataanya dengan kapitalisme global saat ini peran negara menjadi sangat kurang dengan merebaknya sistem perdagan bebas yang terjadi saat ini negara tidak memiliki peran penting bahkan kedaulatan bangsa semakin berkurang. Selain itu pembangunan secara fisik dan jasa merebak di berbagai lini dengan menjamurnya para investor-investor asing di berbagai negara. Selain itu globalisasi menekankan pengembangan industrialisasi dan sistem eksploitasi pada negara berkembang, untuk menyediakan bahan baku dan sumber tenaga kerja yang sangat murah. Dengan sistem perdagangan bebas yang dia ciptkan sebagai skenario terhadap ekonomi global yang bebaskan justru menjadi ancaman yang sangat mengerikan dengan memprivatisasi sumber daya alam yang bisa di gunakan untuk hajat orang banyak. Dan sistem subsidi terhadap rakyat miskin di hilangkan. Kondisi yang seperti ini sangat memprihatingkan khusus bagi negara berkembang sebab negara berkembang hanya mengikuti jejak-jejak negara maju. Bahkan negara maju mengintervensi negara berkembang supaya tetap dalam kondisi yang membeo terhadaap perkembangan ekonomi dunia saat ini.
Sistem globalisasi yang bereorentasi terhadap pembangunan sistem ekonomi dunia yang homogen di bawah koordinasi badan PBB (Perserikatan bangsa-bangsa) dengan lembaga Word Bank, International monetary fund, word trade organisation. Sistem ekonomi dunia di kendalikan oleh lembaga tersebut. Sistem pembangunan berkelanjutan yang di canangkan oleh ketiga badan PBB tersebut hanya sebagai mitos belaka yang berwawasan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan bersama. Slogan ini merupakan jargon untuk memuluskan agenda para konglemerat dunia untuk menjajah suatu bangsa.

F.       Global Village : sebagai rekayasa terhadap pembangunan
Dengan sistem ekonomi dunia yang menyatunya ruang dan waktu yang telah lepas kendali dengan arus informasi dan teknologi  dari hegemoni kapitalisme melahirkan sebuah kongsi-kongsi koorporasi menciptakan perusahaan multigroup.
Perkembangan global village bisa di lihat dari perserikatan yang telah terbentuk saat ini seperti perkempulan NAFTA (Nort American free Trade Association) yan pada akhirnya di ikuti oleh seluruh negara Amerika Selatan. Mengadopsi mata uang dolar sebagai mata uang asing yang berdampingan dengan mata uang nasional mereka, setelah itu oleh perkumpulan negara-negara eropa yang tergabung dalam Uni-Eropa. Perkumpulan ini mengenal lintas pertukaran uang UERO. Sistem seperti ini berada pada suatu kesatuan komando yang terpadu dengan konstitusi yang tunggal.
Model-model seperti merupakan sebuah perkampungan global yang hanya bisa di rasakan oleh para konglemerat-kongmelerat suatu negara keuntungan-keuntungan hanya di miliki oleh golongan tertentu  sementara dampak negatif dari ekonomi global langsung di rasakan oleh para rakyat-rakyat kecil.
bersambung











DAFTAR PUSTAKA
Adi, M. Ramadhan. 2005. Globalisasi: Skenario Mutkhir Kapitalisme. Al Ashar Press.
Danzin,  Andre dan Yves Brunvick. 2005. Lahirnya Sebuah Peradaban Gonjangan Globalisasi. Di terjemahkan oleh PeMad. Yogyakarta: Kanisius
Gilpin, Jean Millis dan Robert Gilpin. 2002. Tantangan Kapitalisme Global Ekonomi dunia Abad 21. Di terjemahkan oleh Arismunandar dan Dudy Priatna. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Giddens, Anthony. 2003. Runaway Word Dunia Lepas Kendali. Di terjemahkan oleh Andry kristiwan. S dan Yustina Koen. S. jakarta: Gramedia
Hardimn, F. Budi. 2012. Pemikiran-pemikiran yang membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli sampai Nietzche). Jakarta: Erlangga.
Kruijt, Dirk dan Phillip Quarles Van Ufford Frans Husken. 1989. Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan. Di terjemahkan oleh R.G. Soekadijo. Jakarta: Gramedia.
M. Heslin, James. 2006. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Di terjemahkan oleh Prof Kamanto Sunanto.  Jakarta : Erlangga
Mulyanto, Dede. 2012. Antropologi Marx: Karl Marx masyarakat dan kebudayaan. Bandung: Ultimus.
Artikel/Jurnal/internet :
Mysampean.blogspot.com
Dhieb-zone.blogspot.com
www. Nosr-Mesir.co.cc
Jurnal Prisma: Senjakala Kapitalisme & krisis demokrasi