Review Buku
: Pikiran Kembara (Moderniasasi dan Kesadaran Manusia)
oleh : sampean
Biarkan buku itu berbicara dengan realitasnya kepada kesadaran
subjek.Dimana realitas bersifat
intension. Sebagaimana kematian pengarang yang telah di dengunkan oleh Roland
Barthes terhadap sebuah karya tulis bahwa pengarang telah mati. Sebab,
keterberian informasi dalam buku atau karya tulis tersebut ada pada otoritas
subjek Pembaca untuk menginterpretasikan karya tersebut. Dengan menjalajahi
karya dari pemikir terkemuka yaitu Peter L. Berger, Brigitte Berger, Hansfriend
Kellner.lewat tulisannya Pikiran Kembara (modernisasi dan Kesadaran
Manusia) untuk membuka tirai kehidupan proyek modernitas yang menggugah
kesadaran atas sebuah ketimpangan dalam proyek tersebut.
Buku ini mengulas sebuah realitas kemoderenan atas kesadaran
manusia. karena dalam tatanam sosial hubungan individu dan realitas sekitarnya
memeliki sifat yang otonom dan terikat dalam sebuah kelompok. Akan tetapi,
dengan pola perilaku dalam masyarakat kontemporer yang paling dominan adalah
perilaku otonom itu sendiri dalam sikap individu, yang bersifat zkisoferenia.
Dalam pernyataan ini bahwa dalam ruang modernitas manusia mengalami sebuah
kegalauan identitas atas dirinya.
Dengan melihat konteks keindonesiaan. Budaya itu sangat rupawan,
pesonanya menebar ke semua ruang sehingga menjadi ektasi-ektasi kepada manusia
atau masyarakat. Budaya itu menjadi candu dimana penikmatnya adalah masyarakat
telah tersipuh di ruang-ruang rehabilitasi kebudayaan. Mereka tersenyum,
tertawa dan bahagia atas sebuah kekerdilan dirinya yang tidak menyadari identitasnya.
tak luput dari ingatanku di negeri ini telah di banjiri oleh budaya import
yaitu pada tahun 2000 negeri di sodomi budaya India, namun sebelum itu budaya negeri
telah berselingkuh dengan budaya Amerikanisme, namun pada akhirnya negeri ini
telah bersenggama dengann korea dengan budaya Gangnam Style dan Boy And
Gilrs Band. Namun, jauh sebelumnya negeri ini telahmemperistri budaya Islam. Entahlah
selanjutnya siapalagi menjadi pasangan negeri ini. Negeri ini selayaknya
pelacur budaya. Dimana masyarakatnya adalah pelaku prostitusi budaya.
Perilaku ini begitu nyata di hadapan kita semua budaya asing
menjadi medang kepentingan untuk menjadi Eksis. Sebab Eksistensi dari sebuah
manusia dalam lingkup sosial adalah mengikuti arus yang di bentuk oleh pola
arus media atau teknologi atas budaya tinggi. Konstruksi kedirian individu
telah dibentuk sedemikian rupa oleh teknologi untuk menginjakkan jejak
lengkahnya untuk berjalan di atas pasir. Kontruksi itu hadir atas modeling
aktor atas sebuah sosok figur yang patut di contoh oleh publik atas
perilakunya, dimana tubuh adalah sebuah kontruksi produk.
Perjalanan negeri adalah perjalanan ekspansi budaya asing.
Mengenal keasliannya seperti menutup mata di tengah kegelapan.
Pergeseran-pergeseran kebudayaan hanya menapaki jejaknya atas spekulan-spekulan
atas sebuah preuposisi yang tak jelas arahnya. Tak pelak lagi kita berada pada
sebuah posisi global village
(Perkampungan global). Dimana identitas telah melampui ruang dan waktu. Sulit
mengenal batas dan teritorial dari sebuah negera seperti yang di ungkapkan oleh
Anthony Giddens ruang ini telah menyusut. Kita di perhadapkan sebuah dunia
virtual (nayata tapi tidak aktual). Kehidupan ini seolah menjadi tidak real
seperti khayalan belaka yang tidak mengenal jejak. Ruang-ruan sosial menjadi
tersitematisioleh sebuah tatanam
monolitik terbentuk oleh kehidupan yang monodimensi. Realitas ini seolah
menekan individu dalam kesadaran dalam dunia yang nyata.
Menapaki buku Peter L Berger DKK, meniupkan ruh atas sebuah
kegelisahan atas realitas modernitas yang di tinjau dari sosiologi pengetahuan.
Membuka wejangan-wejangan kesadaran manusia atas keberadaan teknologi. Peran
teknologi dalam ruang modernitas sebab produksi teknologi memberikan peran
penting terhadap kondisi kesadaran manusia. karena saat ini kesadaran modern
telah banyak berpusat pada “Pandangan Dunia Ilmiah” atau “mentalitas
Keinsinyuran”. Dari pandangan ini para ilmuwan atau Insinyur memandang
masyarakat sebagai masyarakat berteknologi. (hal 29)
Kesadaran Subjek
Kesadaran subjek sebagai sebuah tumpuan dalam modernitas atas
sebuah terwujudnya sebuah tatanam sosial atas produksi teknologi dengan kesadaran
manusia.sehingga dalam proses abtrakasi
terhadap realitas memberikan logika produksi telah terasuki dalam kesadaran
manusia. Pembentukan kesadaran manusia terhadap produksi Teknologi telah
mencecah pengetahuan dengan berbagai serpihan atas pengetahuan yang di miliki
manusia.serpihan-serpihan pengetahuan
ini membentuk polanya masing-masing sesuai dengan kondisi sosial yang dialami
seorang individu. Seperti yang di jelaskan dalam buku ini bahwa kehidupan
keluarga dan kehidupan keluarga memiliki pola pengatahuan dan gaya kognitif di
miliki individu (hal 34).Kesadaran
individu itu mengaju pada instutisi dalam kedirian individu. Sehingga terjadi
sebuah keterpisahan antara dunia kerja
dan dunia Individu (hal 34).
Akibatnya, pengetahuan tentang kerja di tentukanpada tingkat institusional. Sehingga
kesadaran inidividu di tentukan pada setting
sosial seseorang dimana dia berada seperti yang terjadi di indonesia yang telah
di ulas sebelumnya sebagai negeri bekas ekspansi. Negeri ini berada pada sebuah
anomia zaman atas keasliannya. Institusional di produksi atas kesadaran
teknologi. Dimana keberadaan Indonesia di ombang-ambing oleh konteks zaman.
Tetapi yang perlu kita ketahui konstruksi modernitas membentuk
dunia yang bersifat ajeg. Dunia yang ajeg ini membuat manusia menjadi
terspesialisasi dengan profesionalismenya masing-masing. Dunia ini kembali pada
sebuah tatanam feodal yaitu sebuah sistem hirarkis yang mencuat atas tinggi dan
rendah dengan sebuah status sosial. Pembentukan stratifikasi dan diferensiasi
sosial di tentukan pada sebuah peran sosial atas institusinya. Sistem hirarkis
ini menandakan sebuah kejamakan dan pluralitas identitas yang di bentuk oleh
sebuah tatanam sosial yang ada dalam masyarakat. Kecenderungan ini bisa kita
amati dalam dunia birokratis dalam sebuah institusi tingkatan pengatahuan
individu telah terlgeitimasi atas spesialisasinya dengan bagian kerja
masing-masing. Di posisi ini individu tidak mencampuri wilayah kerja
masing-masing. Dalam satu institusi ratusan orang yang tidak memiliki peran
yang sama dalam sebuah institusi. Sebab keberdaan individu telah terlegitimasi oleh
sebuah peran yang di berikan oleh individu tersebut.
Kecenderungan ini menempatkan individu pada sebuah posisi yang
plural. Dengan kondisi yang plural dalam sebuah institusi menuntut sebuah
kompitisi untuk menaiki sebuah tahta atau status yang lebih tinggi dengan
menguasai disiplin yang lain dan pendalaman terhadap sebuah peran sosial
tersebut yang telah menjadi institusi. Pelegitimasian atas status sosial
individu oleh institusi memberikan sebuah anomia tersendiri bagi individu atas
perannya.
Posisi individu harus menempuh dan mengatahaui sebuah “peta
Masyarakat” sebagai ruang lingkupnya. Ia dapat merolokasikan dan memproyeksikan
dirinya sendiri berkenaan dengan baik dan perenungan dengan riwayat hidup masa
lalu maupun proyek masa depan. Hidup individu dilihat sebagai perjalanan
melintasi peta itu. Dan kumpulan pengatuhuan faktual yang telah di buat
bobotnya oleh individu. Sehingga kehidupan ini bisa di rencanakan. Seperti
halnya dengan sebuah jenjang karir sebuah karyawan (hal 68). Selain itu, perencanaan
itu terwujud dalam sebuah fantasi yang haya bereorentasi pragmatis atas sebuah
tatanam sosial yang ia kehendaki. Sehingga realitas sosial yang melingkupi kita
saat ini merupakan sebuah dunia yang hendak kita wujudkan.
Modernitas Versus kontra Modernitas
Prasangka terhadap modernitas memiliki perspektif yang
berbeda-beda setiap tokoh sosial dan ilmuwan yang lain. Akan tetapi, spirit
dari kehadiran dari modernitas adalah proses pembaharuan atau dengan kata lain
bahwa modernitas adalah proses kemajuan. Berdasarkan definisi ini Berger Dkk.
Mendefinisikan modernisasi sebagai Penyiaran paket-paket.
Mengantar manusia pada ruang modernitas adalah adalah bidang
teknologi, ekonomi, dan birokrtis politik. Dimensi ini mengantarkan dunia
ketiga menjadi inti dari ruang modernitas dunia ketiga dewasa ini. Maka dari
itu, Berger Dkk, mengemukakan sebuah hipotesis bahwa tingkat perkembangan
ekonomi berteknologi sama-sama merupakan variasi kunci dalam kemoderenan(hal
110).
Pengaruh yang paling besar dalam dunia ketiga adalah proses
indutrialisasi merupakan sebuah model ekspansi negara maju di dunia ketiga(Hal
111). Proses indutrialisasi ini melabrak budaya-budaya yang dianggap
konservatif yang bisa menghalangi laju modernisasi sehingga yang terjadi dalam
dunia ketiga adalah melemahnya sistem sosial konvensional khususnya pada
masyarakat pedesaan pada konsep-konsep yang dianggap bersifat promordial.
Sehingga modernisasi memberikan dampak besar terhadap kehidupan
kemanuisaan yang mengantarkan pada sebuah krisis kemanusiaan. sebab,nilai-nilai yang dianggap menantang terhadap
dirinya harus dinegasikan. Dengan sistem yang baru yaitu sistem tekonologi yang
besifat parokial (mengkotak-kotakkan). Pergeseran kehidupan manusia menjadi sebuah
simbolitas dengan legitamasi dari institusion mengantarkan manusia yang
bersifat homogen dalam sebuah institusi.
Selain itu kehidupan modern mendorong manusia untuk bersifat
konsumtivisme. Kehidupan manusia di berikan stimulus untuk mengembankan hasrat
yang di miliiki manusia.Akibatnya, tingkat
kreativitas dan inovatif dengan tingkat produktivitassemakin menurun dengan daya yang beli yang
tinggi akan tetapi tidak di barengi dengan nilai objektif atau nilai guna dan
fungsi kebutuhan manusia.
Wabah ini telah melanda negara-negara dunia ketiga yang terlena
dengan hegemoni barat. Seduksi yang di tawarkan barat telah manjadi opium/ekstasi
bagi negara dunia ketiga. Hal ini menjadi sebuah anomi yang mesti di carikan
obat penawarnya. Sehingga Berger DKK mengatakan bahwa dengan muncul problem-poblem
bagi negara dunia ketiga mencul berbagai respon terhadap modernisasi. Pihak
kontra dengan modenisasi banyak tipe atau model kontra terhadap modernitas
seperti ada yang menolak secara keseluruhan dan menolak nilai yang di bahah
modernisasi. Hal tergantung dari latar belakang ideologis dari pihak penolak
tersebut.
Proses penolakan terhadap modernisasi bukan hanya terjadi di
negara dunia ketiga akan tetapi juga terjadi di negera-negara Maju dengan
hadirnya beberapa budaya tanding dalam moderniasi itu sendiri. Sebab,modernisasi tidak mongakomodasi kepentingan
mereka di atasperwujudan kemaslahatan
golongan. Titik kejenuhan pada negara maju ketika modernitas telah merasuki
semua lini kehidupan membentuk pola perilaku masyarakat yang homegen. Titik
balik dari semua itu de-modernisasi di wilayah-wilayah tertentu.
Sebutir debu untuk Peter L Berger DKK
Gagasan yang di kembangkan dalam buku ini merupakan perwujudan
dari sebuah analsisis sosiologi pengatahuan untuk mengembalikan sosiologi dalam
objek kajian filsafat untuk menelanjangi sebuah realitas dengan mengunakan
pendekatan Fenomonologis. Objek kajian dari buku ini adalah modernitas sebagai
konteks sebagaifenomena perkembangan
zaman dan modernitas sebagai sebuah proses rekayasa sosial. Sebagai seorang
teoritikus tak luput dari sebuah kekurangan, gagasan tidak melahirkan sebuah
gambaran modernitas yang komprehensif tentang modernitas atau modernisasi.
Sebab kajian dalam buku ini memfokuskan pada objek kesadaran subjek sebagai aktor
dan agen sosial dalam modernitas itu sendiri.
Pendidikan merupakan sebuah amanah
untuk yang diembang olehmanusia untuk
turun ke bumi sebagai khalifah. Sebab pendidikan merupakan proses mencerahkan
pencerahan yang akan mengantarkan manusia pada puncak peradaban. Pendidikan merupakan
sebuah tumpuan dalam peradaban sebab tak ada peradaban yang lahir tanpa
pendidikan. Karena pendidikan berkaitan dengan proses perkembangan pengetahuan
manusia. Perkembangan peradaban manusia itu terlahir dari sebuah transformasi
pendidikan atau tranformasi pengetahuan dari generasi ke generasi.
Kelahiran peradaban saat ini tidak
lepas dari proses transformasi pengetahuan saat ini yang melahirkan peradaban
kapitalisme yang telah menggeser paradigma pendidikan menjadi pragmatis.
Sehingga paradigma yang berkembang di masyarakat saat ini adalah paradigma
pragmatis. Sehingga banyak orang yang tidak mementingkan yang namanya
pendidikan yang mencerahkan pencerahan, akan tetapi, orientasi dari pendidikan
saat ini hanya mengantarkan kita pada paradigma simbolik yang menganggap bahwa
pendidikan itu hanya untuk mendapatkan sebuah ijasah dan untuk mendapatkan
sebuah pekerjaan. Sehingga masyarakat saat ini berlomba-lomba untuk
menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan dan
merubah status atau pristise dalam masyarakat.
Dengan paradigma seperti iniberkembang di masyarakat banyak orang
mengambil jalan pintas yang dianggap pantas dengan memalsukan ijasah. Selain
itu pendidikan hanyalah sebuah permainan dan komoditas. Sebab dengan mendapat
pristise di kampus banyak peserta didik membeli prestise dan pendekatan
emosional sama dengan pengajarnya. Sebab inti dari pendidikan saat ini hanyalah
sebuah symbol ijasah untuk mendapatkan sebuah pekerjaan untuk meligitimasi
kemampuan kita sehingga angkalah yang menentukan kapasitas manusia sebagai alat
legitimasi dari pihak lembaga pendidikan.
Sehingga banyak fenomena yang di
dapatkan saat ini hanya titelnya saja yang sarjana, kualitas kerja dan
pengalaman tidak ada. Orang-orang inilah yang biasanya banyak menimbulkan
banyak masalah yang nota benenya sarjana tapi tidak sesuai dengan titenya.
Haruskan kita meniru orang-orang yang begitu?
Hal ini senada dengan ungkapan
tokoh pendidikan kritis yaitu Paulo freirebahwa pendidikan merupakan memanusiakan manusia. Yang di maksud disini
ialah orang yang berpendidikan haruslah cerdas dan dapat mengatasi masalah
dalam kehidupannya. Orang yang berpendidikan seharusnya memiliki kecakapan dan
keterampilan dalam melihat persoalan, baik itu persoalan individu, maupun
persoalan umum, kualitas kerja yang benar-benar bisa memuaskan hasilnya. BersAMBUNNG
Pemandangan yang sudah
tidak asing bagi kita saat ini bahwa batas-batas relasi sosial telah melepuh
menjadi satu sebuah tatanam sosial yang baru. Dimana perkembangan sains dan
ilmu pengetahuan semakin berlari kencang yang sulit terbendung dengan kebutuhan
manusia. Dunia terintegrasi menjadi satu dengan aturan yang homogenistik.
Metamorfosis zaman ini
akibat dari sebuah inspirasi dari zaman pencerahan pada abad ke 17 dan 18 yang
telah menggagas zaman modern yang artinya zaman saat ini. Dari pengaruh ini di
Eropa mengalami kegemparan untuk mengusung sebuah visi pembaharuan atau
reformasi di berbagai bidang. Visi dari zaman modernisasi sebenarnya untuk
mengusung sebuah tatanam dunia yang baru yaitu sebuah tatanam yang lepas dari
dogma agama yang lebih menekankan akal budi dalam kehidupan praktis. Pengaruh
ini memiliki dampak yang cukup besar terhadap sebuah perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Perspektif pernah di
utarakan oleh Anthony Giddens bahwa Para filsuf pada saat itu memiliki gagasan
yang sangat sederhana akan tetapi memiliki pengaruh yang cukup besar. Menerut
mereka, semakin kita memahami dunia yang dan diri kita sendiri secara rasional,
semakin dapat kita membentuk sejarah dan tujuan yang kita sendiri. Kita harus
membebaskan prasangka masa lalu untuk mengendalikan masa depan. (Giddens,
2001:xiv)
Implikasi ini
memciptakan sebuah peradaban yang homogenitas di bawah naungan globalisasi. Dan
era saat ini globalisasi sulit terbendung yang sulit di kendalikan sebab akibat
dari perkembangan ini kesenjangan terjadi dimana-mana. kehidupan yang telah
nampak saat ini sulit di prediksi dari hantaman perkembagan transformasiilmu pengetahuan.
Namun implikasi tersebut
paling terasa dalam pemunuhan kebutuhan manusian sebagai mahluk ekonimikus.
Manusia sebagai mahluk ekonomikus tidak lepas dari sumber kebutuhan materi,
bahwa manusia di arahkan untuk menjalani hidup yang sejahtera dengan memenuhi
kebutuhan materi tersebut.Seiring
dengan perkembangan tersebut. teknologi menjadi berperang penting dalam
memenuhi kebutuhan manusia. Bahwa teknologi menjadi alternatif untuk membantu
manusia memenuhi kebutuhan manusia. Mempermudah
manusia untuk melakukan aktivitas untuk meraih keuntungan materi tersebut.
Dengan tatanam dunia
saat ini menawarkan alternatif untuk memenuhi sebuah kebutuhan manusia dengan
konsep kapitalisme kesejahteran (walfare
state) yang bersifat holistik dengan sistem hukum yang homogon yang diatur
oleh sebuah lembaga atau institusi lewat sistem perundangan-undangan. Pada
prinsip bahwa mewujudkan sebuah kehidupan yang tunggal di bawah sebuah naungan
ekonomi global yang akan melahirkan sebuah perkampungan global (global village).
Interpretasi ini pernah
di ungkapkan oleh seorang sosiolog yang bernama Daniel Bell bahwa suatu tipe
baru masyarakat yang muncul. Masyarakat baru ini di sebut masyarakat
pascaindustri yang memiliki enam ciri sebagai berikut :
1.Suatu sektor jasa yang sedemikian
besarnya sehingga sebagian besar bekerja di dalamnya.
2.Suatu surplus barang yang melimpah
3.Perdagangan antar bangsa yang bahkan
lebih luas lagi
4.Keanekaragaman dan kuantitas
barang-barang yang tersedia bagi perorangansecara rata-rata semakin banyak
5.Ledakan suatu informasi
6.Terjadi sebuah perkampungan global (global village)b artinya bangsa-bangsa
di dunia ini saling terkait melalui komunikasi, transportasi dan perdagangan
yang cepat.
Gambaran ini
memperlihatkan bahwa era sekarang ini melahirkan sebuah peradaban yang baru
yaitu sebuah gonjangan globalisasi. Globalisasi yang harus dipahami sebagai
suatu gelombang yang melanda dunia dalam
hal interaksi yang menghubungkan seluruh aktivitas manusia satu dengan yang
lainnya. Meningkatkan interdependensi (saling ketergantungan) tidak lagi di
batasi oleh batas-batas wilayah negara, sebagai hasil dari hilangnya
pengahalang ruang dan waktu. Bukan saja ekonomi yang mengalami globalisasi;
kebudayaaan-kebudayaan kuno pun mulai di gonjang banjir informasi yang memasuki
pikiran manusia dengan begitu deras sebagai akibat dari kemajuan teknologi yang
sangat cepat. (Danzin, 2005:15 )
Merebaknya kapitalisme global saat ini
dengan visi kapitalisme kesejahteraan (walfare
state) yang berlandaskan perdagan bebas mempengaruhi setiap kebijakan dalam
sebuah negara dalam mengusung sebuah pembangunan. Sebab pembangunan yang mereka
usung harus terintegrasi satu sama lain dengan kebijakan ekonomi global.
Ketakberdayaaan negara
ini di ungkapkan oleh Yves Brunsvick bahwa negara saat ini mengalami kesulitan untuk
menyusun kedaulatannya sebab negara-negara saat ini berada dalam tekanan
globalisasi mengahancurkan menopoli layanan umum, dulunya di kontrol oleh
otoritas politik dan uang. Sehingga negara di paksa untuk mendefenisikan
kembali tugas-tugasnya dengan memangkasnya hingga ke dasar. (Brunsvick,
2005:71)
Pengaruh dari
globalisasi terhadap pembangunan sebagai upaya untuk merekayasa untuk
mewujudkan sebuah tatanam baru sebagai sistem ekonomi pasar bebas untuk memicu
perkembangan kesejahteraan masyarakat dengan cara mendorong masyarakat untuk
menjadi masyarakat komsumtif dan produktif.
Dari berbagai pemaparan
di atas belum menyentuh titik central dari apa sebenarnya globalisme itu
walaupun dalam mengartikan istilah ini cenderung memiliki polemik yang panjang sesuai
dengan tokohnya masing-masing. Pengulasan diatas hanya sebatas dampak dari
pengaruh globalisme itu sendiri sementara dalam dunia barat menjadi sebuah
diskursus.
B.Perihal
Definisi Globalisasi
Dunia dalam sebuah
sketsa cerita dimana struktur tubuh di definisikan dengan berbagai macam
perspektif, kebutuhan telah komodifikasi dengan kehadiran berbagai identitas
negara yang melekat pada diri individu.
Sketsa dunia ini bisa
kita lihat dalam diri mahasiswa atau pegawai kantor. Suatu ketika seorang
mahasiswa bersiap untuk pergi kuliah di lihat ke jam tangannya merk saiko dari
swiss, gaungnya dari amerika serikat, celananya dari amerika serikat sepatunya dari
india, peralatan mandi yang kita gunakan semuanya berbau asing seperti sampo
sunsilk di produksi oleh unilever milik orang jerman, sabun dari sinzui berasal
dari cina. Di lihat dari segi kendaraan berasal dari jepang.
Dari sketsa ini bahwa
tatanam sosial ini telah melabrak semua batas-batas identitas suatu negara atau
individu, dari sketsa ini bisa kita lihat bahwa inilah globalisasi. Pandangan
serupa yang telah di ungkapkan oleh winarno dengan mendefinisikan globalisasi
menjadi tiga bagian bahwa pertama bahwa globalisasi kesalingterhubungan,
integrasi dan kesalingterkaitan. Bisa di lihat dalam pendapat dari Lodge
mendefinisikan globalisasi sebagai proses menempatkan masyarakat dunia bisa
menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkandalam semua aspek kehidupan mereka baik dalam
budaya, politik, lingkungan, teknologi. Sedangkan Amal mengemukakan bahwa
globalisasi merupakan proses munculnyamasyarakat global yaitu suatu dunia yang baik dan ideologis dan
lembaga-lembaga politik dunia. Sedangkan Anthony Giddens menagrtikan bahwa
globalisasi merupakan menyatunya ruang dan waktu, ahli geografi mendefinisikan
globalisasi melibatkan kompresi ruang dan waktu dengan kata lain bahwa
penyusutan dunia.
Albrow mendefinisikan
globalisasi merupakan sebuah proses yang menggiring dunia menuju
interdependensi dan kesadaran bersama yang lebih besar dalam bidang ekonomi,
politik dan sosial dan diantara pelakunya secara umum. Sedangkan cox
mendefinisikan globalisasi merupakan sebua asosiasi dengan neoliberalisme dan
solusi teknokratis terhadap pembangunan dan refomasi ekonomi. Selain itu
globalisasi bisa di jadikan sebagai sebua asosiasi ideologi dengan berbagai
turunan yang beragam. Akan tetapi, saat ini globalisasi sering di identikkan
dengan kapitalisme. Sebab globalisasi merupakan anak kandung dari kapitalisme.
Dari berbagai definisi
yang telah di urai, yang relevan dengan tulisan ini adalah bahwa globalisasi
merupakan sebuah ideologi yang tunggal untuk menyatukan sebuah dunia yang telah
terpencar-pencar dalam satu kesatuan dalam mengambil sebuah kebijakan dan
praktik politik untuk menundukkaan berbagai budaya yang telah ada di dunia.
Selain itu globalisasi sebuah proyek besar yang dilakukan oleh sekelompok orang
tertentu untuk melakukan rekayasa terhadap dunia termasuk kapitalisme dan
derivatifnya untuk mewujudkan sebuah kehidupan sosial yang bersifat universal.
C.Ciri-ciri
Globalisasi
Dalam wikipedia
menjelaskan ciri-ciri globalisasi sebagai berikut:
1.Adanya peningkatan dalam perdagangan
internasional pada tingkat yang lebih cepat di bandingkan dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi dunia.
2.Peningkatan arus kapital international,
termasuk penanaman modal asing langsung.
3.Tingginya arus data lintas batas, dengan
menggunakan teknologi internet telepon dan satelit komunikasi.
4.Persebaran budaya yang lebih pesat,
misalnya melalui ekspor film hollywood dan bollywood.
5.Berkuarangnya keberagaman kebudayaan
global dengan adanya asimilasi, hibridisasi westernisasi, dan amerikanisasi
kebudayaan.
6.Erosi kedaulatan bangsa dan batas-batas
teritorialnya melalui perjanjian international oleh organisasi semacam WTO.
7.Meningkatnya perjalanan wisata
international
8.Meningkatnya arus imigrasi, termasuk
imigrasi yang ilegal
11.Peningkatan
porsi perekonomian dunia yang di kuasi oleh korporasi multinasional.
12.Meningkatnya
peran-peran organisasi internasional semacam WTO, WIPO, IMF yang mengurusi
transaksi-transaksi internasional.
13.Meningkatnya
jumlah standar yang diterapkan secara global, misalnya tentang hak cipta.
D.Pembangunan
Teori pembangunan dalam ilmu sosial dapat dibagi ke dalam dua paradigma
besar, modernisasi dan ketergantungan (Lewwellen 1995, Larrin 1994, Kiely 1995
dalam Tikson, 2005). Paradigma modernisasi
mencakup teori-teori makro tentang pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial dan
teori-teori mikro tentang nilai-nilai individu yang menunjang proses perubahan.
Paradigma ketergantungan mencakup teori-teori keterbelakangan
(under-development) ketergantungan (dependent development) dan sistem dunia
(world system theory) sesuai dengan klassifikasi Larrain (1994). Sedangkan
Tikson (2005) membaginya kedalam tiga klassifikasi teori pembangunan, yaitu
modernisasi, keterbelakangan dan ketergantungan. Dari berbagai paradigma
tersebut itulah kemudian muncul berbagai versi tentang pengertian pembangunan.
Pengertian pembangunan
mungkin menjadi hal yang paling menarik untuk diperdebatkan. Mungkin saja tidak ada satu disiplin ilmu yang
paling tepat mengartikan kata pembangunan. Sejauh ini serangkaian pemikiran tentang
pembangunan telah berkembang, mulai dari perspektif sosiologi klasik
(Durkheim, Weber, dan Marx), pandangan Marxis, modernisasi oleh Rostow,
strukturalisme bersama modernisasi memperkaya ulasan pendahuluan pembangunan
sosial, hingga pembangunan berkelanjutan. Namun, ada tema-tema pokok yang
menjadi pesan di dalamnya. Dalam hal ini, pembangunan dapat diartikan sebagai
`suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak
secara sah kepada setiap warga negara untuk memenuhi dan mencapai aspirasinya
yang paling manusiawi (Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004). Tema pertama adalah
koordinasi, yang berimplikasi pada perlunya suatu kegiatan perencanaan seperti
yang telah dibahas sebelumnya. Tema kedua adalah terciptanya alternatif yang
lebih banyak secara sah. Hal ini dapat diartikan bahwa pembangunan hendaknya
berorientasi kepada keberagaman dalam seluruh aspek kehidupan. Ada pun
mekanismenya menuntut kepada terciptanya kelembagaan dan hukum yang terpercaya
yang mampu berperan secara efisien, transparan, dan adil. Tema ketiga mencapai
aspirasi yang paling manusiawi, yang berarti pembangunan harus berorientasi
kepada pemecahan masalah dan pembinaan nilai-nilai moral dan etika umat.
Mengenai
pengertian pembangunan, para ahli memberikan definisi yang bermacam-macam
seperti halnya perencanaan. Istilah pembangunan bisa saja diartikan berbeda
oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah lainnya,
Negara satu dengan Negara lain. Namun secara umum ada suatu kesepakatan
bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan (Riyadi dan Deddy
Supriyadi Bratakusumah, 2005).
Siagian (1994)
memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu usaha atau rangkaian
usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh
suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan
bangsa (nation
building)”. Sedangkan Ginanjar Kartasasmita
(1994) memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses
perubahan ke arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara
terencana”.
Pada awal
pemikiran tentang pembangunan sering ditemukan adanya pemikiran yang
mengidentikan pembangunan dengan perkembangan, pembangunan dengan modernisasi
dan industrialisasi, bahkan pembangunan dengan westernisasi. Seluruh pemikiran
tersebut didasarkan pada aspek perubahan, di mana pembangunan, perkembangan,
dan modernisasi serta industrialisasi, secara keseluruhan mengandung unsur
perubahan. Namun begitu, keempat hal tersebut mempunyai perbedaan yang cukup
prinsipil, karena masing-masing mempunyai latar belakang, azas dan hakikat yang
berbeda serta prinsip kontinuitas yang berbeda pula, meskipun semuanya
merupakan bentuk yang merefleksikan perubahan (Riyadi dan Deddy Supriyadi
Bratakusumah, 2005).
Pembangunan (development)
adalah proses perubahan yang mencakup seluruh system sosial, seperti politik,
ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya
(Alexander 1994). Portes (1976) mendefenisiskan pembangunan sebagai
transformasi ekonomi, sosial dan budaya. Pembangunan adalah proses perubahan
yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Menurut Deddy T.
Tikson (2005) bahwa pembangunan nasional dapat pula diartikan sebagai
transformasi ekonomi, sosial dan budaya secara sengaja melalui kebijakan dan
strategi menuju arah yang diinginkan. Transformasi dalam struktur ekonomi,
misalnya, dapat dilihat melalui peningkatan atau pertumbuhan produksi yang
cepat di sektor industri dan jasa, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan
nasional semakin besar. Sebaliknya, kontribusi sektor pertanian akan menjadi
semakin kecil dan berbanding terbalik dengan pertumbuhan industrialisasi dan
modernisasi ekonomi. Transformasi sosial dapat dilihat melalui pendistribusian
kemakmuran melalui pemerataan memperoleh akses terhadap sumber daya
sosial-ekonomi, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih,fasilitas
rekreasi, dan partisipasi dalam proses pembuatan keputusan politik. Sedangkan
transformasi budaya sering dikaitkan, antara lain, dengan bangkitnya
semangat kebangsaan dan nasionalisme, disamping adanya perubahan nilai dan
norma yang dianut masyarakat, seperti perubahan dan spiritualisme ke
materialisme/sekularisme. Pergeseran dari penilaian yang tinggi kepada
penguasaan materi, dari kelembagaan tradisional menjadi organisasi modern dan
rasional.
Dengan demikian,
proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi,
sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro
(commuinity/group). Makna penting dari pembangunan adalah adanya
kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.
Sebagaimana
dikemukakan oleh para para ahli di atas, pembangunanadalah sumua
proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terencana.
Sedangkan perkembangan adalah proses perubahan yang terjadi secara alami sebagai dampak dari adanya
pembangunan (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005).
Dengan semakin
meningkatnya kompleksitas kehidupan masyarakat yang menyangkut berbagai aspek,
pemikiran tentang modernisasi pun tidak lagi hanya mencakup bidang ekonomi dan
industri, melainkan telah merambah ke seluruh aspek yang dapat mempengaruhi
kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, modernisasi diartikan sebagai proses
trasformasi dan perubahan dalam masyarakat yang meliputi segala aspeknya, baik
ekonomi, industri, sosial, budaya, dan sebagainya.
Oleh karena
dalam proses modernisasi itu terjadi suatu proses perubahan yang mengarah pada
perbaikan, para ahli manajemen pembangunan menganggapnya sebagai suatu proses
pembangunan di mana terjadi proses perubahan dari kehidupan tradisional menjadi
modern, yang pada awal mulanya ditandai dengan adanya penggunaan alat-alat
modern, menggantikan alat-alat yang tradisional.
Selanjutnya
seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu sosial, para
Ahli manajemen pembangunan terus berupaya untuk menggali konsep-konsep
pembangunan secara ilmiah. Secara sederhana pembangunan sering diartikan sebagai
suatu upaya untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Karena perubahan yang
dimaksud adalah menuju arah peningkatan dari keadaan semula, tidak jarang pula
ada yang mengasumsikan bahwa pembangunan adalah juga pertumbuhan. Seiring dengan
perkembangannya hingga saat ini belum ditemukan adanya suatu kesepakatan yang dapat menolak
asumsi tersebut. Akan tetapi untuk dapat membedakan keduanya tanpa harus
memisahkan secara tegas batasannya, Siagian (1983) dalam bukunya Administrasi
Pembangunan mengemukakan, “Pembangunan sebagai suatu perubahan, mewujudkan
suatu kondisi kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dari
kondisi sekarang, sedangkan pembangunan sebagai suatu pertumbuhan menunjukkan
kemampuan suatu kelompok untuk terus berkembang, baik secara kualitatif
maupun kuantitatif dan merupakan sesuatu yang mutlak harus terjadi dalam
pembangunan.”
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
pada dasarnya pembangunan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam arti
bahwa pembangunan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan pertumbuhan akan
terjadi sebagai akibat adanya pembangunan. Dalam hal ini pertumbuhan dapat
berupa pengembangan/perluasan (expansion) atau peningkatan (improvement)
dari aktivitas yang dilakukan oleh suatu komunitas masyarakat.
E.Pembangunan
dan Globalisasi
Dari uraian di atas tentang pembangunan bahwa
seperangkat usaha manusia untuk mengarahkan perubahan sosial dan kebudayaan
sesuai dengan tujuan berbangsa dan bernegara yaitu mencapai pertumbuhan
peradaban manusia dan kebudayaan dengan target yang telah ditentukan. Dari
defenisi ini bahwa negara memiliki peran dalam mewujudkan pembangunan atau
dengan membenahi kesejahteraan masyrakatnya.
Dari paradigma pembangunan ini bahwa negara
mengintervensi program-program pembangunan termasuk sistem pemasaran produk. Sehingga
negara memberikan regulasi tersendiri terhadap produk-produk yang akan beredar
di dalam pasar.
Tapi kanyataanya dengan kapitalisme global saat ini
peran negara menjadi sangat kurang dengan merebaknya sistem perdagan bebas yang
terjadi saat ini negara tidak memiliki peran penting bahkan kedaulatan bangsa
semakin berkurang. Selain itu pembangunan secara fisik dan jasa merebak di
berbagai lini dengan menjamurnya para investor-investor asing di berbagai
negara. Selain itu globalisasi menekankan pengembangan industrialisasi dan
sistem eksploitasi pada negara berkembang, untuk menyediakan bahan baku dan
sumber tenaga kerja yang sangat murah. Dengan sistem perdagangan bebas yang dia
ciptkan sebagai skenario terhadap ekonomi global yang bebaskan justru menjadi
ancaman yang sangat mengerikan dengan memprivatisasi sumber daya alam yang bisa
di gunakan untuk hajat orang banyak. Dan sistem subsidi terhadap rakyat miskin
di hilangkan. Kondisi yang seperti ini sangat memprihatingkan khusus bagi
negara berkembang sebab negara berkembang hanya mengikuti jejak-jejak negara
maju. Bahkan negara maju mengintervensi negara berkembang supaya tetap dalam
kondisi yang membeo terhadaap perkembangan ekonomi dunia saat ini.
Sistem globalisasi yang bereorentasi terhadap pembangunan
sistem ekonomi dunia yang homogen di bawah koordinasi badan PBB (Perserikatan
bangsa-bangsa) dengan lembaga Word Bank,
International monetary fund, word trade organisation. Sistem ekonomi dunia
di kendalikan oleh lembaga tersebut. Sistem pembangunan berkelanjutan yang di
canangkan oleh ketiga badan PBB tersebut hanya sebagai mitos belaka yang
berwawasan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan bersama. Slogan ini
merupakan jargon untuk memuluskan agenda para konglemerat dunia untuk menjajah
suatu bangsa.
F.Global
Village : sebagai rekayasa terhadap pembangunan
Dengan sistem ekonomi dunia yang menyatunya ruang dan
waktu yang telah lepas kendali dengan arus informasi dan teknologidari hegemoni kapitalisme melahirkan sebuah
kongsi-kongsi koorporasi menciptakan perusahaan multigroup.
Perkembangan global
village bisa di lihat dari perserikatan yang telah terbentuk saat ini
seperti perkempulan NAFTA (Nort American
free Trade Association)yan pada
akhirnya di ikuti oleh seluruh negara Amerika Selatan. Mengadopsi mata uang
dolar sebagai mata uang asing yang berdampingan dengan mata uang nasional
mereka, setelah itu oleh perkumpulan negara-negara eropa yang tergabung dalam
Uni-Eropa. Perkumpulan ini mengenal lintas pertukaran uang UERO. Sistem seperti
ini berada pada suatu kesatuan komando yang terpadu dengan konstitusi yang
tunggal.
Model-model seperti merupakan sebuah perkampungan
global yang hanya bisa di rasakan oleh para konglemerat-kongmelerat suatu
negara keuntungan-keuntungan hanya di miliki oleh golongan tertentusementara dampak negatif dari ekonomi global
langsung di rasakan oleh para rakyat-rakyat kecil.
bersambung
DAFTAR PUSTAKA
Adi, M. Ramadhan. 2005. Globalisasi: Skenario Mutkhir
Kapitalisme. Al Ashar Press.
Danzin,Andre
dan Yves Brunvick. 2005. Lahirnya Sebuah Peradaban Gonjangan Globalisasi. Di
terjemahkan oleh PeMad. Yogyakarta: Kanisius
Gilpin, Jean Millis dan Robert Gilpin. 2002. Tantangan
Kapitalisme Global Ekonomi dunia Abad 21. Di terjemahkan oleh Arismunandar dan
Dudy Priatna. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Giddens, Anthony. 2003. Runaway Word Dunia Lepas
Kendali. Di terjemahkan oleh Andry kristiwan. S dan Yustina Koen. S. jakarta:
Gramedia
Hardimn, F. Budi. 2012. Pemikiran-pemikiran yang
membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli sampai Nietzche). Jakarta: Erlangga.
Kruijt, Dirk dan Phillip Quarles Van Ufford Frans
Husken. 1989. Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan. Di terjemahkan
oleh R.G. Soekadijo. Jakarta: Gramedia.
M. Heslin, James. 2006. Sosiologi dengan Pendekatan
Membumi. Di terjemahkan oleh Prof Kamanto Sunanto.Jakarta : Erlangga
Mulyanto, Dede. 2012. Antropologi Marx: Karl Marx
masyarakat dan kebudayaan. Bandung: Ultimus.