Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2015

MEMBURU KATA

PERADABAN, BUKU DAN RACUN SOKRATES
Oleh : Sampean
Aku hanya kutu yang melintasi setiap zaman, mencucup di atas ceruk cangkir kehidupan. Mereguk jiwa yang kosong, memburu kata yang tak berlarik. Mencari yang hilang, yang tak pernah ada. Ini hanya senandung liris  dari jiwaku, jiwamu yang hitam. Resahku, resamu adalah sepucuk risau menadah cinta. Ku tunggu dikau dalam buku,  dari nada yang tak bersyair.
Jika kamu mencariku dalam gelap, Pulanglah.
Jika kamu menemukanku dalam Cahaya, pergilah.
Sebab, itu bukan aku.
Aku sepat, yang kamu seduh di saban hari.
Peradaban itu hanya bicara pagi, siang, dan malam perihal rasa lapar dan haus. Sedangkan, buku hanya ihwal tentang ingatan. Pertalian keduanya adalah racun. Racun yang membunuh ingatan, mengabdi bersama kematian. Kemudian, terlahir sebagai keabadian. Tahu kamu; keabadian itu hanya epos kepahlawanan dari keringat, air mata,  dan darah. Buku itu adalah narasi keabadian dari nadir peradaban. Manakala Socrates menenggak racun, dia berakhir sekaligus bermula. Jiwa pembangkangannya hidup bersama senarai pengarang. Mungkin sederhananya seperti itu, tentang aku sepenggal buku. Napasku lecut dalam naskah, ku semai kata per kata berasa lelucon yang tak ingkar.
Sungguh coretan yang hadir dalam dalam karya peradaban, buku, dan racun Socrates hanya petikan kehidupan keseharian. Buku ini adalah jenjang waktu 2010-2014 melingkupi beberapa peristiwa. Buku ini hanya menyimak yang terlintas dalam ingatan, itu pun tak utuh. Hanya kecut, yang meletup oleh kegelisahan menerjang penulis. Mungkin, itu yang dianggap penting untuk direkam. Resapi saja di setiap bagian yang terdiri dari; pendidikan, Kebudayaan, Kota dan masalah-masalahnya, demokrasi dan mahasiswa.
Dari keempat bagian tersebut serba tanggung; data yang belum akurat, penjelasan yang masih nyelimet dan beberapa peristiwa belum usai. Menyelamlah ke dalam setiap bagian itu, pembaca akan tahu “bagaimana aku” atau “aku di sisi lain”. Bisa jadi, apa yang telah tercoret adalah kekeliruan atau kebenaran yang belum tersingkap. Maka, perlu ku jabarkan setiap bagian, supaya tak sesat dalam kebenaran. Misalnya; di bagian pertama, tentang pendidikan terdiri tujuh tulisan, merangkum pokok persoalan mengenai literasi. Bagian Kedua, kebudayaan, terdiri dari delapan tulisan hanya menyemai persoalan-persoalan berserak dan anomali kebudayaan di sekitaran manusia seperti tentang jilbab, kamera, fiksi, mall, agama. Bagian ketiga, Kota dan masalah-masalahnya, yang terdiri tujuh tulisan. Pada bagian ini mengulas persoalan kecil, yang tersisip di dalam kota berupa kejahatan, kekerasan, krisis ekologi, ketimpangan, dan eksploitasi perempuan. Sedangkan bagian keempat demokrasi dan mahasiswa, terdiri dari dua belas tulisan. Bagian ini merupakan telah kritik terhadap kedirian penulis sebagai mahasiswa. Bagian ini pula merupakan oto kritik dan pembelaan terhadap mahasiswa atas perjuangannya. Inilah tafsir seadanya yang aku paparkan, semoga anda tersesat dalam kebenaran.
Jalan sunyi ditepaki dalam keseharian buku ini, seharusnya dijejal dengan membaca. Daraslah dengan hati-hati, bisa jadi akan ditemukan sari pati kebenaran sekaligus kekeliruan penulis. Sebab, karya tak lepas dari kesalehan. Maka perlu kritikan dan saran bagi penulis demi menumbuhkan dan meneguhkan kembali tentang catatan keseharian yang lebih objektif.  Sekiranya, penulis berharap kepada pembaca untuk ikut berkecimpung dalam dunia buku dan literasi.

Senin, 04 Februari 2013

Study literatur sosial


REVIEW BUKU : TEORI-TEORI KEBUDAYAAN

Judul Buku   : Teori-teori kebudayaan
Penulis          : Herwanto, Nurul Huda, Bima Saptawasana, Haryanto Cahyadi, dkk.
Editor           : Mudji Sutrisno & Hendar Putranto
Penerbit        : Kanisius (Anggota IKAPI)
Tebal             : 403 lembar
Harga            : Rp. 66.000
Setangkai bunga bisa membawa makna romantisme sebagai tanda kasih sayang yang di berikan kepada seseorang. Namun setangkai bunga itu bisa menjadi tanda persembahan kepada orang yang telah tiada. Rangkaian menebarkan keindahan bagi yang memandangnya, gadis akan luluh dengan persembahan bunga sebagai tanda cinta. Begitupun buku teori-teori kebudayaan ini bisa mengantarkan kita pada sebuah cakrawala yang luas terhadap perkembangan pengatahuan. Buku ini terangkai dari kumpulan makalah yang fokus membahas teori-teori kebudayaan  kontemporer. Buku ini menyadarkan kita sebuah perkembangan diskurus pengetahuan barat yang belum kita pahami secara utuh. Buku ini akan membawa kita pada serangkaian kutub untuk memahami tatanam sosial.
Buku ini menyegarkan dahaga akan keterbatasan literatur tentang teori-teori barat khususnya pada bidang kebudayaan. Buku ini merupakan pangantar teori kebudayaan terkhusus pada kajian strukturalisme. Selain itu buku ini membahas teori kebudayaan kontemporer. Dari serangkaian makalah terkumpul menjadi sebuah kesatuan buku yang terdiri dari 17 bab yang terdiri dari tiga bagian yaitu pertama, merupakan pengantar untuk masuk ke dalam teori kontemporer sebab dalam bagian pertama ini merupakan pembahasan teori kebudayaan klasik dengan mengulas pandangan kaum marxis dan pandangan Talcot Parson. Penjelasan kaum marxis di gunakan pisau kritik terhadap ideologi kapitalisme bahwa kehidupan merupakan sebuah proses dialektika yang pada akhirnya akan mepcitakan sebuah tatanam yang humanistik atau masyarakat tanpa kelas dan tanpa penindasan namun dalam perspektif bahwa lain kehadiran Talcot Parson bahwa tatanam sosial ini merupakan keadaan yang ajek. Teori Talcot Parson ini di kenal sebagai hukum Cybernetica socius atau biasa di kenal taori AGIL (adaptation, goal attainment, integration, latency). Harapan dari Parson dari teori ini bahwa dengan teori ini mampu menjelaskan permasalahan sosial yang ada di dunia saat ini sehingga menurut dia teorinya bisa  digunakan sebagai metode analisis.
Dalam tulisan selanjutnya kedua teori ini mencoba di transformasikan ke dalam konteks keindonesiaan dengan berbagai macam pendekatan seperti Marxisme, fungsionalisme Parsonian, Durkhemian, fenomenologi dan etnomerodologi, struktaralisme, dan pasca strukturalisme. Kemudian  dalam bagian ini juga memperkenalkan para tokoh-tokoh pendiri dari strukturalisme khususnya Levis Strauss.
Kemudian bagian kedua bagian ini menjelaskan kebudayaan di analogikan sebagai teks bahwa kebudayaan merupakan sebuah rangkain cerita yang bisa di tafsirkan seperti teks kemudian dalam bagian ini di lengkapi dengan mengunakan pendekatan psikonalisis Frued terhadap peran dan status individu dalam sebuah kebudayaan.
Bagian, Ketiga dalam buku ini membahas tentang kebudayaan modernisme pascamodernisme  sebagai respon terhadap dunia yang retak karena dalam tulisan ini merupakan kritikan terhadap sebuah status quo. Kemudian dalam pembahasan selanjutnya yaitu membahas peran dan identitas perempuan di ranah sosial yang selama ini mengalami penindasan akibat dari sebuah konstruk sosial. Dalam tulisan tersebut menantang kita untuk membuka cakrawala kita terhadap pandangan terhadap perempuan dan kebutuhan akan hal yang normatif.
Satu hal yang tersulit dalam buku ini adalah memahami secara utuh sebab buku ini merupakan bacaan tingkat lanjut sebab dalam buku ini membutuhkan buku yang bahasanya yang lebih ringan dan dalam menjelaskan kebudayaan. selain itu, dalam buku ini bersentuhan dengan teori-teori kontemporer dalam membahas kebudayaan masih sulit untuk di pahami  untuk pemula yang seperti saya ini.
Sekian atas ketidaksempurnaan resensi ini sebab aku berada pada ketidaksempurnaan itu untuk meresensi buku ini karena keterbatasan saya dalam memahami buku ini sekian dan trimah kasih.
sAmPeAn

Kamis, 13 Desember 2012

Review Buku : Pikiran Kembara (Moderniasasi dan Kesadaran Manusia)

Review Buku : Pikiran Kembara (Moderniasasi dan Kesadaran Manusia)
 oleh : sampean

Biarkan buku itu berbicara dengan realitasnya kepada kesadaran subjek.  Dimana realitas bersifat intension. Sebagaimana kematian pengarang yang telah di dengunkan oleh Roland Barthes terhadap sebuah karya tulis bahwa pengarang telah mati. Sebab, keterberian informasi dalam buku atau karya tulis tersebut ada pada otoritas subjek Pembaca untuk menginterpretasikan karya tersebut. Dengan menjalajahi karya dari pemikir terkemuka yaitu Peter L. Berger, Brigitte Berger, Hansfriend Kellner.  lewat tulisannya Pikiran Kembara (modernisasi dan Kesadaran Manusia) untuk membuka tirai kehidupan proyek modernitas yang menggugah kesadaran atas sebuah ketimpangan dalam proyek tersebut.
Buku ini mengulas sebuah realitas kemoderenan atas kesadaran manusia. karena dalam tatanam sosial hubungan individu dan realitas sekitarnya memeliki sifat yang otonom dan terikat dalam sebuah kelompok. Akan tetapi, dengan pola perilaku dalam masyarakat kontemporer yang paling dominan adalah perilaku otonom itu sendiri dalam sikap individu, yang bersifat zkisoferenia. Dalam pernyataan ini bahwa dalam ruang modernitas manusia mengalami sebuah kegalauan identitas atas dirinya.
Dengan melihat konteks keindonesiaan. Budaya itu sangat rupawan, pesonanya menebar ke semua ruang sehingga menjadi ektasi-ektasi kepada manusia atau masyarakat. Budaya itu menjadi candu dimana penikmatnya adalah masyarakat telah tersipuh di ruang-ruang rehabilitasi kebudayaan. Mereka tersenyum, tertawa dan bahagia atas sebuah kekerdilan dirinya yang tidak menyadari identitasnya. tak luput dari ingatanku di negeri ini telah di banjiri oleh budaya import yaitu pada tahun 2000 negeri di sodomi budaya India, namun sebelum itu budaya negeri telah berselingkuh dengan budaya Amerikanisme, namun pada akhirnya negeri ini telah bersenggama dengann korea dengan budaya Gangnam Style dan Boy And Gilrs Band. Namun, jauh sebelumnya negeri ini telah  memperistri budaya Islam. Entahlah selanjutnya siapalagi menjadi pasangan negeri ini. Negeri ini selayaknya pelacur budaya. Dimana masyarakatnya adalah pelaku prostitusi budaya.
Perilaku ini begitu nyata di hadapan kita semua budaya asing menjadi medang kepentingan untuk menjadi Eksis. Sebab Eksistensi dari sebuah manusia dalam lingkup sosial adalah mengikuti arus yang di bentuk oleh pola arus media atau teknologi atas budaya tinggi. Konstruksi kedirian individu telah dibentuk sedemikian rupa oleh teknologi untuk menginjakkan jejak lengkahnya untuk berjalan di atas pasir. Kontruksi itu hadir atas modeling aktor atas sebuah sosok figur yang patut di contoh oleh publik atas perilakunya, dimana tubuh adalah sebuah kontruksi produk.
Perjalanan negeri adalah perjalanan ekspansi budaya asing. Mengenal keasliannya seperti menutup mata di tengah kegelapan. Pergeseran-pergeseran kebudayaan hanya menapaki jejaknya atas spekulan-spekulan atas sebuah preuposisi yang tak jelas arahnya. Tak pelak lagi kita berada pada sebuah posisi global village (Perkampungan global). Dimana identitas telah melampui ruang dan waktu. Sulit mengenal batas dan teritorial dari sebuah negera seperti yang di ungkapkan oleh Anthony Giddens ruang ini telah menyusut. Kita di perhadapkan sebuah dunia virtual (nayata tapi tidak aktual). Kehidupan ini seolah menjadi tidak real seperti khayalan belaka yang tidak mengenal jejak. Ruang-ruan sosial menjadi tersitematisi  oleh sebuah tatanam monolitik terbentuk oleh kehidupan yang monodimensi. Realitas ini seolah menekan individu dalam kesadaran dalam dunia yang nyata.
Menapaki buku Peter L Berger DKK, meniupkan ruh atas sebuah kegelisahan atas realitas modernitas yang di tinjau dari sosiologi pengetahuan. Membuka wejangan-wejangan kesadaran manusia atas keberadaan teknologi. Peran teknologi dalam ruang modernitas sebab produksi teknologi memberikan peran penting terhadap kondisi kesadaran manusia. karena saat ini kesadaran modern telah banyak berpusat pada “Pandangan Dunia Ilmiah” atau “mentalitas Keinsinyuran”. Dari pandangan ini para ilmuwan atau Insinyur memandang masyarakat sebagai masyarakat berteknologi. (hal 29)

Kesadaran Subjek
Kesadaran subjek sebagai sebuah tumpuan dalam modernitas atas sebuah terwujudnya sebuah tatanam sosial atas produksi  teknologi dengan kesadaran manusia.  sehingga dalam proses abtrakasi terhadap realitas memberikan logika produksi telah terasuki dalam kesadaran manusia. Pembentukan kesadaran manusia terhadap produksi Teknologi telah mencecah pengetahuan dengan berbagai serpihan atas pengetahuan yang di miliki manusia.  serpihan-serpihan pengetahuan ini membentuk polanya masing-masing sesuai dengan kondisi sosial yang dialami seorang individu. Seperti yang di jelaskan dalam buku ini bahwa kehidupan keluarga dan kehidupan keluarga memiliki pola pengatahuan dan gaya kognitif di miliki individu (hal 34).  Kesadaran individu itu mengaju pada instutisi dalam kedirian individu. Sehingga terjadi sebuah keterpisahan antara dunia kerja dan dunia Individu (hal 34).
Akibatnya, pengetahuan tentang kerja di tentukan  pada tingkat institusional. Sehingga kesadaran inidividu di tentukan pada setting sosial seseorang dimana dia berada seperti yang terjadi di indonesia yang telah di ulas sebelumnya sebagai negeri bekas ekspansi. Negeri ini berada pada sebuah anomia zaman atas keasliannya. Institusional di produksi atas kesadaran teknologi. Dimana keberadaan Indonesia di ombang-ambing oleh konteks zaman.
Tetapi yang perlu kita ketahui konstruksi modernitas membentuk dunia yang bersifat ajeg. Dunia yang ajeg ini membuat manusia menjadi terspesialisasi dengan profesionalismenya masing-masing. Dunia ini kembali pada sebuah tatanam feodal yaitu sebuah sistem hirarkis yang mencuat atas tinggi dan rendah dengan sebuah status sosial. Pembentukan stratifikasi dan diferensiasi sosial di tentukan pada sebuah peran sosial atas institusinya. Sistem hirarkis ini menandakan sebuah kejamakan dan pluralitas identitas yang di bentuk oleh sebuah tatanam sosial yang ada dalam masyarakat. Kecenderungan ini bisa kita amati dalam dunia birokratis dalam sebuah institusi tingkatan pengatahuan individu telah terlgeitimasi atas spesialisasinya dengan bagian kerja masing-masing. Di posisi ini individu tidak mencampuri wilayah kerja masing-masing. Dalam satu institusi ratusan orang yang tidak memiliki peran yang sama dalam sebuah institusi. Sebab keberdaan individu telah terlegitimasi oleh sebuah peran yang di berikan oleh individu tersebut.
Kecenderungan ini menempatkan individu pada sebuah posisi yang plural. Dengan kondisi yang plural dalam sebuah institusi menuntut sebuah kompitisi untuk menaiki sebuah tahta atau status yang lebih tinggi dengan menguasai disiplin yang lain dan pendalaman terhadap sebuah peran sosial tersebut yang telah menjadi institusi. Pelegitimasian atas status sosial individu oleh institusi memberikan sebuah anomia tersendiri bagi individu atas perannya.
Posisi individu harus menempuh dan mengatahaui sebuah “peta Masyarakat” sebagai ruang lingkupnya. Ia dapat merolokasikan dan memproyeksikan dirinya sendiri berkenaan dengan baik dan perenungan dengan riwayat hidup masa lalu maupun proyek masa depan. Hidup individu dilihat sebagai perjalanan melintasi peta itu. Dan kumpulan pengatuhuan faktual yang telah di buat bobotnya oleh individu. Sehingga kehidupan ini bisa di rencanakan. Seperti halnya dengan sebuah jenjang karir sebuah karyawan (hal 68). Selain itu, perencanaan itu terwujud dalam sebuah fantasi yang haya bereorentasi pragmatis atas sebuah tatanam sosial yang ia kehendaki. Sehingga realitas sosial yang melingkupi kita saat ini merupakan sebuah dunia yang hendak kita wujudkan.

Modernitas Versus kontra Modernitas
Prasangka terhadap modernitas memiliki perspektif yang berbeda-beda setiap tokoh sosial dan ilmuwan yang lain. Akan tetapi, spirit dari kehadiran dari modernitas adalah proses pembaharuan atau dengan kata lain bahwa modernitas adalah proses kemajuan. Berdasarkan definisi ini Berger Dkk. Mendefinisikan modernisasi sebagai Penyiaran paket-paket.
Mengantar manusia pada ruang modernitas adalah adalah bidang teknologi, ekonomi, dan birokrtis politik. Dimensi ini mengantarkan dunia ketiga menjadi inti dari ruang modernitas dunia ketiga dewasa ini. Maka dari itu, Berger Dkk, mengemukakan sebuah hipotesis bahwa tingkat perkembangan ekonomi berteknologi sama-sama merupakan variasi kunci dalam kemoderenan(hal 110).
Pengaruh yang paling besar dalam dunia ketiga adalah proses indutrialisasi merupakan sebuah model ekspansi negara maju di dunia ketiga(Hal 111). Proses indutrialisasi ini melabrak budaya-budaya yang dianggap konservatif yang bisa menghalangi laju modernisasi sehingga yang terjadi dalam dunia ketiga adalah melemahnya sistem sosial konvensional khususnya pada masyarakat pedesaan pada konsep-konsep yang dianggap bersifat promordial.
Sehingga modernisasi memberikan dampak besar terhadap kehidupan kemanuisaan yang mengantarkan pada sebuah krisis kemanusiaan. sebab,  nilai-nilai yang dianggap menantang terhadap dirinya harus dinegasikan. Dengan sistem yang baru yaitu sistem tekonologi yang besifat parokial (mengkotak-kotakkan). Pergeseran kehidupan manusia menjadi sebuah simbolitas dengan legitamasi dari institusion mengantarkan manusia yang bersifat homogen dalam sebuah institusi.
Selain itu kehidupan modern mendorong manusia untuk bersifat konsumtivisme. Kehidupan manusia di berikan stimulus untuk mengembankan hasrat yang di miliiki manusia.  Akibatnya, tingkat kreativitas dan inovatif dengan tingkat produktivitas  semakin menurun dengan daya yang beli yang tinggi akan tetapi tidak di barengi dengan nilai objektif atau nilai guna dan fungsi kebutuhan manusia.
Wabah ini telah melanda negara-negara dunia ketiga yang terlena dengan hegemoni barat. Seduksi yang di tawarkan barat telah manjadi opium/ekstasi bagi negara dunia ketiga. Hal ini menjadi sebuah anomi yang mesti di carikan obat penawarnya. Sehingga Berger DKK mengatakan bahwa dengan muncul problem-poblem bagi negara dunia ketiga mencul berbagai respon terhadap modernisasi. Pihak kontra dengan modenisasi banyak tipe atau model kontra terhadap modernitas seperti ada yang menolak secara keseluruhan dan menolak nilai yang di bahah modernisasi. Hal tergantung dari latar belakang ideologis dari pihak penolak tersebut.
Proses penolakan terhadap modernisasi bukan hanya terjadi di negara dunia ketiga akan tetapi juga terjadi di negera-negara Maju dengan hadirnya beberapa budaya tanding dalam moderniasi itu sendiri. Sebab,  modernisasi tidak mongakomodasi kepentingan mereka di atas  perwujudan kemaslahatan golongan. Titik kejenuhan pada negara maju ketika modernitas telah merasuki semua lini kehidupan membentuk pola perilaku masyarakat yang homegen. Titik balik dari semua itu de-modernisasi di wilayah-wilayah tertentu.
Sebutir debu untuk Peter L Berger DKK
Gagasan yang di kembangkan dalam buku ini merupakan perwujudan dari sebuah analsisis sosiologi pengatahuan untuk mengembalikan sosiologi dalam objek kajian filsafat untuk menelanjangi sebuah realitas dengan mengunakan pendekatan Fenomonologis. Objek kajian dari buku ini adalah modernitas sebagai konteks sebagai  fenomena perkembangan zaman dan modernitas sebagai sebuah proses rekayasa sosial. Sebagai seorang teoritikus tak luput dari sebuah kekurangan, gagasan tidak melahirkan sebuah gambaran modernitas yang komprehensif tentang modernitas atau modernisasi. Sebab kajian dalam buku ini memfokuskan pada objek kesadaran subjek sebagai aktor dan agen sosial dalam modernitas itu sendiri.

Sabtu, 08 September 2012

Study literatur sosial


REVIEW BUKU : TEORI-TEORI KEBUDAYAAN

Judul Buku   : Teori-teori kebudayaan
Penulis          : Herwanto, Nurul Huda, Bima Saptawasana, Haryanto Cahyadi, dkk.
Editor           : Mudji Sutrisno & Hendar Putranto
Penerbit        : Kanisius (Anggota IKAPI)
Tebal             : 403 lembar
Harga            : Rp. 66.000

Setangkai bunga bisa membawa makna romantisme sebagai tanda kasih sayang yang di berikan kepada seseorang. Namun setangkai bunga itu bisa menjadi tanda persembahan kepada orang yang telah tiada. Rangkaian menebarkan keindahan bagi yang memandangnya, gadis akan luluh dengan persembahan bunga sebagai tanda cinta. Begitupun buku teori-teori kebudayaan ini bisa mengantarkan kita pada sebuah cakrawala yang luas terhadap perkembangan pengatahuan. Buku ini terangkai dari kumpulan makalah yang fokus membahas teori-teori kebudayaan  kontemporer. Buku ini menyadarkan kita sebuah perkembangan diskurus pengetahuan barat yang belum kita pahami secara utuh. Buku ini akan membawa kita pada serangkaian kutub untuk memahami tatanam sosial.
Buku ini menyegarkan dahaga akan keterbatasan literatur tentang teori-teori barat khususnya pada bidang kebudayaan. Buku ini merupakan pangantar teori kebudayaan terkhusus pada kajian strukturalisme. Selain itu buku ini membahas teori kebudayaan kontemporer. Dari serangkaian makalah terkumpul menjadi sebuah kesatuan buku yang terdiri dari 17 bab yang terdiri dari tiga bagian yaitu pertama, merupakan pengantar untuk masuk ke dalam teori kontemporer sebab dalam bagian pertama ini merupakan pembahasan teori kebudayaan klasik dengan mengulas pandangan kaum marxis dan pandangan Talcot Parson. Penjelasan kaum marxis di gunakan pisau kritik terhadap ideologi kapitalisme bahwa kehidupan merupakan sebuah proses dialektika yang pada akhirnya akan mepcitakan sebuah tatanam yang humanistik atau masyarakat tanpa kelas dan tanpa penindasan namun dalam perspektif bahwa lain kehadiran Talcot Parson bahwa tatanam sosial ini merupakan keadaan yang ajek. Teori Talcot Parson ini di kenal sebagai hukum Cybernetica socius atau biasa di kenal taori AGIL (adaptation, goal attainment, integration, latency). Harapan dari Parson dari teori ini bahwa dengan teori ini mampu menjelaskan permasalahan sosial yang ada di dunia saat ini sehingga menurut dia teorinya bisa  digunakan sebagai metode analisis.
Dalam tulisan selanjutnya kedua teori ini mencoba di transformasikan ke dalam konteks keindonesiaan dengan berbagai macam pendekatan seperti Marxisme, fungsionalisme Parsonian, Durkhemian, fenomenologi dan etnomerodologi, struktaralisme, dan pasca strukturalisme. Kemudian  dalam bagian ini juga memperkenalkan para tokoh-tokoh pendiri dari strukturalisme khususnya Levis Strauss.
Kemudian bagian kedua bagian ini menjelaskan kebudayaan di analogikan sebagai teks bahwa kebudayaan merupakan sebuah rangkain cerita yang bisa di tafsirkan seperti teks kemudian dalam bagian ini di lengkapi dengan mengunakan pendekatan psikonalisis Frued terhadap peran dan status individu dalam sebuah kebudayaan.
Bagian, Ketiga dalam buku ini membahas tentang kebudayaan modernisme pascamodernisme  sebagai respon terhadap dunia yang retak karena dalam tulisan ini merupakan kritikan terhadap sebuah status quo. Kemudian dalam pembahasan selanjutnya yaitu membahas peran dan identitas perempuan di ranah sosial yang selama ini mengalami penindasan akibat dari sebuah konstruk sosial. Dalam tulisan tersebut menantang kita untuk membuka cakrawala kita terhadap pandangan terhadap perempuan dan kebutuhan akan hal yang normatif.
Satu hal yang tersulit dalam buku ini adalah memahami secara utuh sebab buku ini merupakan bacaan tingkat lanjut sebab dalam buku ini membutuhkan buku yang bahasanya yang lebih ringan dan dalam menjelaskan kebudayaan. selain itu, dalam buku ini bersentuhan dengan teori-teori kontemporer dalam membahas kebudayaan masih sulit untuk di pahami  untuk pemula yang seperti saya ini.
Sekian atas ketidaksempurnaan resensi ini sebab aku berada pada ketidaksempurnaan itu untuk meresensi buku ini karena keterbatasan saya dalam memahami buku ini sekian dan trimah kasih.
sAmPeAn

Rabu, 08 Agustus 2012

Review Buku:


Review Buku:
RUNTUHNYA UNIVERSALITAS
SOSIOLOGI BARAT
(Bongkar wacana atas : Islam Vis A Vis Barat, Orientalisme postmodernisme, dan Globalisme)
Djogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008
402 hlm.
oleh : sampean
Buku ini di tulis oleh Bryan S. Turner dan di terjemahkan oleh Sirajuddin Arief, M. Syukri, Inyiak Ridwan Muzir. Bryan S. Turner adalah seorang dekan fakultas Seni dan Professor Sosiologi di Universitas Deakin, Australia. Buku ini merupakan kumpulan essai dari berbagai rangkain kuliah yang di berikan di beberapa tempat khususnya di tempat dia  mengabdikan dirinya sebagai seorang dosen di Universitas Deakin, Australia. Buku ini merupakan sebuah rangkain naratif teoritis terhadap sebuah perkembangan ilmu pengetahuan sosial khususnya sosiologi sebagai disiplin Ilmu yang lahir di rahim orang-orang barat.
Seperti tersirat dan tersurat dalam buku ini, buku ini bisa di bagi menjadi empat bagian tapi yang  sebenarnya dalam buku ini terdiri dari lima bagian saya peramping menjadi empat bagian sebab bagian pertama dan kedua memiliki hubungan yang erat dan tak perlu di pisahkan. Dalam pemabahasan buku ini menjelaskan perkembangan zaman yang melahirkan sebuah pertentangan diskursus yaitu Islam versus barat sebagai yang tersurat dalam judul buku ini. Buku ini mengungkap secara kritis terhadap diskursus epos yang terjadi saat ini. Sebagian buku ini sangat di pengaruhi oleh pemikiran Edwar W. Said tentang Orientalisme yang menjadi landasan utama buku ini, kedua buku di pengaruhi oleh Max weber dalam menelah masyarakat menggunakan pendekatan ekonomi dan pandangan max weber terhadap Islam.
Dalam buku ini sebagai bentuk eksposisi problem pengatahuan yang terjadi di barat dengan mengunakan pendekatan sosiologi dengan metode komparasi melalui struktur dan kebudayaan (Turner, 51:2008). Di mana bentuk universalitas teori barat telah menghegemoni pengatahuan sebagai budaya yang agung dengan kolonialisasi lewat pendidikan dan media. Pengetahuan barat sebagai upaya untuk menyelamatkan kita dari kegelapan. Barat pun mendistorsi epistemologi dengan mengfragmentasi sebuah etno epistemologi. Etno epistemologi adalah pemisahan wilayah pengatahuan berdasarkan letak wilayah geografis atau upaya untuk mentaksonomikan pengatahuan berdasarkan wilayah geografis dengan pendekatan struktural dan kebudayaan. Pembagian ini melahirkan dua diskursus pengetahuan Barat dan Timur. Pendikotomian pengetahuan ini secara gamblang di jelaskan oleh Edwar W. Said sabagai diskursus Timur Dan Barat sebagai bentuk ekspresi terhadap kekuasaan barat.
Berdasarkan wacana ini melahirkan sebuah dualitas pengatahuan yang mengambil posisi biner yaitu studi orientalisme dan oksidentalisme. Studi orientalisme menurut Edward W. Said merupakan cara untuk mempelajari Timur dengan cara membuat klaim-klaim terhadap mereka untuk melegitimasi prasangka yang dilakukan oleh mereka dengan upaya untuk menundukkan Timur  dengan menvisualisasikan Timur.
Dari definisi ini Orientalisme, barat menghadirkan Timur sebagai hal yang eksotik, erotik, dan asing untuk dipahami dan di mengerti. Kontruksi Timur di bangun oleh barat dengan berbagai macam tipologi karakter Timur di rendahkan dan untuk di kuasai. Suatu hal yang sangat menarik dalam buku ini yang di jelaskan Turner pada buku ini (BAB : 2, Hal : 54) Orientalisme adalah wacana orientalis, kita mengetahui dan membicarakan masyarakat Timur; sementara mereka sendiri (masyarakat Timur) justru mereka sendiri tidak dapat memahami dirinya sendiri di samping itu tidak bisa berbicara balik tentang diri kita (masyarakat Barat). Berdasarkan adagium ini berarti diskursus oksidentalisme tidak melahirkan sebuah  tandingan bagi Orientalisme tersebut.
Islam vis A vis Barat
Dari perbincangan orientalisme terhadap pendikotomian Barat dan Timur merupakan sebuah hal yang yang mengalami kerancuan sebab memiliki kekurangan termasuk pendikotomian wilayah geografis jika wilayah Asia di letakkan  sebagai posisi timur. Sungguh sangat tidak relevan sebab wilayah di Asia memiliki berbagai macam kemiripan budaya di Eropa dan Amerika yang notabene sebagai barat. Jika di studi orientalisme kita lekatkan pada pendekatan agama yaitu Islam sebagai agama Timur dan Kristen sebagai agama Barat yang merupakan tradisi Abrahamik atau agama yang menganut prinsip apokaliptik  dengan pendekatan ini sebuah tanda tanya besar untuk menjelaskan Timur dan Barat sebab Timur memiliki berbagai macam agama selain dari Islam sebagai Agama yang dominan.
Berdasarkan penjelasan Turner dalam buku ini bahwa Islam memberikan sumbangan kultural berharga bagi barat dan menjadi kebudayaan yang dominan di beberapa masyarakat mideterania. Sementara, Islam tidak selamanya bersifat Timur, Kristen pun sebenarnya demikian bahwa agama Kristen sebagai agama Barat. Sebagai kepercayaan semitik yang berakar pada agama abrahamik, Kristen dapat di pandang sebagi agama Timur. Sementara Spanyol, Sisilia dan Eropa Timur, dapat dipandang menjadi agama Barat (Turner: 55; 2008).
Definisi Islam kian menjadi kontroversial menjadi wacana di kalangan orientalisme sebab Islam menjadi ancaman bagi barat setelah berakhirnya perang dingin atau perang urat syaraf yang di lakukan oleh Amerika Serikat dan Sekutunya dengan Uni Soviet dan Sekutunya. Di akhiri oleh kemenangan Amerika Serikat dan sekutunya yang tidak lagi mempunyai tandingan yang melahirkan negara Adidaya. Uni Soviet menjadi terpecah belah untuk menuntut kemerdekaan masing-masing.
Berakhirnya perang dingin tersebut melahirkan ancaman kultural baru terhadap Barat yaitu Islam. Sebab mereka menganggap bahwa saat ini Islam telah mengalami kebangkitan  yang sebagaimana yang telah di lakukan oleh para pendahulunya. Sebagai bukti terjadinya revolusi Islam Iran yang bisa di kategorikan selevel dengan revolusi Prancis dan Revolusi Inggris.
Dari perkembangan pengetahuan. Islam dan Kristen di perhadapkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan sekuler yaitu logika dan retorika sebagaimana yang telah berkembang di Yunani pada masa itu. Akan tetapi dalam perkembangannya pada masa abad pertengahan Kristen mengalami sebuah masa kegelapan yang harus mengekor kepada Islam yang mampu mentransmisikan Pengatahuan yunani terutama pengaruh Aritoteles terhadap beberapa filsuf Islam Averroes, Avicenna, Al Kindi, Al Razi yang telah memberikan kontribusi besar saat ini terhadap perkembangan ilmu pengatahuan (Hal 96). Kontribusi islam dalam ilmu pengatahuan sangat terasa sekali di bidang sains yaitu ilmu kedokteran, Optik dan Kimia. Kontribusi ini memberikan hak istemewah terhadap islam terutama perkembagan sains.
Jika di telisik saat ini perkembangan ilmu pengatahuan saat bahwa agama dan sains merupakan suatu hal yang sangat kontradiksi sebab sains mengarahkan kita pada hal yang sekuler sementara agama hanya membicarakan masalah-masalah ortodoksi dan teologis. Agama hanya mengedepankan hal yang mistikal sementara sains berbicara yang bersifat empiris dan realitis. Namu ada kebiasaan yang tidak lazim dalam diri filsuf islam yang telah mampu mentransformasikan pengatahuannya dengan mengakumulasi pengetahuan sains dan agama. kenyataan ini menjadi menjadi tanda tanya  bagi orang-orang barat sebab Islam mampu mensitesiskan agama dan filsafat yunani pada waktu itu sementara Kristen di rundung gugatan terhadap pengetahuan sekuler tersebut.
Namun, sumbangsih yang dilakukan oleh para filsuf Islam telah di ingkari oleh orang-orang barat terhadap kontribusi perkembangan pengetahuan saat ini. Seperti yang di kemukakan oleh filsuf Ernest Renan sebagai seorang filsuf prancis mengatakan bahwa mereka tinggal di Timur atau Afrika terbentur oleh suatu cara yang di dalamnya terdapat pemikiran yang benar-benar fatalisik yang menjadi lingkaran besi baginya dan bersifat tertutup. Yang di anggap tidak mampu mempelajari gagasan yang baru (hal 96). Pandangan ini menganggap bahwa Islam hanyalah pembawa Ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani yang steril bagi peradaban Eropa dan di tegaskan kembali dengan prasangka yang lebih halus.
Perlu juga di ketahui bahwa masa pencerahan yang di alami oleh Eropa tidak lepas dari kontribusi Spanyol yang menjadi Pusat ilmu pengatahuan Islam pada waktu itu. Satu hal lagi bahwa pada saat itu Spanyol menjadi peradaban Islam yang memiliki Perpustakaan yang cukup besar yaitu perpustakaan Cordoba. Perpustakaan Cordoba menjadi sasaran kedengkian Barat membumi hanguskan karya-karya muslim disana. Adapun yang tersisa di rekontruksi oleh Barat dengan mengaburkan nilai-nilai Islam terhadap manuskrip-manuskrip Islam. Seperti nama Filsuf ibnu Sina di rubah menjadi Avicenna, Ibnu Rush di ubah menjadi Averroes dan lain-lain sebagainya. Berdasarkan perspektif ini bahwa Barat berdiri di atas sebuah kemunafikan epistemologi.
*
Perspektif terhadap Islam
Pertanyaan yang mendasar untuk Islam adalah Apakah Islam sebagai agama atau bukan? Sebab Islam yang selama di gambarkan oleh barat hanya sebagai tradisi abrahamik sebagaimana kristen akan tetapi Islam memiliki ciri khas yang berbeda dengan kristen. Menurut Pandangan David Hume Islam sebagai bentuk teisme yang sempurna di banding Kristen dengan doktrin trinitasnya, menyusul berikutnya bahwa pandangan Islam sebagai bentuk menghargai akal namun di sisi lain Islam sebagai agama yang sempit dan tidak toleran (Hal 100).
Tapi perlu di ketahuai bahwa Islam merupakan pengejawantahan dualitas terhadap keyakinan sebab Islam bisa bersifat agama dan Sistem sosial. Islam sebagai agama karena Islam merupakan seperangkat keyakinan dan ritual sebagai bentuk perjalanan ruhani untuk mencapai tahap kesempurnaan berdasarkan prinsip apokaliptik. Definisi mengantarkan kita pada sebuah perspektif bahwa Islam sebagai agama merupakan menjunjung tinggi nilai-nilai asketis. Sementara Islam sebagai sistem sosial untuk menciptakan sebuah tatanam yang ideal berdasarkan perpektif profetis yang bisa terimplementasi terhadap realitas.
Seperti yang telah di kutib oleh Turner (hal 108), Huodgson Islam baik sebagai agama maupun sistem sosial di perlakukan sebagai perjalanan kesadaran nurani personal yang bersifat batin dalam menciptakan peradaban yang inpersonal dan lahiriah.

Globalisme, Modernisnme, Post-modenisme
Bahwa perubahan sosial sebagai bentuk keniscayaan yang tak dapat di elakkan maka perjalanan epos yang di hadapi Islam semakin berat yaitu Globalisme, modenisme, dan Post-modernisme.
Proyek epos ini merupakan produk dari budaya barat yang telah mencenkram dunia sebagai proyek-proyek ilmiah yang tak kunjung selesai. Melahirkan budaya-budaya universal yang di anggap memiliki nilai Tinggi  terhadap perkembangan zaman. Misi yang dilancarkan oleh barat merupakan sebuah visi westernisasi dan modenisasi melalui sebuah ideologi besar yaitu Kapitalisme yang mampu mengokomodir semua ideologi yang tetap mempertahankan eksistensinya.
Misi ini di selanjarkan melalui media dengan berbagai macam propaganda yang di lakukan melalui Iklan yang bergantian-gantian dengan berbagai macam indikator-indikator sebagai bentuk mode. Zaman ini mengantarkan kita pada sebuah demokratis hasrat dan dunia yang begitu ilusi sebab segalanya merupakan suatu hal yang melampaui, semuanya semakin cepat, manusia semakin konsumtif, realitas menjadi sebuah resiko atau risk sociaty dan merebaknya ruang asosiasional yang terbuka seperti super market dan drugstore . Ini merupakan gambaran yang singkat tentang dunia saat ini. Tapi bagaimana dengan Islam?
Suatu hal yang ditelisik saat bahwa respon terhadap dunia saat ini peningkatan paham fundamentalisme yang tetap kokoh dibawah nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan di pandang sebagai kebenaran yang dapat di bantah yang merupakan warisan dari leluhurnya yaitu nabi Muhammad SAW.  Menurut weber bahwa ketika teori sekularisasi konvensional sering mengamsumsikan bahwa agama dan modernisasi berada dalam suatu hubungan kontradiktif sebab sifat-sifat fundamentalisme asketik benar-benar mendorong masyarakat dari hubungan komunal tertutup menjadi sebuah komunal yang terbuka untuk melawan masa saat ini khususnya pada Post-modernisme ini.