Kamis, 06 September 2012

Kemahasiswaan


LEMBAGA KULTUR :
 MEDIA ALTERNATIF PEMBELAJARAN MAHASISWA

Dinamika kemahasiswaan identik dengan pergerakan dan kegiatan-kegiatan intelektual yang sering dilakukan oleh para mahasiswa yang bergelut di dalam lembaga kemahasiswaan maupun non struktural dari lembaga kemasiswaan. bentuk-bentuk dari kegiatan kemahasiswaan ini terlihat pada program-program kerja yang sering dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan seperti pembentukan kelompok-kelompok diskusi serta forum-forum kajian untuk mengawal problem-problem mahasiswa di lingkungan kampus dan kegiatan-kegiatan lainnnya yang bersifat membangun bakat dan potensi mahasiswa.
Akan tetapi, saat ini lembaga kemahasiswaan mengalami kemunduran yang sangat pesat karena lembaga tersebut terkadang tidak mampu mewadahi kebutuhan mahasiswa sebagai kaum intelektual selain itu pencitraan para pengurus lembaga kemahasiswaan semakin melorot karena hanya mengutamakan popularitas yang krisis tanggungjawab. Dampak dari kondisi yang seperti ini maka lahirlah lembaga-lembaga kultur sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan intelektual mahasiswa seperti KOMIK (Komunitas Intelektual Kampus) di Fakultas Ilmu Pendidikan, PROLOG (Progresif dan Logis) di Fakultas Ekonomi dan sosial dan Muqaddimah di Fakultas Ilmu Sosial. Para pelopor lembaga kultur ini merasa resah dengan kondisi kemahasiswaan yang sekarang ini yang hanya membincangkan hal-hal  yang  tidak penting dan minat-minat kemahasiwaan tidak terakomodasi di lembaga kemahasiswaan sehingga mahasiswa yang masih peduli,  mencari alternatif yang lain untuk menyalurkan potensi dan bakat mahasiswa maka lahirlah lembaga kultur ini untuk mewadahi kebutuhan mahasiswa. Posisi lembaga kultur bersifat independent tidak terikat oleh lembaga kemahasiswaan dan tidak terikat oleh jurusan sehingga dalam posisi lembaga kultur memiliki kebabasan untuk menyalurkan aspirasi dan bakatnya tanpa ada tindakan preventif dari berbagai pihak. Lembaga kultur berjalan atas inisiatif para penggeraknya.
Jika kita refleksi kondisi lembaga kemahasiswaan saat ini di UNM, kita bisa katakan bahwa lembaga kemahasiswaan telah mati karena otoritas penuh ada pada para birokratisasi kampus. Lembaga-lembaga kemahasiswaan telah di bekukan mulai dari tingkatan Study club yang non struktural, HMJ, BEM Universitas telah menjadi vakum. Hal ini membuktikan bahwa sekarang lembaga kemahasiswaan tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk mempertahankan eksistensinya. Pembuktian ini bisa kita lihat pada pemecatan mahasiswa secara massal di fakultas Bahasa dan Penghentian aktivitas Lembaga kemahasiswaan di fakultas tersebut. Kebijakan ini berefek pada fakultas lain dengan bentuk yang berbeda seperti di Fakultas FIS setiap jurusan otorites kebijakan Himpunan ditentukan oleh ketua jurusan masing-masing. Sikap yang seperti ini membatasi kreativitas mahasiswanya sebab ada  kejanggungan untuk menentukan sikap kelembagaan khususnya dalam menentukan program kerja.
Efek dari semua ini, aktivitas lembaga menjadi mati, aktivitas kelembagaan tidak terlihat, obrolan tentang gosip mewaranai taman bukanlah lagi diskusi keilmuwan, lembaga kemahasiswaan menjadi lembaga elit di tingkatan mahasiswa, aktivitas mahasiswa  di warnai oleh jejaring sosial bukanlah lagi membaca buku, kegiatan ilmiah tidak terlihat. Kegiatan yang di lakukan para pengurus lembaga adalah bagaimana menyenangkan hati para Birokrasi.
Dari warna yang terlihat dari berbagai kebisuan intelektual dalam lingkungan kampus. Birokrat kampus menjadi leluasa menerapkan kebijakan yang tak berpihak kepada mahasiswa. Selain daripada itu kebekuan lembaga kamasiswaan saat ini menandakan hilangnya power untuk menekan kebijakan yang represif akibat dari ketidaksiapan pengurus menghadapi kebijakan tersebut karena mahasiswa tidak dengan konsep yang jelas dengan data yang liar.
Sehingga tidak heran apabila mahasiswa menjadi jalur alternatif untuk belajar dan berdiskusi sebab lembaga kamahasiswaan dalam tidak mampu mahasiswa sebab lembaga kemahasiswaan seperti milik segelintir orang. Rasa bangga terhadap lembaga kemahasiswaan hanya berkutat pada kalangan pengurus. Namun yang lain hanyalah orang sambi lalu.
Ketidaknormalannya lembaga kamahasiswaan ini memenculkan wajah baru dengan pergerakan kultur dengan tujuan membangun fondasional di tingkat bawah. Bergerak di tingkat sektoral namun memiliki ruang aktualisasi yang luas. Sebab satu tujuan yang baik belum tentu bisa di sambut dengan yang tangan terbuka namun kita di sambut dengan tangan yang terkepal sebab itulah perjuangan sebab kebaikan hanya sifat yang melekat pada ruang dan waktu.
SaMpeaN
***

Selasa, 04 September 2012

Ratapan manusia Songong


Ratapan manusia Songong

sesak oleh rasa perih menyaksikan manusia dalam  tempurun dalam ruang-ruang kehidupan dimana hasrat berselingkuh dengan kekuasaan yang telah terbangun di ruang-ruang suci kemanusiaan. Kini intelektualitas telah tergadai oleh kepentingan politik dimana para cendikiawan menukar idealismenya dengan supucuk kertas. Harapan pun pupus di tangan para pemuda yang meniti karir di jalan-jalan yang berkoar dalam suasana momen sebagai sumber penghasilan. Ku tatap disampingku tak ada harapan untuk masa depan hanyalah binatang sadar yang tak sadar oleh kondisi, mereka hanya bernostalgia dengan permadani zaman. aku kembali pada diriku ternyata aku lebih hitam dari pada  mereka dari kekeringan jiwa yang tak sanggup ku raih hingga ku sandarkan diriku pada kegelisahan. Untuk  menguliti realitas yang begitu kejam membentuk mental manusia kepada asalnya.
Hakikat dunia ini mengajariku sebuah kebohongan dengan nalarku yang tak kunjung sampai pada sebuah hakikat kehidupan yang sebenarnya. Karena semua yang ideal adalah utopia bahkan teori para teoritikus hanyalah ilusi dari keidealannya dari ranah praksis.  Karena teori hanyalah seperangkat gagasan yang bergerak sesuai dengan kebinatangan manusia dan binatang yang termanusiakan.  Karena dunia ini memelihara kemunafikan diatas fakta yang terus begerak menuju sebuah kehancuran fisik. Hal ini kita tidak bisa pungkiri dari sebuah realitas konteks zaman saat ini. Dimana manusia lepas dari unsur keilahiannya yang terkungkung perkembangan modernitas dimana nalar kritis disimpang dalam kantongan produk.  Karena indikator-indikator  kebenaran yang sifatnya normatik dan abstrak diganti dengan materi yang bisa diukur dengan angka-angka. Kita bisa buktikan bahwa dunia saat ini telah menabung kemunafikan diatas fakta dengan melihat indikator persepsi tanda sebagai berikut :
Pakaian dan aksesoris, orang-orang  yang jujur adalah orang berpakaian rapih dengan harga yang sangat mahal itulah pemabawa kebenaran walaupun hasil rampasan sesamanya dengan dalih kepentingan bersama. Itulah yang terjadi di  birokrat-birokrat bangsa ini yang selalu menuangkan janji-janji pada poci  masyarakat yang kosong. Dan menjadi tuan dari budak-budaknya karena kebenaran bergantung kepadanya, masa depan budak ada di tangan tuan-tuang yang berdasi dalam bingkisan kekuasaan. Orang-orang yang mempunyai harkat dan kemuliaan ini dengan ukuran materilnya dia mengambil alih tugas-tugas Tuhannya karena keropatan Tuhannya untuk membagi kesejahteraan walau cukup dengan janji palsu yang telah menghangatkan orang-orang yang menghamba. Suratan takdir ada di tangan mereka. Pemandangan ini bisa kita nikmati saat kita menjadi budak-budak mereka. Keindahan pun kita rasakan dengan gulain tumpukan kesibukan dari kantor. inilah cagar-cagar rekreatif di milleu kantor  yang akan dikunjungi. Tapi hal ini tidak terjadi secara holistik akan tetapi hanya bersifat partikuler namun realitas ini bisa anda rasakan dengan menganalisis  sebuah realitas di lima langkah di depan penulis dengan di sebuah beground di institusinya.
Dakwa adalah sebuah proses penyampaian nilai-nilai kebenaran kepada khalayak atau publik untuk kemaslahatan umat. Penyampaian dakwa  selalu mengandung unsur-unsur kebenaran nilai-nilai moril. Istilah dakwa adalah sebuah risalah kenabian  untuk menyampaikan wahyu. Akan tetap istilah dakwa sering kali disempitkan  maknanya menjadi orang-orang yang sedang berdiri di mimbar-mimbar ibadah untuk mendapatkan pujian dari pesertanya.  alih-alih dakwa pun di plesetkan digunakan sebagai medium pembenaran terhadap sebuah kekeliruan.
Ibadah merupakan kegiatan-kegiatan suci yang dilakukan oleh ummat manusia  untuk menjalin komunikasi dengan Tuhannya demi kemaslahatan hambanya. Ibadah merupakan aktivitas-aktivitas  penyujian diri yang dilakukan oleh individu maupun kelompok dalam merangkah  menggugurkan tanggung jawab sebagai mahluk ciptaan. Dari arti ini bahwa ibadah bermakna pada suatu kebaikan. Namun di ruang-ruang sosial saat ini ibadah hanya sebagai ritual atau hanya sebagai hal yang suci. Ibadah hanya sebatas aktivitas semata yang tak punya makna apa-apa sebab ibadah mereka merupakan hanya dalam bentuk yang nampak  atau ibadah tanda. Misalnya sebagai seorang muslim kita dituntut untuk menggurkan tanggungjawab kita dengan mendirikan shalat namun shalat kita hanya sebatas tanda  atau aktivitas biasa saja sebab shalat yang sering di lakukan hanya sebatas kepentingan individu dan bukan karena yang lain. Selain itu banyak yang shalat karena hanya untuk mendapatkan pujian.
Pendidikan saat ini memiliki tujuan yang mulia apalagi dalam pendidikan formal. Pendidikan formal manusia memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu hanya untuk mencerahkan akan tetapi lagi-lagi pendidikan bermuka dua. Sebab pendidikan formal hanya mengajari kita untuk mendapatkan materi atau harta sebanyak-banyaknya. Kesuksesan kita hanya di ukur dengan pekerjaan yang kita miliki dan harta yang kita miliki. Hal ini terkesan merendahkan akan tetapi ini lah yang terjadi dan pendidikan hanya rangkain narasi kesuksesan yang sulit terjangkau oleh rasio yang telah melampui maknanya untuk mencerahkan. Lagi-lagi pendidikan menimbulkan petaka khususnya di Indonesia mengakibatkan korupsi merajalela.
Dari tanda-tanda ini ruang-ruang suci ini telah ternodai oleh sebuah kekosongan pemaknaan. Manusia salalu diarahkan untuk melihat simbol dan wajah yang nampak. Terkadang orang yang keluar dari hal normatif dianggap adalah orang yang gila sebab dunia ini hanyalah sebuah fantasi dan angan-angan yang sulit  untuk di wujudkan. 
SAMPEAN
***

Jumat, 24 Agustus 2012

Kamis, 09 Agustus 2012

MORAL MASYARAKAT ELIT VERSUS MASYARAKAT MASSA


MORAL MASYARAKAT ELIT  VERSUS MORAL MASYARAKAT MASSA
oleh : sampean
Moral Masyarakat elit versus moral masyarakat massa merupakan judul yang sangat mudah  di telah sebab terma-terma ini membandingkan sebuah status sosial di ruang sosial. Judul ini menggambarkan sebuah bentuk stratifikasi sosial atas maraknya penyimpangan yang terjadi di tatanan sosial. Moral masyarakat elit dan moral masyarakat massa seolah memiliki jarak yang signifikan kedua status sosial tersebut. Dari term ini muncul  sebuah pertanyaan kesenjangan apa yang terjadi!  Jawabannya, simpel bahwa kesenjangan itu adalah perbedaan peran dan fungsi tetapi kenapa mesti ada sebuah penyimpangan! Penyimpangan inilah yang harus kita telah, untuk meretas sekat-sekat  yang terjadi.
Kedua term ini menjadi adu kompotisi moral siapa yang terbaik dalam mengembang amanah dan menjalani sebuah kehidupan sosial. Karena kedua elemen masyarakat ini menjadi warna yang sering di pertentankan untuk menerapkan nilai-nilai moral dalam sistem sosial yang ada saat ini. Moral  masyarakat massa sering menjadi bahan perdebatan dan diskusi yang menjadi karakter bangsa akan tetapi selalu di perhadapkan sebuah model tatanam sosial yang lain dengan konsep modernitas yang melahirkan spesialisasi-spesialisasi keilmuan maupun spesialisasi kemampuan.
Sebelum di tarik ke dalam permasalahan yang sebenarnya  yang harus kita ketahui adalah apa itu masyarakat elit! dan apa itu masyarakat massa! Masyarakat elit adalah masyarakat yang memiliki peran dan status yang terpandang karena tingkat pengetahuan pendidikan, kekayaan dan tingkatan prestise yang di miliki. Masyarakat elit merupakan bagian dari struktur sosial yang berkecimpung dalam dunia lembaga-lembaga sosial. Masyarakat ini sering di sandingkan dengan para birokrat-birokrat pemerintahan dan lembaga-lembaga swasta yang lain maupun individu-individu yang bergelut dalam dunia organisasi. Seperti yang di ungkapakan oleh Harold D. Laswell bahwa Elite adalah individu-individu yang berhasil memiliki bagian terbanyak dari nilai-nilai (values) dikarenakan kecakapannya,  serta sifat-sfat kepribadian mereka dan karena kelebihan tersebut maka mereka terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini diperjelas oleh ungkapkan  Mills Bahwa elit adalah mereka yang menduduki posisi komando pada pranata-pranata utama dalam masyarakat. Dengan kedudukan tersebut para elit mengambil keputusan-keputusan yang membawa akibat yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sedangkan masyarakat massa adalah  masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain masyarakat massa adalah masyarakat yang tidak terlibat dalam struktur pemerintahan. Masyarakat massa ini sangat dominan dengan masyarakat desa, nelayan, kaum miskin kota dan berbagai macam kerumunan. Masyarakat massa masih cenderung memelihara sifat-sifat mistis. Jumlah masyarakat ini dalam struktur sosial memiliki jumlah yang mayoritas.
Masyarakat massa yang memiliki porsi mayoritas dalam sistem sosial sebagai penentu equilibrium (keseimbangan) dalam sistem sosial. Masyarakat massa menjadi sasaran empuk atau korban kebijakan pemerintah untuk mengusung sebuah program-program pemerintahan. Sementara Masyarakat Massa merupakan sebuah hal yang sangat vital  dalam sebuah bangsa sebab Masyarakat massa merupakan sebuah simbol atas tegaknya sebuah bangsa. Masyarakat menjadi penentu dalam gerak bangsa itu.
Masyarakat elit dan masyarakat massa merupakan sebuah sratifikasi sosial di tingkatan sebuah negara atau bangsa atau menurut Marx bahwa dalam tatanam sosial merupakan perjuangan kelas yaitu kelas Borjuasi atau kelas ploretar. Masyarakat penguasa dan di kuasai. Dalam perspektif ini telah tergambar bahwa ada perbedaan fungsi dan peran yang cukup signifikan dalam tatanan sosial. Eksistensi kedua kelas merupakan sebuah perwujudan dari simbolitas keadaan sosial saat ini dan merupakan sebuah bentuk hukum keniscayaan.
Dalam dinamika kebangsaan problem sosial sangat di tentukan oleh lapisan-lapisan masyarakat terutama kedua yang kelas tersebut yaitu kelas penentu kebijakan dan kelas sasaran kebijakan. Untuk konteks Indonesia merupakan sebuah bangsa  yang memiliki segudang permasalahan yang tidak memiliki ujung pangkal hampir setiap sudut-sudut di negeri ini telah mengalami kerusakan. Bangsa ini telah di landa oleh sebuah penyakit megalomania yaitu sebuah penyakit atau kelainan jiwa yang ditandai oleh khayalan tentang kekuasaan dan kebesaran diri. Selain itu bangsa ini telah terjadi pergeseran moral dari nilai keadaban menuju masyarakat yang biadab dengan sistem etika pragmatisme dan utilitarianisme.
Dari berbagai macam persoalan yang telah melanda negeri ini harus di telisik dengan berbagai macam sudut pandang. Sebab dari semua problem itu tidak bisa di lihat dalam satu dimensi yang utuh dan akibat yang di timbulkan. Akan tetapi, harus di telisik lebih jauh sebab permasalahan bangsa ini yang saling terkait. Dari berbagai macam persoalan di hadapi oleh bangsa ini merupakan sebuah tanda tanya besar bagi kita semua yang menjunjung nilai-nilai ke-Tuhanan, kemanusiaan dan keadilan sosial dari berbagai macam kemajemukan bangsa ini. sebagaimana yang telah tertuang dalam asas bangsa ini yaitu pancasila.
Ungkapan yang tercecer yang telah di pungut dalam diskusi amatiran bahwa problem  yang di hadapi oleh bangsa ini adalah karakter bangsa yang tidak tertanam dalam individu dan kelompok masyarakat. Hal ini terlihat praktek-praktek korupsi dari berbagai macam institusi. Korupsi menjadi musuh bersama dalam setiap elemen masyarakat termasuk yang melakukannya.
Korupsi yang melanda negeri ini sangat berkaitan erat dengan perilaku dan tingka laku para pengemban amanah kebangsaan atau masyarakat elit. Sebab para koruptor merupakan orang yang paling sadar tentang kebangsaan dan permasalahan bangsa, sekaligus orang yang paling tahu tentang hukum dan pengatahuan akan tetapi masyarakat elit ini telah melakukan sebuah penyimpangan sosial. Sementara mereka telah di prospek untuk menjadi orang terbaik oleh institusi yang memproduksinya.  Akan tetapi korupsi menjadi semarak setiap sudut telah terjangkiti oleh perilaku ini sebab bangsa terjangkiti oleh penyakit megalomania plus pragmatis.
Sehingga korupsi menjadi sarapan setiap saat di berbagai media cetak maupun media elektronik yang memberitakan setiap saat. Kasus korupsi kian menjadi semarak sebab setiap birokrasi yang  kelas teri hingga kelas kakap telah menjadi penampung uang negara dengan kata lain para birokrat telah melakukan korupsi.
Sehingga tidak heran apabila masyarakat elit dengan masyarakat massa di pertentangkan mengenai perilaku dan tingka laku sebagai aktor kebangsaan. Dengan kondisi masyarakat massa lebih menjunjung nilai-nilai moral yaitu kejujuran dan keadilan dalam menjalankan kehidupan sosial dan kebangsaan. Seperti ungkapan sebuah analogi yang sering di ungkapkan beberapa teman atau beberapa masyarakat bahwa hari ini mereka lebih mempercayai tukang bejak daripada orang-orang yang berdasi dan yang berpakaian rapi.
Hari ini telah terjadi krisis kepercayaan yang sangat luar biasa terhadap orang-orang yang berpendidikan dan orang-orang yang telah menjabat posisi penting dalam pemerintahan atau masyarakat elit terhadap khalayak (masyarakat Massa). Namun mereka selalu memkambing hitamkan institusi pendidikan yang telah gagal membentuk karekter mereka sehingga institusi pendidikan saat ini tidak ada henti-hentinya meneriakkan slogan kearifan lokal. Kegiatan Seminar dan loka-karya di lakukan dimana-mana namun tidak kunjung memperlihatkan hasil dan titik terang dalam penerapannya.
Kearifan lokal terus di sanjung yang notabene para penganutnya adalah masyarakat massa. Nilai-nilai moril dan pesan-pesan nenek moyang terus di jaga oleh masyarakat massa. untuk konteks Indonesia kita tahu bahwa masyarakat massa di Indonesia tingkat pendidikan masih sangat rendah akan tetapi sosialisasi budaya luhur masih dia tetap terjaga dan mengaplikasikannya dengan tiap hari. Sementara orang-orang yang telah  mengadopsi kehidupan modern mereka telah menganggap bahwa itu sebuah tahakyul, cerita dongen dan pesan yang tak berguna karena tidak membawa sebuah kemaslahatan diri untuk menjadi raja kekayaan.
Sebab dunia pendidikan memiliki pandangan dunia yang empirisme. Sehingga produk dari pendidikan ini adalah manusia-manusia super untuk menjadi penghisap bagi rakyat banyak dan pengumpul kekayaan untuk kemaslahatan pribadi dengan menempuh berbagai macam cara untuk meraihnya tanpa memandang halal dan haram semuanya menjadi satu. Hasilnya kita lihat bersama saat ini bahwa masyarakat elit telah menjadi kontestan di berbagai media cetak dan elektronik sebagai koruptor mereka bergantian tampil menjadi terdepan untuk mengelak atau tidak mengakui dirinya sebagai koruptor. Akan tetapi, mereka selalu bangga meneriakkan demi kemaslahatan rakyat banyak dan demi pembangunan bangsa hal ini itu adalah Cuma bualan yang selalu di lontarkan untuk masyarakat massa. Masyarakat massa menjadi korban pembohongan sebab elit di negeri ini hidup pada landasan yang sangat rapuh dan penuh dengan kebohongan.
Namun disisi yang terbalik posisi masyarakat tetap mempertahankan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan religiutas  yang masih tercermin dalam kehidupan masyarakat massa. Sementara sebagian besar dari mereka belum tersentuh oleh pendidikan institusional dan sementara masyarakat elit tahu segalanya namun mereka melakukan penyimpangan dari keilmuannya. Munkin inilah pengetahuan yang tidak memiliki posisi netral sebab pengetahuan bisa di arahkan kepada yang baik maupun  buruk.

Rabu, 08 Agustus 2012

Kabut



Oleh : sampean
Pelataran yang hijau menghampar menjadi altar dari sebuah kesaksian kepada sang pencinta mengantarkan kekasih bekunya ke relung-relung hati yang perih. Saat senja tiba menanti malam, malam terasa indah bayanganmu terasa ada di dekatku berbicara dengan ketulusan bericara tentang masa depan malam pun berharap untuk mengatakan kepada siang untuk menyampaikan bait-bait kesucian dengan harapan untuk bertemu esok hari untuk bercerita denganmu. Segudang madu yang harus tertumpah dalam gelas untuk pertemuan kita untuk menyambut sang putri yang selalu menemani hati ini. Wajahmu telah merias hariku untuk melampuai harimu. Hingga aku berpikir keindahan ini yang telah membuatku mabuk oleh isi  cawang berisi rasa perih untuk mencinta, aku pun berpikir untuk mengungkapkan rasa ini untuk mu. Tapi saat aku bertemu denganmu semuanya serasa beku, suasana menjadi dingin hanya menatap wajahmu segenap harapan untuk bisa menemaniku dalam setiap hariku. Tapi kau begitu pilu menceritakan tentangmu dan tentangnya, kau terlalu mencinta masa lalumu namun kau di abaikan oleh masa lalumu namun masa lalumu pun itu juga  membutuhkanmu.
Saat pertemuan kita aku selalu ingin menyampaikan bait-bait suci itu terhadap mu. Tapi aku menganggap diriku terlalu rendah untuk mu aku tak pantas untukmu karena bagiku kau adalah sosok sang putri yang terlalu suci untuk di sakiti, terlalu baik untuk di khianati. Tapi tahu kamu kau telah memberikan aku cahaya dalam hidupku yang merasakan cinta hingga hari ini, memberikan aku banyak pelajaran tentang itu. Itulah anugrah yang terbesar yang pernah aku rasakan selamanya. Aku bangga telah mengenal  mu dan menjadi tempat  untuk berbagi. Hingga hari ini pun kau tak pernah mendengarkan kata hati ini walau kabar angin telah menyampaikannya. Karena aku terlalu mencintai diriku karena aku tak mampu mengungkapkan cintaku terhadapmu. Tapi tahu kau sungguh menyakitkan mencintai  seseorang yang tidak mencintaimu tetapi yang lebih menyakitkan lagi adalah mencintai seeorang jika tidak memiliki keberanian untuk menyatakan cintanya kepadanya.
Tak ada yang harus  ku sesalkan dari yang ku rasakan dalam diriku, karena kau telah memberikan kesegaran kepada jiwa yang telah kering, karena ada sebuah kesucian dan ketulusan yang kau hidangkan. Namun aku telah menyalah artikan semua... perhatian itu. Aku terlalu berharap untuk memiliki mu tapi kau tak berharap untuk di miliki. Tapi satu yang paling berharga dalam diriku adalah kamu selalu tersenyum yang selalu melambangkan ketulusan, sehingga kebahagiaanmu adalah sebuah kebahagiaanku yang selalu mendekap dalam hatiku untuk meruntuhkan egoku. Satu hal yang harus kau tau aku selalu ada untukmu itu  kata yang sering ku unkapkan dalam sebuah pesan untukmu. Aku telah juga bersalah telah menghiraukanmu dalam  persendiaan ku berharap untuk menjauh tetapi celakahnya aku telah menyiakan-nyiakanmu karena tanpa mampu mempertahankan persahabatan kita. Namun jauh yang paling dalam hati ini berharap untuk mengetahui sedikit rasa terhadapku yang telah membawaku pada candu yang memabukkan.
Satu hal yang harus kau tahu adalah ketakutan untuk melupakanmu karena aku takut tidak lagi menemukan dirimu dalam diri mereka yang lain. Sebab Kesempurnaan mu lah telah menutupi kegelapan menjadi cahaya hingga saat ini menjadi pelita  untukku yang terus memberikan inspirasi. Jadilah bintang untukku yang selalu menenamiku walau sebatas cahaya. Walau Bisa menghilang sekejab lalu tapi dalam angan ku, sebab aku sadar cinta tidak selamanya memiliki sebab cinta hanya mencintai dirinya sendiri. Itulah kekuatan cinta, cinta yang mencari dirinya sendiri untuk di cintai dan akan bertemu pada suatu masa, masa yang bergelimang dengan kebahagiaan penuh dengan canda, tawa dan sedih pada sebuah kebersamaan dan ikatan yang hakiki.

&&&

Review Buku:


Review Buku:
RUNTUHNYA UNIVERSALITAS
SOSIOLOGI BARAT
(Bongkar wacana atas : Islam Vis A Vis Barat, Orientalisme postmodernisme, dan Globalisme)
Djogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008
402 hlm.
oleh : sampean
Buku ini di tulis oleh Bryan S. Turner dan di terjemahkan oleh Sirajuddin Arief, M. Syukri, Inyiak Ridwan Muzir. Bryan S. Turner adalah seorang dekan fakultas Seni dan Professor Sosiologi di Universitas Deakin, Australia. Buku ini merupakan kumpulan essai dari berbagai rangkain kuliah yang di berikan di beberapa tempat khususnya di tempat dia  mengabdikan dirinya sebagai seorang dosen di Universitas Deakin, Australia. Buku ini merupakan sebuah rangkain naratif teoritis terhadap sebuah perkembangan ilmu pengetahuan sosial khususnya sosiologi sebagai disiplin Ilmu yang lahir di rahim orang-orang barat.
Seperti tersirat dan tersurat dalam buku ini, buku ini bisa di bagi menjadi empat bagian tapi yang  sebenarnya dalam buku ini terdiri dari lima bagian saya peramping menjadi empat bagian sebab bagian pertama dan kedua memiliki hubungan yang erat dan tak perlu di pisahkan. Dalam pemabahasan buku ini menjelaskan perkembangan zaman yang melahirkan sebuah pertentangan diskursus yaitu Islam versus barat sebagai yang tersurat dalam judul buku ini. Buku ini mengungkap secara kritis terhadap diskursus epos yang terjadi saat ini. Sebagian buku ini sangat di pengaruhi oleh pemikiran Edwar W. Said tentang Orientalisme yang menjadi landasan utama buku ini, kedua buku di pengaruhi oleh Max weber dalam menelah masyarakat menggunakan pendekatan ekonomi dan pandangan max weber terhadap Islam.
Dalam buku ini sebagai bentuk eksposisi problem pengatahuan yang terjadi di barat dengan mengunakan pendekatan sosiologi dengan metode komparasi melalui struktur dan kebudayaan (Turner, 51:2008). Di mana bentuk universalitas teori barat telah menghegemoni pengatahuan sebagai budaya yang agung dengan kolonialisasi lewat pendidikan dan media. Pengetahuan barat sebagai upaya untuk menyelamatkan kita dari kegelapan. Barat pun mendistorsi epistemologi dengan mengfragmentasi sebuah etno epistemologi. Etno epistemologi adalah pemisahan wilayah pengatahuan berdasarkan letak wilayah geografis atau upaya untuk mentaksonomikan pengatahuan berdasarkan wilayah geografis dengan pendekatan struktural dan kebudayaan. Pembagian ini melahirkan dua diskursus pengetahuan Barat dan Timur. Pendikotomian pengetahuan ini secara gamblang di jelaskan oleh Edwar W. Said sabagai diskursus Timur Dan Barat sebagai bentuk ekspresi terhadap kekuasaan barat.
Berdasarkan wacana ini melahirkan sebuah dualitas pengatahuan yang mengambil posisi biner yaitu studi orientalisme dan oksidentalisme. Studi orientalisme menurut Edward W. Said merupakan cara untuk mempelajari Timur dengan cara membuat klaim-klaim terhadap mereka untuk melegitimasi prasangka yang dilakukan oleh mereka dengan upaya untuk menundukkan Timur  dengan menvisualisasikan Timur.
Dari definisi ini Orientalisme, barat menghadirkan Timur sebagai hal yang eksotik, erotik, dan asing untuk dipahami dan di mengerti. Kontruksi Timur di bangun oleh barat dengan berbagai macam tipologi karakter Timur di rendahkan dan untuk di kuasai. Suatu hal yang sangat menarik dalam buku ini yang di jelaskan Turner pada buku ini (BAB : 2, Hal : 54) Orientalisme adalah wacana orientalis, kita mengetahui dan membicarakan masyarakat Timur; sementara mereka sendiri (masyarakat Timur) justru mereka sendiri tidak dapat memahami dirinya sendiri di samping itu tidak bisa berbicara balik tentang diri kita (masyarakat Barat). Berdasarkan adagium ini berarti diskursus oksidentalisme tidak melahirkan sebuah  tandingan bagi Orientalisme tersebut.
Islam vis A vis Barat
Dari perbincangan orientalisme terhadap pendikotomian Barat dan Timur merupakan sebuah hal yang yang mengalami kerancuan sebab memiliki kekurangan termasuk pendikotomian wilayah geografis jika wilayah Asia di letakkan  sebagai posisi timur. Sungguh sangat tidak relevan sebab wilayah di Asia memiliki berbagai macam kemiripan budaya di Eropa dan Amerika yang notabene sebagai barat. Jika di studi orientalisme kita lekatkan pada pendekatan agama yaitu Islam sebagai agama Timur dan Kristen sebagai agama Barat yang merupakan tradisi Abrahamik atau agama yang menganut prinsip apokaliptik  dengan pendekatan ini sebuah tanda tanya besar untuk menjelaskan Timur dan Barat sebab Timur memiliki berbagai macam agama selain dari Islam sebagai Agama yang dominan.
Berdasarkan penjelasan Turner dalam buku ini bahwa Islam memberikan sumbangan kultural berharga bagi barat dan menjadi kebudayaan yang dominan di beberapa masyarakat mideterania. Sementara, Islam tidak selamanya bersifat Timur, Kristen pun sebenarnya demikian bahwa agama Kristen sebagai agama Barat. Sebagai kepercayaan semitik yang berakar pada agama abrahamik, Kristen dapat di pandang sebagi agama Timur. Sementara Spanyol, Sisilia dan Eropa Timur, dapat dipandang menjadi agama Barat (Turner: 55; 2008).
Definisi Islam kian menjadi kontroversial menjadi wacana di kalangan orientalisme sebab Islam menjadi ancaman bagi barat setelah berakhirnya perang dingin atau perang urat syaraf yang di lakukan oleh Amerika Serikat dan Sekutunya dengan Uni Soviet dan Sekutunya. Di akhiri oleh kemenangan Amerika Serikat dan sekutunya yang tidak lagi mempunyai tandingan yang melahirkan negara Adidaya. Uni Soviet menjadi terpecah belah untuk menuntut kemerdekaan masing-masing.
Berakhirnya perang dingin tersebut melahirkan ancaman kultural baru terhadap Barat yaitu Islam. Sebab mereka menganggap bahwa saat ini Islam telah mengalami kebangkitan  yang sebagaimana yang telah di lakukan oleh para pendahulunya. Sebagai bukti terjadinya revolusi Islam Iran yang bisa di kategorikan selevel dengan revolusi Prancis dan Revolusi Inggris.
Dari perkembangan pengetahuan. Islam dan Kristen di perhadapkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan sekuler yaitu logika dan retorika sebagaimana yang telah berkembang di Yunani pada masa itu. Akan tetapi dalam perkembangannya pada masa abad pertengahan Kristen mengalami sebuah masa kegelapan yang harus mengekor kepada Islam yang mampu mentransmisikan Pengatahuan yunani terutama pengaruh Aritoteles terhadap beberapa filsuf Islam Averroes, Avicenna, Al Kindi, Al Razi yang telah memberikan kontribusi besar saat ini terhadap perkembangan ilmu pengatahuan (Hal 96). Kontribusi islam dalam ilmu pengatahuan sangat terasa sekali di bidang sains yaitu ilmu kedokteran, Optik dan Kimia. Kontribusi ini memberikan hak istemewah terhadap islam terutama perkembagan sains.
Jika di telisik saat ini perkembangan ilmu pengatahuan saat bahwa agama dan sains merupakan suatu hal yang sangat kontradiksi sebab sains mengarahkan kita pada hal yang sekuler sementara agama hanya membicarakan masalah-masalah ortodoksi dan teologis. Agama hanya mengedepankan hal yang mistikal sementara sains berbicara yang bersifat empiris dan realitis. Namu ada kebiasaan yang tidak lazim dalam diri filsuf islam yang telah mampu mentransformasikan pengatahuannya dengan mengakumulasi pengetahuan sains dan agama. kenyataan ini menjadi menjadi tanda tanya  bagi orang-orang barat sebab Islam mampu mensitesiskan agama dan filsafat yunani pada waktu itu sementara Kristen di rundung gugatan terhadap pengetahuan sekuler tersebut.
Namun, sumbangsih yang dilakukan oleh para filsuf Islam telah di ingkari oleh orang-orang barat terhadap kontribusi perkembangan pengetahuan saat ini. Seperti yang di kemukakan oleh filsuf Ernest Renan sebagai seorang filsuf prancis mengatakan bahwa mereka tinggal di Timur atau Afrika terbentur oleh suatu cara yang di dalamnya terdapat pemikiran yang benar-benar fatalisik yang menjadi lingkaran besi baginya dan bersifat tertutup. Yang di anggap tidak mampu mempelajari gagasan yang baru (hal 96). Pandangan ini menganggap bahwa Islam hanyalah pembawa Ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani yang steril bagi peradaban Eropa dan di tegaskan kembali dengan prasangka yang lebih halus.
Perlu juga di ketahui bahwa masa pencerahan yang di alami oleh Eropa tidak lepas dari kontribusi Spanyol yang menjadi Pusat ilmu pengatahuan Islam pada waktu itu. Satu hal lagi bahwa pada saat itu Spanyol menjadi peradaban Islam yang memiliki Perpustakaan yang cukup besar yaitu perpustakaan Cordoba. Perpustakaan Cordoba menjadi sasaran kedengkian Barat membumi hanguskan karya-karya muslim disana. Adapun yang tersisa di rekontruksi oleh Barat dengan mengaburkan nilai-nilai Islam terhadap manuskrip-manuskrip Islam. Seperti nama Filsuf ibnu Sina di rubah menjadi Avicenna, Ibnu Rush di ubah menjadi Averroes dan lain-lain sebagainya. Berdasarkan perspektif ini bahwa Barat berdiri di atas sebuah kemunafikan epistemologi.
*
Perspektif terhadap Islam
Pertanyaan yang mendasar untuk Islam adalah Apakah Islam sebagai agama atau bukan? Sebab Islam yang selama di gambarkan oleh barat hanya sebagai tradisi abrahamik sebagaimana kristen akan tetapi Islam memiliki ciri khas yang berbeda dengan kristen. Menurut Pandangan David Hume Islam sebagai bentuk teisme yang sempurna di banding Kristen dengan doktrin trinitasnya, menyusul berikutnya bahwa pandangan Islam sebagai bentuk menghargai akal namun di sisi lain Islam sebagai agama yang sempit dan tidak toleran (Hal 100).
Tapi perlu di ketahuai bahwa Islam merupakan pengejawantahan dualitas terhadap keyakinan sebab Islam bisa bersifat agama dan Sistem sosial. Islam sebagai agama karena Islam merupakan seperangkat keyakinan dan ritual sebagai bentuk perjalanan ruhani untuk mencapai tahap kesempurnaan berdasarkan prinsip apokaliptik. Definisi mengantarkan kita pada sebuah perspektif bahwa Islam sebagai agama merupakan menjunjung tinggi nilai-nilai asketis. Sementara Islam sebagai sistem sosial untuk menciptakan sebuah tatanam yang ideal berdasarkan perpektif profetis yang bisa terimplementasi terhadap realitas.
Seperti yang telah di kutib oleh Turner (hal 108), Huodgson Islam baik sebagai agama maupun sistem sosial di perlakukan sebagai perjalanan kesadaran nurani personal yang bersifat batin dalam menciptakan peradaban yang inpersonal dan lahiriah.

Globalisme, Modernisnme, Post-modenisme
Bahwa perubahan sosial sebagai bentuk keniscayaan yang tak dapat di elakkan maka perjalanan epos yang di hadapi Islam semakin berat yaitu Globalisme, modenisme, dan Post-modernisme.
Proyek epos ini merupakan produk dari budaya barat yang telah mencenkram dunia sebagai proyek-proyek ilmiah yang tak kunjung selesai. Melahirkan budaya-budaya universal yang di anggap memiliki nilai Tinggi  terhadap perkembangan zaman. Misi yang dilancarkan oleh barat merupakan sebuah visi westernisasi dan modenisasi melalui sebuah ideologi besar yaitu Kapitalisme yang mampu mengokomodir semua ideologi yang tetap mempertahankan eksistensinya.
Misi ini di selanjarkan melalui media dengan berbagai macam propaganda yang di lakukan melalui Iklan yang bergantian-gantian dengan berbagai macam indikator-indikator sebagai bentuk mode. Zaman ini mengantarkan kita pada sebuah demokratis hasrat dan dunia yang begitu ilusi sebab segalanya merupakan suatu hal yang melampaui, semuanya semakin cepat, manusia semakin konsumtif, realitas menjadi sebuah resiko atau risk sociaty dan merebaknya ruang asosiasional yang terbuka seperti super market dan drugstore . Ini merupakan gambaran yang singkat tentang dunia saat ini. Tapi bagaimana dengan Islam?
Suatu hal yang ditelisik saat bahwa respon terhadap dunia saat ini peningkatan paham fundamentalisme yang tetap kokoh dibawah nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan di pandang sebagai kebenaran yang dapat di bantah yang merupakan warisan dari leluhurnya yaitu nabi Muhammad SAW.  Menurut weber bahwa ketika teori sekularisasi konvensional sering mengamsumsikan bahwa agama dan modernisasi berada dalam suatu hubungan kontradiktif sebab sifat-sifat fundamentalisme asketik benar-benar mendorong masyarakat dari hubungan komunal tertutup menjadi sebuah komunal yang terbuka untuk melawan masa saat ini khususnya pada Post-modernisme ini.


Jumat, 29 Juni 2012

OPINI


Sepak Bola: Mirror Kerumunan Integrasi Prematur
Oleh : Sampean
Pesona rumput hijau dan si kulit bundar menyedot pehatian para masyarakat dunia itulah sepak Bola yang menjadi Olah Raga yang paling Favorit dunia. Sebab, Sepak bola menyuguhkan sebuah keindahan dan persatuan yang di tampilkan oleh para gladiator lapangan. Para gladiator selalu menampilkan permainan yang apik dengan pertarungan Taktik, strategik, skill individu, dan kekompakan untuk menjadi yang terbaik di lapangan Hijau. Selain itu, penikmat Sepak Bola bukan hanya di kalangan tertentu tapi semua kalangan baik dari anak-anak, orang tua maupun kalangan perempuan dan  Sepak Bola merupakan olahraga yang paling terjangkau, sebab sepak bola bisa menjadi Olahraga yang paling murah sekaligus Olahraga yang paling Elit hingga harus menelan biaya triliunan dolar untuk menyelenggarakan perhelatannya.
Perhelatan sepak bola memiliki tingkatan-tingkatan tertentu dengan berbagai macam Turnamen dan  pertandingan sesuai  dengan peraturan FIFA. Kompitisi sepak bola secara umum memiliki dua bentuk yaitu pertandingan berdasarkan klup dan Negara. Akan tetapi, perhelatan yang paling menyedot  perhatian publik adalah Perhelatan Piala Dunia, EURO, dan Liga Champions dan Pertandingan dalam antar Regional.
Tapi satu hal yang tidak bisa di nafikan dalam sepak bola adalah para penonton sebagai pemain kedua dari sepak Bola. Sebab, Sepak Bola sangat di tentukan oleh Eksistensi dari para penonton dan penggemarnya. Para penonton juga turut menentukan atas suksesnya sebuah pertandingan selain itu penonton menambah spirit para gladiator lapangan semakin bertambah karena para penonton memberikan nilai lebih terhadap pemain. Walaupun demikian, para penonton dengan kata lain para penggemar bola sering terjebak pada sebuah fanatisme terhadap klub atau negara tertentu sehingga bisa menjadi pemantik sebuah konflik sebab sulit menerima kekalahan dan rasis terhadap pemain lawan. Namun satu hal juga tidak bisa di pungkiri adalah Sepak bola menjadi sebuah alat pemersatu dan semangat patriotisme untuk menjalin silaturahmi antar penggemar yang memicu hubungan persahabatan dan kekeluargaan.
Untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola memiliki dua macam tipologi yaitu menonton secara langsung di stadion dan menyaksikan pertandingan lewat siarang langsung di stasiun TV. Di ruang-ruang seperti ini menciptakan ruang relasional yang pasif dan kesemuan identitas. Sebab dalam menyaksikan sebuah perhelatan pertandingan secara langsung kita hanya di arahkan pada suatu tujuan menyaksikan klub idola kita saat bertanding untuk meratapi kebahagiaan dan kesedihan yang terjadi di lapangan.
Ruang relasional itu hanya bersifat temporal. Tapi satu hal yang paling menyedot perhatian dalam lingkup sekop luas masyarakat yang tidak memiliki keterkaitan dan kesamaan terhadap sebuah tim Para penggemar berlomba-lomba untuk menyaksikan sebuah pertandingan dengan berbagai cara pertama, nonton bareng bersama keluarga, teman dan lain-lain di rumah sendiri, kedua, nonton bareng di tempat-tempat tertentu. Realitas seperti ini mengundang sebuah tanda tanya dari setiap kerumunan nonton bareng sepak bola sebab apakah mereka bagian dari di tim itu atau mereka sesuatu yang berjarak antara tim sepak bola dan penggemarnya yang tidak memiliki keterkaitan apa-apa terhadap tim itu. Selain itu simbolitas identitas sangat mewarnai sebuah perhelatan dengan menyusaikan karakteristik sebuah tim idola. Hal itu bisa kita saksikan pada perhelatan Euro 2012 saat ini dan pertandingan-pertandingan sepak bola yang lain sebuah penciptaan ruang sosial yang unik.
Para pencinta bola bisa di kategorikan dengan berbagai modeling yaitu,  pertama, penikmat bola yang berprofesi sebagai pemain Bola. Sebab olaharaga sepak bola sudah menjadi hobinya. Kedua pemain pasif yang hanya sebagi penonton saja akan tetapi tidak suka dengan permainan bola. Sebagian besar tipologi ini hanya ingin menikmati pemain idolanya, dan sekaligus hanya   melepaskan kejenuhan dalam beraktivitas. Pemain pasif ini bisa di kategorikan menjadi dua yaitu penonton fanatik dan dan penonton pasif.
Penonton fanatik yaitu para penontong sepak bola menjadi penggemar aktif pada suatu tim tertentu yang selalu mengikuti kegiatan-kegiatan timnya baik dalam berlaga di lapangan maupun acara amalan yang dilaksanakan oleh tim, kemana-mana tim dia pasti ada. Atau istilah yang paling sering lengket pada tipologi ini adalah fans. Namun, ada yang perlu di ingat bahwa Fans bukan hanya yang bisa seperti diatas akan tetapi ada fans yang mengorganisasikan dirinya untuk manjadi bagian dari tim itu yang memiliki jarak yang tidak memiliki akses ke Fans induk. Seperti Fans Manchester United  yan ada di Indonesia dan aktivitasnya hampir sama dengan penonton pasif. Penonton pasif seperti yang di jelaskan pada paragraf sebelumnya hanya menyaksikan lewat stasiun TV untuk menyaksikan tim andalannya bertanding atau menyaksikan lewat nonton bareng atau nontong sendiri-sendiri.
Ketiga, penonton sunda gurau atau penonton yang hanya hanya turut meramaikan. Tipologi penonton sebenarnya tidak suka dengan bola akan tetapi melihat teman-temannya seru-seruan untuk menyaksikan pertandingan bola makanya di ikut nangkring disitu.

Spacial Kontekstual
Untuk mengamati ruang-ruang sosial yang terjadi dalam perhelatan sepak bola bisa kita lihat Euforia perhelatan sepak Bola EURO 2012 yang di laksanakan di Ukraina-Polandia yang sangat spektakuler.  Fenomena sosial yang terjadi di ruang sosial tersebut sangat menarik untuk kita amati dalam bingkai sebuah kajian sosiologi. Hal yang paling fenomenal dalam setiap perhelatan sepak bola adalah para penontongnya. Sesuai dengan penjelasan di atas bahwa para penonton memiliki berbagai macam tipologi yang selalu menciptakan bentuk-bentuk kerumunan.
Pesta EURO tahun 2012 di saksikan oleh hampir seluruh belahan dunia dengan barbagai macam cara. Demi menyaksikan piala EURO banyak masyarakat merogoh kucek dalam-dalam untuk menyaksikan tim andalannya untuk bertanding di lapangan. Akan tetapi, masyarakat yang tak mampu menyaksikan secara langsung harus rela menyaksikan tim idolanya bertanding lewat stasiun TV.
Terkhusus untuk negeri ini. Indonesia hanya bisa menyaksikan tim kesukaannya hanya lewat stasiun TV. Tapi, semarak untuk menyaksikan piala EURO tidak kalah menariknya nontong langsung di lapangan. Perhelatan EURO membuat masyarakat menjadi deman sepak bola sebab, hampir semua kalangan ikut menyaksikan pertandingan tim idolanya dengan mengorbankan agenda yang lebih penting, misalkan di Jakarta Pelaksanaan  Ujian SNMPTN banyak yang terlambat pergi ujian Sebab nonton piala EURO, di Makassar rela tidak pergi Kuliah demi menyaksikan Piala EURO dan Piala EURO menjadi ajang Kampanye untuk pemilihan Gebernur di Sulawesi Selatan. Tapi, yang lebih menarik adalah ajang EURO menjadi tempat mengadu nasib terhadap tim kesayangannya.
 Perhelatan EURO 2012 menampilkan pemandangan yang khas pada pukul 12.00 WITA sampai Pukul 04.45 WITA di kota Makassar yang tidak seperti Biasanya. Warna malam menjadi Ceria di tempat-tempat Umum dengan Nontong Bareng seperti Kafe, Warkop, Rumah makan, sekretariat Organisasi, di Pinggir Jalan dan Rumah Kost karena menjadi ajang tempat berkumpul dengan tujuan yang sama yaitu nonton Bola. Aktivitas ini memberikan sebuah suntikan akan adanya sebuah persatuan yang belum terurai menjadi kesatuan aktif. 
Kenyataan dalam kerumunan ini memberikan sebuah histeria saat nonton bersama atau istilah lainnya di kenal nonton bareng karena dalam situasi ini kita leluasa untuk berteriak dan memberikan motivasi dan  menyemangati tim yang sedang bertanding walaupun mereka tidak mengetahuinya. Selain itu dalam menyaksikan pertandingan sepak Bola EURO  2012 menjadi ajang refressing dan wisata emosional untuk melepaskan beban kerja dan masalah-masalah pribadi yang lain karena dalam menonton bareng ada sebuah kebebasan untuk melakukan teriakan-teriakan histeria dan terkadang terjadi anarki prilaku dengan mengekspresikan kekalahannya atau kemenangannya yang berlebihan. Situasi ini hanya memiliki masa inkunbasi selama satu bulan. Pemandangan ini akan berlanjut pada pada event yang lain dalam waktu dekat akan berlangsung event sama di Inggris yaitu perhelatan Olimpiade.

Kerumunan (crowd)
Perkembangan masyarakat yang begitu kompleks dengan berbagai bentuk interaksi yang membentuk sebuah tatanam sosial yang memiliki ciri dan pola kehidupan yang berbeda. Kendati demikian bahwa kehadiran kelompok-kelompok sosial tidak bisa di hindari dalam kehidupan bermasyarakat. Kelompok masyarakat bersifat sementara, permanen, terorganisasi sesusai dengan konsensus dan kepentingan yang terajuk pada setiap individu.
Kelompok sosial yang cenderung terkonstruk terhadap minat yang sama untuk membentuk sebuah ikatan yang emosional. Kelompok ini sering disebut sebagai kerumunan (Crowd). Kerumunan sering terjadi pada suatu tempat tertentu yang memiliki pola tertentu dengan manampilkan sebuah ciri khas dan identitas tertentu bersifat kebetulan yang melahirkan sebuah hubungan yang interaksi dengan perasaan emosional yang sama terhadap sebuah identitas.
Karakteristik dari sebuah kerumunan adalah pola kelompok sosial hanya memiliki rentang waktu yang sangat singkat, sebab keberadaan kerumunan di tentukan oleh eksistensi individu yang sedang berkumpul. Selain itu kerumunan tidak memiliki struktur kepemimpinan atau struktur organisasi yang jelas. Kedudukan individu dalam kelompok sosial ini sama sebab dalam tidak ada sistem pelapisan dalam masyarakat.
Hal ini berwastata dengan Mayor Polak adalah karena adanya minat, hasrat, atau kepetingan bersama dan diantara para anggotanya berkembang sebuah pengaruh dan seperti timbal balik yang kadang-kadang kuat tetapi tidak kekal serta tidak rasional.
Berdasarkan pendefinisiannya ini Mayor Polak membagi Dua jenis kerumunan yaitu pertama, kerumunan yang aktif adalah kerumunan yang timbulnya secara spontan, emosional dan impulsif sebab tidak ada aturan yang mengikat maka dalam kerumunan ini cenderung bersifat destruktif sebab individu dalam kerumunan ini memiliki kebebasan melakukan ekspresi baik itu jengkel maupun rasa bahagia.
Kedua, kerumunan ekspresif adalah kerumunan yang tidak mengenal pusat perhatian maupun tujuan yang sama melainkan hanya mengenal emosi saja tanpa tujuan tertentu. Sifat kerumunan ini tidak bersifat merusak akan tetapi hanya melepaskan sebuah ketengangan dan emosi saja. Seperti menangis dan berteriak. Tapi kerumunan ini bisa bisa berubah menjadi kerumunan aktif.
Berangkat dari spektrum realitas sosial saat ini bahwa bentuk kerumunan mulai bergeser pada sebuah bentuk yang bersifat terorganisir menonjolkan sebuah identitas dengan berbagai macam pernak-pernik  kelompoknya. Sebab, kelompok sosial ini menaruh sebuah perhatian khusus pada minat tertentu dengan rasa simpati dan antipati terhadap kelompok lain. Kerisuan dan kebahagiaan mulai di rasakan bersama dengan berbagai macam  ekspresi dan perilaku di perlihatkan oleh kelompok itu.
Sebuah pemandangan yang bisa di lihat pada kerumunan suportor Bola yang mulai mengornisir diri pada suatu minat yang sama menciptakan sikap fanatisme terhadap  sebuah tim tertentu sehingga menciptakan kekacuan yang terorganisir walapaun dalam pemandangan kita bahwa tawuran yang sering kita saksikan itu kekacauan yang sporadis akan sebenarnya kekacauan itu bersifat sistematis dan telah terencanakan sebelumnya. Sebab ada ikatan yang solidaritas yang telah terbangun di kelompok suporter itu.

Integrasi Prematur
Integrasi yang sering kita artikan sebagai sebuah kesatuan yang utuh atas pndangan dunia yang sama. Integrasi terbangun oleh sebuah konsensus dalam menciptakan sebuah kelompok yang di warnai oleh berbagai macam identitas di dalamnya atau sebuah ketunggalan identitas dalam melaksanakan peran-peran sosial. Dalam terjemahan sosial pengunaan kata integrasi selalu bergandengan tangan dengan konflik karena akhir dari sebuah konflik adalah integrasi dengan alasan bahwa orang yang merasa kalah dalam persaingan atau peperangan harus melunturkan identitasnya untuk bergabung ke identitas yang lain di anggap superior. Selain itu, integrasi sosial bisa di artikan sebagai penerimaan anggota lain ke dalam suatu kelompok tertentu.
Di spacial (Ruang) kontestual kita diperkenalkan pada  realitas tentang kumpulan manusia yang terbentuk secara spontan atau suatu bentuk kerumunan dengan pola tertentu yang mencerminkan sebuah identitas.  Di ruang kontekstual itu di cerminkan oleh sebuah suporter, penonton, dan penggemar bola. Dengan kenyataan bahwa sepak bola menciptakan ruang tersendiri di ruang sosial tentang sebuah kerumunan yang terjadi seperti gelembung manusia yang manghadiri stadion untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola dan antusias para penontong di luar stadion untuk menyaksikan pertandingan Bola dengan berbagai macam cara dengan mengekspresikan dirinya dengan nontong bareng atau nonton bersama.
Para kelompok penggemar bola ini diarahkan pada satu tujuan yang sama, minat yang sama, identitas yang sama yaitu kelompok suporter bola yang berkumpul di stadion untuk menjalin sebuah hubungan integrasi akan tetapi dalam kelompok  tersebut ada warna yang tergambar dari masing-masing kubu. Mereka masing-masing menyaksikan timnya beradu dalam lapangan untuk mencari sebuah kemangan. Dari pesona itu bahwa bahwa ada kenampakan yang terlihat untuk mengintegrasikan dirinya dengan yang lain dengan orientasi yang sama sebagai penikmat bola. Begitupun yang di luar stadion atau tempat-tempat lain bahwa penggemar bola mengingtegrasikan dirinya untuk nonton bersama untuk menyaksikan pertandingan tim idolanya di lapangan dengan membawa antribut-atributnya timnya.
 Bentuk kerumunan ini memiliki sifat yang pasif karena hanya bersifat sementara dengan aktivitas yang cenderung menolitik. Penggambaran ini mencerminkan sebuah integrasi prematur yang terjadi dalam masyarakat karena pembauran yang terjadi bersifat sementara dan bisa berubah menjadi sebuah kerumunan yang aktif dengan kenampakan-kenampakan anarkistis. Kelompok ini luput dari sebuah perhatian khusus oleh pemerintah bagaimana peran suporter bola dalam mengintegrasikan diri berbagai macam identitas dalam sebuah naungan sepak bola. Sepak Bola memiliki peran yang vital terhadap berbagai macam problem sosial yang terjadi dalam masyarakat yaitu konflik suku, konflik antar beragama dan lain-lain sepak bola bisa mengintegrasikan semua itu mempertemukan sebuah event yang sama yaitu pertandingan sepak bola. Sepak bola pernah menjadi alat pemersatu dunia saat gejolak peran dunia.
Akan tetapi, berbeda dengan Indonesia Sepak Bola menjadi ajang perpecahan di atas kepentingan elit sehingga menjadi dualisme kepentingan yang harus melahirkan konflik-konflik sosial baik baik secara vertikal yaitu kepentingan para pejabat maupun secara horisontal yaitu konflik antar pemain dan konflik para suporter karena menciptakan sebuah dualitas kepentingan. Sehingga kondisi TIM nasional di Negeri ini menjadi salah urus dan mengorbankan emas yang tertanam pada generasi pemuda bangsa ini karena mereka telah terabaikan oleh dualitas kepentingan tersebut.
sehingga apa yang terjadi saudara-saudara sekalian di Indonesia sepak bola merupakan ajang keretakan solidaritas di atas melambungkannya penggemar bola di indonesia yang seharusnya memberikan sebuah spirit untuk memajukan persepakbolaan di Indonesia akan tetapi yang terjadi adalah malah sebaliknya. Mungkin inilah realitas yang terjadi di negeri ini, bahwa Sepak bola menjadi Mirror kerumunan integrasi prematur.****