Jumat, 27 Februari 2015

INSOMNIA

INSOMNIA

 

mata terasa kuyu

kelopak mata tak jua terkatup

ku rebahkan badan di atas peraduan

mata letih menutup kuncup

ku mekarkan kembali dengan tetasan embun

ku belai, ku tiris lalu ku ketenggak perlahan

kenikmati rasa sendu dari hitamnya genangan

racunnya menjalar di tubuh ku

racun yang menyesatkan mimpi ku

dari kubangan keindahan

aku takut terlelap

dan lupa untuk kembali

 

https://images.search.yahoo.com/images/view;

Kamis, 05 Februari 2015

BIDADARI KU

 BIDADARIKU 

Malam ini, ku tatap lagi wajah mu yang ranum, entah berapa kali aku tatap wajah mu, diri mu tak jua bersimpati terhadap ku. Sebab, tatapan ku terhadap mu, kamu tidak pernah tahu. Di dalam kamar ini aku duduk di bawah temaran lampu neon. Cahaya bulan mengintip di luar sana, mungkin dia iri, aku menatap dirimu. Aku telah mengabaikannya, dulu bulan menjadi pelipur lara  di saat sunyi, teman di kala sendirian. Tapi, kini telah terabaikan dengan segenggam teknologi. Dulu, Aku bersama bulan duduk di beranda rumah di bawah temaran cahayanya. Kini telah berubah dengan tamu yang sengenggam. Tamu ku, ku bopong dia dalam kamar ku, hingga tidur bersamanya pula. Sulit rasanya berpisah dengannya, dia setia dan patuh, tidak sekali pun, pernah menyangkal kehendakku sebagai seorang kekasih. “kata kekasih” mungkin itu yang cocok dilekatkan kepada telepon genggam (HP), smartphone dan sejenisnya. Bagi yang beristri,  telepon genggam adalah selingkuhan. Telepon genggam tidak pernah jauh dari diri sang pemilik. Seperti halnya aku.
Lewat telepon genggam yang aku miliki, aku menjelajahi dunia yang datar, lewat mesin pencari di google, ku temukan media sosial namanya facebook.   tidak sengaja aku menemukan mu di facebook itu. Dirimu berdiri dan tersenyum di balik layar telepon genggam ku. Hidup mu di seberang sana begitu damai, aku malu untuk menyapa mu bahkan aku enggan untuk mengajak mu berkenalan. Tapi, semuanya berubah di saat tidak ada jarak, walaupun tidak saling menatap. Kita tidak duduk bersama dan  tidak berdampingan. Rasa malu telah luruh dengan hadirnya media sosial khususnya facebook. Aku terkadang lancang menggunakan facebook tersebut. aku terkadang menghadirkan Tuhan lewat kotak status yang disediakan, dengan cara berdoa, berzikir selayaknya beribadah di dalamnya. Aku pun tidak sungkan bercerita tentang diriku di dalamnya, bahkan rahasia yang tidak mesti diketahui oleh orang lain, aku umbar lewat kotak status yang disediakan.
Pertemuan di antara kita, kuingat benar di malam itu, aku meminta mu untuk berteman dengan ku. Aku mengklik kotak pemintaan pertemanan atas nama “Nadia”. Malam itu, aku tak sengaja mengklik nama itu, dari deretan nama yang ku ajak untuk berteman hanya diri mu mengonfirmasinya. Tapi, aku tidak tahu, Entah kapan kamu mengonfirmasi permintaan pertemanan ku. Semenjak malam itu, akun facebook ku telah diambil oleh orang lain selama seminggu. Orang itu mencuri chip poker dalam akun facebook ku. Selama seminggu itu, aku berusaha mengambil alih akun facebook ku dan pada akhirnya aku berhasil mengambilnya.
Bermula dari situ, aku sudah malas membuka akun facebook ku karena telah terisi konten pornogarfi dan perempuan-perempuan yang aku tak tahu asalnya dari mana. Tapi, aku penasaran dengan teman-teman yang baru di dalamnya. Di antara teman-teman yang baru itu tak sedikit pun aku mengenalnya. Hanya saja, nama Nadia ada di antara mereka. Nama yang tidak sengaja aku kirimkan permintaan pertemanan, kini hadir dalam kotak chating ku.
Ku sambut Nadia dengan ucapan “hey, Nadia!” aku tahu ini hanya modus mendapatkan perhatian dari mu. Pasalnya dalam kehidupan keseharian ku, sulit rasanya untuk menyapa sosok perempuan yang tidak aku kenal. Maklum dalam keseharian ku, aku hanya bergulat dengan buku, berlari bersama teman lelaki ku, dan berpacu dengan diskusi. Hingga pada akhirnya aku dijejali sebutan “Bencong” lelaki mati rasa. aku sulit mengelak dari cercaan itu, kala ukuran kelelakian diukur saat punya pacar. Aku kalah dari segi itu, bahkan seumur hidup ku tidak mampu menaklukkan hati perempuan. Aku terasing dengan kehidupan yang berpasangan. Tapi kali ini, ku beranikan untuk menyapa mu. Sebab, aku dan diri mu tidak saling menatap hanya larik-larik tulisan yang akan menggambarkan raut wajah kita, entah muka mu jeles, tertawa terbahak-bahak. Intinya aku tidak melihat mu, begitu pun sebaliknya.
Ku tunggu balasan dari Nadia tidak juga ada, titik yang hijau yang menandakan sedang online telah berubah menjadi abu-abu, itu artinya sudah tidak online. Ku abaikan sejenak dengan membuka yang lain, ku perhatikan tebaran-tebaran status di beranda ku. Semua menuliskan status yang galau, aktivitas sedang dijalani, iklan, konten-konten pornografi, ada yang sedang beribadah, foto selfi, foto makanan. Aku bingun melihat semua itu, setiap langkah kecil manusia diutarakan lewat status facebook. Ada yang sedang menulis “lagi mandi”, “ya Tuhan lindungi pacar ku” intinya status manusia di dalam facebook macam-macam. Aku mulai bosan dengan status yang jumud dan chat ku tidak di balas dengan Nadia.
**
Sebulan kemudian, aku kembali membuka akun facebook ku. Kebetulan Nadia juga sedang online, aku iseng-iseng mengintip foto-foto profilnya berusaha mencari tahu tentang dirinya. Di salah satu fotonya, Nadia sedang tersenyum, menunjukkan keramahan, tidak sedikit pun menunjukkan bahwa senyum Nadia karena keterpaksaan. Senyumnya manis sekali, semanis senyum bidadari. Dalam Islam, bidadari dipercaya seorang putri yang sedang berada di surga.
Pesonanya menggoda ku untuk selalu mengganggunya. aku kirimkan terus kata sapaan tapi dia tidak pernah membalasnya. Sampai-sampai aku terpancing untuk mengeluarkan kata-kata kotor untuk mencacinya, cantik-cantik kok belagu. Tapi. Aku menahannya dengan menuliskan di kotak chating “minta dong pin BBnya” tapi belum mendapat respon. Kemudian, aku kirim kedua kalinya. Akhirnya Nadia membalasnya “nga’ pake BB (Blackberry)” mulai dari sini komunikasi mulai lancar, walau masih terlalu kaku.
Aku membalasnya dengan sedikit menyindir“tapi, saat kamu online di status kamu muncul dibuat di blackberry” kemudian Nadia menukasnya kembali “ah ngak kok” aku sih percaya nga’ percaya sebab dalam media sosial, kebebasan adalah milik kita. Entah dia berbohong, itu urusan dia. Kemudian aku melanjutkan obrolan “ouh gi tuch yah, tapi boleh kan kenalan ama kamu”
“Yah boleh aja” kata Nadia….
Kususul terus pertanyaan hingga endingnya aku minta nomor dan ku ajak untuk  bertemu.  dia menolak memberikan nomor teleponnya dan mengelak untuk bertemu. “Biarkan kita berteman dalam bayangan” katanya. Aku teringat pertanyaan pertanyaan sang pendongen Eko Tunas “adakah teknologi menciptakan Cinta!.
Pelupuk mata ku mulai luyu, sementara chating ku bersama Nadia menjadi hambar. Nadia hanya menjadi bidadari bayangan. Sadarlah aku, sesungguhnya dirimu telah bosan meladeni pertanyaan-pertanyaan yang kolot itu, dengan jawaban mu yang seandanya. Jangankan kamu, orang di samping ku pun ikut mencibir ku, sebab kerancingan dengan facebook. Dia bosan melihat diri ku hanya mengusap layar kaca dan menekan tombol-tombol hp. Ketika aku duduk di tempat-tempat ramai entah di kampus, di pasar dan entah di mana aku hanya menunduk mengangkangi HP ku.
Aku mulai bebal, bukan lagi menjadi kutu buku, tapi telah bermetamorphosis menjadi kutu telepon genggam dan smartphone. Dari penggembaraan ku ini, aku memetikkan pesan bahwa aku tercekat dalam lian-lian teknologi dan terperangkat di alam sana. Aku hanya bisa mengelus dan menatap bidadari ku di bawah temaran cahaya neon.
Aku ingin memeluk Tuhan ku dan tubuh mu di telepon genggam ku. Akhirnya kisahmu menutup ku dalam selimut Aroma kematian nurani ku, wahai angin malam sampaikan salam kerinduan kepada bidadari bayangan ku. Ku di sini hanya menatap wajahnya. Sebab kamu ihwal pelajaran tentang hakikat dan pengharapan, sembari menunggu senyum bahagia dari mu. Tapi rasanya penantian itu hanya bualan seperti bahasa puisi.
Dari Sampean 
Untuk "Tirani"

Sabtu, 10 Januari 2015

,

Riwayat Kesepian

RIWAYAT SEPI

Sesepi sunyi, hening menggugat kesepian. Dia hening yang berisik. Serta gemerisik mengganggu riuh yang risih. Kegelisahan mengumpal dalam benak, mengharapkan kedatangan yang riang. Boleh kah Aku bertanya tentang kesepianmu! Dirimu hanya terpaku pada rasa hambar, diri mu tidak pernah kudapatkan dalam kegembiraan. kamu menghayati diri mu di dalam kesunyian. Seabrek persoalan kamu menghayatinya bersama sepi. Sulit bagi mu berbagi rasa dng yang lain. Kamu hidup dalam di dunia mu sendiri. Kamu seolah terluka di dalam hidup mu, lalu kamu tidak pernah ceritakan. Inikah riwayat mu yang tenggelam dalam sepi. Kamu mengartikan kebahagiaan dengan kesendirian. Riwayat mu kini, hanyalah kesepian yang berbalik kesendirian. Ternyata kamu mengartikannya seperti itu. Adakah hidup sesepih dirimu. Kenapa Senyap kamu anggap menggugat!, apalagi dengan suara berisik. Sedih sekali riwayat mu kawan. Hidup mu telah kamu artikan sebagaimana kesepian. kamu menyeduh kehidupan mu dengan sendirian. Riwayat sendu kamu peragakan. Sementara riwayat ramai kamu hempaskan. Diri mu pun diam, disaat aku menggugatmu, diri mu begitu dingin menyambutkan dengan senyum. Hadir ku, kamu anggap merecoki kesendirian mu. Lalu kamu anggap aku apa! Ternyata, aku hanya teman dalam sepi. Adakah yang terharu dalam hidup ku, sebab aku riwayat kesepian itu sendiri. Adakah yang mau menghampiri ku untuk termenung, berkhayal, berfantasi, menangis, dan bermimpi. Teman ku hanyalah kesendirian. Tidak semua orang memilihnya, kecuali duka. Aku betul-betul sepi karena tidak semua orang membutuhkan kesepian.

SADIS ITU BENAR

"ampun" kata ku, kamu membuka luka d tubuhku. Kamu menyayatnya, kamu beringas, kamu penggal kepala saudara ku. Tak sedikit pun kamu ragu melakukannya. Kamu itu saudara kita, tapi kamu tidak pernah ibah dengan ku. Malah Kamu mengibahku "kafir", darah ku pun halal untuk mu. Ahh.... Kenapa agama ku begitu kejam di tangan mu, pada hal nabi ku mengajarkan kasih sayang dan pengasih. Bukan kah setiap laku dimulai dengan sifat Tuhan yang rahman dan rahim.

Ditangan mu, sadis itu benar. Kamu bangga ketika jiwa para korban melayang, aku bingun terhadap mu. sudahlah, jiwa ini pun ihklas terkoyak oleh mu. Rengguklah jiwa ku, jika itu membuat mu bahagia. Agama ku yang malang, dijadikan pembenaran setiap laku sadis.

Rabu, 07 Januari 2015

,

Arkeologi agama dan Budaya

Arkeologi Agama dan Budaya
oleh : Sampean
Dalam pembahasan diskusi kali ini mengankat tema agama dan budaya. Perbincangan tentang agama dan budaya seolah tak ada habisnya dalam ruang diskusi  para ilmuwan sosial dan filsuf. Sebab, tema ini akan selalu menyentrik karena agama dan budaya suatu unsur fitrawi. Unsur fitrawi tersebut akan senantiasa berproses dalam bentuk tindakan dan perilaku sosial dalam masyarakat. entah tindakan dan perilaku manusia itu bersifat tindakan agama, budaya ataukan meleburkan keduanya. Dengan persoalan ini perlu kiranya untuk memeriksa kembali asumsi-asumsi relasi agama dan budaya dengan pendekatan arkeologis.
Pertanyaanya kemudian, kenapa mesti pendekatan arkeologis? sebab pendekatan arkeologis berupaya untuk memeriksa kembali asumsi-asumsi dasar dalam konsep budaya, dan konsep agama. Pendekatan arkeologis menurut Nurachman Iriyanto (web. http://arkeologi.web.id) bahwa:
“arkeologi akan memerikan, menginterpretasikan, dan menjelaskan secara ilmiah kaitan antara tinggalan bendawi dan tindakan serta gagasan manusia pembuatnya. Maka dalam upayanya menjelaskan segala sesuatu kaitan tersebut, arkeologi hanya melakukan interpretasi, dan bukan eksplanasi, dengan cara mencoba 'memahami' karya dan makna, sehingga yang terjadi bukanlah upaya 'pembenaran', tetapi lebih pada 'memberi arti' kembali pada masa lalu”
Pemeriksaan asumsi-asumsi dasar atas agama sebagai upaya untuk menginterpretasikan relasi agama dan budaya  di masyarakat kontemporer. Pendekatan arkeologi untuk memeriksa agama dan budaya dari unsur penyusunnya serta unsur teoritisnya. Walaupun, selama ini budaya dan agama masing-masing bersifat abstrak. Keduanya tidak bisa dilihat secara jasmani, namun bisa dirasakan. Sehingga keduanya memiliki kesamaan wujud. Kesemaan tersebut menempatkan agama dan budaya bisa dipertautkan, diselaraskan sekaligus di wariskan. Kesamaan ini terlahir dari subjek yang sama yaitu Manusia. Sebab, manusia adalah pelaku dari agama dan budaya.
Berangkat dari persoalan ini, agama dan budaya secara arkeologis memiliki unsur material, agama dan budaya sebagai bentuk tindakan sosial, agama dan budaya sebagai produk akal budi manusia. Secara teknis Kebudayaan cultuur (bahasa Belanda) culture (bahasa inggris) berasal dari perkataan latin “Colore” yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Selain itu, Ki Hajar Dewantara menginterpretasikan agama sebagai Cipta, rasa dan karsa manusia. Gagasan ini menginspirasi koentjaraningrat  bahwa kebudayaan barasal dari kata budaya bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang teratur oleh tatakelakuan, yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. dari konsep ini bahwa  unsur dan peran kebudayaan meliputi :
1.    Kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat. Kebudayaan diasumsikan mempunyai kekuatan yang menghubungkan orang dengan kelompok, komunitas atau masyarakat tempat afiliasinya, yang kemudian membedakannya dengan kelompok, komunitas atau masyarakat lain.
2.    Kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan social. Dalam konteks ini, kebudayaan bisa berupa kesenian yang di dalamnya terdapat karya kreatif yang indah para seniman dalam bentuk lukisan, ukiran, tari gubahan lagu dan sebagainya.
3.    Kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan. Dalam konteks ini kebudayaan tidak ditempatkan semata-mata hanya sebagai ciri atau identitas kelompok, komunitas dan masyarakat. Tetapi pelbagai bentuk nilai, norma, keyakinan, ritual dan ketentuan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat diyakini tidak muncul mendadak atau terjadi secara tiba-tiba, tetapi berlilit-lilit dengan sejumlah hal yang saling bertautan yang diliputi oleh beragam makna.
Sedangkan Agama secara teknis berasal dari bahasa sensakerta yang artinya “tidak kacau” dari tinjauan ini, agama merupakan tata kelakuan untuk mengatur kehidupan masyarakat. dari tinjauan sosioligis agama merupakan  kepercayaan pada hal-hal yang spiritual, perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan ideology mengenai hal-hal yang bersifat supranatural Sementara itu, agama menurut sosiolog Emile Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktik yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus/sakral (sacred) kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal. Dari konsep ini bahwa agama terdiri dari unsur kudus meliputi unsur kewahyuan sedangkan unsur yang lain agama merupakan praktek ritual. Agama sebagai unsur kewahyuan, agama tidak memiliki sumber yang non historis, bersifat mutlak dan tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Secara konseptual dilihat dari aspek ontologis agama akan mengalami problematis ketika disandingkan agama dengan budaya. Apakah agama  merupakan bagian dari kebudayaan? Karena agama bersifat absolut dan universal sedangkan budaya bersifat heterogen, plural, dan hybrid dan realatif. bersambung

Selasa, 30 Desember 2014

,

Buku dan Orang Tua


Pada hari Rabu, 17 Desember 2014 aku duduk di ruang tamu sedang menyampul buku. Hari itu, sebenarnya tidak ada yang istimewa pada hari itu. Entah mengapa di tengah-tengah kesibukan ku. aku di datangi oleh kedua orang tua ku. Mereka sedang mengamati aktivitas yang sedang aku lakukan, pada mulanya mereka hanya diam. Lama-kelamaan mereka mulai terusik dengan suara bising dari lakban yang aku Tarik dari gulungannya. Pertanyaan yang terlontar pertama dari pihak ayah ku, “kok lakban  digunakan untuk menyampul buku?”, pertanyaan itu mulai terlontar secara bertubi-tubi, aku belum sempat menjawabnya. “Kenapa kamu mesti membungkus buku mu?”, Apakah buku mu, akan kamu simpan?, kenapa kamu tidak buang saja”. Kemudian, ibu ku turut memberikan penjelasan bahwa buku-buku kakak mu hanya dibuang-buang bahkan hanya disimpan di gudang hingga berdebu dan rusak. Kakak-kakak mu tidak pernah melakukan hal serupa sebelumnya”. “apakah buku-buku masih bisa digunakan oleh generasi selanjutnya?. Sementara aku hanya tersenyum mendengarkan penjelasan dan pertanyaan mereka sambil menyampul buku.
Pertanyaan-pertanyaan dan sikap pesimis kedua orang tua ku terhadap buku, bukan tanpa alasan. Kedua orang tua ku, sedikit pun tidak pernah tersentuh dengan tradisi keberaksaraan. Ibu ku hanya mengenal huruf lewat pembelajaran otodidak, beliau hanya mampu mengeja huruf demi huruf tidak bisa menyambungnya. Sementara ayahku sedikit pun beliau tidak mengenali huruf bahkan cara memegang pulpen beliau tidak tahu. Alasan yang lain, sikap kakak-kakak ku  mengabaikan buku-bukunya yang selama ini, mereka tidak pernah menjamah bukunya setelah selesai dari sekolah maupun dari perguruan tinggi. Latar belakang ini menjadi alasan utama ketidakpahamannya terhadap fungsi dan kegunaan buku. Sikap yang ditujukan orang tua kepada ku, bisa jadi dialami juga oleh orang lain.
Dengan keterbatasan ku, aku berusaha menjelaskan satu persatu dari pertanyaan yang mereka lontarkan. Mulai pentingnya menyampul buku bahkan hal yang paling urgen. Tapi, yang ku utarakan dalam tulisan ini perihal pertanyaan “kenapa kamu tidak buang saja itu buku mu?” apakah buku itu bermanfaat untuk generasi selanjutnya? Kedua pertanyaan mengelikan bagi para pecinta buku. Mungkin ada beberapa orang akan menganggap pertanyaan ini sangat bodoh. Apalagi ketika dilontarkan oleh kalangan berpendidikan. Tapi, tidak sedikit juga kalangan  berpendidikan melontarkan pertanyaan yang sama diungkapkan oleh orang tua ku.
Bagi kedua orang tua ku, buku itu tidak memiliki arti apa-apa, mereka menganggap bahwa buku hanya digunakan hanya semasa studi atau masa sekolah/kuliah. Tapi, bagi saya pertanyaan ini adalah nasehat yang paling berharga dari kedua orang tua ku yang “buta huruf”. Mereka mengingatkan ku pada arti pentingnya buku dan pentingnya pengetahuan. Dengan pertanyaan mereka, aku diberikan tanggung jawab untuk menjelaskan pentingnya buku kepada mereka. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa manfaat buku itu tidak pernah lekang oleh waktu dan bisa diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, buku merupakan pengabadian gagasan bagi para penulisnya, buku turut menyebarkan informasi untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan secara sistematis dan runtut. Buku itu mengajarkan kita berpikir analitis, reflektif dan deskriptif. Berbanding terbalik dengan budaya lisan mengajarkan kita berpikir sederhana dan singkat. Sebagaimana dijelaskan oleh Sir Issac Newton bahwa dengan membaca, kita berpikir dengan menggunakan kepala orang lain. Membaca di sini bisa diasosiasikan terhadap buku sebagai sumber informasi dan pengetahuan. Penjelasan ini tentunya tidak seperti yang aku jelaskan kepada orang tua ku.

Ketidaktahuan mereka terhadap kemanfaatan buku, seolah menyederhanakan fungsi buku. Buku hanya dibutuhkan di ranah akademik sebagai panduan dalam menyelesaikan tugas-tugas siswa maupun mahasiswa. Pemahaman yang sederhana ini tidak terlepas dari latar belakang pendidikan orang tua ku yang “buta huruf”. Sehingga penghargaan terhadap buku masis sangat rendah. Sikap orang tua ku ini, tersibak makna mereka belum sepenuhnya menghargai buku. Kurangnya penghargaan terhadap buku, sama halnya tidak menghargai karya orang lain. Selain itu, pengabaian terhadap buku sama halnya tidak menghargai jerih payah orang lain. Tentunya pemahaman ini tidak dimiliki orang tua ku. Maka, beliau butuh penjelasan mengenai peran dan fungsi buku, supaya mereka tahu bahwa buku yang ku miliki adalah hasil tetesan keringatnya. Membuang buku yang aku miliki, sama hal aku mengkhianati usaha dan jerih payahnya. Setidaknya pengabdian dan penghargaan kepadanya dengan menghargai pengorbannya. Walaupun penghargaan itu hanya sebatas memuliakan buku. Memuliakan buku bukan hanya menyampul, menyimpang dan mengoleksi tapi dengan membacanya. Dan memuliakan buku sebagai eksepsi (pengecualian) dari pemuseuman. Kata pemuseuman bermakna pada “menyimpang atau mengoleksi”
Penjelasan yang diutarakan dalam tulisan ini mungkin sangatlah subjektif, tapi secara historis peradaban-peradaban yang besar terlahir dari tradisi membaca buku. Tapi, kebesaran manfaat buku tidak ada artinya ketika tidak ada kesadaran untuk mengembangkan tradisi membaca dan memuliakan buku. Seperti halnya yang terjadi sekarang, pemuliaan terhadap buku di perpustakaan sebatas pengoleksian belaka. Perpustakaan ibaratnya hanyalah sebuah museum. Museum digunakan untuk pembuangan arkeologi. Sementara, perpustakaan sebagai tempat pembuangan. Seperti halnya tindakan yang dilakukan oleh kakakku dengan mengabaikan buku-bukunya.

Satu yang patut diapresiasi dari orang tua ku, karena mereka menyadarkan ku pentingnya buku dengan cara menyekolahkan ku. Sebab, aku tidak pernah tahu manfaat buku ketika aku tidak disekolahkan. Hingga, Aku tahu bahwa buku adalah pemecah es yang mencairkan lautan yang membeku dalam jiwa. Sama halnya yang di utarakan oleh Ahmad Wahib bahwa Dengan membaca, aku melepaskan diri dari kenyataan yaitu kepahitan hidup. Tanpa membaca aku tenggelam sedih. Tapi sebentar lagi akan datang saatnya di mana aku tidak bisa lagi lari dari kenyataan. akhir kata beribu terima kasih kepada kedua orang tua ku. Mereka menyadarkan ku pada kenyataan bahwa aku dituntut untuk memuliakan buku. Selamat hari ibu, terima kasih bu yang senantiasa mengingatkan di saat lupa untuk membaca. Sebab, dengan membaca membuka rasionalitas yang terbungkus dalam memori.