Selasa, 04 November 2014

,

HARAPAN AUGUSTE COMTE : SOSIOLOGI SEBAGAI AGAMA PEMBEBASAN

 SOSIOLOGI,  AGAMA PEMBEBASAN
Oleh : Sampean

Suatu perjalanan panjang bagi sosiologi untuk lahir sebagai ilmu. Kajian tentang sosiologi hanya sebagai serpihan-serpihan gagasan yang tersebar di setiap ilmuwan sosial dan sains. Serpihan gagasan tersebut melintasi berbagai zaman hingga menemukan tuannya bernama Auguste Comte. Auguste Comte kemudian meracik ilmu tentang kemasyarakatan yang melahirkan sosiologi. Ilmu sosiologi pada dasarnya merupakan respons terhadap kondisi kemasyarakatan dan perkembangan ilmu pengetahuan pada saat itu. Auguste Comte menganggap bahwa untuk menyelesaikan persoalan dalam masyarakat di butuhkan suatu disiplin keilmuan. Sebagai upaya untuk melakukan konstruksi dan rekayasa sosial dalam masyarakat. Walaupun pada saat itu, kajian tentang masyarakat mulai berkembang dengan berbagai macam peristilahan seperti statika sosial yang dikembangkan oleh Quetelet, kemudian fisika Sosial yang di kembangkan oleh Saint Simon, kemudian Auguste Comte mengembangkan istilah Sosiologi. Pada akhirnya memicu terjadinya sengketa dalam peristilahan dan  dimenangkan oleh Auguste Comte. Bagi Comte hal ini merupakan suatu prestasi melahirkan disiplin ilmu yang mengkaji secara murni tentang masyarakat. Comte mampu melepaskan ilmu kemasyarakatan dalam hal ini Sosiologi dari Filsafat.  Pencapaian ini mempengaruhi perkembangan kajian ilmu sosial selanjutnya. Sehingga Comte menaruh harapan besar bagi sosiologi untuk menjadi agama bagi umat manusia yang sifatnya universal dan empiris.
Gagasan Comte tentang sosiologi tidak lepas dari kondisi sosial di Prancis pada saat itu. Prancis pada saat mengalami sebuah guncangan besar dalam perkembangan politik dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam pergolakan ilmu pengetahuan  dalam fase akhir abad ke-18 dan awal fase ke-19 merupakan transisi perkembangan pemikiran dari rasionalisme menuju pemikiran empiris, era ilmu pengetahuan alam menciptakan teknologi. Gagasan tentang rasionalisme Descartesian mulai di tinggalkan sementara perkembangan sains sangat pesat, mulai ditemukan berbagai macam teknologi yang membantu kerja manusia. kemudian kajian ilmu sosial kemudian terseret ke ranah itu, sebagaimana Auguste Comte terpengaruh terhadap kedirian sosiologi yang sifatnya positivistik. Istilah positivitik merupakan istilah dalam filsafat yang melihat masyarakat sebagai kenyataan dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan (Veeger, 1993:17). Dari gagasan Comte terlihat pola perubahan masyarakat dengan mengamati pola perkembangan akal budi manusia dengan kenyataan sosial dalam masyarakat. Dengan relasi ini Comte menyusun kerangka sosiologi untuk menjadi pengetahuan yang sifatnya empiris dengan menautkan kenyataan sosial dalam masyarakat. sebab, kenyataan sosial merupakan sesuatu yang bisa diamati dan di verifikasi. Sehingga mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Secara lahiria sosiologi dihubungkan dengan proses perkembangan filsafat positivisme dengan perkembangan kesadaran dalam masyarakat Prancis.
Sosiologi : Positivisme Persilangan akal Budi Dan Kenyataan
Istilah positivisme dalam karya Auguste Comte cukup mendominasi, dalam hal ini Comte sangat terobsesi terhadap sistem masyarakat yang sifatnya harmonis. Masyarakat yang harmonis menurut Comte ketika ada hukum yang sifatnya universal untuk mengatur masyarakat. hukum tersebut bersifat positivistik dengan kata lain bahwa kenyataan sosial yang meliputi, gejala sosial, proses sosial, interaksi sosial dan komunikasi hal itu bisa di ukur dengan mengaitkan pendekatan ilmu alam. Pertautan ini yang dianggap mampu menjawab persoalan masyarakat sebab kemampuan akal budi untuk mencandra realitas di butuhkan alat yang lain. Sehingga Comte berusaha mengombinasikan  kemampuan indra dalam memverifikasi kenyataan. Kenyataan dalam pendekatan positivisme bahwa kenyataan yang dikonsepsikan harus sesuai dengan objeknya. Dengan kata lain,  kenyataan merupakan keterjalinan proses sosial dalam tatanan sosial yang melibatkan unsur aktor, ruang, waktu dan gerak.
Sehingga Hukum positivisme mampu mengukur kenyataan sosial dengan cara menguji dan meninjau masyarakat dengan pendekatan ilmu pengetahuan (Veeger, 1993:17). Sehingga gejala sosial yang sifatnya empiris harus diterima sebagai kenyataan dengan hukum yang mengaturnya  untuk meramalkan situasi sosial (Veeger, 1993:18). Dalam bingkai positivisme masyarakat  dilihat sebagai sesuatu yang sifatnya alamiah sehingga bisa di ukur dengan pendekatan ilmu alam. Dengan menggunakan determinisme alam bahwa kenyataan sosial merupakan sesuatu yang berjarak dari pengamatnya. Dalam posisi ini kenyataan hanya sebagai objek yang sifatnya netral. Kenyataan yang Sifatnya netral menjaga kediriannya dari asumsi dan prasangka sekaligus mendorong manipulasi terhadapnya. Manipulasi tersebut tidak terlepas dari kerangkeng hukum keniscayaan yaitu hukum sebab akibat (kausalitas) dengan berbagai macam landasan instrumental. Sebagai mana yang di jelaskan oleh Francis Budi Hardiman (2014:23 ) bahwa :
Ilmu-ilmu sosial dihasilkan diyakini sebagai potret tentang fakta sosial bisa dikenal dengan bebas nilai (Value free) yaitu tidak mengandung interpretasi subjektif dari penelitinya. Siapa pun dia asalkan memenuhi prosedur-prosedur penelitian tidak mempengaruhi pengetahuan yang dihasilkannya. Sehingga  pengetahuan yang dihasilkannya dapat dipakai secara instrumental oleh siapa saja, sebab bersifat instrumental dan universal.
Prosedur penelitian yang dimaksud oleh F.B. Hardiman di sini sesuai dengan kaidah hukum positivisme yaitu distansi penuh (penjarakan), netralitas, manipulasi, hukum-hukum, bebas kepentingan,universal dan instrumental. Pendekatan ini dilakukan Comte dalam melihat masyarakat untuk mendirikan sosiologi sebagai disiplin keilmuan sekaligus agama yang sifatnya humanis. Keberadaan agama yang humanis yang sifatnya universal untuk memproyeksikan masyarakat yang harmonis tidak lepas tingkat atau perkembangan kesadaran manusia. kesadaran manusia atau pencapaian akal budi manusia akan mengantarkan manusia pada titik keteraturan sosial yaitu masyarakat positivistik. Hal ini dapat dilihat dalam tatanan sosial dan perkembangan akal budi dalam konsepsi Comte. Ramalan atau proyeksi Comte tantang masyarakat harus melalui tahapan perkembangan kesadaran atau akal budi.
Evolusi : statika dan dinamika sosial
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat sangat ditentukan oleh perkembangan akal budi. Akan tetapi, Comte juga tidak menafikan tentang sesuatu yang tetap dalam masyarakat yaitu keteraturan. Gagasan tentang keteraturan hadir dalam prinsip kesamaan. Prinsip kesamaan itu dilandasi atas akal budi dan indra. Akal budi dan indra sifatnya universal dimiliki oleh setiap manusia. unsur dasaria ini akan menghasilkan persepsi, asumsi dan kesimpulan yang sama. Oleh kesamaan ini menurut Comte akan melahirkan hukum yang sama di seluruh dunia dan memiliki tahap perkembangan yang sama. Sebab, masyarakat menurut Comte bersifat “holistik” yaitu masyarakat dilihat sebagai suatu kesatuan, arah dan bentuk perkembangan masyarakat tidak bergantung pada inisiatif anggotanya, tetapi proses spontan – otomatis perkembangan akal budi manusia (Veeger, 1993:20). Manusia menurut Comte tidak punya otoritas untuk menentukan sejarahnya akan tetapi manusia bergantung pada hukum deterministik alam, sehingga manusia harus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Dasar ini menjadi pijakan hukum evolusi yang di gagas oleh Comte.
Pijakan tersebut menginspirasi Comte bahwa dalam masyarakat terdapat yang tetap dan teratur. Walaupun dasar pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh gagasan pendahulunya yaitu Plato tentang orde  yang di latar belakangi oleh kenyataan, dalam diri manusia terdapat unsur salin membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain (Veeger, 1993:21), selain itu, gagasan tentang tahapan perkembangan akal budi dalam masyarakat tidak lepas dari pengaruh gurunya yaitu Saint Simon sebagai seorang sosialisme industrialis mengedepankan kebersamaan dan persaudaraan (Giddens, 2009:6). Selain itu, beberapa Orang di sekitarnya Comte turut memberikan kontribusi terhadap pemikirannya termasuk Quetelet yang mengembankan fisika sosial yang di dasari atas filsafat probabilistik Concordet (Riyanto, 2008:2). Pengaruh kedua tersebut menimbulkan kegeraman bagi Comte karena masyarakat dijadikan sabagai kuantifikasi matematika yang mereduksi manusia dan masyarakat. sebab Comte menganggap bahwa masyarakat mempunyai hukum sendiri yaitu Positivisme.
Dari berbagi corak pemikiran yang mempengaruhinya Comte menyusun kerangka teoritisnya dalam dua bangunan yang besar yaitu hukum statika sosial dan dinamika Sosial. Statika sosial yaitu semua unsur struktural yang menunjang kestabilan yang sifatnya tetap. Di antaranya struktur sosial harus ditunjang oleh hukum, kewajiban, hak, sistem nilai dan sistem norma yang mampu mewujudkan kehidupan yang sama. Hal ini di dasari atas kemauan umum menurut Comte. Tapi, dalam perkembangan pemikiran Comte, unsur perasaan turut mewarnai pemikirannya menjadi cerminan agama humanis.
Tapi yang paling ditekankan dalam pemikiran Auguste Comte adalah dinamika sosial. Dinamika sosial adalah proses pergolakan menuju perubahan sosial. Dinamika sosial merupakan daya gerak sejarah, pada setia tahap evolusi untuk mencapai tahap keseimbangan. Dalam proses evolusi yang terjadi dalam masyarakat menurut Comte merumuskan hukum tiga perkembangan masyarakat sebagai berikut :
Tahap Pertama, tahap agama atau tahapan mistis. Pada tahapan ini perkembangan masyarakat dilihat dari perkembangan akal budi dengan melihat kenyataan di masyarakat. akal ditautkan (dikaitkan) dengan berbagai kejadian atau peristiwa terjadi di sekitar kita. Di sisi ini, manusia belum mampu mengindentifikasi dirinya sebagai Mahluk yang punya kuasa atas yang lain, sehingga melahirkan sebuah dunia yang di hayati dengan cara mengagumkan sekaligus menakutkan. Sehingga pada tahap ini manusia melakukan personifikasi (memberikan kekuatan terhadap benda mati) terhadap alam. Dengan kata lain, tahap mistis merupakan  masa kanak-kanak manusia untuk mencari segala penyebab fenomena, baik dengan cara mengaitkan dengan benda-benda di sekitarnya. Pada tahan manusia mengalami proses perkembangan evolusi mistis juga yaitu tahap animisme, dinamisme, politeisme dan monoteisme. Perkembangan evolusi mistis mewarnai perkembangan keagamaan di beberapa wilayah di dunia.
Tahap Kedua, tahap metafisika. Pada tahap ini pada dasarnya merupakan lanjutan dari tahap sebelumnya. Tetapi kenyataan tidak lagi ditaukan dengan hal bersifat mistik. Namun, akal budi mencari sebuah formulasi baru dengan cara melakukan abstraksi terhadap kenyataan. Proses abstraksi tersebut masih bersifat filosofis dan universal. Pada tahap ini manusia belum bisa berpikir ilmiah sehingga membutuhkan lompatan selanjutnya.
Tahap Ketiga, tahap positivisme yaitu tahap yang meluruhkan tahap mistis dan agama karena kemampuan akal budi sudah mampu berpikir ilmiah dan mendalam. Pada keadaan ini kemampuan intelegensi manusia pada tahap kesempurnaan, pada tahap ini manusia melarikan diri dari tindakan yang sifatnya abstrak menuju tahap eksperimentasi. Manusia menemukan hukum positivisme yang mampu menyusun keteraturan dalam masyarakat, manusia telah mampu mengetahui untuk meramalkan hukum-hukum yang efektif berupa hubungan suksesi dan kesamaan yang tidak berubah.
Dari tahapan yang di gagas oleh Comte sosiologi menjadi sebuah disiplin ilmu pengetahuan yang positif. Sebagaimana di jelaskan Anthony Giddens (2009:10) Bahwa :
Fisika sosial yang dibaptis kembali menjadi sosiologi pada gilirannya harus menjadi sebuah ilmu pengetahuan positif. Ilmu ini memungkinkan kita mengetahui hukum-hukum organisasi masyarakat (Statika sosial) sekaligus hukum evolusinya (dinamika Sosial). A. Comte berusaha mencari mencari penyelesaian atas berbagai persoalan dalam masyarakat. tujuannya adalah untuk memecahkan persoalan sosial agar mampu mengambil tindakan pencegahan (meramalkan) agar kita mampu menguasai.
Prinsip ini membawa Comte untuk menggagas sebuah agama yang humanis untuk mananggalkan agama-agama yang berkutat dalam gereja serta prinsip filsafat dalam kehidupan manusia. sehingga Comte berharap Sosiologi akan menjadi tonggak agama yang humanis dan mampu menjawab persoalan dalam masyarakat. Gagasan ini tidak lepas dari perkembangan Prancis pada abad ke 18 menuju abad 19, masyarakat Prancis mengalami transisi dari paham rasionalistis dan dominasi gereja menuju masyarakat industri. Agama yang humanistik tidak lepas juga dari pengaruh pergolakan batin Auguste Comte dengan hubungannya dengan Clotilde De Veux.
Walaupun gesitnya Comte memperjuangkan agama Humanis untuk melepaskan dari filsafat dan agama. Tapi, Comte terjebak dengan penjabaran teorinya yang sangat filosofis dan kental nuansa spiritualitas. Pemaparan berhubungan dengan sosiologis ternyata sangat filosofis walaupun melakukan pendekatan yang positivisme.
Sosiologi Sebagai Agama Pembebasan
Dalam arus pemikiran Comte secara garis besar terbagi dua yakni pada tahap pertama Comte, sebagai pengagung akal budi atau kekuatan intelegensi sedangkan pada tahap kedua, Comte melibatkan unsur perasaan, cinta dan kasih sayang dalam proses pembentukan karakter masyarakat. kedua fase perkembangan gagasan Comte tersebut terjadi polemik yaitu penghujatan dan pengultusan terhadap dirinya. Di posisi penghujat Comte dianggap tidak konsisten dalam mengembangkan gagasannya. Comte mengurangi peran akal budi dalam proses tatanan masyarakat. sedangkan di posisi pengultusan Comte menganggap bahwa Comte hendak menyempurnakan gagasannya, menurut para pengikutnya ketika masyarakat diserahkan pada kekuatan intelektual semata justru masyarakat akan mengalami kembali ketimpangan. Kehawatiran tersebut tanpa di dasari alasan, akan tetapi, pada saat itu Prancis terlalu mengedepankan pengetahuan sebagaimana pengultusan terhadap agama. Hal seperti ini diantisipasi Oleh Auguste Comte kemudian mendeklarasikan sebuah agama Humanis yaitu Sosiologi.
Agama ini menurut Comte menjadi akan perekat dalam masyarakat yang mengedepankan tentang Cinta, Perasaan dan kasih sayang. Menurut Comte unsur ini merupakan unsur yang universal yang lain, dari akal budi dalam diri manusia. unsur universal ini dikembangkan Comte untuk menciptakan masyarakat berdiri di atas keadilan, keselarasan, persaudaraan dan kebersamaan. Asas moral ini menjadi dasar pendirian agama Humanis Comte yang kita kenal sekarang sebagai Sosiologi. Tapi yang menarik dalam diri Comte adalah dia tidak mengultuskan model masyarakat yang berkembang saat ini yaitu kapitalisme, sosialisme, maupun komunisme. Comte hanya mengharapkan masyarakat yang harmonis dan keteraturan. Comte tidak terjebak pada narasi yang besar yang berkembang dalam masyarakat. Justru Comte meruntuhkan itu untuk menciptakan narasi-narasi kecil tentang nilai-nilai universal dalam diri manusia. 
Dengan dasar ini, Comte Merumuskan “agama Humanis” untuk menjawab persoalan manusia yang mengalami anomali pasca peran dunia kedua, berbagai guncangan sosial di masyarakat Prancis pada khususnya. Dengan persoalan tersebut “agama humanis” menjadi yang terdepan dalam merekayasa masyarakat. sebab. Agama Humanis ini mampu meramalkan kondisi suatu masyarakat. sehingga tugas utama “Agama Humanis” yang di kembangkan oleh Comte pada dasarnya mengandung prinsip pembebasan manusia dari keterpurukan, penindasan, dan kezaliman. Prinsip ini sosiologi seharusnya mampu menjawab persoalan masalah kekinian, bahkan masa depan manusia.
        Mungkin tidak salah ketika sosiologi nantinya, dijadikan sebagai ilmu konsultan persoalan bangsa. Ilmu sosiologi dijadikan sebagai alat analisis untuk mengambil keputusan dalam hal pertimbangan penerapan hukum dalam masyarakat. Sesuai dengan napasnya Sosiologi sebagai spirit agama pembebasan yang humanis. Tapi, di sisi yang lain, sosiologi yang di gagas oleh Comte tidak luput dari kekurangan sehingga butuh penyempurnaan dari pengikut-pengikutnya dan tidak terjebak oleh dogma Comte. Sebab, masyarakat senantiasa terus berkembang maka ilmu sosiologi juga harus terus berkembang dengan spirit awalnya yaitu pembebasan berdasar pada akal budi dan cinta. Sebab, kekuasaan tanpa di dasari dengan prinsip ini adalah tirani. Pada dasarnya kedua unsur ini terdapat pada agama Ibrahimia. Pada dasarnya setiap Agama lahir untuk menjawab persoalan kaumnya, hanya saja tiraniawan saja yang menyulap agama menjadi keji. Sebagaimana halnya dengan sosiologi. Sosiologi harus tampil melawan tirani tersebut dan memperjuangkan risalah kenabian (profetik).
Daftar Bacaan

Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern jilid I, di Indonesiakan oleh Robert M.Z Lawang. Jakarta. Gramedia

Phillippe Cabin & Jean Francois Dortier (ed). 2009. Sosiologi Sejarah dan Berbagai pemikirannya. Djogjakarta. Kreasi wacana.
K.J Veeger. 1993. Realitas Sosial: Refleksi Filsafat Sosial atas hubungan individu-masyarakat dalam cakrawala Sejarah sosiologi. Jakarta. Gramedia
Geger Riyanto. 2009. Peter L Berger Perspektif Metateori Pemikiran. Jakarta. LP3ES.
F.Budi Hardiman. 2014. Melampaui Positivisme dan Modernitas ; Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Yogyakarta. Kanisius.
C.A Van Peursen. Susunan Ilmu Pengetahuan sebagai pengantar Filsafat ilmu, diterjemahkan J. Drost. Jakarta. Gramedia.
Jujun Sumardaminta. Filsafat Ilmu 
Loren Bagus, Kamus Filsafat

Kamis, 30 Oktober 2014

PENONTON SEPAK BOLA: KERUMUNAN INTEGRASI PREMATUR

Pesona rumput hijau dan si kulit bundar menyedot pehatian para masyarakat dunia itulah sepak Bola yang menjadi Olah Raga yang paling Favorit dunia. Sebab, Sepak bola menyuguhkan sebuah keindahan dan persatuan yang di tampilkan oleh para gladiator lapangan. Para gladiator selalu menampilkan permainan yang apik dengan pertarungan Taktik, strategik, skill individu, dan kekompakan untuk menjadi yang terbaik di lapangan Hijau. Selain itu, penikmat Sepak Bola bukan hanya di kalangan tertentu tapi semua kalangan baik dari anak-anak, orang tua maupun kalangan perempuan dan  Sepak Bola merupakan olahraga yang paling terjangkau, sebab sepak bola bisa menjadi Olahraga yang paling murah sekaligus Olahraga yang paling Elit hingga harus menelan biaya triliunan dolar untuk menyelenggarakan perhelatannya.
Perhelatan sepak bola memiliki tingkatan-tingkatan tertentu dengan berbagai macam Turnamen dan  pertandingan sesuai  dengan peraturan FIFA. Kompitisi sepak bola secara umum memiliki dua bentuk yaitu pertandingan berdasarkan klup dan Negara. Akan tetapi, perhelatan yang paling menyedot  perhatian publik adalah Perhelatan Piala Dunia, EURO, dan Liga Champions dan Pertandingan dalam antar Regional.
Tapi satu hal yang tidak bisa di nafikan dalam sepak bola adalah para penonton sebagai pemain kedua dari sepak Bola. Sebab, Sepak Bola sangat di tentukan oleh Eksistensi dari para penonton dan penggemarnya. Para penonton juga turut menentukan atas suksesnya sebuah pertandingan selain itu penonton menambah spirit para gladiator lapangan semakin bertambah karena para penonton memberikan nilai lebih terhadap pemain. Walaupun demikian, para penonton dengan kata lain para penggemar bola sering terjebak pada sebuah fanatisme terhadap klub atau negara tertentu sehingga bisa menjadi pemantik sebuah konflik sebab sulit menerima kekalahan dan rasis terhadap pemain lawan. Namun satu hal juga tidak bisa di pungkiri adalah Sepak bola menjadi sebuah alat pemersatu dan semangat patriotisme untuk menjalin silaturahmi antar penggemar yang memicu hubungan persahabatan dan kekeluargaan.
Untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola memiliki dua macam tipologi yaitu menonton secara langsung di stadion dan menyaksikan pertandingan lewat siarang langsung di stasiun TV. Di ruang-ruang seperti ini menciptakan ruang relasional yang pasif dan kesemuan identitas. Sebab dalam menyaksikan sebuah perhelatan pertandingan secara langsung kita hanya di arahkan pada suatu tujuan menyaksikan klub idola kita saat bertanding untuk meratapi kebahagiaan dan kesedihan yang terjadi di lapangan.
Ruang relasional itu hanya bersifat temporal. Tapi satu hal yang paling menyedot perhatian. Masyarakat  berlomba-lomba untuk menyaksikan sebuah pertandingan dengan berbagai cara pertama, nonton bareng bersama keluarga, teman dan lain-lain di rumah sendiri, kedua, nonton bareng di tempat-tempat tertentu. Realitas seperti ini mengundang sebuah tanda tanya dari setiap kerumunan nonton bareng sepak bola sebab apakah mereka bagian dari di tim itu atau mereka sesuatu yang berjarak antara tim sepak bola dan penggemarnya yang tidak memiliki keterkaitan apa-apa terhadap tim itu. Selain itu simbolitas identitas sangat mewarnai sebuah perhelatan dengan menyusaikan karakteristik sebuah tim idola. Hal itu bisa kita saksikan pada perhelatan Euro 2012 saat ini dan pertandingan-pertandingan sepak bola yang lain sebuah penciptaan ruang sosial yang unik.
Para pencinta bola bisa di kategorikan dengan berbagai modeling yaitu,  pertama, penikmat bola yang berprofesi sebagai pemain Bola. Sebab olaharaga sepak bola sudah menjadi hobinya. Kedua pemain pasif yang hanya sebagi penonton saja akan tetapi tidak suka dengan permainan bola. Sebagian besar tipologi ini hanya ingin menikmati pemain idolanya, dan sekaligus hanya   melepaskan kejenuhan dalam beraktivitas. Pemain pasif ini bisa di kategorikan menjadi dua yaitu penonton fanatik dan dan penonton pasif.
Penonton fanatik yaitu para penontong sepak bola menjadi penggemar aktif pada suatu tim tertentu yang selalu mengikuti kegiatan-kegiatan timnya baik dalam berlaga di lapangan maupun acara amalan yang dilaksanakan oleh tim, kemana-mana tim dia pasti ada. Atau istilah yang paling sering lengket pada tipologi ini adalah fans. Namun, ada yang perlu di ingat bahwa Fans bukan hanya yang bisa seperti diatas akan tetapi ada fans yang mengorganisasikan dirinya untuk manjadi bagian dari tim itu yang memiliki jarak yang tidak memiliki akses ke Fans induk. Seperti Fans Manchester United  yan ada di Indonesia dan aktivitasnya hampir sama dengan penonton pasif. Penonton pasif seperti yang di jelaskan pada paragraf sebelumnya hanya menyaksikan lewat stasiun TV untuk menyaksikan tim andalannya bertanding atau menyaksikan lewat nonton bareng atau nontong sendiri-sendiri.
Ketiga, penonton sunda gurau atau penonton yang hanya hanya turut meramaikan. Tipologi penonton sebenarnya tidak suka dengan bola akan tetapi melihat teman-temannya seru-seruan untuk menyaksikan pertandingan bola makanya di ikut nangkring disitu.

Ruang Kontekstual
Untuk mengamati ruang-ruang sosial yang terjadi dalam perhelatan sepak bola bisa kita lihat Euforia perhelatan sepak Bola EURO 2012 yang di laksanakan di Ukraina-Polandia yang sangat spektakuler.  Fenomena sosial yang terjadi di ruang sosial tersebut sangat menarik untuk kita amati dalam bingkai sebuah kajian sosiologi. Hal yang paling fenomenal dalam setiap perhelatan sepak bola adalah para penontongnya. Sesuai dengan penjelasan di atas bahwa para penonton memiliki berbagai macam tipologi yang selalu menciptakan bentuk-bentuk kerumunan.
Pesta EURO tahun 2012 di saksikan oleh hampir seluruh belahan dunia dengan barbagai macam cara. Demi menyaksikan piala EURO, masyarakat rela merogoh kucek dalam-dalam untuk menyaksikan tim andalannya untuk bertanding di lapangan. Akan tetapi, masyarakat yang tak mampu menyaksikan secara langsung harus rela menyaksikan tim idolanya bertanding lewat stasiun TV. Terkhusus untuk negeri ini
Indonesia hanya bisa menyaksikan tim kesukaannya hanya lewat stasiun TV. Tapi, semarak untuk menyaksikan piala EURO tidak kalah menariknya nontong langsung di lapangan. Perhelatan EURO membuat masyarakat menjadi deman sepak bola sebab, hampir semua kalangan ikut menyaksikan pertandingan tim idolanya dengan mengorbankan agenda yang lebih penting, misalkan di Jakarta Pelaksanaan  Ujian SNMPTN banyak yang terlambat pergi ujian Sebab nonton piala EURO, di Makassar rela tidak pergi Kuliah demi menyaksikan Piala EURO dan Piala EURO menjadi ajang Kampanye untuk pemilihan Gebernur di Sulawesi Selatan. Tapi, yang lebih menarik adalah ajang EURO menjadi tempat mengadu nasib terhadap tim kesayangannya.
 Perhelatan EURO 2012 menampilkan pemandangan yang khas pada pukul 12.00 WITA sampai Pukul 04.45 WITA di kota Makassar yang tidak seperti Biasanya. Warna malam menjadi Ceria di tempat-tempat Umum dengan Nontong Bareng seperti Kafe, Warkop, Rumah makan, sekretariat Organisasi, di Pinggir Jalan dan Rumah Kost karena menjadi ajang tempat berkumpul dengan tujuan yang sama yaitu nonton Bola. Aktivitas ini memberikan sebuah suntikan akan adanya sebuah persatuan yang belum terurai menjadi kesatuan aktif. 
Kenyataan dalam kerumunan ini memberikan sebuah histeria saat nonton bersama atau istilah lainnya di kenal nonton bareng karena dalam situasi ini kita leluasa untuk berteriak dan memberikan motivasi dan  menyemangati tim yang sedang bertanding walaupun mereka tidak mengetahuinya. Selain itu dalam menyaksikan pertandingan sepak Bola EURO  2012 menjadi ajang refressing dan wisata emosional untuk melepaskan beban kerja dan masalah-masalah pribadi yang lain karena dalam menonton bareng ada sebuah kebebasan untuk melakukan teriakan-teriakan histeria dan terkadang terjadi anarki prilaku dengan mengekspresikan kekalahannya atau kemenangannya yang berlebihan. Situasi ini hanya memiliki masa inkunbasi selama satu bulan. Pemandangan ini akan berlanjut pada pada event yang lain dalam waktu dekat akan berlangsung event sama di Inggris yaitu perhelatan Olimpiade.

Kerumunan (crowd)
Perkembangan masyarakat yang begitu kompleks dengan berbagai bentuk interaksi yang membentuk sebuah tatanam sosial yang memiliki ciri dan pola kehidupan yang berbeda. Kendati demikian bahwa kehadiran kelompok-kelompok sosial tidak bisa di hindari dalam kehidupan bermasyarakat. Kelompok masyarakat bersifat sementara, permanen, terorganisasi sesusai dengan konsensus dan kepentingan yang terajuk pada setiap individu.
Kelompok sosial yang cenderung terkonstruk terhadap minat yang sama untuk membentuk sebuah ikatan yang emosional. Kelompok ini sering disebut sebagai kerumunan (Crowd). Kerumunan sering terjadi pada suatu tempat tertentu yang memiliki pola tertentu dengan manampilkan sebuah ciri khas dan identitas tertentu bersifat kebetulan yang melahirkan sebuah hubungan yang interaksi dengan perasaan emosional yang sama terhadap sebuah identitas.
Karakteristik dari sebuah kerumunan adalah pola kelompok sosial hanya memiliki rentang waktu yang sangat singkat, sebab keberadaan kerumunan di tentukan oleh eksistensi individu yang sedang berkumpul. Selain itu kerumunan tidak memiliki struktur kepemimpinan atau struktur organisasi yang jelas. Kedudukan individu dalam kelompok sosial ini sama sebab dalam tidak ada sistem pelapisan dalam masyarakat.
Hal ini berwastata dengan Mayor Polak adalah karena adanya minat, hasrat, atau kepetingan bersama dan diantara para anggotanya berkembang sebuah pengaruh dan seperti timbal balik yang kadang-kadang kuat tetapi tidak kekal serta tidak rasional.
Berdasarkan pendefinisiannya ini Mayor Polak membagi Dua jenis kerumunan yaitu pertama, kerumunan yang aktif adalah kerumunan yang timbulnya secara spontan, emosional dan impulsif sebab tidak ada aturan yang mengikat maka dalam kerumunan ini cenderung bersifat destruktif sebab individu dalam kerumunan ini memiliki kebebasan melakukan ekspresi baik itu jengkel maupun rasa bahagia.
Kedua, kerumunan ekspresif adalah kerumunan yang tidak mengenal pusat perhatian maupun tujuan yang sama melainkan hanya mengenal emosi saja tanpa tujuan tertentu. Sifat kerumunan ini tidak bersifat merusak akan tetapi hanya melepaskan sebuah ketengangan dan emosi saja. Seperti menangis dan berteriak. Tapi kerumunan ini bisa bisa berubah menjadi kerumunan aktif.
Berangkat dari spektrum realitas sosial saat ini bahwa bentuk kerumunan mulai bergeser pada sebuah bentuk yang bersifat terorganisir menonjolkan sebuah identitas dengan berbagai macam pernak-pernik  kelompoknya. Sebab, kelompok sosial ini menaruh sebuah perhatian khusus pada minat tertentu dengan rasa simpati dan antipati terhadap kelompok lain. Kerisuan dan kebahagiaan mulai di rasakan bersama dengan berbagai macam  ekspresi dan perilaku di perlihatkan oleh kelompok itu.
Sebuah pemandangan yang bisa di lihat pada kerumunan suportor Bola yang mulai mengornisir diri pada suatu minat yang sama menciptakan sikap fanatisme terhadap  sebuah tim tertentu sehingga menciptakan kekacuan yang terorganisir walapaun dalam pemandangan kita bahwa tawuran yang sering kita saksikan itu kekacauan yang sporadis akan sebenarnya kekacauan itu bersifat sistematis dan telah terencanakan sebelumnya. Sebab ada ikatan yang solidaritas yang telah terbangun di kelompok suporter itu.

Integrasi Prematur
Integrasi yang sering kita artikan sebagai sebuah kesatuan yang utuh atas pndangan dunia yang sama. Integrasi terbangun oleh sebuah konsensus dalam menciptakan sebuah kelompok yang di warnai oleh berbagai macam identitas di dalamnya atau sebuah ketunggalan identitas dalam melaksanakan peran-peran sosial. Dalam terjemahan sosial pengunaan kata integrasi selalu bergandengan tangan dengan konflik karena akhir dari sebuah konflik adalah integrasi dengan alasan bahwa orang yang merasa kalah dalam persaingan atau peperangan harus melunturkan identitasnya untuk bergabung ke identitas yang lain di anggap superior. Selain itu, integrasi sosial bisa di artikan sebagai penerimaan anggota lain ke dalam suatu kelompok tertentu.
Di spacial (Ruang) kontestual kita diperkenalkan pada  realitas tentang kumpulan manusia yang terbentuk secara spontan atau suatu bentuk kerumunan dengan pola tertentu yang mencerminkan sebuah identitas.  Di ruang kontekstual itu di cerminkan oleh sebuah suporter, penonton, dan penggemar bola. Dengan kenyataan bahwa sepak bola menciptakan ruang tersendiri di ruang sosial tentang sebuah kerumunan yang terjadi seperti gelembung manusia yang manghadiri stadion untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola dan antusias para penontong di luar stadion untuk menyaksikan pertandingan Bola dengan berbagai macam cara dengan mengekspresikan dirinya dengan nontong bareng atau nonton bersama.
Para kelompok penggemar bola ini diarahkan pada satu tujuan yang sama, minat yang sama, identitas yang sama yaitu kelompok suporter bola yang berkumpul di stadion untuk menjalin sebuah hubungan integrasi akan tetapi dalam kelompok  tersebut ada warna yang tergambar dari masing-masing kubu. Mereka masing-masing menyaksikan timnya beradu dalam lapangan untuk mencari sebuah kemangan. Dari pesona itu bahwa bahwa ada kenampakan yang terlihat untuk mengintegrasikan dirinya dengan yang lain dengan orientasi yang sama sebagai penikmat bola. Begitupun yang di luar stadion atau tempat-tempat lain bahwa penggemar bola mengingtegrasikan dirinya untuk nonton bersama untuk menyaksikan pertandingan tim idolanya di lapangan dengan membawa antribut-atributnya timnya.
 Bentuk kerumunan ini memiliki sifat yang pasif karena hanya bersifat sementara dengan aktivitas yang cenderung menolitik. Penggambaran ini mencerminkan sebuah integrasi prematur yang terjadi dalam masyarakat karena pembauran yang terjadi bersifat sementara dan bisa berubah menjadi sebuah kerumunan yang aktif dengan kenampakan-kenampakan anarkistis. Kelompok ini luput dari sebuah perhatian khusus oleh pemerintah bagaimana peran suporter bola dalam mengintegrasikan diri berbagai macam identitas dalam sebuah naungan sepak bola. Sepak Bola memiliki peran yang vital terhadap berbagai macam problem sosial yang terjadi dalam masyarakat yaitu konflik suku, konflik antar beragama dan lain-lain sepak bola bisa mengintegrasikan semua itu mempertemukan sebuah event yang sama yaitu pertandingan sepak bola. Sepak bola pernah menjadi alat pemersatu dunia saat gejolak peran dunia.
Akan tetapi, berbeda dengan Indonesia Sepak Bola menjadi ajang perpecahan di atas kepentingan elit sehingga menjadi dualisme kepentingan yang harus melahirkan konflik-konflik sosial baik baik secara vertikal yaitu kepentingan para pejabat maupun secara horisontal yaitu konflik antar pemain dan konflik para suporter karena menciptakan sebuah dualitas kepentingan. Sehingga kondisi TIM nasional di Negeri ini menjadi salah urus dan mengorbankan emas yang tertanam pada generasi pemuda bangsa ini karena mereka telah terabaikan oleh dualitas kepentingan tersebut.
sehingga apa yang terjadi saudara-saudara sekalian di Indonesia sepak bola merupakan ajang keretakan solidaritas di atas melambungkannya penggemar bola di indonesia yang seharusnya memberikan sebuah spirit untuk memajukan persepakbolaan di Indonesia akan tetapi yang terjadi adalah malah sebaliknya. Mungkin inilah realitas yang terjadi di negeri ini, bahwa Sepak bola menjadi Mirror kerumunan integrasi prematur.****

sampean
Makassar, 2012

Minggu, 19 Oktober 2014

,

FIKSI

FIKSI

Mungkin kata “Fiksi” bagi kita semua adalah kata yang sederhana. Pemahaman kita akan tertuju pada pendefinisian Bahwa fiksi adalah hasil rekaan atau khayalan yang tidak punya kenyataan (KBBI). Betulkah seperti itu, fiksi tidak punya kenyataan!!. Dari sumber yang berbeda “fiksi” di artikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajiner, meskipun imajiner sebuah karya fiksi tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran yang dapat mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia (dalam Teori Pengkajian Fiksi Burhan Nurgiyantoro (1995), (Wikipedia.org/wiki/fiksi).
Kedua penjelasan ini, aku berusaha mendeskripsikan tentang fiksi sesuai dengan kapasitas ku, selaku sosiolog. Sebagai seorang sosiolog sudah tentu akan mengalami keterbatasan untuk mengkaji tentang “fiksi” yang notabenenya adalah kajian bahasa. Tulisan ini lahir dari pendiskusian dari teman dunia “maya” yang mencecar beberapa pertanyaan. Maka sepatutnya pula, saya menjawab dari pertanyaan itu dengan berbagai keterbatasan ku sebagai sosiolog. Saya menjelaskan dengan sudut pandang sosiologis sebab, disiplin itu yang melahirkan saya atas legitimasi ijasa. Sepantasnya pula, harus menguasai disiplin ilmu itu walau belum sempurna. Sebab, kesempurnaan hanya dimiliki oleh pemilik kesempurnaan itu.
Berangkat dari penjelasan di atas tentang fiksi belumlah cukup untuk memenuhi pertanyaan saudara penanya dari dunia maya itu. Secara garis besar pertanyaan itu, menyangkut eksistensi kenyataan dalam fiksi. Penanya menganggap bahwa fiksi pada dasarnya hasil rekaan semata yang tidak punya wujud realitas. Sungguh pernyataan ini sangat mengelitik. Tapi entahlah, apakah asumsi ini hanya menguji pemahaman saya terkait dengan tersebut atau memang dia belum tahu tentang itu. Semoga anggapan ini salah, dari penjelasan disampaikan menunjukkan penanya memiliki wawasan terkait pendiskusian tersebut. walau, penjelasan tentang “fiksi” lebih dipersempit. Bagi saya itu tidak menjadi persoalan., karena dalam dirinya juga terdapat unsur kebenaran.
Dari dua sumber yang berbeda tentang penjelasan “fiksi” perlu digaris bawahi yaitu khayalan, imajiner dan kenyataan. Ketiga terma tersebut menjadi unsur pembangun dalam menyusun struktur  bahasa dalam mendefinisikan “fiksi”. Namun, terlepas dari ketiga kata tersebut tentunya kita tidak boleh melupakan kata “fantasi”. Menurut Budiono Kusumohamidjojo ketiga istilah tersebut tidak terlalu dibedakan dalam KBBI, bahkan memiliki keserupaan. Sementara, Budiono Kusumohamidjojo menjelaskan dalam buku filsafat kebudayaan proses realisasi manusia bahwa fantasi dan imajinasi cukup berbeda, Fantasi adalah sebagai daya manusia untuk membayangkan dan memikirkan sesuatu tanpa bertolak dari pengalaman (memikirkan yang tidak terpikirkan). Sedangkan imajinasi merupakan daya manusia untuk membayangkan memikirkan sesuatu dengan bertolak dari pengetahuan (memikirkan yang belum dipikirkan). Penjelasan ini kurang bermanfaat dalam penjelasan fiksi. Tapi cukup untuk memberikan pemahaman kejelasan kekeliruan dalam fiksi tersebut. kedua unsur tersebut sudah jelas ada dalam fiksi. Fiksi pada dasarnya sulit lepas di arena bahasa. Kedua hal tersebut dihadirkan pada ruang struktur bahasa. Sedangkan di arena bahasa dan alam fiksi, realitas yang yang tidak punya wujud kenyataan material dan tidak terfantasikan dan imajinasikan, kondisi yang seperti itu hadir hanya bahasa, seperti segita lima sisi, gunung yang menangis, bulan yang tertawa, lingkarang yang berujung. Konsep-konsep ini hanya hadir lewat bahasa, dan digunakan dalam bahasa fiksi. Pengungkapan ini dikenal sebagai gaya bahasa konotasi. Bahkan sulit di imajinasikan dan difantasikan. Tapi, makna sejatinya hadir lewat bayang-bayang kenyataan. Bahkan sulit menemukan kenyataan. Tapi, setidaknya memberikan sebuah kenyataan bahwa ada yang hadir lewat bahasa tapi tidak punya kenyataan material, namun ada.  Itu nyata, lewat fiksi
Fiksi tidak boleh dilepaskan dari yang mengadakannya yaitu hasil narasi pikiran manusia. Fiksi sebagai narasi manusia, tentunya hasil pemainan pikiran manusia yang seusai penjelasan sebelumnya yaitu fantasi, imajinasi  dan arena bahasa.
Bahasa, Narasi dan Kenyataan
Perwujudan suatu fiksi adalah narasi. Narasi tersebut dituturkan oleh manusia melalui teks. Pesan teks akan tersampaikan melalui bahasa. keindahan yang disampaikan oleh karya fiksi bergantung dari permainan bahasa. Permainan bahasa sesuai selera penggunanya.  Dalam ruang fiksi dan bahasa akan mengandung metafora, pengandaian, anekdot, adagium, majas dan lain-lain. Kesemuanya itu adalah permainan bahasa untuk menggambarkan realitas yang sulit terbahasakan. Bahkan bahasa mampu mengkerdilkan dan memperluas kenyataan melalui bahasa. bahkan fiksi tidak punya latar belakang histori, ataupun realitas. Tapi fiksi menceritakan sebuah kenyataan. Entah kenyataan itu hadir setelah kehadiran narasi atau kenyataan yang melatarbelakanginya. Inilah realitas fiksi.
Fiksi pada dasarnya menyampaikan pesan kepada interpreter (pembaca) tentang makna. Fiksi kurang memedulikan realitas sesungguhnya bahkan cenderung melebih-lebihkan (hipebola) tentang realitas. Fiksi akan menyampaikan realitas kesempurnaan yang berbeda dengan sesungguhnya. Fiksi akan berbeda dengan bahasa pers atau jurnalistik yang menggambarkan atau mendeskripsikan realitas/kenyaataan yang sesungguhnya. Bahasa pers diangkat melalu fakta dan harus sesuai dengan fakta tersebut. sementara, fiksi tidak. Bahasa punya ruang tersendiri dimana sang penutur punya otoritas menggambarkan realitas fiksi tersebut. maka ada yang beranggapan bahwa bahasa fiksi mengandung kebohongan. Anggapan tentunya mengandung kebenaran. Sebagaimana yang dituturkan oleh Muhiddin M. Dahlan bahwa penulis fiksi adalah pembohong yang baik.
Fiksi akan melukiskan tentang keindahan. Karya fiksi merupakan ungkapan imajinatif, fantasi dan khayalan melalui narasi. Maka fiksi bisa menghadirkan melo drama dalam sebua drama narasi. Fiksi mampu menghadirkan aktor-aktor narasi yang sempurna bahkan paling jahat sekalipun. Sebagaimana dilukiskan oleh film mahabrata yaitu sikap Krisna atau nama lainnya Basu Dewa atau Govinda, sikap dan tutur katanya begitu lembut, tindakannya penuh dengan sikap kebajikan. Sikap merepresentasikan sebagai seorang dewa bahkan Dia anggap sebagai dewa. Gambaran cerita ini saya sesuai dengan kebutuhan saya, sebagaimana pendiskusuan saya dengan teman dunia maya.  Kembali lagi dengan pertanyaan teman saya “apakah tokoh seperti krisna itu pernah ada?”
Pertanyaan ini agak  menyulitkan bagi saya untuk menjawab pertanyaan ini. Sebab, saya tidak pernah hidup di mana tokoh itu hadir. Cerita ini tersampaikan lewat narasi teks dan narasi dari tutur manusia. Cerita ini dikonversi melalui visual untuk disampaikan kepada khalayak. Film itu tidak mempersoalkan apakah kenyataannya ada atau tidak itu urusan khalayak. Maka saya berpendapat bahwa bisa saja tokoh itu pernah ada. Sikap kesempurnaan yang dimiliki oleh sikap Krisna untuk merepresentasikan bagi malaikat, ataupun dewa. Tapi, dalam dunia yang nyata menunjukkan lakon yang berbeda sepertinya halnya dengan sikap nabi dan rasul. Ketika kita penganut agama setidaknya kita percaya tentang kenabian. Sikap kenabian dan kerasulan akan menggambarkan sebuah sikap dan tindakan kesempurnaan manusia. Seperti ungkapan Istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah. ra ketika ditanya bagaimanakah akhlak nabi, beliau menjawab Sungguh akhlak Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an. Al Quran di sini melambangkan kesempurnaan, sulit manafikan tersebut. Tapi bagaimana dengan Krisna??. Krisna bisa merepresentasikan sikap nabi tersebut walaupun disampaikan melalui lakon yang berbeda sebagaimana dengan dunia fiksi.
Sampai disini saya tetap meyakini bahwa ada manusia yang memiliki sikap mirip dengan Krisna. Sebab, sikap kesempurnaan merupakan potensi dalam diri yang senantiasa terus menjadi. Hanya proses sampai kesana tidak berjalan sebagaimana seharusnya karena melakukan penyimpangan-penyimpangan. Ketika ada usaha akan meniru dengan sikap tersebut tidak akan menjadi sebagaimana Krisna dan sikap nabi tersebut. sikap kesempurnaan ini dibantah oleh erik Fromm bahwa pada dasarnya sikap otentik manusia adalah agrasif selalu berbuat kegaduhan. Dalam sebuah karya fiksi lakon jahat dan kebaikan akan tetap ada.
Disinilah keindahan fiksi dimana dunia diracik sesuai dengan selera, menggugah imajinasi dan menciptakan epos yang sulit dengan akal rasional manusia. bahkan, tipuan sekalipun bisa diyakini bahwa keberadaannya itu ada. Itulah kekuatan fiksi. Fiksi dan fiktif itu nyata.

Bulukumba, 19 September 2014
Oleh “S”

Selasa, 30 September 2014

AIR MATA PETANI


Petaniku sayang petaniku malang Betul apa yang di katakan oleh kawan-kawan.......,tanggal 24 kemarin adalah hari petani,,tetapi apa yang terjadi kepada para Petani di malili sulawesi selatan ,,telah terjadi pemukulan, intimidasi terhadap petani yang selama ini memberi kontribusi besar kepada bangsa ini,hanya karna lahannya tak mau di kuasai oleh PT.Sindoka,,mereka semua di tangkap dan di pukuli...apa yang telah terjadi pada negeri ini??aparat,pemerintahan jelas telah berpihak sebelah,,mereka telah berpihak kepada pemilik modal,tanpa mereka sadari yang berada di dalam perut mereka adalah hasil dari tangan-tangan para petani,,para petani lah yang mempersiapkan kebutuhan pangan untuk presiden,aparat,pemerintahan bahkan seluruh masyarakat di negeri ini......oohhh petaniku kau sungguh para pejuang yang tanguh,,dedikasimu telah kami rasakan sampai saat ini,,kesedehanaanmu memberi jawaban atas kesombongan dunia,,Buah tanganmu telah menjadikan kami sampai saat ini berdiri,,selamat malam para pejuang tangguhku...!!!


tanggal 24 September 2014,