Selasa, 11 September 2012

SOSIAL BUDAYA


Diskursus Gender :  Visi Eksploitasi Terhadap Perempuan
Oleh : Sampean
Dalam era perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat, arus wacana semakin meningkat dalam berbagai lintas keilmuan yang mulai salin terkait dan mengalami ketergantungan satu sama lain termasuk diskursus tentang gender. Diskursus gender hadir dari sebuah kegelisahan terhadap sebuah ketimpangan sosial di arus modernitas. Ketimpangan itu melahirkan sebuah diskursus tentang gender dengan spirit kesetaraan. Namun, dalam perkembangan wacana gender mengalami berbagai polemik sebab isu gender mencoba melabrak sebuah kemapanan atas nama kesetaraan dan kebebasan.
Gender merupakan gaung yang di bawah oleh para kaum feminis untuk melepaskan perempuan dalam sebuah jeratan konstruk budaya patriarki. Upaya pembebasan ini di topang oleh wacana  gender. Dari upaya ini nampak bahwa isu gender melakukan rekayasa untuk dalam memperjuangkan sebuah dunia yang baru yaitu dunia tanpa penindasan. Di balik semua itu apa sebenarnya gender itu?..
Gender merupakan diskursus perbedaan perempuan dan laki-laki di tinjau dari segi peran dan status dalam kehidupan sosial. Berarti dalam pengertian ini bahwa diskursus gender merupakan sebuah hasil konstruksi sosial budaya terhadap peran dan status manusia. Dari pengertian ini pula bahwa isu gender di gunakan sebagai analisis untuk melihat sebuah ketimpangan sosial yang tidak berpihak pada perempuan. Sebab, wacana gender di gunakan para kaum feminis sebagai ideologisasi untuk memperjuangkan sebuah kesetaraan.
Ungkapan ini senada dengan kutipan dari Showalter bahwa yang mengartikan gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa sebagai mana kita dapat menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu. Sehingga isu gender bagi kaum feminis  merupakan sebuah momentum untuk melakukan emansipasi terhadap perempuan. Sebab, perempuan dalam  konstruk kehidupan sosial mengalami ketertindasan oleh budaya patriarki.
Menurut pandangan kaum feminis bahwa perempuan selama ini ini hanya berkutat pada ranah domestik yaitu bahwa perempuan hanya bisa berkiprah sebagai pelayan rumah tangga atau yang biasa kita kenal pekerjaan perempuan adalah kasur, sumur dan dapur. Dari dominasi ini perempuan di dorong untuk keluar berkiprah di ranah publik. Sebab dengan melihat volume penduduk dunia bahwa perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Namun dari segi realitas yang berkiprah di ranah publik masih di dominasi oleh laki-laki sehingga perlu memberikan kesempatan yang sama terhadap perempuan. serta potensi yang di miliki oleh manusia adalah sama Karena setiap manusia dalam proses untuk menjadi.
Gelombang  perjuangan perempuan telah mendapat legitimasi dari PBB. Arus pembelaan kesetaraan semakin meningkat sebab wacana kesetaraan gender menjadi indikator sebuah kemajuan suatu negara melalui HDI (Human Developtment Indeks). Sehingga dalam respons ini merupakan hal yang sangat positif bahwa perjuangan yang dilakukan oleh para kaum feminis menuju pintu keberhasilan. Keberhasilan ini di tandai oleh perempuan di berbagai belahan dunia mendapatkan kesempatan kerja yang sama dengan upah yang sama dan pendidikan yang sama.
Dari implementasi ini peraturan ini memberikan sebuah babakan baru dalam mengukur sebuah kemajuan suatu negara dengan melihat partisipasi perempuan di ranah publik. Selain itu, kebijakan ini memberikan warna baru di ranah publik karena terbuka semua ruang-ruang sosial bagi perempuan untuk berkiprah di bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan kebudayaan.
Kebijakan ini di iringi sebuah tanda tanya ketika negara-negara maju mengalami sebuah kemerosotan pendapatan dan mengalami stagnan dalam mengembang  perusahaan. Sebab industri-industri negara maju sedang mengalami keterbatasan sumber daya manusia sementara suplai tenaga kerja dari laki-laki semakin berkurang, selain itu tingkat kelahiran di negara-negara maju mengalami ketidakseimbangan atau tingkat kelahiran di negara maju sangat  rendah di banding tingkat Kematian semakin meningkat. Upah buru atau tenaga kerja semakin melambung tinggi. Hal ini memberikan sebuah kehawatiran sendiri bagi para pengusaha-pengusaha besar terhadap kekurangan tenaga kerja sebab mereka sangat bergantung pada aspek tenaga kerja. Selain itu, perusahaan-perusahaan raksasa mulai kehilangan karismanya di belantara pasar bebas karena tidak mampu bersaing  dengan perusahaan-perusahaan yang satu dengan yang lain. Hal ini di sebabkan oleh kekurangannya tenaga ahli dari kaum laki-laki sehingga perlu inovasi sebuah kebijakan baru dari para kaum korporasi dengan mendorong perempuan ke ranah publik.
Sebab volume tenaga kerja dari kaum perempuan lebih banyak daripada laki-laki dan memiliki kemampuan kognitif dan skill yang sama. Sehingga di pandang perlu  melakukan pemberdayaan terhadap perempuan. Sehingga ketersediaan tenaga kerja semakin luas terkhusus di negara-negara dunia ketiga sebab bagi mereka volume tenaga kerja di dunia ketiga sangat besar sehingga memberikan kesempatan bagi para pengusaha untuk membuka ruang untuk merekrut tenaga kerja yang banyak dengan harga yang murah dengan kualitas yang sangat memadai dengan motivasi kerja yang sangat tinggi.
Sehingga diskursus gender seolah di tunggangi oleh sebuah kekuasaan dan kepentingan para kaum korporasi sebagai babakan baru di era globalisasi ini. Hal ini memberikan dampak positif bagi kaum para korporasi untuk melakukan eksploitasi tenaga kerja terhadap perempuan.
Dari perspektif ini bahwa diskursus gender telah membuktikan dirinya telah bermuka  dua atau bersifat ambivalen sebab para kaum feminis berharap bahwa perempuan mampu melepaskan jeratan dari kaum patriarki akan tetapi di sambut dengan perselingkuhan kebutuhan korporasi terhadap kebutuhan tenaga kerja.
Bisa kita lihat implementasi kebijakan ini, dari berbagai instansi-instansi, perusahaan yang telah di dominasi oleh kaum perempuan. Bahkan perempuan telah menjadi bahan pajangan dan tontonan bagi laki-laki di berbagai media. Sebab perempuan menjadi ikon kecantikan dengan memamerkan kemolekan tubuhnya dengan mengait para konsumer. Para pengusaha mendorong perempuan untuk menjadi simbol sebuah iklan bahkan bintang iklan di dominasi oleh perempuan yang estetis dan eksotis. Dan tubuh perempuan menjadi sangat murah untuk di pertontonkan dan bahkan gratis karena tak di lirik oleh pengusaha namun mereka telah mengikuti ikon dari iklan tersebut.
 Keterlibatan perempuan di ranah publik  di sambut baik oleh para para kapitalis-kapitalis untuk mengeksploitasi manusia. Para kapitalis itu berlomba untuk meningkatkan proses produksi mereka dengan eksploitasi tenaga kerja dari kaum perempuan. Posisi perempuan menjadi fungsi ganda perempuan berkecimpung di ranah domestik sekaligus perempuan ikut terlibat dalam ranah publik demi sebuah keseteraan dan pertukaran peran. Namun membuat perempuan dalam keadaan terjepit.
Memperjuangkan hak perempuan dalam menuntut kesetaraan dengan laki-laki  merupakan sebuah keharusan akan tetapi kesetaraan itu menjebak perempuan yang pada masalah yang pelik di atas sebuah tuntutan yang  lebih. Namun yang seharusnya perempuan yang di lakukan oleh perempuan adalah menuntut sebuah keadilan. Bergeraklah untuk menuntut keadilan itu. Sebab hari ini bukanlah perempuan yang mengalami penindasan akan tetapi laki-laki merasakan yang sama.

***
sAmPeAn

Sabtu, 08 September 2012

INspirasi Tokoh


SOSOK MUHAMMAD HATTA SEBAGAI TELADAN
UNTUK ULANG TAHUN KE-67 REPUBLIK INDONESIA

Muhammad Hatta merupakan bapak proklamator Republik Indonesia. Beliau adalah salah seorang yang sangat berjasa bagi bangsa ini dalam mewujudkan kemerdekaan. Sebagai pendiri bangsa Muhammad Hatta merupakan sosok yang patut untuk menjadi teladan bagi kita semua. Dengan menegok usia kemerdekaan Indonesia yang sudah 67 Tahun, etos perjuangan beliau masih kita rasakan hingga hari ini.
Gagasan-gagasan beliau masih terpatri dalam perjalanan pembangunan bangsa ini, termasuk pendirian koperasi untuk membantu usaha-usaha mikro, gagasan beliau ini langsung menyentuh kepada masyarakat kecil walaupun dalam pengimplementasiannya masih belum maksimal sebab di mamfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kontribusi beliau tidak hanya sampai disini, tetapi ini merupakan salasatu sumbangsih beliau  terhadap bangsa ini. Namun yang paling penting adalah sumbangsih beliau dalam mewujudkan kemerdekaan hal ini tidak lepas dari etos perjuangan beliau dalam melawan para kolonial dalam bentuk literasi, diplomasi dan peperangan.
Sebagai seorang wakil presiden yang pertama dan memiliki ide-ide yang cemerlang dalam diri beliau tertanam jiwa keteladanan yang patut untuk menjadi cermin bagi pemudah bangsa saat ini di usia yang ke 67 Tahun.
Muhammad Hatta merupakan sosok yang sangat sederhana dan bersahaja. Kehidupan beliau tidak hidup dalam kelimpaharuan kekayaan negara dan memfaatkan kekayaan negara untuk kepentingan pribadi. Sebagai seorang wakil presiden beliau hanya menerima gaji pensiun sebesar Rp. 3.000, per bulan. gaji pensiun inilah untuk menghidupi keluarganya. Namun dari gaji pensiun ini tidak cukup untuk menghidupi keluarga beliau sehingga beliau bergantung pada pendapatannya dari penulisan artikel di berbagai media cetak.
Namun paling mengherankan bagi kita semua adalah beliau tak mampu membeli sepatu idamannya yang terbuat dari kulit Bally  memiliki harga cukup mahal. Walaupun beberapa Tahun beliau menabung untuk sandal itu, tak kunjung juga cukup,  hingga akhir hayat beliau tidak bisa memiliki sandal itu karena tabungannya tidak cukup. Hal ini memberikan kita sebuah gambaran kesederhanaan beliau. Sebagai seorang wakil presiden untuk membeli sandal mewah sebenarnya tidak seropot itu untuk memilikinya. Karena kebutuhan beliau pasti di tanggung oleh negara.
Salasatu faktor tabungan beliau tidak cukup untuk membeli sandal idamannya adalah beliau selalu memberikan uangya kepada orang yang membutuhkan. Hal ini memberikan bukti bahwa beliau sangat dekat dengan rakyat  dan selalu memikirkan nasib rakyatnya.  Beliau adalah sosok yang sangat bersahaja dan terbuka untuk semua kalangan. Beliau sabagai seorang yang peduli dengan rakyat tercermin dari gagasan-gagasan beliau yang berpihak pada rakyat kecil. Sosok beliau sangat bersahabat dengan rakyat.

Kondisi Birokrat Indonesia
Tak terasa waktu usia bangsa ini telah melebihi setengah abad lepas dari para kolonial atau para penjajah. Namun kondisi bangsa manusia masih terseot-seot dalam menyusun arah dan tujuan bangsa. Arah pembangunan yang semakin tidak jelas seperti pengangguran semakin merajela, kemiskinan semakin meningkat dan utang bangsa ini semakin melambung telah mencapai angka yang tidak bisa lagi di tolerir sebab telah mencapai ± Rp. 1700 rupiah. Problem kebangsaan semakin kompleks. Kebebasan yang kita rasakan saat ini berat rasanya harus memakui bahwa kita telah bebas dari belunggu penjajahan sebab kita masih didikte kebijakan asing.
Dengan suguhan berbagai permasalahan yang belum juga usai. Indonesia telah di gegerkan berbagai macam kasus Korupsi. Rentetan-rentetan kasus Korupsi melibatkan para pimpinan negara dari atas ke bawah, melibatkan istana dengan dugaan korupsi berbagai proyek pemerintah seperti kasus Century, di kasus hambalang, wisma Atlet, korupsi pengadaan Al Quraan dan kasus pembangunan dan transmigrasi daerah tertinggal. Kasus ini tak kunjung memiliki titik cerah untuk penuntasan kasus korupsi semuanya abu-abu. Kobohongan publik terjadi dimana-mana. Masyarakat menjadi bingun  bahkan respek terhadap bangsa semakin menurun katanya tidak ada lagi yang bisa kita harapkan di kalangan pejabat karena mereka hanya memperkaya diri.
Menengok kedalam badan legeslatif yang berfungsi sebagai badan pengawas atau fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah. Harapan yang menjadi pupus dari sikap para anggota legeslatif berlomba untuk memperkaya diri sendiri, para anggota DPR bersaing membuat studi banding ke luar negeri mengatasnamakan kepentingan negara namun keluarga pun ikut dengan biaya negara. Dalam menyusun rancangan undang-undang masih belum memperlihatkan keberpihakan kepada rakyat. Rancangan undang-undang pun bertumpuk di atas meja mereka namun mereka tak pernah risau dengan tumpukan itu tetapi mereka hanya risau dengan  kepentingan partainya dalam menyambut pemilu di Tahun 2014.
Dengan kemewahan dan pemanjaan yang di berikan oleh negara para anggota DPR masih saja  belum puas dengan gaji dan tunjangan yang di berikan kepada mereka. Di tubuh legeslatif kasus korupsi menjadi hal yang wajar dan sangat lumrah sebab mereka menjadi selebritis. Kebohongan menjadi sarapan yang terlontar ke media untuk mengelak dari sangkaan walaupun sudah terbukti bersalah namun masih saja mangkir dengan kesuciannya yang telah dilakukan. Angelina Sondak misalkan dia tidak pernah mengaku terlibat dalam kasus hambalang namun nyatanya menjadi tersangka. Sosok putri Indonesia tak beradaya menghadapi bukti yang di temukan oleh KPK. Keterlibatan anggota DPR semakin merajela dari kasus pajak yang dilakukan oleh Gayus Tambunan, Nazaruddin dalam kasus Hambalang dan wisma atlet. Namun, intinya bahwa badan legeslatif menjadi sarang korupsi.
Pemandangan serupa yang terjadi pada institusi hukum  atas tertangkapnya hakim tipikor yaitu Heru Kusbandono dan Hakim Kartini Juliana Magdalena Marpaung. Kasus ini memperparah penegakan hukum di Indonesia. Sebab, institusi hukum merupakan ruang suci suatu bangsa telah ternodai oleh berbagai kasus penyuapan. Instutisi kepolisian di gegerkan dengan kasus simulasi SIM yang di lakukan oleh petinggi POLRI. Semua yang di lakukan hanya untuk memperkaya diri. Lagi-lagi harta dan uang menjadi kuasa untuk memenuhi hasrat. Uang telah menjadi pengganti Tuhan atas kekuasaanya sebab uang adalah segalanya.
Dengan berbagai masalah di berbagai lembaga pemerintahan, masih ada yang belum luput dari ingatan kita curahan hati seorang pak presiden (Susilo Bambang Yudhoyono) ketakutan yang mengahdapi ancaman teror dan namun yang paling miris di telinga kita orang nomor satu RI ini curhat belum mengalami kenaikan gaji. Seorang pimpinan negara menuntut untuk di biaya negara berarti pengabdian beliau masih di pertanyakan terhadap negara. Intergritas beliau di pertanyakan dalam membela dan mensejahterahkan rakyat. Jika seandainya gaji presiden sangat kecil dan fasilitas yang sangat sederhana masih adakah yang mau jadi presiden!
Jiwa kesederhanaan dan merakyat  di kalangan para  birokrat kita sekarang masih perlu di pertanyakan. Apakah mereka  betul-betul mengabdi kepada negara ataukah mereka datang hanya  memperkaya diri atas nama rakyat.

Spirit Muhammad Hatta kado ulang tahun Indonesia ke-67
Dengan merefleksi kondisi bangsa ini yang telah menggapai usia yang ke-67 ini. Para birokrat hanya merefleksikan kemewahan dan memamfaatkan posisinya untuk mengerus kekayaan negara. Hal ini merupakan hal yang ironis sebab mereka sangat jarang berpikir untuk bagaimana menyalamatkan negara ini dari lubang hitam kemiskinan.
Dengan berbagai macam problem yang di hadapi oleh bangsa saat ini. Spirit founding father bangsa ini bisa menjadi contoh kepada birokrat-birokrat saat ini bagaimana beliau sangat bershaja kepada rakyatnya dan selalu memikirkan nasib bangsa ini dengan berbagai lewat dengan gagasannya. Selain itu, dengan jiwa kesederhanaannya beliau menolak kenaikan gaji pensiun yang melebihi standar gaji pensiun sebesar yaitu Rp. 3000 dan pada waktu itu gaji pensiun ini tidak cukup membiayai keluarganya beliau hanya mengandalkan tulisan-tulisannya di media cetak. Jika di bandingkan dengan para pempinan negara dan daerah saat ini sangat berbanding terbalik yang di perlihatkan oleh beliau.
Di usia yang ke-67  bangsa ini semoga spirit Muhammad Hatta menjadi kado bagi bangsa ini untuk menjadi teladan bagi para birokrasi kita dan terkhusus pada generasi mudah semoga jiwa dan spirit tetap terpatri dalam jiwa kita semua. Jaya Indonesia ku satukan energi majukan negeri, engkaulah kebanggaanku.

Study literatur sosial


REVIEW BUKU : TEORI-TEORI KEBUDAYAAN

Judul Buku   : Teori-teori kebudayaan
Penulis          : Herwanto, Nurul Huda, Bima Saptawasana, Haryanto Cahyadi, dkk.
Editor           : Mudji Sutrisno & Hendar Putranto
Penerbit        : Kanisius (Anggota IKAPI)
Tebal             : 403 lembar
Harga            : Rp. 66.000

Setangkai bunga bisa membawa makna romantisme sebagai tanda kasih sayang yang di berikan kepada seseorang. Namun setangkai bunga itu bisa menjadi tanda persembahan kepada orang yang telah tiada. Rangkaian menebarkan keindahan bagi yang memandangnya, gadis akan luluh dengan persembahan bunga sebagai tanda cinta. Begitupun buku teori-teori kebudayaan ini bisa mengantarkan kita pada sebuah cakrawala yang luas terhadap perkembangan pengatahuan. Buku ini terangkai dari kumpulan makalah yang fokus membahas teori-teori kebudayaan  kontemporer. Buku ini menyadarkan kita sebuah perkembangan diskurus pengetahuan barat yang belum kita pahami secara utuh. Buku ini akan membawa kita pada serangkaian kutub untuk memahami tatanam sosial.
Buku ini menyegarkan dahaga akan keterbatasan literatur tentang teori-teori barat khususnya pada bidang kebudayaan. Buku ini merupakan pangantar teori kebudayaan terkhusus pada kajian strukturalisme. Selain itu buku ini membahas teori kebudayaan kontemporer. Dari serangkaian makalah terkumpul menjadi sebuah kesatuan buku yang terdiri dari 17 bab yang terdiri dari tiga bagian yaitu pertama, merupakan pengantar untuk masuk ke dalam teori kontemporer sebab dalam bagian pertama ini merupakan pembahasan teori kebudayaan klasik dengan mengulas pandangan kaum marxis dan pandangan Talcot Parson. Penjelasan kaum marxis di gunakan pisau kritik terhadap ideologi kapitalisme bahwa kehidupan merupakan sebuah proses dialektika yang pada akhirnya akan mepcitakan sebuah tatanam yang humanistik atau masyarakat tanpa kelas dan tanpa penindasan namun dalam perspektif bahwa lain kehadiran Talcot Parson bahwa tatanam sosial ini merupakan keadaan yang ajek. Teori Talcot Parson ini di kenal sebagai hukum Cybernetica socius atau biasa di kenal taori AGIL (adaptation, goal attainment, integration, latency). Harapan dari Parson dari teori ini bahwa dengan teori ini mampu menjelaskan permasalahan sosial yang ada di dunia saat ini sehingga menurut dia teorinya bisa  digunakan sebagai metode analisis.
Dalam tulisan selanjutnya kedua teori ini mencoba di transformasikan ke dalam konteks keindonesiaan dengan berbagai macam pendekatan seperti Marxisme, fungsionalisme Parsonian, Durkhemian, fenomenologi dan etnomerodologi, struktaralisme, dan pasca strukturalisme. Kemudian  dalam bagian ini juga memperkenalkan para tokoh-tokoh pendiri dari strukturalisme khususnya Levis Strauss.
Kemudian bagian kedua bagian ini menjelaskan kebudayaan di analogikan sebagai teks bahwa kebudayaan merupakan sebuah rangkain cerita yang bisa di tafsirkan seperti teks kemudian dalam bagian ini di lengkapi dengan mengunakan pendekatan psikonalisis Frued terhadap peran dan status individu dalam sebuah kebudayaan.
Bagian, Ketiga dalam buku ini membahas tentang kebudayaan modernisme pascamodernisme  sebagai respon terhadap dunia yang retak karena dalam tulisan ini merupakan kritikan terhadap sebuah status quo. Kemudian dalam pembahasan selanjutnya yaitu membahas peran dan identitas perempuan di ranah sosial yang selama ini mengalami penindasan akibat dari sebuah konstruk sosial. Dalam tulisan tersebut menantang kita untuk membuka cakrawala kita terhadap pandangan terhadap perempuan dan kebutuhan akan hal yang normatif.
Satu hal yang tersulit dalam buku ini adalah memahami secara utuh sebab buku ini merupakan bacaan tingkat lanjut sebab dalam buku ini membutuhkan buku yang bahasanya yang lebih ringan dan dalam menjelaskan kebudayaan. selain itu, dalam buku ini bersentuhan dengan teori-teori kontemporer dalam membahas kebudayaan masih sulit untuk di pahami  untuk pemula yang seperti saya ini.
Sekian atas ketidaksempurnaan resensi ini sebab aku berada pada ketidaksempurnaan itu untuk meresensi buku ini karena keterbatasan saya dalam memahami buku ini sekian dan trimah kasih.
sAmPeAn

Kamis, 06 September 2012

Kemahasiswaan


LEMBAGA KULTUR :
 MEDIA ALTERNATIF PEMBELAJARAN MAHASISWA

Dinamika kemahasiswaan identik dengan pergerakan dan kegiatan-kegiatan intelektual yang sering dilakukan oleh para mahasiswa yang bergelut di dalam lembaga kemahasiswaan maupun non struktural dari lembaga kemasiswaan. bentuk-bentuk dari kegiatan kemahasiswaan ini terlihat pada program-program kerja yang sering dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan seperti pembentukan kelompok-kelompok diskusi serta forum-forum kajian untuk mengawal problem-problem mahasiswa di lingkungan kampus dan kegiatan-kegiatan lainnnya yang bersifat membangun bakat dan potensi mahasiswa.
Akan tetapi, saat ini lembaga kemahasiswaan mengalami kemunduran yang sangat pesat karena lembaga tersebut terkadang tidak mampu mewadahi kebutuhan mahasiswa sebagai kaum intelektual selain itu pencitraan para pengurus lembaga kemahasiswaan semakin melorot karena hanya mengutamakan popularitas yang krisis tanggungjawab. Dampak dari kondisi yang seperti ini maka lahirlah lembaga-lembaga kultur sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan intelektual mahasiswa seperti KOMIK (Komunitas Intelektual Kampus) di Fakultas Ilmu Pendidikan, PROLOG (Progresif dan Logis) di Fakultas Ekonomi dan sosial dan Muqaddimah di Fakultas Ilmu Sosial. Para pelopor lembaga kultur ini merasa resah dengan kondisi kemahasiswaan yang sekarang ini yang hanya membincangkan hal-hal  yang  tidak penting dan minat-minat kemahasiwaan tidak terakomodasi di lembaga kemahasiswaan sehingga mahasiswa yang masih peduli,  mencari alternatif yang lain untuk menyalurkan potensi dan bakat mahasiswa maka lahirlah lembaga kultur ini untuk mewadahi kebutuhan mahasiswa. Posisi lembaga kultur bersifat independent tidak terikat oleh lembaga kemahasiswaan dan tidak terikat oleh jurusan sehingga dalam posisi lembaga kultur memiliki kebabasan untuk menyalurkan aspirasi dan bakatnya tanpa ada tindakan preventif dari berbagai pihak. Lembaga kultur berjalan atas inisiatif para penggeraknya.
Jika kita refleksi kondisi lembaga kemahasiswaan saat ini di UNM, kita bisa katakan bahwa lembaga kemahasiswaan telah mati karena otoritas penuh ada pada para birokratisasi kampus. Lembaga-lembaga kemahasiswaan telah di bekukan mulai dari tingkatan Study club yang non struktural, HMJ, BEM Universitas telah menjadi vakum. Hal ini membuktikan bahwa sekarang lembaga kemahasiswaan tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk mempertahankan eksistensinya. Pembuktian ini bisa kita lihat pada pemecatan mahasiswa secara massal di fakultas Bahasa dan Penghentian aktivitas Lembaga kemahasiswaan di fakultas tersebut. Kebijakan ini berefek pada fakultas lain dengan bentuk yang berbeda seperti di Fakultas FIS setiap jurusan otorites kebijakan Himpunan ditentukan oleh ketua jurusan masing-masing. Sikap yang seperti ini membatasi kreativitas mahasiswanya sebab ada  kejanggungan untuk menentukan sikap kelembagaan khususnya dalam menentukan program kerja.
Efek dari semua ini, aktivitas lembaga menjadi mati, aktivitas kelembagaan tidak terlihat, obrolan tentang gosip mewaranai taman bukanlah lagi diskusi keilmuwan, lembaga kemahasiswaan menjadi lembaga elit di tingkatan mahasiswa, aktivitas mahasiswa  di warnai oleh jejaring sosial bukanlah lagi membaca buku, kegiatan ilmiah tidak terlihat. Kegiatan yang di lakukan para pengurus lembaga adalah bagaimana menyenangkan hati para Birokrasi.
Dari warna yang terlihat dari berbagai kebisuan intelektual dalam lingkungan kampus. Birokrat kampus menjadi leluasa menerapkan kebijakan yang tak berpihak kepada mahasiswa. Selain daripada itu kebekuan lembaga kamasiswaan saat ini menandakan hilangnya power untuk menekan kebijakan yang represif akibat dari ketidaksiapan pengurus menghadapi kebijakan tersebut karena mahasiswa tidak dengan konsep yang jelas dengan data yang liar.
Sehingga tidak heran apabila mahasiswa menjadi jalur alternatif untuk belajar dan berdiskusi sebab lembaga kamahasiswaan dalam tidak mampu mahasiswa sebab lembaga kemahasiswaan seperti milik segelintir orang. Rasa bangga terhadap lembaga kemahasiswaan hanya berkutat pada kalangan pengurus. Namun yang lain hanyalah orang sambi lalu.
Ketidaknormalannya lembaga kamahasiswaan ini memenculkan wajah baru dengan pergerakan kultur dengan tujuan membangun fondasional di tingkat bawah. Bergerak di tingkat sektoral namun memiliki ruang aktualisasi yang luas. Sebab satu tujuan yang baik belum tentu bisa di sambut dengan yang tangan terbuka namun kita di sambut dengan tangan yang terkepal sebab itulah perjuangan sebab kebaikan hanya sifat yang melekat pada ruang dan waktu.
SaMpeaN
***