Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 September 2016

,

BERJALAN DI KOTA ANGKOT

BERJALAN DI KOTA ANGKOT

Tujuh hari sudah berselang di kota ini, menikmati desau angin, terik mentari, jatuhan butiran hujan, lelehan permata embun pagi. Tapi, satu hal aku rindukan yang selalu jatuh di tubir langit tak pernah aku menatapnya. Jingga hanya nampak di atas permadi atap rumah setelah itu tak ada lagi. Akhirnya semua langit di sapu gelap. Di kala malam tiba hanya sebutir bintang yang berkedut menyangsikan orang-orang lagi kasmaran di dataran kota angkot ini. Sungguh kota ini tidak seromantis di ingatanku. Kota yang selalu menjatuhkan butir kehidupan, kini air matanya hanya meringis kesakitan.
Dari sebermula aku bersolek di kota ini, jiwanya sudah kesakitan sekuntum bunga tak lagi mekar, senyum gadis-gadisnya tak segirang yang kubayangkan. Tatapan mereka hanya wajah-wajah muram. Berlari mengejar waktu, bergegas menemui kekasih di simpan jalan. Semua akan terasa sia-sia, jika waktu tiba dengan janji, semua sudah jadi ingkar. Hal itu sudah menjadi lumrah di kota ini. Aku akan menjalani hari demi hari seperti itu adanya.
Bulan purnama yang kadang kita nantikan hanya tertutup kabut, yang konon katanya kabut-kabut itu berasal dari kumpulan asap yang  mengepul menjadi satu kumpulan awan. Setelah, itu berkumpul menjadi gelap cahaya kebenaran pun tertutupi. Lihat saja, pemerintah kita ini selalu menuding asap rokok mencemari polusi udara, dengan tidak merokok lingkungan menjadi steril  dalam artian tidak tercemar. Itu sih yang sering aku dapatkan di pinggiran trotoar jalan, depan kantor pemerintah, dan tempat-tempat umum. Dari situlah, kadang aku tidak temukan lagi pengisap cerobong asap.
Hari-hariku semakin meleleh, ketika aku mencari  gadis yang katanya berparas cantik dan menggoda sebagai polusi di kota ini. Aku tak temukan jua seperti mencari seorang perokok di tempat ini. Aku pun jatuh hati dengan seorang pria, hanya sekedar mengelus rokoknya, sesekali ujung rokoknya dia pukulkan di atas lututnya. Lelaki itu sangat rindu dengan rokok di tangannya itu, mulutnya seolah ingin mencecap sebatang rokok itu. Setelah lama ia pandangi akhirnya rokok itu di simpan di telinga bagian kirinya. Cukup kasihan, ia rela menderita demi menyenangkan hati pemerintah. Ia cukup teguh memegang asas pembertidakdayaan dan pematian mendadak oleh kebijakan pemerintah. Hatiku pun kadang merana pula, peraturan dibuat menyiksa diri, sementara sedang tertawa yang sedang menghukum.

Negeri ini bukan hanya sekadar permainan akrobat para politis.  tapi, negeri ini, negeri para bedebah dan pembunuh paling keji.

Jika hari ini asap rokok menimbulkan polusi udara, kita menunggu waktu lada hitam, lombok, cabai, dan semacam pedas-pedasnya yang lainnya untuk divonis sebagai penyebab muntah berak (MUNTABER). Dan, Penyakit ini cukup berbahaya karena salah satu yang menyebabkan kematian pada anak-anak, balita, dewasa, dan orang tua. Penyakit ini membuat jantung menjadi off. Jika vonis kesehatan telah dijatuhkan, sisa menunggu waktu kebijakan akan dikeluarkan untuk melarang makan yang mengandung cabai, lada hitam, lombok, dan semacamnya karena mengganggu keuangan negara. Hati-hatilah mengonsumsi makanan itu karena pejabat kita tidak akan mendapatkan subsidi. Keuangan kita sedang defisit, tak ada dana untuk menyubsidi orang sakit.
Di kota angkot ini, katanya sangat rentan dengan muntaber karena pedas-pedasan. Ini bisa dijadikan indikator untuk kota-kota yang lain untuk mengukur penyebab muntaber. Bayangkan saja, hampir tiap hari ada saja mahasiswa, warga masuk rumah sakit karena muntaber itu. Makanya, di kota ini kita serba hati-hati untuk menjadi penyantap.
Maaf tulisan ini meleleh ke soal makanan dulu karena makan tanpa rokok itu tidak mengasyikkan.  Untukmu yang para perokok. Rokokmu bukan satu-satunya sumber polusi, yang berpolusi itu mulut para pemangku kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Jika rokok anda saya bandingkan dengan cerobong knalpot mobil dan motor. Knalpot kendaraan itu Masih lebih besar cerobong rokok anda. Apalagi cerobong pabrik industri Itu yang lebih berpolusi. Aku yakin, bahwa aku merindukan jingga karena kepulan asap beracun dari knalpot motor, mobil, kendaraan bermesin yang lain. Serta asap industri yang senantiasa mengepul sepanjang hari.
Dengan knalpot-knalpot itu pula di kota ini, kita akan selalu terjebak macet satu sampai dua jam dengan jarak tempuh normal 30 menit. Macet di kota ini sudah menjadi tradisi, sehingga wajah yang cantik harus bertampak muram. Jatuh cinta pun di kota ini menjadi sulit, tapi untuk bercinta bagi para pecandu kelamin akan mengalir seperti air. Rasanya, tidak sulit menemukan air di kota yang sering hujan.

 SAMPEAN

Bogor, 03 September 2016

Rabu, 24 Agustus 2016

,

JERUK NIPIS

JERUK NIPIS
Sehabis mengepel rumah senior di jalan Citayam Kabupaten Bogor provinsi Jawa Barat. sekitar pukul 5.30 WIB sore aku keluar mencari makan tempat sesuai dengan isi kantong. Aku menelusuri gang kecil hanya cocok dilalui seorang tanpa berpapasan di sebelah selatan rumah itu. Berjalan sekitaran dua menit jalan sudah terasa lengan dua orang anak laki-laki bermain bendera merah-merah putih sambil tertawa girang dan dua orang anak mudah sibuk mengutak-atik laptopnya tanpa peduli dengan orang di sampingnya. Tapi, aku merasa sungkan untuk lewat di tengah-tengah orang-orang itu dan aku harus memotong pembicaraan kedua orang itu yang masing-masing di seberang jalan. Tanpa sungkan, saya lewat dengan menundukkan sedikit badan menurunkan satu tangan seperti yang biasa dilakukan orang-orang suku Bugis-Makassar ketika berjalan di depan orang lain dengan mengucap kata tabe’. Tata krama ini tidak berlaku lagi di tanah Sunda, di mata mereka itu sedikit aneh ketika melewati mereka berdua. Sambil berlalu aku mengucap permisi untuk mengganti kata tabe’ itu. Kemudian mereka mempersilakan aku melaluinya.
Sekitar sepuluh meter dari orang-orang itu, aku sudah berada di pertigaan aku berbelok kiri, sepuluh meter lagi aku belok kanan berjalan lurus ke arah barat sekitar dua puluh meter kemudian aku kembali belok kiri. Sekitar dua puluh meter lagi aku belok kanan kembali ke arah barat. Tidak jauh pembelokan itu,  di sudutnya terdapat  pangkalan ojek dan rumah makan tanpa nama.
Aku pilih tempat karena tempat itu amat sangat sederhana, ayamnya hanya dipajang tergeletak di dalam kaca tanpa penutup kain dan sejenisnya yang lain, di sekelilingnya terlihat wajan untuk menggoreng dan membakar ayam dan ikan. Dengan perasaan yang sangat canggung dengan budaya yang baru, apalagi ibu itu memandangku dengan penuh takzim. Aku merasa ada yang aneh dengan tatapan itu, dengan perasaan malu dan agak terbata-bata  “Bu pesan makanan”
“Iya, makan di sini?” kata ibu penjual makanan itu, matanya masih terus mengamatiku.
“Iya” sambil aku menganggukkan kepala.
“Pakai ayam atau ikan ? kata ibu itu melanjutkan
“Ayam sajah bu” sambil menarik kursi untuk duduk menunggu pesanan.
“Ayam Goreng atau bakar?”
“Ayam Goreng ajah bu”
“Dada, Paha, Sayap ?”
“Dada saja”
Setelah percakapan kami ibu itu sudah sibuk mempersiapkan makanan yang aku pesan. Tidak lama berselang dengan percakapan kami. Sepasang kekasih mampir juga pesan makanan, ketiga orang itu terlihat berdialog dan sepasang kekasih itu duduk tepat di belakang saya. Setelah sepasang kekasih itu datang, tamu-tamu yang lain terus berdatangan tempat itu sudah mulai terlihat penuh.
Ibu itu terlihat kerepotan melayani pengunjung warungnya, sembari membakar potongan ayam, dia juga menggoreng ayam yang  ku pesan. Ketika terlihat kebingungan. Ia masuk ke dalam rumah terdengar dialog dua suara perempuan. Akhirnya, kedua perempuan itu keluar. perempuan yang berbaju warna abu-abu yang kira-kira berkepala lima melayani saya dan mempersiapkan pesanan pengunjung yang lain.
Beberapa menit kemudian dia membawakan pesanan saya. Nasi Ayam goreng dada dan air putih. Ibu yang pertama memakai baju merah berkerudung hitam masih terus mengamatiku. Tapi, aku cuek saja. Aku terus memakan timun yang ada pada ayam goreng itu sambil menunggu tempat cuci tangan.
Ibu berbaju abu-abu kembali membawakan saya tempat cuci tangan di dalam terdapat jeruk nipis. Aku sedikit kaget, kok jeruk nipisnya ada di tempat cuci tangan. Biasanya di Makassar jeruk ada tempat khususnya seperti piring kecil, tapi di sini di tempat cuci tangan. Tanpa ragu aku ambil jeruk nipis itu di tempat cuci tangan itu aku peras ke dalam sambal ayam goreng itu. Saya berkata dalam hati “Mungkin Jeruknya kurang berair sehingga dimasukkan ke dalam tempat cuci tangan. Setelah kuperas jeruk itu, ibu tertawa. “iiii jeruk itu untuk cuci tangan bukan di peras ke sambel ayam” semua mata pengunjung menoleh ke aku dan tersenyum simpul. Ibu itu  melapor ke ibu yang pertama entah apa dia katakan dalam bahasa Sunda. 
Aku juga merasa bingung dengan jeruk nipis di dalam tempat cuci tangan itu. Setelah baru aku berpikir sambil makan. Jeruk nipis ini digunakan untuk menghilangkan bau amis pada tangan dan mensterilkan kuman-kuman barangkali. Itu dugaan aku sementara.
Lain tempat, lain juga memperlakukan jeruk nipis.
Di Makassar jeruk nipis digunakan untuk menambah rasa asam pada makanan khususnya yang berkuah seperti bakso, mie ayam, soto ayam, coto, dan pallu basa. Di Pare Kediri Jawa Timur: Makassar sudah diidentikkan dengan jeruk nipis. Jika ada orang minta asam cuka dan jeruk nipis anda di identifikasi sebagai orang Makassar. “Eeeehhh Di Citayam Bogor, Jeruk Nipis tempatkan ke dalam tempat cuci tangan.
Citayam,  24 agustus 2016

Rabu, 23 Desember 2015

,

PAGI YANG TERTEPIS

Tiada mimpi menggiring angin, kesunyian menebus luka. Air mata yang jatuh di ujung daun, menikam sukma. Biarkan aku terseduh. Sebab, ini aku adanya.

Aku melebur dalam sunyi, tidak beranjak dari kamar. Berbaring telungkup, mengeram pesakitan. Pintu kubiarkan menganga sejengkal jari. Supaya merekatahu aku sedang tertidur pulas. Aku hanya menutup mata, Pikiran hanya melanglang buana ke masa silam ihwal kali pertama kamu datang. Waktu itu, ketika senja memburat di kaki langit, cahaya berpendar gelap. Raut wajahmu menjadi buram, bayang-bayang hidungmu tergambar utuh dalam gelap. Matahari hampir terbenam, cahaya jingga menghias di tepian langit. Kamu datang dengan ketenangan mencecap kasih sayang. Meluruhkan jiwa angkuh.
“Aku ingin jujur pada kakak. Tapi, kakak harus janji tidak meninggalkanku dan menjauh dari adek”. Dia bertutur dengan lembut, halus dan santun dengan khas Sundanya. Sesekali dia menatap mataku, dan raut wajahnya tampak sedih.
Aku terkesiap dengan perkataannya. Ada apa dengan dia, tiba-tiba mengeluarkan perkataan seperti itu. Pertemuanku dengannya belum seumur jagung. Aku pun tidak banyak tahu tentangnya, pertemuan yang aku rajuk, ini kali kedua bertatap muka dengannya. Selebihnya hanya ngobrol lewat telepon dan dunia maya.
“Ada apa? kamu nanya kayak gituch” suara yang datar keluar dari bibirku, aku menatap matanya, dia tertunduk rapuh. Kulitnya yang putih bersih tampak merah. Dia rupanya serius dengan perkataannya.
“Kakak janji kan, tidak menjauh dari adek. Aku sudah merasa nyaman dengan kakak dan sayang sama kakak” dia berusaha meyakinkanku dengan tulus. Kini, bibirnya mengatup, sesekali menunduk, mengusap muka dengan kedua tangannya. Dia memperbaiki cara duduknya.
Aku terdiam, entah harus mengatakan apa. Aku tak menyangka ia mengungkapkan perasaannya. Tapi, aku masih penasaran dengan dia. Ia takut aku tinggalkan, entah dengan alasan apa. Ketakutan itu menyimpang rahasia besar. Dia setiap tuturnya, ia cukup berhati-hati.
Tiba-tiba Suara terdengar dari ruang tengah “Ian, kamu masih tidur ? tak lama berselang suara itu,  pintu kamarku terbuka lebar, Kak Vicko sudah berdiri di depan pintu.  Aku masih terkulai. di atas kasur, cahaya kamar masih remang-remang. Pikiranku menjadi buyar dan hilang seketika. Dan berusaha mengumpulkan tenaga untuk menjawab pertanyaan Kak Vicko “Iyah, aku sudah bangun”
“Kamu pergi beli lauk” Kak Vicko sambil memegang uang yang tergulung rapi.
“Iya, kak”
 Kak Vicko langsung membalikkan badannya pergi dan masuk ke kamarnya kembali. Sementara, aku mengenakan baju dan celana. Setelah semuanya sudah rapi, aku bergegas pergi beli lauk. Dalam perjalanan aku baru ingat, saya lupa memakai motor. Padahal motor Kak Vicko nganggur di parkiran.
Aku terlalu terbawa dengan perasaanku, menahan rasa sakit yang menjalar di pusat sukmaku. Tubuh yang kokoh, kini terasa lunglai, juntaian kakiku terasa kaku dan lemah. Sesakit inikah ketika ditinggal oleh seorang yang disayangi. Perlahan pikiran kembali merasuk ke dalam duniaku yang silam.
Kenangan yang bertabur kebahagiaan, kini sirna dengan sekejap hanya dengan kata “jauhin adek kak”. enam bulan perjalanan cinta kita diakhiri dengan enam huruf pula. Ungkapan yang sangat puitis sebelum puisi mengembang menjadi air mata.
Kenangan hanyalah kenangan, air mata kadang tak mampu menebus luka. Tapi, setidaknya air mata mengurangi jejak yang pernah berlalu dengan ketenangan. Hanya sedikit kisah cinta yang berakhir dengan kebahagiaan, selebihnya adalah air mata duka. Pesan singkat kamu kirim pada petang kemarin. Membunuhku perlahan. Derik pintu yang terbuka, menginginkan aku pergi, menyisakan kali rindu yang kerontang. Lembaran pesanmu, hidupmu, dan kisahmu aku usap perlahan. Ku baca dengan mata berbinar, Lelehan air mataku senantiasa terjatuh. Air mata yang jatuh adalah kesetiaan menjagamu.
Dalam perjalanan ke warung yang jaraknya sekitar 30 meter dari kontrakan. Aku sempat menitikan air mata. Penjaga warung itu menatapku penuh curiga
“Kamu kenapa toch mas”
“Nggak ada apa-apa mbak”
“Mata kamu merah”
“Aku baru bangun mbak”
“OoOO” dia tak lagi melanjutkan percakapannya. Dan mengambil makanan yang aku tunjukkan “Telur tiga, Tempe enam biji, dan sayur tiga ribu mbak”
Setalah semuanya selesai aku serahkan uang Rp. 9.000,
“Uang Pas yah” kata mbak penjaga warung.
Kini, aku kembali berjalan pulang ke kontrakan. Kembali menjadi hening, ingatanku kembali kepada seseorang. Deru mobil dan motor bergantian lalu lalang. Terik matahari sedikit membakar, baju yang kukenakan berwarna hitam, menyerap panas. Peluh membasahi tubuhku, sesekali menetes di keningku. Kamu selalu hadir dalam setiap senyap, jarak antara kita terlalu jauh untuk bertemu kembali. Ingin kutahu, apa alasan meninggalkanku. Aku tak peduli orang-orang memandangiku seperti apa, mukaku masih kusut, rambutku masih acak-acakan. Maklum semuanya kelupaan. Lupa cuci muka, lupa menyisir rambut. Seperti itulah aku. aku yang terpuruk dengan kepergianmu. Jejak yang telah aku rangkum terlalu menyakitkan di setiap ingatanku.
Pesan singkat yang kamu kirim tempo hari, membuyarkan semua sisi hidupku. Tak kala aku ingin menulis, dan membaca. Ingatanku melumpuhkan segalanya. Kulerai waktu perlahan, kehadiranmu semakin kuat. Kamu semakin terbayang jelas, tubuhmu yang mungil, tingkahmu yang centil dan genit tak bisa menggugurkan perasaanku terhadapmu. Ingin kupeluk erat bayangmu, supaya kamu tak lepas dariku. Kuabadikan dirimu sebagaimana gambar yang kamu berikan, tubuhmu yang dibalut dengan kemeja kuning, rok warna hijau, jilbab warna kuning berbintik hitam, dan sepatu warna hitam cukup sepadan. Apatah lagi dengan kulitmu yang putih bening dan hidungmu yang mancung kamu tampak anggun. Itu abadi dalam ingatanku. Sosok mu yang mungil, adekku sayang.
Lamunanku berhenti lagi, aku telah sampai di kontrakan, ruang tamu kelihatan sunyi, pintu menganga begitu saja. Kaca yang berdebu seolah  tidak pernah dilap, pada hal sekali seminggu kaca itu dibersihkan masih tetap kelihatan kotor. Musim kemarau yang panjang, menghasilkan debu jalan beterbangan tanpa tuan. Hingga melengket di dinding kontrakan ini.
Aku melangkah masuk ke kontrakan itu tanpa salam, kontrakan ini terasa senyap. Kak Vicko hanya sibuk dalam kamarnya. Sedangkan, dua keponakan Kak Vicko sudah pergi sejak pagi  tadi, jam 06.00. kesenyapan dalam kontrakan tiba-tiba berhenti “Kak Makan” kataku.
“Iyah bentar” kata Kak Vicko yang masih memandangi laptopnya, dan sebelum beranjak dari kursinya. Kak Vicko tidak lupa memutar  lagu-lagu legendaris dari Tommy J Pisa. Penyanyi ini adalah favoritku, sebab lagu dan musiknya tidak lekang oleh waktu. Dia selalu ada di setiap hati penggemarnya di setiap zaman.
Makanan telah aku siapkan di atas meja. Walaupun, menu sangat sederhana hanya enam keping tempe, tiga buah telur mata sapi berlumur sambal dan semangkuk sayur bening dari bayang, wortel dan kentang. Menu sederhana itu siap menangkal rasa lapar kami berdua.
Kak Vicko datang  dari kamarnya dan tersenyum simpul melerai kesenyapan dari tadi. Sementara, musik dan lagu Tommy J Pisa terus mengisi ruangan kontrakan ini. “Kamu kenapa...?” kata Kak Vicko.
“aku Nggak kenapa-kenapa kok Kak” sambil tersenyum.
“Bagaimana? Jadi kan ke Tangeran”
“Entahlah kak..!”
“Kalau kamu ingin aku menang, yah ikutlah”
“Hahahahha, kalau gituch aku usahakan kak. Tapi, bergantung kondisi”
Canda dan gurauan kami terus berlanjut. Jingga kekasihku telah terbenam dalam benakku. Kini, Ia harus menepi sejenak di antara canda kami. Cintaku tak pernah ingkar walau kamu tak pernah mengakuinya. Walau kamu di seberang lautan, bersama dengan orang lain. Kamu adalah kekasihku, bukan pacar, bukan teman. Tapi kamu lebih dari itu. Aku mencintaimu selembut engkau meremah duri di langit-langit kesedihan. Di antara ruang rindu aku sematkan namamu. Kamu berhias air mata, aku takluk di bawah keteduhan wajahmu. Kamu tetap dalam jiwaku. 
Oleh; Sampean